Ava Serenity Williams, putri bungsu Axton Brave Williams, jatuh cinta pada seorang pria bernama Ryan Dome. Ia mencintainya sejak berada di bangku sekolah. Ava bahkan rela menjadi seseorang yang bukan dirinya karena Ryan seakan menuntut bahwa yang akan menjadi kekasih dan istrinya nanti adalah seorang wanita sempurna. Ryan Dome, putra Freddy Dome, salah satu rekan bisnis Axton Williams. Freddy berencana menjodohkan Ryan dengan Ava, hingga menjadikan Ava sebagai sekretaris putranya sendiri. Namun, siapa yang menyangka jika Ryan terus memperlakukan Ava layaknya seorang sekretaris, bahkan pembantunya. Ia menganggap Ava tak pantas untuk dirinya. Ryan bahkan memiliki kekasih saat dirinya dalam status tunangan dengan Ava. Hingga akhirnya Ava memilih mundur dari kehidupan Ryan. Ia mencari ketenangan dan jati dirinya yang hilang, hingga akhirnya ia bisa jatuh cinta sekali lagi. Apakah cinta itu untuk Ryan yang berharap Ava kembali? Ataukah ada pria lain yang siap mencintai Ava drngan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APA YANG KURASAKAN ?
“Bagaimana keadaan kedua orang tua kakak?” tanya Ava pada Mario. Saat ini mereka sedang berada di sebuah cafe untuk menikmati makan siang sebelum bertemu dengan rekan bisnis Perusahaan Orlando.
“Baik, mereka sehat.”
Ava tersenyum mendengarnya. Ia tahu bahwa Mario mengalami masa masa yang berar di dalam hidupnya dan Nala lah yang menceritakan hal itu kepadanya.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Mario.
“Aku ke toilet dulu sebentar,” ucap Ava.
“Baiklah.”
Baru saja Ava berdiri, seorang pelayan yang sedang leeat tak sengaja menabrak Ava dan membuat lengan Ava terkena tumpahan kopi.
“Ahhh, panas!” ucap Ava yang langsung menarik tangannya dan meringis.
“Va!”
“Ma-maafkan saya, Nona. Sa-saya benar benar tidak sengaja,” pelayan itu langsung mengambil tissue dan membantu membersihkan pakaian Ava yang terkena tumpahan kopi.
“Ada apa ini? Lagi lagi kamu membuat kesalahan! Sudah berapa kali aku mengatakan padamu untuk berhari hati!” seorang pria yang sepertinya adalah manager cafe tersebut pun datang dan memarahi pelayan yang tadi tertabrak Ava.
“Ini bukan kesalahannya, tapi kesalahanku. Saya tidak melihatnya saat berdiri tadi,” ujar Ava. Ava sangat tahu bahwa memang ini adalah kesalahannya.
“Tapi …”
“Ini benar benar adalah murni kesalahanku, Tuan. Jangan menyalahkannya,” ucap Ava.
“Va.”
“Aku ke toilet dulu, Kak.”
Setelah itu Ava pun bergegas ke toilet untuk membersihkan pakaiannya yang terkena tumpahan kopi tersebut. Manager tersebut kembali menatap pelayan itu dengan tajam dan kembali memarahinya.
“Seharusnya kamu lebih berhati hati. Kamu bisa merusak reputasi cafe ini jika terus melakukan kesalahan!” ujar manager tersebut.
“Tuan, bukankah sudah dikatakan bahwa ini bukan kesalahannya. Saya rasa tak perlu memperpanjang atau pun mempermasalahkannya lagi,” ucap Mario yang melihat hal itu.
Manager itu pun diam tapi ia melirik tajam ke arah pelayan itu. Ia merasa dirinya telah dipermalukan. Ava yang keluar dari toilet pun kembali menghampiri.
“Pakaian anda masih kotor, Nona,” ucap manager itu yang masih saja berusaha mencari kesalahan.
“Tak apa, saya hanya perlu menggantinya saja, tak masalah,” ucap Ava. Ava tersenyum sambil memegang bahu pelayan itu, “Tidak apa apa, bekerjalah lebih baik lagi.”
Setelah itu Ava dan Mario pun pamit dari cafe tersebut. Mario yang melihat pakaian Ava masih terdapat noda sebenarnya tak terlalu pusing, karena ada hal lain yang masuk ke dalam pikirannya.
Ava menautkan kedua alisnya ketika melihat Mario malah mengarahkan mobil yang mereka naiki ke arah yang berbeda.
“Kita mau ke mana?” tanya Ava.
“Ke rumah sakit.”
“Kita harus menemui Tuan Reynald,” ujar Ava.
“Aku sudah menghubunginya dan ia tak masalah untuk menundanya sampai nanti sore,” ucap Mario, “Lenganmu harus diperiksa terlebih dahulu.”
Hati Ava tiba tiba saja menghangat saat merasakan perhatian dari Mario. Ia begitu merindukan Alex, kakaknya, saat ini. Perhatian yang diberikan oleh Alex juga sangat luar biasa padanya.
“Baiklah,” ucap Ava.
Sesampainya di rumah sakit, mereka pun langsung menuju ke bagian UGD karena menurut Mario di sana akan langsung ditindak dari pada harus mengantri di ruang praktek dokter.
“Kamu tunggu di sini, aku akan mengambil obatnya terlebih dahulu,” ucap Mario.
Mario pun pergi menuju bagian farmasi untuk mengambil obat yang diresepkan oleh dokter. Meskipun lengan Ava tak terluka, tapi terlihat kalau kulitnya berubah warna akibat tumpahan kopi tadi. Untung saja lengannya masih tertutup oleh pakaian yang dikenakan oleh Ava, kalau tidak mungkin akan membuat lengan Ava terluka.
“Va!” Ava yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh. Ia tersenyum saat melihat Dokter Leticia, tapi ada perasaan was was di dalam hatinya, hingga membuatnya menoleh ke arah Mario tadi melangkah.
“Ada apa denganmu, Va? Are you okay?” tanya Dokter Leticia.
“Aku tidak apa apa, hanya terkena tumpahan kopi.”
Dokter Leticia menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum, “aku mempunyai kabar baik untukmu.”
“Untukku? Kabar apa?” tanya Ava.
“Ini mengenai semua hasil test yang kamu lakukan dan rencana proses inseminasi buatan yang kamu inginkan,” jawab Dokter Leticia.
Ava kembali menoleh dan berharap Mario atau siapa pun yang ia kenal tak mendengarnya. Ia tak ingin rencananya gagal karena ia tahu jika sampai kedua orang tuanya dan Alex mengetahuinya, mereka sudah pasti akan menggagalkan rencana besarnya ini.
“Aku akan menemuimu lagi besok untuk membicarakannya. Aku harus pergi sekarang, terima kasih, Dok,” ucap Ava kemudian bangkit.
Ava berencana menemui Mario di bagian farmasi karena ia tak ingin Dokter Lericia semakin panjang membicarakan tentang rencananya itu.
“Va, kamu di sini?” tanya Mario yang melihat Ava datang menghampirinya.
“Ya, aku sendirian di sana, jadi lebih baik aku di sini menunggu bersamamu.”
Jantung Ava masih berdetak dengan sangat kencang. Ia benar benar takut jika rencananya untuk memiliki anak itu diketahui keluarganya.
“Ada apa, Va? Wajahmu pucat,” ucap Mario.
“Aku tak apa apa,” ucap Ava kemudian duduk di samping Mario dan mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba mengalihkan pikirannya pada ponselny dan berharap semua kegelisahannya menghilang.
Berbeda dengan Ava, Mario justru mulai curiga dengan apa yang terjadi pada Ava. Ia mulai berpikir kalau Ava pergi ke rumah sakit bukan karena menemui temannya, tapi karena ia memang sedang sakit. Mungkinkah Ava mengalami sakit yang parah hingga ia seperti ini? Apa ia tak mau keluarganya mengetahui?
“Jika kamu memiliki masalah, berceritalah. Siapa tahu aku bisa membantu,” ucap Mario.
“Ya, tapi saat ini tak ada masalah dalam hidupku.”
Mario pun bangkit ketika namanya dipanggil untuk menerima obat yang diresepkan untuk Ava. Setelahnya ia mengantarkan Ava menuju ke apartemen.
“Terima kasih, Kak.”
“Aku akan mengantarkanmu sampai ke atas,” ucap Mario.
“Baiklah,” ucap Ava tanpa membantah.
Deghhh deghhh deghhh
Jantung Ava kembali berdetak dengan sangat cepat. Ia menatap ke arah Mario dan detakan itu kembali datang hingga membuatnya memegang da da nya.
“Ada apa?” tanya Mario.
“Tak apa.”
Ava membuka pintu apartemen dengan menggunakan sidik jarinya. Mario yang merasa telah mengantarkan Ana pun sedikit menunduk kemudian bergegas pergi dari sana.
“Apa yang kurasakan? Tidak mungkin?” batin Ava memegang da da nya kembali.
🧡🧡🧡
terima kasih Thor dengan ceritanya yang keren
terima kasih kakak Author 🙏🙏
semoga kakak Author selalu sehat, selalu semangat dan selalu sukses dalam berkarya aamiin...
ditunggu karya berikutnya ❤️🙏💪💪💪
semangat tour semoga sehat selalu ditunggu up karya yang baru💪💪💪🥰
trimadong Nia jangan sia sialan kesempatan yg ada di depan mata