Terpesona sama Abang Kuli bangunan?
Queen Zenitha Aureliand, putri semata wayang pengusaha besar di kota Chend. Bagaimana mungkin terpesona kepada pria biasa, yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan?
Awal pertemuan, disaat Sein Nanendra bekerja untuk membangun gedung yang dimiliki keluarga Liand. Pesonanya mampu memikat sang Queen dari keluarga Liand.
Apakah akan ada cinta, di balik perbedaan kasta mereka?
cover sumber Bing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
romantis
Shein menjemput Zenitha di kampusnya, mengambil alih tugas para bodyguard. Dan kali ini, bodyguard hanya bisa menunggu sekedarnya. Tentu tetap bekerja, karena mereka memiliki banyak saingan yang menjadi musuh. Kapan pun bisa menjadi ancaman bagi sang Queen.
Shein menghentikan motor maticnya di depan gerbang kampus. Menunggu Zenitha yang masih belum terlihat olehnya. Sampai beberapa saat kemudian, Shein melihat Zenitha di kerubungi beberapa teman wanitanya.
"Abang." Teriaknya yang langsung berlari menjauhi teman-temannya itu
Shein memandang wajah Zenitha yang berbeda dari biasanya. Wajah sendu yang bahkan terlihat ingin menangis. "Kenapa, eh."
Zenitha memeluknya dan langsung menangis pelan. Terdengar samar-samar suara rengekan Zenitha. "Kenapa, Zent?"
"Pulang." Ucapnya dengan wajah memerah
Shein memasang helm di kepalanya, mengabaikan tatapan dari beberapa wanita yang memandangnya. Mungkin juga mereka bertanya-tanya soal hubungan Shein dan Zenitha. Karena mereka juga tahu jika Shein abangnya Aisyah.
Di atas motor matic itu, Zenitha bersender dan memeluknya. Menangis sesuka hatinya tanpa perduli jika ada yang merasa heran dengan tingkahnya itu.
Shein menghentikan laju motornya, memilih untuk menerima panggilan telepon yang mungkin saja penting. Zenitha tidak memperdulikan itu, melainkan melanjutkan aksinya.
”Assalmu'alaikum.”
Zenitha mencoba diam, mendengarkan obrolan penting suaminya. Tidak ingin mengganggu apa lagi membuat kekacauan akibat suara tangisnya yang tidak berfaedah itu.
Shein menutup panggilannya, menghela nafas sejenak. Mungkin dia akan bertanya kepada Zenitha di jalanan yang sepi itu.
"Kenapa, kamu?"
Zenitha menggelengkan kepalanya, mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kayak anak kecil aja. Gak bisa di ajak serius, siapa yang bikin, kamu, nangis?" Tanyanya lagi
"Mereka lah." Sahutnya
"Mereka apakan, kamu?" Kali ini Shein kembali ke setelan awal. Lemah lembut menghadapi wanita manja di depannya
"Masa mereka doain yang gak bagus buat kita. Katanya, ini semua cuman sementara. Apa lagi kita itu berbeda, dan gak mungkin bisa menang dari sesuatu yang kita anggap mitos." Jelasnya
"Astaghfirullah."
Shein mengerutkan dahinya, kemudian terkekeh di pinggir jalanan itu. Menyentuh perutnya yang terasa sakit
"Malah ketawa, gak tahu istrinya lagi sedih ya?"
Shein memandang Zenitha. "Kamu, usianya berapa? Udah dewasa kan?" Ucap Shein dengan serius. "Jangan dengarkan omongan orang yang gak penting. Jangan cingeng karena hal yang gak penting begitu."
"Sebenarnya ada hal lain. Sulit dijelaskan sama orang lain, dan gak mungkin ada yang mau mengerti." Sahut Zenitha
"Oke, nanti kita lanjut di rumah ya."
Shein memakai helmnya kembali, dan mereka melanjutkan perjalanan yang sudah tidak terlalu jauh itu. Mengabaikan apa yang sudah terjadi. Cukup unik Zenitha ini, hal kecil saja bisa membuatnya menangis. Gimana jika masalah besar? Apakah dia bakal nangis kejer sampai guling-guling?
Memasuki wilayah perumahan sederhana di kota Chend. Shein memarkirkan motornya, mungkin dia akan pergi lagi setelah ini. Banyak hal yang harus dia kerjakan belakang ini. Demi menyelesaikan semua amanah dari Demi. Dan demi sebuah pendidikan yang masih baru dimulai.
"Sudah makan, Zent?"
"Sok perduli."
Zenitha langsung berlari ke kamarnya, mengabaikan Shein yang membawa sesuatu itu. Apakah dia mulai berani untuk marah dengan suaminya sendiri?
"Ada apa dengan kaum wanita, kenapa mereka menyulitkan sekali. Ya Allah ... Astaghfirullah." Ucap Shein menghela nafasnya dengan berat
...
"Assalamu'alaikum. Aku pulang, hallo ... Spada ...." Teriak Aisyah yang berlari memasuki rumah mereka
"Wa'alaikumsalam, Ai." Zenitha tersenyum dan mengejarnya memeluk Aisyah sama seperti biasanya. "Kangennya aku, jangan lama-lama kalau pergi."
"Kenapa? Abang aku gigit ya?" Tanya Aisyah yang terkekeh
"Lebih dari ngegigit. Kesel aku ah!" Sahutnya dengan wajah merenggut
"Eh, ini." Aisyah memberikan satu tas untuk Zenitha. "Dari ibu, buat menantu katanya."
Zenitha terlihat berbinar menerima tas itu. "Apa isinya ya, ngerepotin banget deh."
"Abang mana?"
"Biasa, dia mah orang sibuk. Rencana juga mau pergi, ada penelitian khusus buat struktur jalan." Jelasnya seraya membuka isi tas itu
"Kalian akur kan?"
Zenitha menyipitkan matanya, meletakkan tas itu dan bercerita semua pengalamannya di rumah berduaan. Sama sekali gak ada kata romantis, yang ada kesel bin sebel. Selain itu mereka sama gilanya, suka ketawa gak jelas.
"Abang aku seru sebenarnya, tapi ya itu. Ngeselin!" Sahut Aisyah yang mendengar cerita Zenitha
Zenitha juga bercerita semua masalahnya di kampus, di saat semua orang tahu jika dia menikah dengan Shein. Bukan hanya cerita soal mitos. Tapi mereka juga mengaitkan semuanya dengan kata harta benda. Termasuk kata, sengaja dalam hubungan mereka.
"Ibarat kata, matre. Atau, sengaja gitu biar bisa hidup enak. Atau ... Mau menghancurkan aku dan keluargaku, dan satu lagi. Aku yang katanya terlalu berbanding terbalik sama Abang. Katanya aku terlalu jelek untuk jadi istrinya. Nah, jadi kesel kan aku."
Aisyah terkekeh mendengar ceritanya itu. "Ada aja mereka. Bisa-bisanya mikir begitu. Abaikan aja, jangan di pikirkan. Kamu, juga tahu kan mereka itu caper sama Abang aku. Jadi, santai aja. Soal matre, toh Abang aku calon orang sukses. Dan sekarang, dia juga udah bisa di katakan sukses. Toh, penghasilan dia gak sedikit juga." Jelas Aisyah
"Nah, itu. Aku juga heran, mereka apa gak tahu gitu. Yang namanya kuli itu luar biasa loh. Malah ya, gak perlu repot ngegim kayak pria lain, udah sixpack juga. Malah lebih keren menurut aku sih."
"Yey!" Aisyah meraup wajah Zenitha. "Itu sih pikiran kotor, kamu!" Sahutnya
Zenitha terkekeh kecil. "Iya juga ya." Sahutnya kembali terkekeh
Mereka membereskan barang bawaan Aisyah. Ada banyak makanan yang di bawa dari desa. Termasuk masakan khas desa Chuan. Yang langsung di panaskan oleh Aisyah. Ada makanan lain yang sengaja di buat ibu-nya untuk mereka bertiga.
"Waktu nikah kemarin, ibu dan ayah cuman beberapa jam doang kesini. Aku jadi pengen ke desa deh, kangen juga."
"Nanti kalau liburan kesana. Kita nanam padi di sawah." Sahut Aisyah
"Wah, seru kayaknya." Zenitha bertepuk tangan merasa tidak sabar melakukan hal itu
"Emang, kamu, gak jijik sama lumpur?"
"Gak tahu juga aku, gak pernah main lumpur sih." Sahutnya
"Geli geli gitu loh, lembek jorok. Wow deh pokoknya, tapi ya seru." Jelas Aisyah
"Udah ah, malah di bahas seru. Jadi gak sabar nih."
"Assalamu'alaikum."
"Nah, Abang pulang." Ucap Zenitha yang langsung berlari menemui suaminya itu
"Wa'alaikumsalam, Abang Shein." Sahutnya dengan senyuman nyengir seperti biasanya. Zenitha menyambut uluran tangan Shein. Menciumnya takjim selayaknya seorang istri.
"Aisyah udah balik loh, bang."
"Oh ya?" Sahutnya dengan wajah sok kaget. Padahal mah akal-akalan doang biar makin seru
Zenitha mengambil tas yang berisi beberapa baju dan juga perhiasan. Menunjukkan semua itu kepada Shein, di sepanjang langkah mereka menuju kamar.
Buk!
"Aduh!" Zenitha mengelus dahinya
Shein menariknya menjauh dari tembok itu. Bisa-bisanya tembok diem gak gerak di tabrak sama Zenitha. Saking asiknya membahas hadiah dari mertuanya.
"Waduh, benjol tuh." Ucap Shein yang berlagak kaget melihat dahi Zenitha
Zenitha melototkan matanya, menyentuh dahinya dengan pelan. "Serius, bang? Duh, malunya kalau di kampus nanti." Ucapnya
Shein terkekeh kecil. "Bercandyaa ...." Sahutnya mengejek
"Ih, Abang!" Teriak Zenitha yang memukulnya
Shein langsung berlari menutup pintu kamarnya. Membuat Zenitha semakin kesal dengan tingkahnya. Aisyah memandang mereka berdua seperti tom and Jerry. Akhirnya berkurang manusia yang membuatnya jengkel saat ini.
...
"Berapa lama, Abang, pergi?" Zenitha memeluk tangan Shein seperti tidak ingin ditinggal
"Seminggu doang, takut rindu? Jangan lebay deh." Sahut Shein
Zenitha mencubit tangan Shein yang tadinya dia peluk. Shein meringis mengelus tangannya. "Sakit, Zent."
"Abang, gak ada romantisnya jadi suami. Di jawab begini, iya sayang cuman seminggu. Jangan sedih ya, nanti Abang kan pulang. Gak lama kok, nanti kita berhubungan lewat WhatsApp kan bisa. Jangan sedih sayang ku." Ucap Zenitha yang membuat gaya sok imut
"Ngarep!" Sahut Shein dengan singkatnya
"Ih, ngeselin banget! Gak bisa bikin istrinya seneng bentaran doang. Mau pergi loh padahal, tapi malah bikin kesel. Bukannya bikin kesan bahagia, malah ninggalin sesak di dada-"
"Terus?" Sahut Shein yang memotong ucapannya
"Perduli dikit lah, peka dong sama perasaan istrinya. Seenggaknya, di manjain dulu biar gak cepat kangen. Jangan bisanya bikin kesel doang-"
Sttsststssststststss
Zenitha membelalakkan kedua matanya, menatap kedua netra yang indah di hadapannya.
"Kan bengong." Ucap Shein yang menghentikan tindakannya. "Makanya aku males terlalu romantis, nanti bisa pingsan, kamu, repot aku." Sambungnya
Zenitha tersenyum nyengir, kembali memeluk tangannya seperti anak kecil. "Pingsannya bahagia gak apa-apa deh. Dari pada pingsan ngenes." Sahutnya
"Kamu, pinter kalau di suruh ngejawab omongan suami."
"Kena di hati ya?" Zenitha terkekeh memandang wajah aneh Shein
"Kena banget malah." Sahutnya
Yah ... Begitulah mereka di segala keunikan, tanpa perduli soal rasa dan cinta. Mengikuti semua alur yang ada, agar tidak hanyut dan tersesat. Mungkin aja.
.
.
.
.
.
Kepoin visual mereka di ig@wardharye FB.Wardha
tp LBH enak..." nyonya meminta untuk makan bersama di meja makan Queen"