follow Ig ainunharahap12.
Kamar hotel yang terlihat sangat berantakan. Dengan pakaian yang berserakan di lantai dan ada sepasang insan yang berbaring di atas ranjang dengan tubuh polos yang tertutupi selimut.
Seorang pria dengan tangannya yang memeluk wanita di sampingnya itu yang lurus berbaring. Tiba-tiba wanita itu mengkerutkan dahinya dengan membuka matanya yang sangat berat. Wanita itu juga memijat kepalanya yang terasa sangat berat.
Wanita itu merasa berat pada perutnya yay membuatnya menoleh kesampingnya dan kaget melihat pria di sampingnya.
"What!' pekiknya dengan wajah kagetnya yang langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Wanita itu langsung duduk dan melihat tubuhnya yang di balik selimut sudah polos.
"Bawa aku jalan-jalan ke surga. Sebelum aku kembali ke dalam Neraka," wanita itu menepuk jidatnya saat hanya mengingat sepenggal kata saat mabuk yang di ucapkannya pada pria yang tidak dikenalnya di sampingnya itu.
"Kau benar-benar keterlaluan Alea!" umpatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 Menantang.
Alea berada di dalam kamarnya yang sekarang dirinya di kurung. Hanya karena membela Livia Alea jadi dikurung di kamarnya. Nasib Alea memang tidak pernah baik. Dia sudah menduga. Jika dirinya memang akan di salahkan dan akan terus menjadi bahan kesalahan.
"Bagaimana ini?" tanya dengan kebingungan yang lemas dan duduk di pinggir ranjang dengan menghela nafasnya.
"Jika Alvian tidak memutuskan hubungannya dengan Livia. Berarti semua yang aku lakukan hanya sia-sia saja. Yang adanya Aku akan mendapat masalah dan akan tetap menjadi orang yang direndahkan di rumah ini," Alea menyibak rambutnya ke belakang sembari memijat kepala yang terasa begitu berat yang frustasi memikirkan semua masalah yang dijalankannya.
"Bahkan aku dan Alvian belum ada membicarakan bagaimana masalah selanjutnya. Dia juga belum mengatakan setuju untuk memutuskan hubungannya dengan Livia. Sebaiknya aku tanya saja Alvian. Dia harus memutuskan hubungannya dengan Livia!" Alea langsing mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.
Untung masih ada ponselnya. Jadi Alvian masih bisa menggunakannya untuk mencari bantuan sedikit.
*******
Alvian yang sudah kembali kerumahnya dan Alvian yang berada di dalam kamar, membuka kemejanya dan menggantinya dengan kaos untuk beristirahat. Karena dia seharian sangat lelah yang bersama Alea dengan segala hal yang terjadi.
Ting. Notif pesan wa masuk.
..."Bukannya kita sudah melakukan malam yang kedua kalinya. Itu artinya kau akan memutuskan hubunganmu dengan Livia. Jadi cepat lakukan. Aku terlanjur mengatakan. Jika kita punya hubungan sejak dulu," tulis Alea dalam pesannya yang mendesak Alvian membuat Alvian mengendus kasar....
..."Apa yang di katakan wanita ini? kenapa dia terus saja memaksaku," desis Alvian....
Alea yang tidak mendapat balasan dari Alfian membuatnya menjadi cemas dan kembali mengirim pesan untuk Alvian.
^^^"Cepatlah katakan. Aku benar-benar frustasi dalam situasi ini," tulis Alea.^^^
..."Aku tidak punya urusan dengan masalahmu dan itu adalah resiko dari perbuatanmu sendiri maka bertanggung jawablah dan jangan mengajak-ngajak untuk bertanggung jawab bersama," balas Alvian yang membuat Alea terkejut saat membaca pesan itu....
..."Apa yang di katakannya. Apa dia gila," umpat Alea kesal....
..."Hey. Aku sudah melakukan hal yang kedua kalinya denganmu dan seharusnya kau menepati janji,"...
..."Kapan aku melakukannya dan aku tidak ada janji padamu,"...
..."Alvian! Kau itu benar-benar pria gila. Kau membuat masalahku semakin banyak,"...
..."Bukan urusanku,"...
Alvian dan Alea malah bertengkar melalui pesan teks.
"Aissss sial!" umpat Alea dengan menghela nafasnya yang berusaha untuk sabar menghadapi Alvian.
"Alea kamu harus baik-baik kepadanya. Hanya dia yang bisa membantumu," batin Alea. Alea kembali menulis pesan kepada Alvian dan pesan itu sampai.
"Aku mohon tolong aku. Aku sudah tidak tau harus berbuat apa!" Alea kali ini mengalah dan memohon kepada Alvian. Karena memang hanya Alvian yang bisa membantunya.
"Aku mohon. Putuskan hubunganmu dengan Livia!" titah Alea lagi.
Alvian menyunggingkan senyumnya dan tidak menjawab pesan dari Alea. Alvian tampaknya memang sengaja melakukan hal itu yang ingin melihat perjuangan Alea yang memohon kepadanya terus-menerus.
Begitu jika dia tahu bagaimana kelemahan dari seorang wanita yang membutuhkan bantuannya maka dia juga memanfaatkan hal itu dan sebenarnya Alfian hanya ingin saja melihat Alea melakukan apalagi setelah.
Sementara Alea semakin bingung dengan Alvian yang tidak menjawab pesannya yang membuatnya tidak tau harus melakukan apa lagi.
"Apa dia ingin ingkar janji padaku. Setelah semuanya terjadi," batin Alea dengan wajah yang yang sedih yang takut Alvian ingkar janji padanya.
*********
Alea terus berada di dalam kamar yang bahkan di kurung dan tidak di beri makan sama sekali. Alea pasti kelaparan dan pasrah dengan kehidupannya yang benar-benar sangat sial dengan semua yang di alaminya.
"Lapar!" gumamnya memegang perutnya.
Sejak Alea pulang ke rumahnya dan sampai saat ini sudah ada 24 jam Alea belum sama sekali keluar kamar yang tidak diberi makan. Padahal dia anak dari ayah kandungnya. Tetapi ayahnya juga tidak peduli kepadanya dan bahkan tidak mempertanyakan.
Alea membuka laci di sampingnya. Mengambil bingkai foto yang ternyata foto dirinya dan ibunya. Ibunya yang masih muda menggendongnya saat usianya 3 tahun.
"Mah. Aku sudah 21 tahun hidup seperti ini. Semenjak kepergian Mama papa langsung menikah dengan dia. Dan inilah nasib Alea. Nasib yang sangat menyedihkan," ucap Alea meneteskan air matanya di wajah sang mama yang tersenyum kepadanya.
"Alea tidak tau apa lagi yang harus Alea lakukan. Mereka sangat jahat pada Alea. Seandainya mama masih hidup. Pasti mama tidak akan pernah membiarkan Alea seperti ini," Alea hanya bisa mengadu pada foto sang ibu kandung.
Tidak ada yang bisa menolongnya. Dia benar-benar sendirian sekarang. Memiliki seorang ayah. Namun seperti tidak memiliki yang membuat hidupnya benar-benar sial.
Ceklek.
Tiba-tiba pintu kamar Alea terbuka dan Alea melihat ke arah pintu kamar itu dan yang masuk adalah Monica dengan pelayan yang mengikut di belakangnya yang membawa nampan mungkin saja berisi makanan.
Monica berdiri di depan Alea dengan kedua tangannya yang dilipat di dadanya. Pandangan mata Monica turun ke bawah dan melihat apa yang Alea pegang yaitu foto ibunya.
Alea melihat wanita yang sombong berdiri di depannya itu hanya menatapnya dengan tajam. Tatapan Alea yang tidak ragu lagi menunjukkan kebenciannya kepada wanita angkuh itu.
"Tatapan mu seakan menantangku, sudah mulai berani sekarang," sinis Monica.
"Aku tidak pernah takut sama sekali denganmu," sahut Alea yang menjawab pertanyaan Monica dengan keberanian Alea.
Monica mengendus kasar dan mencengkram mulut Alea dengan satu tangannya.
"Ternyata benar-benar sudah sangat berani berbicara sekarang," ucap Monica dengan menatap tajam Alea. Mata keduanya yang sama-sama saling menantang. Alea sudah penuh kebencian dan tidak perlu ada rasa hormat lagi pada wanita yang di depannya itu.
"Apa karena merasa hebat, bisa merebut Alvian dari Livia dengan menjual tubuhmu dan kamu merasa puas dan sekarang sudah berani menantangku!" sinis Monica yang melepas dengan kasar cengkramannya dari pipi Alea.
"Apa yang aku lakukan. Karena ajaran dari kalian. Jadi jangan menyalahkan ajaran yang kalian berikan," jawab Alea dengan santai.
"Wauh, Alea kau benar-benar banyak bicara sekarang dan aku benar-benar tidak percaya dengan mulutmu yang semakin berani ini," ucap Monica sini.
"Baiklah Alea. Aku tidak ingin kita banyak berbicara. Kamu jangan mencari masalah dengan mendekati Alvian dan mengatakan jika kamu mencintai Alvian atau sebaiknya. Karena hal itu sangat tidak mungkin. Jadi hentikan semua omong kosong kamu dan berkacalah. Karena tidak akan mungkin Alvian mau dengan wanita seperti mu!" ucap Monica yang meremehkan Alea.
"Kamu lihat akibat perbuatan yang kamu lakukan. Kamu tidak bisa makan dan kamu ingin mengadu kepada ibumu. Bahkan ibumu juga tidak bisa memberimu makan dan bagaimana pun. Aku juga yang akan memberimu makan. Jadi hentikan semua omong kosong yang kau lakukan," tegas Monica yang melihat Alea memegang bingkai foto ibunya. Sebenarnya Monica begitu panas melihat apa yang di lakukan Alea.
"Aku masih baik memberimu makan. Jika tidak kau akan mati dan sebenarnya lebih baik kau mati," sinis Monica.
"Beri dia makan!" titah Monica pada pelayan tersebut.
"Nona silahkan makan!" titah pelayan itu.
Bersambung