NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 035: Pipa yang Bocor

Pipa dapur bocor pada pukul dua lewat sebelas malam.

Kiara pertama kali mendengarnya sebagai suara tetesan kecil.

Tik.

Tik.

Tik.

Lalu suara itu berubah menjadi desis.

Ketika ia keluar dari kamar, air sudah mengalir dari bawah kabinet dapur, melewati kaki meja kecil, lalu merambat ke arah kardus berisi beberapa buku pola yang belum sempat ia pindahkan.

"Arga."

Ia berusaha terdengar tenang.

Gagal.

"Arga!"

Arga muncul dari kamar lain dalam hitungan detik, kausnya belum sepenuhnya rapi, matanya langsung membaca lantai, pipa, arah air, dan posisi stop kontak.

"Jangan injak dekat kabel."

Kiara berhenti.

Arga bergerak ke bawah wastafel, membuka pintu kabinet, lalu meraih katup kecil yang berkarat.

"Ember."

Kiara mengambil ember dari kamar mandi.

"Kain."

Ia mengambil dua handuk lama.

"Senter."

"Di mana?"

"Laci atas."

Ia tidak tahu kapan Arga menaruh senter di sana. Ia juga tidak tahu kapan laki-laki itu menghafal seluruh isi unit kecil ini lebih cepat daripada dirinya.

Air masih mengalir ketika Arga menutup katup utama di dekat pintu servis. Suara desis berhenti. Yang tersisa hanya lantai basah, napas Kiara yang terlalu cepat, dan tetesan terakhir dari pipa yang retak.

Arga berjongkok, memeriksa sambungan.

"Seal-nya tua. Ada retak di elbow."

"Kita perlu panggil tukang?"

"Besok. Untuk malam ini cukup ditahan."

"Kamu bisa?"

Arga menoleh sebentar.

"Kalau tidak bisa, kita akan punya kolam pribadi."

Kiara hampir tertawa, tetapi masih terlalu panik.

Arga membuka kotak alat kecil dari bawah rak. Isinya tidak banyak: kunci inggris, obeng, pita seal, tang, beberapa baut, pisau cutter. Dengan gerakan cepat dan tenang, ia membersihkan sambungan, mengeringkan bagian retak, melilit pita seal, lalu memasang penahan sementara.

Kiara memegang senter.

Cahaya tangannya sempat goyah.

"Tahan di sana."

"Maaf."

"Tidak apa-apa. Sedikit ke kiri."

Ia mengikuti.

Dua puluh menit kemudian, pipa itu tidak terlihat bagus.

Tetapi tidak lagi bocor.

Lantai masih harus dipel, kardus harus dipindahkan, dan dapur mereka berbau lembap. Namun krisis kecil itu selesai tanpa teriakan, tanpa menyalahkan, tanpa Ratna berteriak memanggil pelayan, tanpa satu pun orang membuatnya merasa bodoh karena tidak tahu letak katup air.

Kiara duduk di kursi kecil, rambutnya berantakan, ujung celananya basah.

"Kamu juga bisa memperbaiki pipa."

Arga mencuci tangan di kamar mandi. "Bisa sedikit."

"Sedikit?"

"Cukup untuk tidak tenggelam di dapur."

"Belajar dari mana?"

"Di barak, banyak hal rusak. Kalau menunggu orang datang dari kota, kamu bisa mandi pakai air hujan seminggu."

Jawaban itu ringan, tetapi Kiara menangkap bagian lain.

Barak.

Latihan.

Kehidupan yang keras dan praktis.

Arga bisa mengendalikan ruang rapat dari jauh, lalu tetap tahu cara menghentikan air bocor pada pukul dua pagi. Kekayaan bisa membeli tukang. Ketenangan seperti itu tidak dibeli dalam lelang privat mana pun.

Mereka mengepel lantai bersama.

Kiara memeras kain terlalu basah sampai airnya kembali menyebar.

Arga menatap lantai.

"Itu teknik membuat masalah lebih luas."

"Aku sedang belajar."

"Dengan sangat ambisius."

Kiara melempar kain kecil ke arahnya.

Arga menangkapnya tanpa melihat.

Mereka berdua berhenti sebentar.

Kiara melihat gerakan itu.

Refleksnya masih terlalu cepat.

Tetapi malam itu, alih-alih takut, ia merasa anehnya aman.

Setelah lantai cukup kering, mereka duduk di lantai ruang tamu dengan punggung bersandar pada sofa kecil.

Jam menunjukkan hampir tiga pagi.

Kipas langit-langit masih berputar dengan suara tua. Dapur mereka berantakan. Di luar, seekor kucing mengeong di lorong, lalu seseorang dari unit lain membuka pintu dan menyuruhnya pergi dengan suara mengantuk.

Kiara menatap tangannya yang masih berbau sabun lantai.

"Aku dulu bahkan tidak tahu di Rumah Anggrek ada katup air utama di mana."

"Tidak semua orang harus tahu."

"Tapi aku suka tahu."

Arga menoleh.

"Kenapa?"

"Karena rasanya... kalau sesuatu bocor, aku tidak hanya berdiri menunggu orang lain menyelamatkan."

Arga tidak menjawab cepat.

Kiara sadar kalimat itu bukan hanya tentang pipa.

Selama hidupnya, terlalu banyak hal bocor di sekelilingnya: keluarganya, pernikahannya, pekerjaannya, dirinya sendiri. Ia sering berdiri rapi di tengah air yang naik, berpura-pura lantai masih kering karena semua orang menyuruhnya tersenyum.

Malam itu, dengan celana basah dan rambut berantakan, ia justru merasa lebih jujur daripada saat memakai gaun mahal di ballroom.

"Besok aku ajari letak panel listrik," kata Arga akhirnya.

Kiara menatapnya.

"Dan cara mematikan gas."

"Kamu membuat ini terdengar seperti pelatihan bertahan hidup."

"Hidup di Jakarta memang begitu, hanya saja orang kaya menamainya manajemen rumah tangga."

Kiara tertawa pelan.

Ia menyandarkan kepala sebentar ke sofa. Jarak di antara mereka terasa lebih kecil dari sebelumnya.

Pagi harinya, Arga turun lebih dulu untuk membeli kopi dan mengecek nomor tukang pipa dari pengelola. Kiara mengikuti beberapa menit kemudian, membawa kantong sampah kecil.

Di halaman bawah, seorang petugas kebersihan sedang menyapu daun dan merapikan kantong sampah yang robek dekat bak besar. Beberapa penghuni lewat tanpa melihatnya.

Arga justru berhenti.

"Pagi, Pak."

Petugas itu mengangkat wajah, sedikit terkejut.

"Pagi, Mas."

"Kantong yang ini bocor. Saya bantu pindahkan."

"Tidak usah, Mas. Nanti kotor."

"Sudah telanjur hidup di Jakarta. Kotor sedikit bukan berita."

Arga mengangkat kantong robek itu dengan hati-hati, menahan bagian bawahnya agar tidak tercecer. Ia membantu mengikat ulang dua kantong lain, lalu bertanya soal jadwal pengangkutan sampah dan tukang pipa yang biasanya dipercaya penghuni.

Kiara berdiri di dekat tangga, memperhatikan.

Malam itu bebas dari kamera, Bu Agung, urusan bisnis, dan panggung untuk menunjukkan kebaikan.

Hanya Arga, seorang petugas kebersihan yang biasanya tidak dilihat orang, dan percakapan pagi tentang pipa tua serta sampah yang harus diangkut sebelum panas.

Petugas itu tertawa ketika Arga menyebut unit mereka hampir berubah menjadi kolam.

"Unit lantai tiga memang begitu, Mas. Pipa tuanya suka bikin kejutan."

"Kalau ada tukang yang jujur, kabari saya."

"Ada. Nanti saya tulis nomornya."

Arga mengucapkan terima kasih seolah nomor tukang pipa sama pentingnya dengan laporan keuangan.

Kiara tiba-tiba ingat semua makan malam di Rumah Anggrek ketika keluarganya memperlakukan Arga seperti orang yang harus bersyukur karena boleh duduk di meja mereka. Mereka melihat pakaian sederhananya, pekerjaan yang tidak ia jelaskan, diamnya, lalu memutuskan ia kosong.

Mereka tidak pernah melihat hal-hal kecil ini.

Mungkin karena mereka tidak pernah melihat orang-orang kecil di sekitar mereka juga.

Saat Arga kembali membawa dua kopi plastik, Kiara masih berdiri di tempat yang sama.

"Apa?" tanyanya.

"Tidak apa-apa."

"Wajahmu seperti menemukan bukti baru."

Kiara menerima kopi.

"Mungkin memang."

Mereka naik tangga bersama. Di lantai dua, seorang anak kecil berlari melewati mereka sambil membawa roti. Di lantai tiga, pintu tetangga terbuka dan aroma bawang goreng keluar dari dalam. Hidup terus bergerak tanpa peduli apakah Kiara siap atau tidak.

Di unit kecil mereka, lantai dapur sudah kering.

Pipa masih dibalut penahan sementara.

Kardus pola selamat.

Kiara meletakkan kopi di meja dan menatap Arga yang sedang mencari nomor tukang pipa di ponselnya.

Dua tahun lalu, ia mungkin akan menyebut semua ini kehidupan sempit.

Sekarang, ia melihat sesuatu yang lebih luas daripada rumah besar.

"Arga."

"Ya?"

"Mungkin aku memang tidak pernah benar-benar mengenalmu."

Arga mengangkat wajah.

Kiara tidak menuntut jawaban kali ini.

Ia hanya menyimpan kalimat itu di antara mereka, seperti pintu yang mulai terbuka sedikit lagi.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!