Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Tak seorang pun bergerak.
Kalimat di monitor masih menyala terang:
JANGAN ULANGI KESALAHAN YANG SAMA.
Beberapa detik kemudian, layar itu kembali gelap, seolah tak pernah menampilkan pesan apa pun sebelumnya.
Ardi dengan sigap langsung mencabut kabel monitor dari sumber listrik. "Kalau sampai nyala lagi..." bisiknya, "...berarti saya pensiun."
Tidak ada yang tertawa.
Profesor masih memandangi layar hitam itu dengan tatapan kosong. "Ada yang aneh," gumamnya.
"Apa, Prof?" tanya Zain.
"Bukan isi pesannya, tapi..." Profesor memejamkan mata sejenak, "aku merasa... pernah membaca kalimat itu."
"Di buku Proyek Kronos?"
Ardi segera membuka buku catatannya. Mereka memeriksa halaman demi halaman, membalik laporan-laporan lama, hingga meneliti foto-foto arsip. Hasilnya nihil. Kalimat itu seolah tak pernah tertulis di mana pun.
Namun, Profesor tetap menggeleng yakin. "Bukan di situ. Aku benar-benar yakin pernah melihatnya."
Hampir satu jam berlalu dalam kebingungan sampai Profesor mendadak berdiri. "Tunggu sebentar!"
Ia melangkah cepat menuju ruang arsip, membuka sebuah lemari tua, dan mengeluarkan map biru yang sudah kusam. "Ini dia..." gumamnya.
Di dalam map berisi puluhan dokumen surat-menyurat dengan pihak yayasan itu, terselip secarik kertas tempel berwarna kuning. Tintanya sudah mulai memudar. Profesor membacanya perlahan, lalu raut wajahnya berubah drastis.
Ardi mengambil kertas itu. Di sana, tertulis kalimat yang sama persis dengan gaya tulisan tangan di buku Proyek Kronos:
[Jangan ulangi kesalahan yang sama.]
Di sudut kanan bawahnya tertera tanggal: 18 Agustus 1998—tepat sehari setelah kejadian kelam yang terekam di kaset.
"Ini... tulisan tangan Profesor," kata Ardi pelan.
Profesor mengangguk. "Iya. Tapi aku sama sekali tidak ingat kapan menulisnya... atau kesalahan apa yang kumaksud."
Ruangan kembali diselimuti kesunyian. Untuk kedua kalinya, Profesor menemukan jejak tulisan tangannya sendiri yang telah terhapus dari ingatannya.
Zain menyandarkan tubuhnya di kursi. "Bagaimana bisa seseorang melupakan hal sepenting itu?"
Profesor menghela napas panjang. "Ketika seseorang berada di bawah tekanan yang luar biasa berat, ingatan kadang tidak tersimpan dengan utuh. Itu sebabnya aku selalu membuat catatan. Supaya kalau suatu hari aku lupa, catatan itu bisa mengingatkanku. Tapi sekarang... bahkan catatannya pun tidak lengkap."
Malam semakin larut. Saat mereka bertiga bersiap untuk pulang, Zain tanpa sengaja melihat bagian belakang kertas kuning tersebut.
"Prof, sebentar," panggil Zain seraya membalik kertas itu.
Di sisi belakang, terdapat sebuah gambar sederhana. Bukan rumus atau grafik, melainkan sketsa denah laboratorium. Di salah satu sudutnya, tertera sebuah tanda silang merah.
"Ruangan ini..." Ardi menyipitkan mata, "ini bukan denah laboratorium yang sekarang."
Profesor memperhatikannya lebih saksama. "Ini bangunan lama. Tapi... tanda silang ini berada di ruang bawah tanah."
Zain mengernyit bingung. "Memangnya di bawah laboratorium ini masih ada ruangan lagi?"
Profesor terdiam cukup lama sebelum menjawab dengan suara bergetar pelan, "Seharusnya... tidak ada."
Ardi langsung menatap Profesor tajam. "Seharusnya?"
Profesor mengangguk perlahan. "Menurut denah resmi, ruangan bawah tanah itu memang tidak pernah dibangun."
Mereka bertiga saling berpandangan dalam keheningan yang menakutkan.
Jika ruangan itu secara resmi tidak pernah ada, lalu mengapa Profesor di masa lalu menggambarnya? Dan yang lebih misterius... mengapa ia memberi tanda silang tepat di lokasi yang seharusnya tidak pernah eksis?
Keesokan paginya, Profesor Surya sudah berada di laboratorium sejak pukul enam. Di atas mejanya, terbentang dua lembar denah: denah resmi gedung laboratorium dan sketsa kecil di balik kertas kuning.
Ardi melangkah masuk sambil membawa secangkir kopi hangat. "Sudah dibandingkan, Prof?"
Profesor mengangguk. "Sudah."
"Ada bedanya?"
"Banyak," jawab Profesor pendek sambil menunjuk denah resmi. "Di bawah ruang arsip ini, seharusnya hanya ada fondasi."
Lalu, jarinya berpindah menunjuk sketsa tangan. "Tapi kalau menurut gambar ini, di sana ada sebuah lorong. Dan di ujung lorong itu... ada sebuah ruangan."
Zain yang baru saja datang ikut mendekat dan memperhatikan kedua gambar itu. "Berarti denah resminya salah?"
Profesor menggeleng pelan. "Belum tentu. Bisa saja lorong itu baru dibuat setelah gedungnya selesai. Tapi kalaupun begitu, seharusnya ada catatan resminya."
Tanpa buang waktu, Ardi segera membuka bundel arsip pembangunan gedung. Satu jam berlalu, lalu dua jam. Semua dokumen diperiksa dengan teliti, namun hasilnya nihil. Tak ada satu pun izin renovasi ataupun laporan mengenai pembangunan lorong bawah tanah.
Seolah-olah tempat itu memang tidak pernah ada.
"Kalau begitu..." gumam Zain, "...kita bongkar saja lantainya."
Profesor langsung menggeleng tegas. "Jangan."
"Kenapa?"
"Seorang ilmuwan tidak menghancurkan bangunan hanya karena rasa penasaran."
"Lalu bagaimana?"
Profesor tersenyum tipis. "Kita cari pintunya."
Mereka bertiga kembali ke ruang arsip. Mereka mulai mengukur dinding, menghitung jarak, dan mencocokkan posisi berdasarkan denah tangan tersebut. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tanda silang merah itu berada tepat di balik rak arsip paling ujung—rak tua yang sudah puluhan tahun tak pernah dipindahkan.
"Geser," perintah Profesor.
Mereka bertiga mendorong rak besi berat itu bersama-sama.
Greeeek...
Debu tebal kembali beterbangan mengotori udara. Namun, tidak ada pintu rahasia di balik rak tersebut. Hanya ada dinding beton polos.
Zain menghela napas kecewa. "Berarti tebakan kita salah."
Profesor tidak langsung menjawab. Ia justru mendekati dinding itu dan mengetuknya perlahan.
Tok... Tok... Tok...
Bunyinya terdengar padat. Profesor bergeser beberapa langkah ke samping, lalu mengetuknya kembali.
Tok... Tok...
Kali ini suaranya berbeda—sedikit lebih nyaring dan bergema kosong. Profesor mengetuknya sekali lagi. Suasana seketika hening saat semua orang ikut menyimak bunyi ketukan itu.
"Ardi," panggil Profesor.
"Iya, Prof?"
"Ambil alat pemindai."
Beberapa menit kemudian, alat pemindai dinding mulai bekerja. Layar digitalnya menampilkan struktur beton, jalinan tulangan besi, hingga jalur pipa listrik. Namun, tepat di bagian tengah dinding, muncul sebuah bidang kosong berbentuk persegi panjang.
Ardi menelan ludah, menatap layar dengan mata membelalak. "Prof... itu..."
Profesor mengangguk pelan. "Ruang kosong."
"Panjangnya?"
"Hampir tiga meter."
"Tingginya?"
"Dua meter lebih."
Ukuran yang sangat presisi untuk sebuah lorong. Jantung Zain berdegup makin kencang. "Jadi... lorong ini memang ada?"
Profesor masih menatap layar pemindai. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa puas, melainkan makin tegang dan serius.
"Yang membuatku khawatir bukan karena lorong ini ada," kata Profesor pelan.
"Lalu apa?"
"Seseorang... sengaja menutupnya."
Ruangan itu kembali diselimuti kesunyian. Jika lorong rahasia ini benar-benar ada, artinya seseorang telah dengan sengaja menghapusnya dari denah resmi, menyembunyikannya, dan membiarkannya terkubur terlupakan selama hampir tiga puluh tahun.
Profesor menatap dinding beton itu cukup lama sebelum akhirnya bersuara, "Hari ini... kita tidak akan membukanya."
Zain langsung menoleh kaget. "Lho? Kenapa?"
"Kita belum tahu kenapa lorong ini disembunyikan. Kalau memang sengaja ditutup, berarti orang yang menutupnya punya alasan kuat." Profesor mengembuskan napas panjang. "Besok... kita buka bersama-sama."