NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020: Surat dari London

Panggung itu mulai menyalakan lampunya.

Malam itu, Ardi tidak pulang cepat.

Di ruang dokter RSUD Soetomo, meja kecilnya berubah menjadi medan perang kertas: catatan operasi Pak Gunawan, sketsa Teknik Sandwich yang digambar Hasan, grafik tekanan darah, foto anastomosis, dan draft laporan Bronkosol yang belum boleh disentuh emosi.

Di layar laptop, judul sementara naskah itu berkedip:

Modified Flow-Oriented Sandwich Technique for Complex Aortic Dissection in High-Risk Elderly Patient.

Rudi yang duduk di sofa membaca judul itu dengan dahi berkerut.

“Di, ini bahasa Inggris apa mantra?”

“Judul paper.”

“Panjang amat. Kalau gue jadi reviewer, gue sudah capek sebelum baca.”

Ardi tidak menoleh. “Makanya kamu bukan reviewer.”

Rudi mendengus, tetapi ia tetap membuat kopi dan meletakkannya di samping laptop Ardi. Sejak Bronkosol, candaan Rudi tidak lagi ringan sepenuhnya. Di balik setiap lelucon, ada rasa sadar bahwa mereka sedang berjalan di pinggir jurang.

Dokter Hasan mengirim revisi pertama pukul sebelas malam.

Komentarnya tajam.

Jangan klaim terlalu besar.

Data follow-up masih pendek.

Jelaskan mengapa sudut jahitan mengikuti vektor aliran mengurangi turbulensi.

Tulis komplikasi potensial, jangan hanya kelebihan.

Ardi membaca semuanya tanpa tersinggung. Hasan bukan sedang mengecilkan penemuannya. Ia sedang membuatnya cukup kuat untuk bertahan di meja editor internasional.

Menjelang subuh, draft pertama selesai.

Hasan bergabung lewat video call. Wajahnya lelah, tetapi matanya menyala.

“Saya kirim ke Bu Profesor sekarang?” tanya Hasan.

Ardi menatap naskah itu. “Kirim.”

Beberapa menit kemudian, file terkirim ke Jakarta.

Balasan Profesor Sri Mulyani datang lebih cepat dari dugaan. Bukan pesan pendek, melainkan panggilan video.

Ardi dan Hasan langsung duduk lebih tegak.

Di layar, Sri Mulyani tampak sudah membaca banyak bagian. Beberapa halaman dicetak di mejanya, penuh coretan tinta merah.

“Saya akan bicara langsung,” katanya.

Hasan mengangguk. “Silakan, Bu Profesor.”

Sri Mulyani mengangkat satu halaman. “Modifikasi ini... ini benar-benar orisinal. Saya belum pernah lihat pendekatan seperti ini diterapkan pada kasus Teknik Sandwich dengan dinding aorta serapuh ini.”

Ruangan kecil itu mendadak sunyi.

Ardi tidak tersenyum, tetapi jari-jarinya berhenti di atas keyboard.

“Namun,” lanjut Sri Mulyani, “orisinal saja tidak cukup. Untuk The Lancet, Anda harus menunjukkan mengapa ini penting bagi praktik global, bukan hanya satu keberhasilan di Surabaya.”

“Kami punya data hemodinamik lengkap,” kata Hasan. “Follow-up awal ICU juga stabil.”

“Bagus. Tambahkan diagram aliran. Tambahkan alasan mengapa teknik standar berisiko merobek jaringan pada kasus ini. Dan jangan menyebut ini sebagai teknik baru secara absolut. Sebut modifikasi pendekatan pada kondisi terpilih.”

Ardi mencatat cepat.

Sri Mulyani menatapnya. “Dokter Ardi.”

“Ya, Bu Profesor.”

“Anda punya kemampuan yang tidak biasa. Tapi dunia akademik tidak peduli pada keajaiban yang tidak bisa dijelaskan. Tulisan Anda harus membuat orang lain bisa mengulangnya.”

Kalimat itu masuk lebih dalam dari pujian.

Selama ini, sistem memberi Ardi kemampuan untuk melakukan hal yang tampak mustahil. Tetapi jika ia ingin naik ke panggung dunia, ia harus mengubah keajaiban itu menjadi metode.

Menjadi ilmu.

“Saya mengerti,” kata Ardi.

Sri Mulyani mengangguk. “Saya akan mengirimkan naskah ini kepada Editor Camby. Dia tidak mudah terkesan. Tapi kalau melihat nama saya sebagai pengantar dan data Anda cukup bersih, setidaknya naskah ini tidak akan mati di meja administrasi.”

Rudi yang diam sejak tadi hampir menjatuhkan gelas kopi.

Setelah panggilan selesai, Hasan menatap Ardi lewat layar.

“Anda sadar apa artinya?”

“Belum diterima.”

“Tentu belum.” Hasan tertawa kecil, pertama kalinya Ardi mendengar tawa itu begitu ringan. “Tapi masuk ke perhatian editor The Lancet saja sudah bukan hal kecil.”

Ardi kembali bekerja.

Dalam dua hari, mereka memperbaiki naskah Teknik Sandwich. Hasan mengurus data RS UNAIR dan izin penggunaan gambar operasi. Ardi menulis bagian teknik, menggambar ulang diagram aliran, dan memastikan setiap klaim punya dasar.

Di sela itu, ia menyelesaikan naskah kedua: catatan klinis tentang Operasi Jantung Tanpa Henti pada pasien risiko tinggi, dengan fokus pada stabilitas perfusi dan keputusan intraoperatif.

Naskah ketiga lebih kecil tetapi tetap penting: teknik jahitan kosmetik pada luka wajah berisiko tinggi, berdasarkan kasus Rania, dengan identitas pasien disamarkan dan izin tertulis diminta melalui jalur Yuni.

“Lo gila,” kata Rudi saat melihat tiga folder berbeda di laptop Ardi. “Orang normal nulis satu paper saja sudah mau muntah.”

“Saya punya banyak utang waktu.”

“Utang ke siapa?”

Ardi menatap layar sebentar.

Ke Gatra. Ke Sari. Ke pasien yang mati tanpa sempat tahu kenapa. Ke dirinya sendiri yang pernah dikubur hidup-hidup oleh fitnah.

“Ke masa lalu,” jawabnya.

Email resmi pertama datang pada malam ketiga.

Pengirimnya memakai alamat editorial internasional.

Nama di bawah pesan itu: Prof. Richard Camby.

Pesannya tidak panjang.

Naskah Teknik Sandwich mereka diterima untuk priority editorial assessment. Editor meminta data tambahan, diagram resolusi tinggi, dan pernyataan etik yang lengkap. Belum ada janji publikasi. Namun kalimat terakhir membuat Hasan langsung menelepon Ardi.

The proposed modification is unusual and potentially important.

Tidak diterima.

Tetapi diperhatikan.

Bagi dokter tanpa nama dari Surabaya, itu seperti pintu besi yang terbuka selebar satu ruas jari.

Panel sistem muncul saat Ardi membaca email itu.

[Pencapaian akademik internasional terdeteksi.]

[Misi Berantai — Tahap 3/5 pratinjau terbuka.]

+--------------------------------------------------+

| Tahap 3/5: Publikasi Temuan Bronkosol |

| Syarat: dalam konferensi medis internasional, |

| publikasikan temuan awal tentang Bronkosol. |

| Hadiah: 2000 PM |

+--------------------------------------------------+

Ardi menatap panel itu lama.

International conference.

Bronkosol.

Lancet.

Tiga jalan yang awalnya tampak terpisah kini mulai bertemu di satu titik. Jika makalah Teknik Sandwich membawanya ke panggung internasional, ia bisa memakai panggung itu untuk membuka sinyal bahaya Bronkosol.

Naik bukan hanya untuk dihormati.

Naik untuk membuat musuh tidak bisa menutup mulutnya.

Beberapa hari berikutnya, Ardi menunggu balasan lanjutan sambil tetap bekerja di UGD. Bronkosol report belum dikirim publik, tetapi draft-nya makin rapi. Hasan menyarankan satu lampiran statistik. Hartono menyiapkan jalur hukum jika perusahaan menyerang. Sri Mulyani meminta semua data etik dibereskan sebelum satu kata pun keluar ke media.

Lalu Dokter Fajar masuk ke ruang dokter dengan wajah yang membuat Rudi langsung duduk tegak.

“Ada kabar dari UNAIR,” kata Fajar.

Ardi menutup laptop. “Tentang Pak Gunawan?”

“Bukan. Tentang kamu.”

Fajar meletakkan sebuah undangan internal di meja.

“UNAIR akan mengadakan dies natalis. Mereka ingin kamu memberi kuliah ilmiah tentang Teknik Sandwich.”

Rudi menyeringai. “Wah, Bos jadi pembicara besar.”

Fajar tidak tersenyum.

“Ada bagian lain. Katanya Surya Pradana menyumbang besar untuk acara itu. Syarat tidak tertulisnya, mereka ingin mendorong pemberian gelar profesor kehormatan untuk kamu.”

Ruangan langsung dingin.

Rudi mengumpat pelan. “Itu bukan hadiah.”

“Itu perangkap,” kata Ardi.

Jika ia menerima, orang bisa berkata ia haus jabatan. Jika ia menolak, Surya Perkasa bisa menggiring opini bahwa Ardi tidak tahu diri setelah dibantu panggung akademik. Dan jika ia terima tanpa strategi, beban mengajar dan administrasi bisa menghabiskan waktunya saat Bronkosol baru mulai terbuka.

Panel sistem menyala.

[Syarat Sistem Warisan terdeteksi.]

[Jika Anda menerima jabatan profesor dan mengajar, Sistem Warisan akan aktif.]

[Catatan: sesi pengajaran pertama akan menentukan nilai awal sistem.]

Ardi membaca pesan itu sekali.

Lalu sudut matanya menjadi tenang.

Surya Pradana mengira sedang meletakkan rantai di lehernya.

Mereka tidak tahu rantai itu bisa berubah menjadi senjata.

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!