Luna yang hidup dengan kakeknya yang sudah tua mau tidak mau menerima pernikahan paksa yang sudah diatur oleh sahabat kakeknya.
"Kakek aku hanya ingin menemani Kakek dimasa tua," Luna berkata lirih sambil menyentuh tangan keriput kakeknya.
Tidak pernah terlintas di pikiran Luna jika akan menikah dalam perjodohan, Luna gadis polos dan tidak neko-neko harus menikah dengan CEO yang dingin dan galak tidak pernah dekat dengan seorang wanita.
Lalu bagaimana Luna bisa menjalani pernikahan dengan suami yang super Perfect, sedangkan dirinya merasa seperti Upik abu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam sangat panjang
Kamar Luna dihiasi dengan perpaduan suara keduanya yang mengudara, Luna yang masih baru pertama kali begitu pasrah di bawah tubuh kekar sang suami. Raditya yang begitu candu dengan tubuh Luna, tidak cukup membuatnya hanya bermain sebentar, sampai-sampai Luna memohon ampun untuk menyudahi percintaan mereka saat merasakan tubuhnya yang lelah dengan miliknya yang terasa perih dan panas. Luna bisa merasakan milik suaminya yang besar dan panjang, meskipun belum melihat sepenuhnya tapi Luna benar-benar merasakan milik suaminya menyodoknya sampai dalam membuatnya perutnya terasa mulas.
"Ahh Om, aku mau-enggh."
"Bersama Lun, sebentar lagi." Keringat Raditya menetes jatuh di tubuh Luna, keduanya berbagi keringat di malam panjang yang mereka habiskan berdua.
Raditya menggagahi Luna seperti tak kenal lelah, ia yang sejak tadi mendominasi permainan malam pertama mereka.
"Lu-na ngak ta-han Om, ahh!" Luna menjerit saat Raditya mehentakkan pinggulnya kuat dan dalam rasanya begitu ngilu dan nikmat secara bersamaan.
"Ahh, ahhh milik mu sempit Lun, rasanya begitu legit, shh."
Kepalanya Raditya mendongak ke atas saat tubuhnya merasakan gelombang kenikmatan akan segera menghampiri.
Tangan Raditya mencekram kedua pinggang Luna dan terus berpacu semakin kuat dan dalam.
Luna mencekram kedua tangan Raditya kuat sambil melebarkan kedua kakinya saat merasakan dirinya juga akan segera sampai.
"Bersama sayang, shhh aku mau sampai." Wajah Raditya merah padam, urat lehernya terlihat menonjol dengan mata merem melek membuat Luna yang sedikit-sedikit melihatnya begitu terpana, Raditya semakin tampan dan gagah saat bercinta penuh keringat seperti ini. Apalagi tubuh kekarnya yang mengkilap oleh keringat membuat Raditya semakin panas.
Luna menggelengkan kepalanya saat kepalanya dipenuhi dengan keliarannya melihat tubuh kekar sang suami. Dirinya benar-benar sudah terkontaminasi oleh suaminya ini.
"Ahh Lun, aku sam-pai!"
Arrghh ahh...ahhh..
Tubuh keduanya mengejang bersama, malam pertama yang melebur menjadi satu, percintaan yang membuat keduanya terbang melayang, merasakan betapa indah surga dunia yang baru saja mereka dapatkan.
Raditya ambruk di atas tubuh Luna, kulit tubuh keduanya saling menempel dengan dada naik turun, napas keduanya sama-sama memburu, Luna memejamkan matanya dengan bibir terbuka.
Bruk
Raditya menjatuhkan tubuhnya kesamping, takut jika Luna merasa sesak karena berat tubuhnya.
Raditya melirik Luna yang terlentang, matanya tertutup wajahnya penuh dengan keringat, tangannya beringsut mengusap wajah Luna yang basah membuat mata Luna yang terpejam karena lelah perlahan terbuka sedikit.
"Terima kasih Lun, kau menjaganya untuk suamimu." Ucap Raditya sambil mengecup bibir Luna sekilas.
Luna tidak menjawab, matanya yang berat membuatnya langsung terlelap tanpa peduli jika tubuhnya masih terekspos polos.
"Hey, kau tidak mau membersihkan diri?" Raditya mengigit kecil bahu Luna yang ternyata banyak tanda merah, membuat Raditya tersenyum lebar.
Mendengar dengkuran halus istrinya, Raditya memilih menarik selimut dan menutupi tubuh polos keduanya, waktu hampir pukul dua belas malam Raditya tersenyum simpul mengingat dirinya cukup lama menggempur istrinya.
"Kau milikku, milikku." Gumam Raditya sambil mengecup kening Luna dan memeluknya hangat.
Olah raga malam yang mereka lakukan cukup menguras tenaga dan keringat, keduanya langsung tertidur setelah kelelahan.
*
*
Di rumah kakek Rizal, kedua orang tua itu sedang menikmati teh di pagi hari ditemani dengan suara burung peliharaan kakek Rizal.
"Kira-kira apa yang akan dilakukan cucumu, mengingat ini pernikahan hasil perjodohan." Ucap Kakek Seto setelah menyesap teh nya.
Kakek Rizal yang tadinya fokus menatap pada burung peliharaannya, kini bergantian menatap sahabatnya itu.
"Memangnya apa yang bisa Radit lakukan, dia akan kehilangan semuanya jika dia menolak." Kakek Rizal menjawab dengan santai, "Mau cari wanita yang seperti apa, Luna adalah gadis yang cocok untuk Radit." Katanya lagi dengan wajah biasa saja.
Kakek Seto mengehela napas, "Raditya tidak sama dengan pria kebanyakan, dia begitu dingin dan tersentuh, aku takut jika Luna berbuat sesukanya yang memancing kemarahan Raditya." Ketakutan Kakek Seto hanya satu yaitu, jika Luna diperlakukan dengan tidak baik, maka dirinya tidak akan menerimanya.
"Kamu tenang saja, aku tahu Radit seperti apa, dia tidak akan kejam dengan gadis seperti Luna, yang ada dia justru begitu beruntung.
Dan yang terjadi sekarang Luna tidak bisa dibuat jalan oleh Raditya. Saat bangun tidur Luna yang ingin kekamar mandi tiba-tiba tubuhnya jatuh karena tidak bisa berjalan, rasanya sekujur tubuhnya begitu sakit dan lemah, belum lagi di bagian intinya seperti ada yang mengganjal.
Melihat istrinya yang kesusahan karena ulahnya, Raditya memilih untuk menjadi kaki Luna, ia akan sigap menggendong Luna kemana pun gadis itu ingin pergi, sampai Luna merasakan kenyamanan di dekat Raditya, merasa diperhatikan oleh pria menyebalkan yang sayangnya suami nya itu.
"Kini keduanya duduk di meja makan dengan makanan yang baru saja datang, Raditya memilih memesan makanan dari pada melihat istrinya kesusahan untuk memasak.
"Kamu libur kerja, dengan keadaanmu seperti itu." Ucap Raditya yang duduk didepan Luna, mereka memalui sarapan.
Luna tidak menjawab, melainkan makan dengan lahap karena dirinya benar-benar lapar.
Raditya yang melihat hanya geleng kepala, "Aku harus ke kantor, ada pertemuan penting dengan klien," Raditya mengusap sudut bibir Luna yang kotor dengan tangannya yang pajang, sehingga bisa menjangkau wajah Luna.
"Pelan-pelan kalau makan."
Luna tertegun, sejak bangun tidur sifat Raditya memang berubah, lebih hangat dan perhatian membuat Luna merasakan kehangatan yang Raditya ciptakan.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku,"
Setelah sarapan selesai, Raditya mengantar Luna keruang kelurga, Luna ingin bersantai di sana sambil menonton televisi, ia juga bisa rebahan di sofa bed tanpa harus berjalan kekamar.
Raditya mengecup kening dan bibir Luna sekilas, rasanya ingin sekali menemani istrinya dirumah, tapi pertemuannya dengan klien penting tidak bisa ditinggalkan.
"Sudah sana pergi Om!" Usir Luna saat Raditya hanya diam menatapnya saja, tentu saja Luna merasa risih dan malu.
"Ck, kita sudah menikah bahkan sudah melewati malam pertama, kenapa kamu masih memanggilku Om saja!" Kesal Raditya dengan wajah masam.
Luna memicingkan matanya menatap suaminya itu, "Lalu aku harus panggil apa? memang usia Om kan pantasnya di panggil Om!" Kata Luna dengan nada sedikit ngegas.
Raditya menarik napas kasar, bicara dengan Luna lama-lama membuatnya kesal sendiri.
"Terserah, yang jelas aku suami mu. Bukan Om mu." Raditya beranjak berdiri untuk pergi. Ia bisa-bisa naik darah jika berdebat dengan Luna.
"Aneh, umur nya tua kok ngak mau di panggil Om," Dumel Luna dengan bibir mencebik.
Tapi detik berikutnya, Raditya kembali muncul sambil jalan tergesa kearahnya membuat Luna menjadi bingung.
"Om, apa yang-"
Cup
"Hati-hati dirumah, telepon kalau ada apa-apa." Kata Raditya sambil mengusap pucuk kepala Luna dan berlalu pergi kembali, membuat Luna melongo di buatnya.
*
*
Cie...Cie...😂