NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Aditiar

SINOPSIS:

"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."

Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.

Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peta dari Masa Lalu

Bab 7: Peta dari Masa Lalu

Cahaya biru yang keluar dari kotak kayu hitam perlahan membentuk garis-garis tipis di udara.

Garis itu saling bertaut, memanjang, lalu melengkung menjadi sebuah peta tiga dimensi yang melayang setinggi dada Ethan. Cahaya lembutnya memantul di jalan yang masih dipenuhi puing-puing akibat pertarungan beberapa saat sebelumnya.

Para anggota Divisi Khusus Pemerintah langsung mengangkat senjata.

"Objek spiritual!"

"Amankan!"

Kapten mereka mengangkat tangan, menghentikan bawahannya yang hendak mendekat.

"Tunggu."

Tatapannya tidak lepas dari Ethan.

Pemuda itu tidak tampak terkejut ataupun panik. Ia justru menatap peta tersebut dengan sorot mata yang tajam, seolah sedang mencocokkan sesuatu di dalam ingatannya.

"Ini bukan peta biasa..."

Di dunia kultivasi, ada artefak yang hanya akan mengungkap informasi ketika syarat tertentu terpenuhi. Salah satunya adalah resonansi antara beberapa artefak yang saling berhubungan.

Kemunculan pria bertopeng hitam tadi...

Kemudian hilangnya Binatang Bayangan...

Dan kini peta ini muncul.

Semuanya terjadi terlalu berurutan untuk disebut kebetulan.

Peta itu perlahan berputar.

Gunung.

Sungai.

Lembah.

Kemudian cahaya berhenti pada sebuah titik yang berkedip pelan.

Di bawah titik tersebut muncul dua aksara kuno.

Gerbang Senja.

Ethan menghela napas perlahan.

Nama itu tidak pernah ia dengar selama hidup di Bumi.

Namun bentuk pegunungan yang tergambar terasa aneh.

Sangat mirip dengan jalur energi bumi, bukan sekadar peta geografis.

Artinya...

Tempat itu kemungkinan tersembunyi oleh sebuah formasi.

"Siapa kau sebenarnya?"

Suara Kapten Divisi Khusus memecah keheningan.

Ethan tidak langsung menjawab.

Ia mengangkat tangan menutup kotak kayu.

Begitu tutupnya tertutup, peta biru perlahan menghilang.

Barulah ia menoleh.

"Seorang yang sedang mencari jawaban."

Kapten mengembuskan napas pelan.

"Jawaban itu menyebabkan dua orang anak buahku terluka."

"Yang melukai mereka bukan aku."

"Kau mengenal makhluk tadi."

"Aku mengenalnya lebih baik daripada kalian."

Jawaban itu membuat beberapa anggota Divisi saling berpandangan.

Kapten memperhatikan Ethan cukup lama.

Pemuda ini terlalu tenang.

Bahkan setelah menghadapi monster yang belum pernah muncul dalam arsip mereka.

Orang biasa tidak mungkin memiliki ketenangan seperti itu.

"Aku Kapten Arga."

"Divisi Khusus Penanggulangan Fenomena."

"Kau harus ikut kami."

Ethan menggeleng pelan.

"Bukan sekarang."

"Ini bukan permintaan."

"Aku tahu."

"Kalau begitu?"

"Aku tetap tidak ikut."

Suasana langsung menegang.

Beberapa senjata kembali diarahkan ke tubuh Ethan.

Namun Arga mengangkat tangan lagi.

"Turunkan."

"Kapten?"

"Turunkan."

Mereka menurut, meski dengan wajah tidak puas.

Arga memandang Ethan.

"Aku tidak berniat menangkapmu."

"Aku ingin berbicara."

"Kalau begitu nanti."

"Kapan?"

"Kalau aku sudah yakin kalian bukan musuh."

Jawaban itu sederhana.

Namun tidak memberi ruang untuk dibantah.

Tak jauh dari sana, di atas atap sebuah bangunan tua.

Alya Pramesti menyaksikan seluruh percakapan melalui teropong.

Bram berdiri di sampingnya.

"Dia menolak Divisi Khusus."

Alya mengangguk.

"Sudah kuduga."

"Menurut Nona, apakah dia benar-benar tidak tahu siapa mereka?"

"Bukan."

Alya menurunkan teropongnya.

"Dia sengaja menjaga jarak."

"Kenapa?"

"Karena dia belum percaya kepada siapa pun."

Tatapan Alya kembali tertuju pada Ethan.

Semakin lama mengamatinya, semakin banyak hal yang terasa bertentangan.

Pemuda itu memiliki pengetahuan yang jauh melampaui usianya.

Cara bertarungnya bukan hasil latihan militer.

Bukan pula seni bela diri modern.

Gerakannya...

Seolah ditempa oleh ratusan pertempuran hidup dan mati.

"Selidiki semua tentang Gerbang Senja."

Bram sedikit terkejut.

"Nama itu tidak pernah muncul dalam arsip."

"Justru itu."

Sementara itu, Ethan akhirnya meninggalkan penginapan.

Ia tidak terburu-buru.

Langkahnya tetap tenang meski ia tahu ada beberapa pasang mata yang diam-diam mengikutinya.

Divisi Khusus.

Organisasi berjubah abu-abu.

Kemungkinan bahkan kelompok pria bertopeng hitam tadi.

Semakin banyak pihak mengetahui keberadaannya.

Keuntungan satu-satunya adalah...

Mereka juga saling mengawasi.

Tidak ada yang berani bertindak gegabah di tengah kota.

Satu jam kemudian.

Ethan tiba di sebuah taman kota yang hampir kosong.

Ia duduk di bangku kayu di bawah pohon besar.

Kotak kayu hitam kembali diletakkan di pangkuannya.

Namun kali ini, ia tidak membukanya.

Sebaliknya, ia mengeluarkan surat peninggalan ayahnya.

Kalimat demi kalimat dibaca kembali.

"Formula yang mereka incar hanyalah permulaan."

"Yang mereka cari sebenarnya adalah sesuatu yang kusembunyikan."

Dulu, Ethan mengira ayahnya hanya seorang ilmuwan.

Sekarang...

Ia mulai meragukannya.

Tidak mungkin orang biasa mengetahui keberadaan Batu Mata Air Ketujuh.

Apalagi meninggalkan petunjuk menuju artefak kuno.

"Ayah..."

"Siapa sebenarnya dirimu?"

Tiba-tiba, seseorang duduk di ujung bangku yang sama.

Seorang pria tua.

Rambutnya memutih.

Pakaian sederhananya masih sama seperti yang ditemui Ethan di Bukit Arjaya.

Tabib tua.

Ia membawa termos kecil dan dua cangkir logam.

"Aku membawa teh."

Ethan menoleh sebentar.

"Lalu?"

"Teh lebih enak diminum berdua."

Tanpa menunggu izin, pria tua itu menuangkan teh ke salah satu cangkir.

Aroma daun melati memenuhi udara.

Ethan tidak langsung menyentuhnya.

Pria tua tersenyum.

"Takut diracun?"

"Aku hanya berhati-hati."

"Itu bagus."

Ia meminum tehnya sendiri lebih dulu.

Barulah Ethan mengangkat cangkir satunya.

Setelah memastikan tidak ada racun maupun zat aneh, ia meminumnya perlahan.

Hangat.

Namun sesaat kemudian matanya sedikit menyipit.

Teh itu mengandung Qi yang sangat tipis.

Hampir tidak terasa.

Tetapi cukup membantu meredakan kelelahan meridiannya.

"Bukan teh biasa."

Pria tua itu tertawa kecil.

"Daunnya tumbuh di tempat yang istimewa."

Ethan menatapnya.

"Kakek sengaja mencariku?"

"Bisa dibilang begitu."

"Kenapa?"

Pria tua itu memandang langit.

"Karena sudah lama tidak ada orang yang bisa menemukan Batu Mata Air Ketujuh."

"Apakah Kakek penjaganya?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Hanya seseorang yang gagal membukanya."

Jawaban itu membuat Ethan terdiam.

Untuk pertama kalinya, pria tua itu memberikan jawaban yang tidak menggantung.

"Kakek tahu tentang Gerbang Senja?"

Pria tua itu tidak langsung menjawab.

Beberapa saat kemudian ia berkata pelan,

"Tempat itu tidak boleh dibuka."

"Kenapa?"

"Karena ada sesuatu yang tidak boleh keluar."

Ethan mengingat Binatang Bayangan tadi malam.

"Monster?"

"Bukan."

"Lebih buruk."

Sorot mata pria tua berubah jauh lebih serius.

"Monster hanya akibat."

"Yang tersegel..."

"...adalah penyebabnya."

Belum sempat Ethan bertanya lagi.

Telepon genggam di saku pria tua itu berdering.

Ia mengangkatnya.

Hanya mendengar beberapa detik.

Lalu wajahnya berubah.

"Sial..."

"Ada apa?"

Pria tua itu berdiri perlahan.

"Seseorang membuka simpul kedua."

Jantung Ethan berdetak sedikit lebih cepat.

"Simpul kedua?"

Pria tua itu mengangguk.

"Segel Gerbang tidak terdiri dari satu kunci."

"Ada lima simpul."

"Malam tadi yang aktif baru satu."

"Barusan..."

"...simpul kedua dihancurkan."

Ethan langsung berdiri.

"Di mana?"

Pria tua menatapnya.

"Kalau kuberitahu, kau pasti akan pergi."

"Benar."

"Itulah alasan aku tidak ingin memberitahumu."

Keheningan menyelimuti keduanya.

Beberapa detik kemudian, Ethan berkata pelan,

"Kalau segelnya terus rusak..."

"...lebih banyak Binatang Bayangan akan muncul."

"Itu benar."

"Berarti aku harus pergi."

Pria tua itu menghela napas panjang.

"Keras kepala."

"Sudah kubilang."

Ethan tidak membantah.

Pria tua tersenyum tipis.

"Baiklah."

Ia mengeluarkan sebuah koin tembaga tua dari sakunya.

"Kau akan membutuhkan ini."

Ethan tidak langsung mengambilnya.

"Koin apa ini?"

"Bukan senjata."

"Bukan pula harta."

"Ini hanya..."

"...tiket masuk."

"Tiket ke mana?"

Pria tua belum sempat menjawab.

Tanah di bawah taman tiba-tiba bergetar pelan.

Getaran itu semakin kuat.

Air di kolam taman mulai beriak hebat.

Beberapa burung beterbangan panik meninggalkan pepohonan.

Di tengah kolam...

Permukaan air perlahan berputar membentuk pusaran hitam.

Qi pekat memancar keluar tanpa henti.

Wajah pria tua langsung berubah.

"Mustahil..."

"Gerbang bayangan..."

"...muncul di tengah kota?"

Belum selesai kalimatnya, sebuah tangan pucat perlahan muncul dari dalam pusaran.

Lalu tangan kedua.

Disusul sosok manusia yang seluruh tubuhnya diselimuti rantai-rantai hitam berkarat.

Saat kepala makhluk itu terangkat, kedua matanya yang kosong perlahan terbuka.

Dan tepat pada saat itu...

Koin tembaga di tangan pria tua mendadak memancarkan cahaya keemasan yang begitu terang hingga menyelimuti Ethan seluruhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!