Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memancing Harimau Keluar dari Sarangnya
WUSH!
Cahaya merah darah yang memancar dari Buah Roh Berdarah mendadak membumbung tinggi, menembus kabut tebal dan membelah langit Lembah Berdarah. Aroma spiritual yang teramat wangi dan pekat seketika meledak, puluhan kali lipat lebih kuat dari sebelumnya.
Fenomena instan ini langsung menyulut sisa kewarasan para manusia di tempat itu. Sepasang mata mereka membelalak sempurna, dipenuhi oleh kobaran rasa keserakahan yang membutakan akal sehat.
"Cepat! Buah itu sudah matang sempurna! Rebut!!!"
Entah suara lantang milik siapa yang berteriak memprovokasi terlebih dahulu.
Namun dalam sekejap mata, para kultivator pengembara dan bandit yang semula saling bunuh, mendadak berbalik arah. Mereka berlari kencang bagai kawanan serigala lapar, menyerbu lurus menuju ke arah pohon tanaman spiritual tersebut.
Bahkan, beberapa orang pengawal yang telah terluka parah pun memaksakan diri berdiri, menyeret kaki mereka yang berlumuran darah. Di mata mereka saat ini... harta karun legendaris seratus tahun sekali itu jauh lebih berharga daripada sisa nyawa mereka sendiri.
Namun, di tengah gelombang histeria masal tersebut, Yu Chen tetap berdiri tegak di posisinya. Ia sama sekali tidak menggerakkan kakinya, hanya bersedekap dada seraya mengamati kekacauan itu dengan ketenangan sedingin es.
Liu Xue yang panik langsung menarik kencang ujung kain jubah abu-abu Yu Chen. "Kakak Yu Chen! Cepat bergerak! Jika kita terlambat satu detik saja, buah spiritual itu akan jatuh ke tangan orang lain!"
Yu Chen menggelengkan kepalanya perlahan, ekspresinya sangat tenang. "Tenanglah, Nona Liu. Harta itu belum akan berpindah tangan secepat itu."
"Kenapa?" tanya Liu Xue bingung.
Yu Chen mengarahkan jari telunjuk kirinya, menunjuk lurus ke arah posisi Ular Naga Bertanduk di dasar lembah. "Gunakan matamu untuk membaca emosi ular raksasa itu."
Liu Xue refleks menolehkan wajahnya. Dan tepat pada detik itulah, bulu kuduk gadis itu seketika meremang.
Di tengah serbuan puluhan manusia yang mengincar makanannya, monster ular raksasa bertanduk itu sama sekali tidak menunjukkan gurat kemarahan ataupun kepanikan. Sebaliknya, makhluk purba itu justru melingkarkan tubuh raksasanya dengan teramat tenang. Sepasang mata emas vertikalnya menatap kerumunan manusia di depannya dengan pandangan dingin... seolah-olah ia sedang menanti datangnya kawanan lalat yang menyerahkan diri.
Detik berikutnya...
ROOOAAARRR!!!!!
Ular Naga Bertanduk menegakkan kepalanya tinggi-tinggi ke angkasa, lalu menghantamkan ekor raksasanya kuat-kuat ke atas permukaan bumi.
DUAAARRRRR!!!!!
Tanpa ampun, struktur tanah di seluruh radius sekeliling pohon Buah Roh Berdarah seketika meledak hancur. Puluhan tombak duri batu hitam berukuran raksasa menyembur keluar dari dalam tanah dengan kecepatan kilat!
"AAAAAAAHHHH!!!"
Jeritan histeris kematian seketika menggema memantul di dinding lembah. Belasan kultivator yang berlari paling depan langsung tertusuk tembus dari selangkangan hingga ke dada oleh duri batu tersebut sebelum tangan mereka sempat menyentuh daun pohon. Darah segar menyembur deras, membasahi permukaan tanah berlumpur.
Pemimpin bandit berkulit luka yang menyisakan nyawanya seketika memucat pasi. "Sialan! Sialan! Itu adalah sebuah jebakan area!"
Yu Chen menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan pesona sarkasnya. "Tebakan yang bagus, Tuan Bandit. Binatang purba itu sengaja membiarkan aura kematangan buahnya meledak keluar untuk memancing seluruh tikus keserakahan berkumpul di satu titik, lalu membantai mereka sekaligus tanpa sisa."
Liu Xue menatap Yu Chen dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa kagum dan takjub yang mendalam. "Kakak Yu Chen... bagaimana bisa insting analisis pemburumu berjalan seakurat ini?"
Yu Chen terkekeh kecil, menyembunyikan identitas aslinya. "Sederhana saja, Nona Liu. Dahulu saat aku masih hidup berburu di hutan terpencil, aku sudah terbiasa memasang perangkap umpan untuk menjebak mangsa besar. Dan ketahuilah... binatang yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi, biasanya juga akan menerapkan metode berburu yang sama persis dengan manusia."
Tiba-tiba, sepasang mata jeli Yu Chen menangkap sebuah detail visual tersembunyi. Tepat di balik sela-sela akar raksasa pohon spiritual tersebut, terdapat sebuah lubang gua kecil yang hampir tertutup rapat oleh semak belukar. Dan di dalam lubang itu, terlihat tumpukan lapisan kulit ular transparan berukuran raksasa yang masih menyisakan sisa lendir basah.
"Ah... jadi begitu rupanya..." gumam Yu Chen, sepasang matanya menyipit tajam. "Ular Naga Bertanduk ini ternyata baru saja menyelesaikan fase kritis pergantian kulit. Itulah alasan rasional mengapa ia menjaga buah ini mati-matian."
Yu Chen akhirnya berhasil menyusun seluruh kepingan teka-teki tempat ini. Buah Roh Berdarah ini bukan sekadar harta karun obat biasa bagi sang ular. Buah seratus tahun sekali ini adalah wujud katalis energi makro terakhir yang teramat dibutuhkan oleh tubuh fisiknya untuk mendobrak batasan dan memicu evolusi rasial!
Jika monster ular itu berhasil menelan buah merah tersebut... maka detik itu juga eksistensinya akan meledak, naik kelas menembus ranah Foundation Establishment yang sesungguhnya!
Yu Chen mengepalkan tinju kanannya kuat-kuat, riak Qi Kekacauan Purba berdesir di dantiannya. "Aku mutlak tidak boleh membiarkan proses evolusi ular ini berjalan sukses. Jika ia berhasil bertransformasi, kita semua di hutan ini tidak akan memiliki peluang selamat."
Namun, logika pemburunya juga berteriak lantang: Menghadapi monster ular tingkat Qi Gathering Puncak secara frontal dalam kondisi tubuhnya masih terbelenggu gelang besi 5.000 jin milik Tie Shan, adalah sebuah tindakan konyol yang setara dengan mengantar nyawa.
Yu Chen memindai ulang seluruh perimeter topografi lembah untuk terakhir kalinya, lalu sebuah senyuman licik yang teramat kelam perlahan-lahan terukir di wajah tampan samarannya.
Liu Xue yang melihat senyuman misterius itu seketika bergidik ngeri, merasakan firasat aneh. "Kakak Yu Chen... apa... apa otak cerdikmu baru saja menyusun sebuah rencana gila?"
Yu Chen menganggukkan kepalanya pelan, membelai gagang pedang tuanya. "Benar. Sebuah rencana berburu tingkat tinggi. Namun... untuk mengeksekusi rencana ini secara sempurna, aku memerlukan sedikit bantuan dari sebuah... kekacauan masal sekunder."
SREEET! SREEET! WUSH!
Tepat pada detik ketika kalimat Yu Chen baru saja selesai diucapkan, sebuah desingan tajam memotong hukum angin mendadak bergema kuat dari arah langit atas lembah.
Belasan bilah pedang terbang berenergi melesat turun menembus kabut hutan dengan formasi yang teramat rapi dan presisi. Dan di atas salah satu pedang terbang utama yang berada di posisi terdepan, berdiri tegak sesosok pemuda tampan berkaus jubah putih mewah dengan sulaman lambang awan emas besar di bagian dadanya.
Di belakang pemuda jubah putih tersebut, mengekor lebih dari dua puluh orang murid muda berzirah senada, memancarkan fluktuasi tekanan aura makro yang berkali-kali lipat lebih pekat, solid, dan dominan dibandingkan dengan seluruh gerombolan bandit rendahan di tempat itu.
Pemimpin bandit berkulit luka seketika memucat pasi tanpa darah, suaranya bergetar hebat penuh ketakutan. "Demi Dewa... Itu... itu adalah pasukan elit dari [Sekte Pedang Awan]!"
Pemuda jubah putih yang memimpin rombongan tersebut mengendalikan pedang terbangnya untuk mendarat perlahan di atas sebuah batu tebal. Ia menatap ke arah kerumunan manusia di bawahnya dengan sorot mata sedingin es yang dipenuhi oleh keangkuhan mutlak.
"Mulai detik ini, hari ini, di bawah hukum langit lembah..." ucap pemuda itu dengan nada suara yang teramat datar namun sarat akan otoritas tirani. "...eksistensi dari Buah Roh Berdarah ini... telah resmi diklaim menjadi hak milik eksklusif dari Sekte Pedang Awan!"
Atmosfer di dalam Lembah Berdarah seketika membeku total, menekan dada setiap praktisi beladiri pengembara di tempat itu. Puluhan murid Sekte Pedang Awan turun dari pedang mereka dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan tatapan penuh penghinaan yang teramat vulgar ke arah perimeter sekeliling.
Pemuda berjubah putih mewah yang memimpin pasukan tersebut melangkah maju dua langkah ke depan, memainkan sebilah pedang pusaka tipis di tangan kanannya.
"Namaku adalah Zhao Feng, seorang Murid Inti dari Sekte Pedang Awan," ucapnya dengan nada dingin yang menindas. "Siapa pun di antara kalian, tikus-tikus pengembara, yang masih memiliki hasrat untuk tetap melihat matahari esok hari... maka angkat kaki kalian sekarang juga dan enyah dari hadapanku!"
Hening. Tidak ada satu pun kultivator independen yang memiliki keberanian untuk bergerak ataupun membalas gertakan tersebut. Nama besar Sekte Pedang Awan sebagai salah satu penguasa wilayah perbatasan sudah lebih dari cukup untuk membuat nyali mereka runtuh berkeping-keping.
Zhang Hu dengan panik mencengkeram lengan baju Liu Xue, berbisik dengan wajah pucat. "Nona Muda... situasi sudah berubah drastis. Kita harus segera memundurkan langkah kaki kita dan melarikan diri dari tempat ini sekarang juga!"
Liu Xue menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga berdarah, memendam rasa kecewa dan ketidakdayaannya, lalu mengangguk pelan. Ia tahu persis tingkatan level mereka saat ini bukan merupakan tandingan yang seimbang bagi pasukan murid inti sekte besar.
Sementara itu, di tengah arena, sepasang mata Zhao Feng melirik dengan pandangan jijik ke arah sisa-sisa kelompok bandit jubah hitam yang sedang terluka parah.
"Sekumpulan sampah masyarakat yang mengotori pemandangan mataku," cibir Zhao Feng dingin. Ia kemudian melambaikan tangan kirinya ke udara secara malas. "Bersihkan tempat ini dan singkirkan mereka semua dari hadapanku."
"Hamba menerima perintah, Kakak Senior Zhao Feng!"
Wush! Wush!
Belasan murid Sekte Pedang Awan seketika melesat maju dengan pedang terhunus. Pembantaian sepihak bertempo cepat langsung meletus di dasar lembah. Suara rentetan jeritan histeris kematian kembali bergema bertubi-tubi. Dalam hitungan beberapa tarikan napas pendek, hampir seluruh anggota bandit jubah hitam telah tewas terpotong-potong bersimbah darah.
Sang Pemimpin Bandit berkulit luka yang kini kehilangan lengan kirinya, terpaksa menjatuhkan lututnya di atas tanah, bersujud seraya memohon dengan suara bergetar hebat. "Tolong... hamba memohon kemurahan hati Senior... ampuni nyawa anjing hamba ini..."
Zhao Feng berjalan mendekat, menatap pria yang bersujud di bawah kakinya dengan seulas senyuman tipis yang teramat kejam. "Di dalam kamus hidupku, Tuan Bandit... eksistensi yang paling kubenci dan tidak layak untuk tetap bernapas... adalah wujud dari orang-orang lemah seperti dirimu."
Sreeet!
Bilah pedang Zhao Feng melintas di udara dengan kecepatan kilat. Plop! Kepala sang Pemimpin Bandit seketika terlepas dari lehernya, menggelinding jatuh di atas tanah berlumpur dengan sepasang mata yang masih membelalak syok.
Yu Chen yang menyaksikan eksekusi berdarah dingin tersebut dari kejauhan tebing, seketika menyipitkan kedua matanya tajam. Gurat sedingin es melintas di wajah samarannya. "Membantai habis manusia yang bahkan sudah berlutut menyerahkan senjatanya... Sungguh sebuah sekte ortodoks luar yang teramat sangat munafik dan kejam."
Setelah memastikan seluruh area perimeter bersih dari kelompok bandit, Zhao Feng secara perlahan memalingkan wajah tampannya, mengunci pandangan matanya tepat ke arah rombongan karavan Zhang Hu dan Liu Xue.
"Dan sekarang... giliran kalian semua untuk melenyapkan diri dari pandanganku," ucap Zhao Feng dingin, mengarahkan ujung pedangnya yang masih meneteskan darah segar.
Liu Xue memaksakan dirinya mengambil satu langkah maju ke depan, mencoba menekan rasa takutnya. "Senior Zhao Feng, mohon tahan pedangmu! Nama saya adalah Liu Xue, seorang murid luar resmi dari Sekte Pedang Langit! Faksi kita berdua sama-sama terdaftar sebagai sekte ortodoks besar di Wilayah Timur, tidak ada urgensi bagi kita untuk saling memicu permusuhan berdarah di tempat ini!"
Zhao Feng seketika meletuskan tawa mengejek yang teramat lantang, seolah-olah ia baru saja mendengarkan sebuah lelucon paling konyol seumur hidupnya.
"Sekte Pedang Langit? Hahaha! Sekumpulan sampah praktis dari sebuah sekte kelas tiga yang miskin! Sedangkan Sekte Pedang Awan milikku saat ini telah bertengger kokoh sebagai sekte elit kelas dua! Di dalam hukum strata kultivasi, Gadis Bodoh... hak apa yang dimiliki oleh seekor semut luar dari sekte kelas tiga seperti dirimu untuk bisa berbicara setara di hadapanku, huh?!" gertak Zhao Feng penuh tirani.
Wajah Liu Xue seketika berubah menjadi sangat pucat pasi tanpa darah, bibirnya bergetar menahan rasa terhina yang teramat sangat, namun ia terpaksa membisu karena menyadari perbedaan kekuatan mereka.
Sepasang mata Zhao Feng kini bergeser, mengunci pandangannya tepat pada sosok Yu Chen yang sejak awal berdiri tegak tanpa menunjukkan rasa hormat sedikit pun. Pandangan matanya sempat terhenti selama beberapa detik memperhatikan sebilah pedang besi tua yang tampak berkarat di pinggang kanan pemuda itu.
"Kau... Bocah jubah abu-abu kerempeng," panggil Zhao Feng dengan nada memerintah yang absolut. "Lepaskan cincin penyimpanan spasial di jarimu dan serahkan ke bawah kakiku sekarang juga."
Yu Chen menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang teramat santai dan asal-asalan. "Wah... maaf sekali, Tuan Murid Inti yang terhormat. Tapi aku hanyalah seorang pemuda miskin dari desa terpencil, aku sama sekali tidak memiliki barang mewah sejenis cincin spasial seperti itu."
"Tidak punya?" Zhao Feng menyipitkan matanya tajam. "Kalau begitu... konklusinya sangat mudah. Kosongkan seluruh kantong bajumu, serahkan pedang tuamu, dan serahkan setiap jengkal barang berharga yang melekat di tubuh fisikmu saat ini tanpa sisa!"
Yu Chen mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lelah, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku benar-benar heran... mengapa setiap kali aku berpapasan dengan manusia yang mengaku sebagai murid dari sekte elit besar dunia luar... hobi utama mereka selalu saja sama: Suka merampok hak milik orang-orang miskin?"
Mendengar kalimat sindiran telak yang teramat berani dan lancang tersebut, belasan murid Sekte Pedang Awan di sekeliling arena seketika tertegun, sebelum akhirnya meletuskan tawa meremehkan.
Zhao Feng menyunggingkan sebuah senyuman sinis yang teramat kelam, aura pedangnya mendidih. "Kenapa kami suka mengambilnya? Jawabannya teramat sangat sederhana, Bocah Lancang. Karena di dunia ini... eksistensi yang kuat memiliki hak mutlak untuk merampas dan menentukan takdir dari mereka yang lemah! Itulah hukum emas absolut di dalam dunia kultivasi ini!"
Yu Chen perlahan-lahan mengangkat wajahnya tegak. Sorot mata hitamnya mendadak berubah drastis—menjadi sangat kelam, dalam, dan memancarkan aura superioritas tirani Dewa Kuno yang teramat sedingin es.
"Salah besar, Tuan Zhao Feng," desis Yu Chen, suaranya memotong hukum angin lembah. "Hukum kekuatan yang baru saja kausebutkan itu... sama sekali bukan sebuah hukum emas alam semesta. Benda itu... hanyalah sebuah narasi pembenaran konyol yang sengaja diciptakan oleh sekumpulan manusia tamak berotak udang seperti kalian semua untuk menutupi sifat menjijikkan kalian!"
Boom!
Seketika itu juga, senyuman sinis di wajah tampan Zhao Feng lenyap tanpa bekas, digantikan oleh gurat murka yang teramat pekat. "Lancang! Bajingan kecil, apa kau sedang mencoba mendikte dan mengajari diriku cara bertahan hidup, huh?!"
BOOOOMMMM!!!
Tanpa menunda waktu lagi, aura energi makro dari sekujur tubuh Zhao Feng meledak hebat secara instan. Fluktuasi tekanan kekuatan dari ranah [Qi Gathering] Tingkat Ketiga menyapu bersih seluruh area Lembah Berdarah bagai badai topan.
Tekanan aura yang teramat pekat tersebut seketika membuat sistem pernapasan Zhang Hu dan para pengawal karavan tersedak parah, membuat mereka terpaksa jatuh berlutut di atas tanah menahan beban. Bahkan Liu Xue pun terpaksa memundurkan langkah kakinya beberapa meter ke belakang dengan wajah memucat menahan gempuran.
Namun... di tengah badai tekanan energi tingkat ketiga tersebut... sesosok tubuh pemuda berkaus jubah abu-abu—Yu Chen—ternyata tetap berdiri tegak dengan sangat kokoh di posisinya!
Meskipun saat ini pergelangan tangan kirinya masih terkunci rapat oleh belenggu gelang besi pemberat seberat 5.000 jin milik Tie Shan, dan meskipun di atas kertas tingkatan ranah kultivasi fisiknya berada jauh di bawah level musuh... sepasang kaki Yu Chen sama sekali tidak bergeser atau mundur satu milimeter pun. Ia menatap lurus ke arah Zhao Feng dengan tatapan mata yang sarat akan cemoohan mutlak.
Zhao Feng menggertakkan rahangnya geram melihat keteguhan fisik tersebut. Ia perlahan mengangkat bilah pedang panjangnya ke udara, mengarahkannya tepat ke arah dahi Yu Chen.
"Jika kau begitu keras kepala memilih jalur maut... maka hari ini, di tempat terisolasi ini... aku sendiri yang akan mengajari tubuh kerempengmu itu tentang bagaimana cara menghormati eksistensi pendekar yang jauh lebih kuat!!!"
Tepat pada fraksi detik ketika bilah pedang Zhao Feng bersiap diayunkan jatuh untuk membelah tubuh Yu Chen...
ROOOAAARRR!!!!!
Ular Naga Bertanduk yang berada di pusat lingkaran lembah mendadak kembali meletuskan suara raungan gaib yang ratusan kali lipat lebih dahsyat, masif, dan menggelegar dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya! Hantaman gelombang suaranya begitu gila, seketika menghancurkan layar kubah udara di sekitar lembah hingga pecah.
Namun kali ini, fenomena aneh terjadi pada struktur luar tubuh monster ular tersebut. Aliran pilar cahaya merah darah dari Buah Roh Berdarah di puncak pohon ternyata telah tersedot habis, mengalir deras masuk ke dalam pori-pori kulit kepalanya!
Seluruh energi makro seratus tahun sekali dari buah tersebut telah diserap secara paksa oleh dantian sang ular sebelum ada satu pun manusia yang sempat memetiknya!
Sepasang mata emas vertikal milik Ular Naga Bertanduk mendadak meletuskan pendaran cahaya merah darah yang teramat tirani, dan sisik-sisik hitam di sekujur tubuhnya mulai terkelupas, memancarkan fluktuasi energi evolusi ranah Foundation Establishment yang mulai bergejolak liar!
Sepasang mata Yu Chen seketika menyipit tajam penuh urgensi, dadanya berdesir hebat.
"Sialan... rencana memancing harimauku terhambat... Kita semua sudah benar-benar terlambat satu ketukan kedipan mata!!!"