NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bakar ikan dan pertemuan rahasia

Sesampainya di rumah Kyo, Ibunya yang tengah menjemur pakaian menoleh begitu melihat mereka masuk melalui pagar samping.

"Lho?" Ibu Kyo tersenyum lebar. "Wah, banyak sekali tangkapannya."

Kyo mengangkat ember berisi ikan sambil terkekeh. "Rezeki, Bu."

"Wah, malam ini kita makan enak!"

Keiko mendekat sambil menunjukkan ikan yang berhasil ia tangkap. "Yang ini aku dapat sendiri, Bibi."

"Bagus sekali," Ibu Kyo menerimanya dengan hati-hati. "Kalau begitu, biar Bibi yang urus ya." Beliau membawa ember itu ke dapur belakang. Tak lama kemudian, terdengar suara air mengalir dan bunyi pisau yang telaten membersihkan sisik ikan.

Keiko memperhatikan dari dekat dengan penasaran. "Boleh aku bantu?"

"Nanti malah lama selesainya," Ibu Kyo tertawa kecil. "Duduk saja di sana, lihat caranya."

Keiko menurut. Ia duduk di bangku kayu, memperhatikan setiap gerakan tangan wanita paruh baya itu. Ikan-ikan dibersihkan dengan cekatan, lalu dibumbui sederhana dengan garam, parutan jahe, bawang putih, dan kecap buatan sendiri yang aromanya langsung memenuhi halaman.

"Wangi sekali..." Keiko menghirup aroma itu dalam-dalam. "Pantas saja Kyo percaya diri mengajakku makan di rumah."

Dari samping, Kyo menimpali, "Kan, sudah kubilang."

"Iya, iya, kau menang," balas Keiko sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, bara arang mulai menyala. Ikan-ikan disusun di atas panggangan bambu. Lemak ikan yang menetes ke bara mengeluarkan bunyi berdesis, disusul aroma gurih yang membuat perut Keiko kembali keroncongan, padahal mereka baru saja menyantap bekal di tepi sungai tadi.

"Aku lapar lagi," aku Keiko.

"Belum matang," sahut Kyo.

"Aku tahu, tapi wanginya keterlaluan."

Kyo tertawa pelan sambil membalik ikan. Di luar pagar belakang, beberapa ekor kucing mulai berdatangan. Mula-mula hanya dua, lalu bertambah menjadi empat, hingga sepuluh ekor lebih. Mereka duduk berjajar dengan rapi, tidak ada yang mengeong atau berebut, hanya memandangi panggangan dengan sabar.

Keiko menoleh beberapa kali. "Ky, mereka menunggu kita."

"Lebih tepatnya, menunggu ikan," jawab Kyo.

"Disiplin sekali, ya."

"Kalau dikasih, mereka makan. Kalau tidak, ya mereka pulang."

Keiko mengangguk pelan. "Baik juga ternyata."

Beberapa menit kemudian, paman Kyo pulang dari kebun dengan keranjang bambu di punggungnya. Begitu melihat panggangan, wajahnya langsung berbinar. "Wah, hasil mancing?"

Kyo mengangguk bangga. "Sebagian Keiko yang dapat."

Paman tertawa kecil. "Kalau begitu, besok harus diajak lagi."

"Jangan sering-sering, nanti ikannya habis!" canda Keiko yang disambut tawa hangat mereka semua.

Makan siang berlangsung hangat. Mereka duduk melingkar di beranda belakang, menikmati ikan bakar yang masih mengepul. Keiko tidak ingat kapan terakhir kali ia makan dengan suasana sesederhana ini. Tidak ada bising kendaraan atau notifikasi ponsel; hanya ada obrolan ringan dan embusan angin yang membawa aroma sawah.

Sebelum Keiko berpamitan, Ibu Kyo menyelipkan bungkusan kain ke tangannya. "Ini buat dibawa pulang untuk makan malam."

"Lho, tidak perlu repot-repot, Bibi..."

"Masih banyak, jangan ditolak." Keiko membungkuk sopan. "Arigatou gozaimasu."

Keiko pun Pamit pulang. Di luar, kucing-kucing yang tadi menunggu ternyata masih setia menunggu. Begitu aroma ikan bakar tercium dari bungkusan di tangan Keiko, satu per satu kucing itu bangkit dan mulai mengikuti mereka.

Setelah puluhan meter berjalan, Keiko baru menyadarinya.

"mereka masih ikut."Lima ekor kucing berjalan santai mengikuti dari jarak beberapa langkah.

Semakin dekat ke rumah, jumlah kucing yang mengikuti justru bertambah. Warga yang sedang menyapu halaman sampai berhenti bekerja hanya untuk melihat iring-iringan kecil itu. Seorang nenek yang sedang menyiram bunga tersenyum geli. "Keiko-chan, jangan-jangan kamu membuka warung ikan?"

Keiko tertawa malu. "Bukan, Obaa-san! Ini hanya kebetulan."

Di tikungan terakhir sebelum sampai, seekor kucing abu-abu muncul di atas pagar batu. Langkahnya tenang, ia menyusuri pagar sebentar sebelum melompat ringan ke tanah tepat di belakang Keiko.

Bruk.

Keiko refleks menoleh. "Kamu lagi."

Belum sempat ia tersenyum, seekor kucing belang yang ikut sedari tadi tiba-tiba mendesis nyaring, "Hsssss!"

Suasana berubah dalam sekejap. Kucing-kucing lain tampak mundur, namun si kucing abu-abu tidak bergeming. Tanpa mengubah ekspresi, ia mengangkat kaki depannya dan menampar kepala si belang dengan satu gerakan cepat.

Plak.

Tidak keras, tetapi cukup membuat si belang mundur sambil menunduk. Dalam hitungan detik, kucing-kucing lain pun menyingkir, memberi jalan tanpa berani mendekat lagi.

Keiko berkedip takjub. "Wah, kamu jagoan"

Si kucing tidak menoleh, ia terus berjalan santai di belakang Keiko seolah tak terjadi apa-apa.

"Wah wah ," kekeh Keiko, "serasa punya bodyguard"

Sesampainya di depan rumah, Si kucing berhenti. Tatapan mereka bertemu. Keiko membuka pintu rumah lebih lebar. "Ayo."

Beberapa detik berlalu, namun si kucing hanya duduk memandanginya. Lalu, tanpa suara, ia berbalik, melompat ke atas pagar, dan menghilang di antara atap rumah warga.

Keiko menghela napas kecil, Ia tersenyum sendiri "Arigato... kucing galak."

Malam turun perlahan menyelimuti Desa Tsukimori. Setelah membereskan dapur dan mencuci peralatan makan, Keiko membawa handuknya ke luar. Rambutnya yang masih setengah basah dibiarkan terurai hingga sebahu. Angin malam berembus pelan, membuat helai-helai rambutnya menari lembut di udara.

Ia menggantung handuk di tali jemuran samping rumah, lalu berdiri sejenak memandangi langit. Bulan yang semalam bulat sempurna kini tampak sedikit memucat, namun sinarnya masih cukup terang untuk membasuh halaman depan dengan cahaya perak yang dingin.

"Aneh..." gumamnya pelan.

Desa ini selalu terasa berbeda setiap malam. Tenang, namun tak pernah benar-benar sepi. Keiko hendak masuk kembali ke dalam rumah ketika sebuah ingatan melintas di kepalanya.

Ia berbalik menuju dapur. Bungkusan ikan panggang pemberian Ibu Kyo masih tersisa dua potong. Setelah menimbang sejenak, ia mengambil salah satu potong dan menaruhnya di piring kecil, lalu menyiapkan semangkuk air bersih. Keduanya ia bawa ke sudut selasar—tempat favorit si kucing abu-abu.

Ia tersenyum tipis. "Kalau kamu datang... anggap saja itu makan malammu."

Tak ada jawaban. Tentu saja. Keiko menggeser pintu perlahan, masuk ke dalam, lalu mematikan lampu ruang depan. Tak lama, seluruh rumah kembali gelap. Hanya cahaya bulan yang jatuh tipis di permukaan selasar kayu.

***

Beberapa saat berlalu. Angin malam berembus, menggoyangkan dedaunan bambu di belakang rumah hingga menimbulkan suara desir yang lembut.

Seekor kucing abu-abu melompat ringan ke atas pagar. Gerakannya nyaris tanpa suara. Sepasang mata keemasannya memandang rumah kayu di depannya cukup lama. Tak ada cahaya dari jendela, tak ada derap langkah kaki, hanya keheningan yang pekat.

Pelan-pelan, ia turun dari pagar. Langkahnya tenang menyusuri selasar hingga berhenti tepat di depan piring kecil yang masih menguarkan aroma ikan panggang hangat.

Kucing abu tidak langsung mendekat. Tatapannya beralih ke pintu geser yang tertutup rapat, seolah memastikan sang pemilik rumah benar-benar telah terlelap. Baru setelah yakin, ia menoleh ke arah piring.

Telinganya bergerak halus. Langkah-langkah kecil terdengar dari balik semak. Satu, dua, tiga... tak lama kemudian, empat ekor kucing muncul dari kegelapan. Mereka mendekat, namun berhenti tepat di belakang Si abu. Tak ada yang berani melewati batas itu.

Kucing abu abu melirik mereka sekilas. Hanya satu tatapan singkat, dan keempat kucing itu serempak duduk diam, tak berani bergerak.

Dia perlahan mengangkat kaki depannya, lalu mendorong piring itu menjauh dari dirinya. Piring kecil itu bergeser pelan ke arah rombongan yang masih menunggu. Mereka tetap diam, masih ragu. dia melangkah mundur dua langkah, memberi ruang.

Barulah seekor kucing putih menghampiri piring tersebut. Setelah memastikan kucing abu abu tidak menunjukkan reaksi keberatan, ia mulai memakan ikan itu. Kucing lainnya menyusul dengan hati-hati.

Si Abu sendiri tidak ikut makan. Ia duduk menghadap rumah, tatapannya terkunci pada jendela kamar yang diterangi cahaya bulan. Tirai putih di balik kaca bergerak pelan ditiup angin.

"...Ceroboh," bisik kucing abu sangat pelan.

Sore tadi, Keiko pergi memancing tanpa membawa jimat pemberian ibunya. Jika saja sesuatu terjadi... si abu mengembuskan napas panjang. Untunglah, hari ini tidak ada kejadian buruk.

Ia bangkit berdiri. Dengan satu lompatan ringan, tubuh abu-abunya kembali bertengger di atas pagar. Sesaat sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah rumah yang kini tenggelam dalam ketenangan.

Tak lama kemudian, bayangannya menghilang di balik pepohonan. Empat kucing lainnya segera berdiri dan mengikuti dari belakang, menjaga jarak dengan langkah tanpa suara menuju hutan.

Malam kembali menyelimuti Tsukimori. Dan seperti malam-malam sebelumnya, tak seorang pun menyadari siapa yang baru saja menjaga halaman rumah Keiko dengan penuh rahasia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!