Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 : Villa Bellini
DUUAAARRR!
Sebuah ledakan kecil mengguncang sisi mansion, maca jendela bergetar. Aurora menjerit kecil, Aurelia langsung memeluknya.
"Adrian!"
Pria itu berhenti, asap mulai masuk dari lorong.
Johan muncul dengan wajah serius. "Don!"
"Ada apa?"
"Mereka berhasil menembus pagar kedua."
Tatapan Adrian mengeras.b"Berapa banyak?"
"Setidaknya dua puluh."
Leonardo menghela napas. "Black Eagle benar-benar datang dengan kekuatan penuh."
Adrian mengambil senjatanya. "Bagus."
Johan terkejut. "Bagus?"
Adrian menatapnya dingin. "Berarti malam ini kita tidak perlu mencari mereka." Ia berjalan menuju lorong. "Mereka sendiri yang datang kepada kita."
Di luar mansion...
Puluhan pria bersenjata bergerak melewati taman. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang elang merah di lengan. Salah seorang dari mereka berbicara melalui alat komunikasi.
"Tim satu sudah masuk."
Suara dari pusat komando menjawab. "Target?"
"Belum terlihat."
"Prioritas?"
Pria itu tersenyum. "Target A-01 dan A-02."
Di dalam mansion...
Aurora memandang surat yang masih berada di tangannya. "Aurelia..."
"Iya?"
"Surat ini."
Aurelia menatap amplop tua itu. "Kita harus membacanya."
Edmund segera menoleh. "Jangan."
Aurora terkejut. "Kenapa?"
Edmund terlihat cemas. "Karena kalau isi surat itu benar-benar menyimpan rahasia keluarga Bellini, Black Eagle mungkin datang bukan hanya untuk menangkap kalian."
Aurelia menatapnya. "Lalu untuk apa?"
Edmund terdiam. "Untuk menghancurkan bukti."
Aurora menggenggam surat itu lebih erat. "Kalau begitu kita harus tahu isinya sekarang."
Edmund menggeleng. "Terlalu berbahaya."
Tiba-tiba...
Suara Pastor Markus terdengar dari belakang. "Justru karena berbahaya... kalian harus membacanya."
Semua menoleh.
Pastor Markus berjalan mendekat. "Aku sudah terlalu lama menyimpan rahasia ini."
Aurora menatapnya. "Pastor..."
Markus mengambil napas panjang. "Surat itu bukan sekadar pesan dari ibumu. Di dalamnya terdapat petunjuk menuju tempat terakhir keluarga Bellini menyimpan seluruh bukti tentang Black Eagle."
Aurelia membeku. "Jadi..."
Markus mengangguk. "Jika surat itu jatuh ke tangan mereka, semuanya akan berakhir."
DOR! DOR!
Tembakan kembali terdengar.
Adrian dan Johan berada di lorong utama. Beberapa anggota keamanan Moretti berhasil menjatuhkan dua penyusup. Namun jumlah musuh terus bertambah.
Johan melihat layar kamera. "Don! Tim kedua mereka tidak menuju ruang utama."
Adrian menatap monitor.
"Mereka menuju lantai dua."
Tatapannya langsung berubah. "Aurora." Adrian berlari.
Di lantai dua...
Edmund berdiri di depan pintu. Aurelia memegang tangan Aurora. Pastor Markus membuka amplop tersebut dengan hati-hati.
"Siap?"
Aurora mengangguk.
Markus menarik surat itu keluar, namun sebelum ia membacanya...
BRAK!
Pintu kamar dihantam dari luar.
Aurelia tersentak.
Edmund langsung berdiri di depan mereka. "Mereka sudah sampai."
Aurora menatap pintu, suara langkah kaki terdengar semakin dekat.
Pastor Markus menggenggam surat itu. "Kita tidak punya banyak waktu."
Aurora menatapnya. "Bacakan."
Markus membuka surat. Tulisan tangan seorang wanita muncul di bawah cahaya lampu darurat.
Aurora dan Aurelia... jika kalian membaca surat ini bersama, berarti kalian telah menemukan satu sama lain.
Air mata Aurora langsung jatuh. "Ibu..."
Markus melanjutkan.
Jangan percaya kepada siapa pun yang mengatakan keluarga Bellini telah berakhir.
Aurelia menutup mulutnya.
Di luar pintu terdengar suara: "Temukan mereka!"
Edmund mencabut senjatanya.
Markus terus membaca. Kebenaran tentang malam itu tidak pernah terbakar bersama rumah kita. Ia berhenti sejenak.
Lalu membaca kalimat terakhir.
Cari tempat di mana bunga lily pertama kali ditanam oleh ayah kalian.
Aurora mengernyit. "Bunga lily..."
Aurelia tiba-tiba teringat sesuatu. "Perkebunan."
Aurora menoleh. "Apa?"
"Foto keluarga." Aurelia menunjuk kotak kayu. "Di belakang foto itu ada tulisan."
Aurora segera mengambil foto lama, ia membaliknya.
Tulisan yang hampir pudar terlihat jelas. Villa Bellini - Kebun Lily Utara.
Mata Aurora membelalak. "Itu tempatnya."
BRAK!
Pintu akhirnya jebol.
Dua pria Black Eagle menerobos masuk. Namun sebelum mereka sempat mengangkat senjata...
DOR!
Satu tembakan membuat senjata salah seorang pria terlempar.
Adrian berdiri di ujung lorong, tatapannya dingin. "Berani sekali kalian masuk ke rumahku."
Para penyerang mundur.
Johan dan pasukan Moretti muncul di belakang Adrian. "Don!"
Adrian mengangkat tangannya. "Jangan bunuh mereka."
Johan terkejut. "Kenapa?"
Adrian menatap salah satu pria Black Eagle. "Kita membutuhkan jawaban."
Pria itu tiba-tiba tersenyum. "Kalian pikir kami datang untuk menang?"
Adrian menyipitkan mata. "Kalau bukan untuk menang, lalu untuk apa?"
Pria itu tertawa. "Untuk memastikan kalian menemukan tempat itu."
Adrian membeku. "Tempat apa?"
Senyum pria itu semakin lebar. "Villa Bellini."
Wajah Adrian langsung berubah.
Dari belakangnya, Aurora keluar bersama Aurelia. "Villa Bellini?"
Pria Black Eagle menatap kedua gadis itu. "Ya." Ia tertawa kecil. "Karena di sanalah semuanya akan berakhir."
Tiba-tiba alat komunikasi pria itu berbunyi.
Suara pria bertopeng terdengar dari seberang. "Tarik semua pasukan."
Pria itu mengangguk. "Mengerti."
Adrian mengerutkan kening. "Mundur?"
Pria itu tersenyum. "Kalian akan mengerti nanti."
Satu per satu anggota Black Eagle mundur dari mansion, Johan hendak mengejar.
"Biarkan!" perintah Adrian.
Mereka semua berhenti.
Adrian menatap halaman yang mulai kosong. "Mereka sengaja datang."
Leonardo mendekat. "Untuk memaksa kita pergi ke Villa Bellini."
Adrian mengangguk.
Aurora menggenggam tangan Aurelia. "Tapi kalau kebenaran ada di sana..."
Adrian menatapnya.b"Kita akan pergi."
Aurelia mengangkat wajah. "Bersama."
Aurora mengangguk. "Ya."
Adrian memandang kedua saudari itu beberapa saat.
Kemudian ia berkata dengan suara tegas. "Besok pagi kita berangkat ke Villa Bellini."
Namun dari kejauhan...
Di sebuah ruangan gelap, pria bertopeng Black Eagle berdiri di depan layar. Di layar terlihat peta Villa Bellini.
Senyumnya perlahan muncul. "Datanglah."
Tangannya menyentuh sebuah foto lama keluarga Bellini. "Karena kalian akan menemukan sesuatu yang selama ini bahkan Elena tidak pernah tahu."
Ia menatap tulisan di layar. PROYEK XIII — AKTIF.
"Dan saat kalian membuka pintunya..." Senyumnya semakin dingin. "Seluruh kebenaran akan berubah menjadi mimpi buruk."
(Mohon maaf ya, terpaksa author tamatkan... Buat yang ingin kelanjutan ceritanya. Jangan lupa tinggalkan komentar lanjut... see you🙏🏻)