"Selamanya masa lalu adalah pemenang, siapapun pengisi hati hari ini, akan kalah dengan masa lalu yang datang kembali."
Untuk Sheila, itu tidak berlaku, karna masa lalu yang dicintai suaminya setengah mati itu sudah tiada hampir sepuluh tahun yang lalu karna jatuh ke jurang.
Karna itu, suaminya hanya bisa mencintai dirinya yang masih hidup di dunia ini.
Lantas, bagaimana jika masa lalu yang dikatakan telah meninggal dunia, datang kembali seperti keajaiban dengan anak perempuan berusia sepuluh tahun?
Lantas, apakah benar masa lalu akan tetap menjadi pemenang setelah kembali?
Apakah Sheila hanya menjadi istri pengganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan Shei dan Kayna
...**********...
Daniel akhirnya merasakan apa yang Arthur rasakan. Bangun pagi dengan ucapan selamat pagi dari seisi rumah, sarapan menyenangkan dengan obrolan, di antar kesekolah bersama dengan mama. Daniel sungguh bahagia, ini pertama kalinya dia punya rumah yang ramai dan nyaman seperti rumah Arthur.
Shei sudah melambaikan tangannya pada Arthur dan Daniel.
"Dadahh mama! Nanti jemput yaaa!"
"Dadah Tan--ehh calon mama!!"
Keduanya berjalan pelan menuju sekolah.
"Wah, jadi seperti ini rasanya punya keluarga." Celetuk Daniel dengan mata yang berbinar, dia benar-benar tampak polos. Anak yang aktif.
Arthur tidak menanggapinya, dia hanya melirik anak itu, tidak pula mencela atau memarahi Daniel karna tinggal di rumahnya. Karna Arthur tau, sendirian itu tidak menyenangkan, sendirian itu menyakitkan.
"Kata papi aku bakal di rumah kamu sampai papi pulang, emangnya boleh ya? Gak apa-apa? kamu marah gak?" Daniel melirik ke arah Arthur. Dia tau bahwa calon saudara tirinya ini tidak menyukai dirinya.
"Ngga sih, itu keputusan mama. Kalau mama bilang boleh, aku juga boleh."
"Wah keren! Tinggal nunggu papi datang aja, maka kita jadi keluarga yang utuh! Ngga sabar!"
Ctak!
Arthur langsung menjitak kepala Daniel. "Mimpi mu ketinggian, lagian gak bakal terjadi juga."
"Bakal terjadi tau!"
"Ga!"
"Iya!"
"Ga!"
......................
Shei diam ditempatnya, langkahnya membeku setelah melihat Kayna ada di depan rumahnya sambil menatap dirinya.
Benar.
Shei baru saja kembali untuk melanjutkan kerjanya, tapi saat di depan pintu ia dihentikan oleh Kayna saat ini.
"Ada apa Kay?" Shei hanya melihat Kayna sendiri. Dilihat berapa kali pun Kayna benar-benar sangat cantik, pantas saja Haren sangat mencintainya.
Bahkan setelah ia punya anak, badannya masih sangat bagus, Shei yakin jika bukan Haren maka orang kaya lainnya lah yang akan menikahi Kayna.
"Boleh aku ngomong sesuatu yang penting sama kamu? Semenjak kita bertemu, kita nggak pernah benar-benar berbicara." Ujar Kayna dengan wajah yang agak sedih, sorot matanya tertuju kebawah, dia terlihat tidak percaya diri. Badannya menunduk, tampak dia merasa gugup atau bahkan takut, mungkin juga merasa bersalah.
"Iya boleh kok, ayo kesini aja, taman belakang dari sini." Shei menuntun jalannya Kayna. Keduanya berjalan beriringan dengan pikiran masing-masing.
Untuk Shei, tampaknya hal yang wajar untuk dirinya dan Kayna terlibat dalam satu obrolan yang serius. Apalagi Kayna sekarang adalah calon ibu sambung anaknya, jadi wajar kalau mereka memiliki obrolannya sendiri.
Menurut Shei, memang harus terjadi pembicaraan antara mereka berdua, hanya berdua saja, entah pembicaraan soal Arthur atau soal perasaan dan isi hati masing-masing.
"Silahkan duduk Kay." Shei mempersilahkan Kayna duduk. Dia baru saja bersiap untuk memanggil pelayan, setidaknya agar dibuatkan teh atau cemilan. Tapi Kayna langsung menghentikannya.
"Ngga usah Shei, aku tau kamu perempuan yang sangat baik, aku tau kamu menghargai aku sebagai tamu, tapi aku ngga mau buat keributan di rumah ini dengan kabar datangnya aku, kamu ngerti kan maksud aku?"
Shei diam, dia berpikir sejenak. Sungguh dia ingin menyuguhkan sesuatu karna bagaimanapun juga hubungan mereka, Kayna tetap adalah tamu dimata Shei. Tapi Kayna juga sudah bersikeras untuk menolak, dia tidak ingin membuat keributan lain di rumah ini. Karna Kayna sendiri juga tau, akan seheboh apa rumah ini dengan hadirnya dia disini.
"Oke kalau itu mau kamu, maaf soal hidangannya. Jadi kamu kesini mau ngomongin soal apa?" Shei duduk, menatap lurus ke arah Kayna.
Detik itu juga Kayna menjatuhkan air matanya, ia bangkit dari kursinya ingin berlutut di kaki Shei, namun dengan cepat Shei mengangkat Kayna.
Kayna sudah menangis sesenggukan, wajahnya sudah banjir dengan air mata, hidungnya bahkan sampai memerah.
"Nggak perlu kayak gitu Kayna, kamu datang kesini untuk berbicara, pun dengan aku yang cuma mau ngobrol, jangan ada hal seperti ini diantara kita." Sheila tegas, dia juga tidak merasa pantas untuk seseorang berlutut di depannya.
"Harus ada hal seperti ini diantara kita Sheila! Aku yang salah! Aku yang datang kembali! Dan aku harus minta maaf sama kamu, ini salah aku, semuanya salah aku. Aku yang datang kembali setelah dikatakan mati 10 tahun, hingga akhirnya aku merusak rumah tangga kamu yang tenang dan damai. Andai aku mati har--"
"Tolong jangan menyalahkan takdir tuhan, Tuhan memberikan jalan hidup terbaik, percaya saja padanya. Mungkin memang kamu takdirnya Haren, dan bukan aku. Aku juga ikhlas kok, aku udah maafin kamu dan juga Haren, tidak ada penyesalan untuk ku atas keputusan cerai ini." Sheila jujur, sampai ia berusaha tertatih dan merangkak ke titik ini, tidak sekalipun ia membenci Kayna dan Ayren, yang datang dalam hidupnya.
Walau memang fakta yang bisa semua orang lihat, kedatangan Kayna dan Ayren adalah petaka besar, penyebab rusaknya rumah tangga Sheila yang sebelumnya aman dan damai.
"Tapi, karna aku sama Ayren. Andai aja aku ngga kembali. Kamu tau, ketika aku melihat Arthur banyak bengongnya waktu sama kami, aku sadar, aku salah, aku kejam, aku menghancurkan kehidupan anak lain demi kebahagiaan anak aku. Maafin aku. Kamu tau, kalau seandainya aja aku cari tau dulu kehidupan Ren sekarang, dan aku tau dia punya istri yang sangat cantik dan baik seperti kamu, dia punya anak laki-laki yang tampan dan cerdas. Aku nggak akan pernah datang kembali Shei! NGGAK AKAN!"
Kayna menangis tersedu-sedu di depan Shei, matanya bahkan sampai sembab saat itu juga karnania terlalu banyak menangi, sulit berpikir bahwa saat ini Kayna berbohong, atau berpura-pura bersimpati, karna wajah Kayna tampak sangat tulus, air matanya berkata seolah Kayna sedang mencurahkan isi hatinya yang paling dalam.
"Sungguh demi apapun, aku ngga punya niat sedikitpun buat hancurin rumah tangga kamu Shei. Aku orang yang jahat banget, aku udah bilang sama Haren buat dia kembali pada kamu, tapi dia ngga mau."
"Aku juga ngga mau. Keputusan nya udah final. Aku dan Haren udah ngga bisa bersama lagi, kami benar-benar udah selesai." Shei menjawabnya dengan tegas, dengan senyum getir yang ia tahan.
"Lagian, cintanya Haren itu kamu, bukan aku. Rumahnya dia itu kamu, bukan aku. Tujuh tahun pernikahan kami enggak ada harganya dibanding kamu, sebesar itu cinta Haren ke kamu." Lanjut Shei, dia hanya tersenyum. Entah kenapa Shei merasa dirinya tidak boleh mengeluarkan setitik air matapun di depan Kayna, bahkan saat Kayna sendiri sudah sembab karena banjir air mata.
"Makanya, maafin aku, aku salah. Aku ngga pernah bayangin kalau aku bakal nyakitin orang sebaik kamu. Maafin aku Shei." Kayna sungguh tertunduk, dengan permintaan maaf yang lirih.
ada kami yg mendukungmu
dia bilang shei murahan tpi dia gak ngaca gitu saat dia ciuman & pelukan didepan istri sahnya dengn wanita lain... meski orang itu org zg prnah dicintainya tpi kn dia dah punya istri jdi dia hrusnya bs tahan kan nafsunya itu.... bahkan dia ceraikan shei krna jalang itu pula, skrg mlah berlagak sok benar dan sok suci ,cuiiihh... jijik liatnya 😤😤😤