NovelToon NovelToon
Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:940.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rosma Sri Dewi

Sering mendapat bully karena penampilannya yang terkesan biasa, Ayesha Candramaya, gadis berusia 17 tahun terpaksa memutuskan untuk pindah sekolah.

Karena ingin membuktikan kalau masih ada pria yang menerimanya apa adanya pada orang-orang yang suka membulinya, Ayesha memposting photo seorang pemuda tampan yang dia klaim pacarnya. Tanpa dia sadari photo pemuda tampan yang dia post itu adalah seorang siswa populer di sekolah barunya yang tidak lain Brian Athariz, seorang pemuda berprestasi baik di akademik maupun di Basket. Selain itu, ia juga putra dari seorang pengusaha yang memiliki perusahaan raksasa dan nomor satu di Indonesia.

Karena hal itu, Ayesha yang merasa tidak enak hati,menjadi sering berurusan dengan Brian yang super dingin. Mereka lambat laun jadi dekat dan tanpa sadar menimbulkan benih cinta di hati mereka berdua.Namun karena kesalahpahaman,mereka saling membenci dan terpisah jarak dan waktu. Akankah mereka bertemu lagi? dan apakah kesalahpahaman mereka akan selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meninggalkan penginapan

"Maksud kamu apa Ayesha? Brian jahat? jahat bagaimana?" Retha mengrenyitkan keningnya bingung.

Ayesha tidak menjawab sama sekali. Ia masih menangis sesunggukan dengan ponsel yang dipegang erat.

Karena tidak menemukan jawaban, Retha merampas ponsel dari tangan sahabatnya itu, untuk mencari tahu sendiri.

Mata gadis itu sontak membesar dengan sempurna, terkesiap kaget setelah membaca isi pesan Brian.

"Brengsek! laki-laki biadab!" umpat Retha sembari mencengkram kuat ponsel di tangannya.

"Aku tidak terima, ayo kita cari laki-laki biadab itu!" Retha meraih tangan Ayesha, meminta sahabatnya itu untuk berdiri. Namun, Ayesha sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Gadis itu seakan tidak punya tenaga lagi untuk berdiri.

"Yesha, ayo! jangan diam saja!" Retha kembali menarik tangan Ayesha.

"Untuk apa, Tha? untuk melihat aku dipermalukan?"

Retha bergeming, dan melempaskan tangan Ayesha.

"Hai, Ayesha! bagaimana? sakit?" tiba-tiba Vania sudah berdiri di dekat Ayesha dan Retha.

Ayesha mengangkat kepalanya dan menatap Vania dengan mata sembab.

"Idih, dia nangis? kasihan!" ledek Vania, seraya melemparkan senyum sinisnya.

"Mau apa kamu ke sini? aku tidak mau melihatmu, pergi dari sini!" Ayesha berdiri dan mengusir Vania.

"Hei, kamu mengusirku? harusnya kamu berterima kasih padaku. Ingat, bagaimanapun aku sudah dua kali menolongmu. Satu, aku sudah membantu mengungkapkan siapa pelaku yang sudah menyekapmu. Dua, aku sudah rela membiarkanmu mangklaim Brian pacarmu. Kalau bukan karena kasihan, mengingat kamu selalu dibully di sekolahmu dulu, aku tidak mau melakukannya. Coba kamu bayangkan, perempuan mana yang kuat melihat laki-laki yang dicintainya dengan perempuan lain? kurang baik apa aku?" ucap Vania, tanpa menanggalkan tatapan sinisnya.

"Dan menurutmu aku senang? justru apa yang kalian lakukan ini benar-benar sangat menyakitkan. Kalau kamu mau, ucapan terima kasih, oke ... TERIMA KASIH! PUAS!"

Vania kembali tersenyum smirk dan mencondongkan tubuhnya ke arah Ayesha. "Iya, aku puas!" ucapnya.

Retha yang dari tadi berusaha menahan rasa kesalnya, menarik tubuh Vania agar menjauh dari Ayesha.

" Sana jauh-jauh kamu! jangan ganggu Ayesha lagi!" bentak Retha.

" Oh ya, sampaikan pada Brian, kalau dia adalah laki-laki pengecut, yang tidak berani bicara langsung!" sambungnya lagi.

Vania tersenyum smirk seraya menepuk-nepuk gaun yang dipakai, bekas tarikan tangan Retha.

"Brian tidak pengecut. Dia tidak bicara langsung pada Ayesha, karena aku yang melarangnya. Sebagai pacar aku punya hak untuk melarang pacarku menemui perempuan lain lagi," ucap Vania dengan bangganya.

Retha mengepalkan tangannya. Kalau bukan karena tempat mereka mulai ramai, ingin sekali wanita itu menarik rambut Vania, bahkan mengacak-acak wajah wanita yang menurutnya penuh kepalsuan itu.

"Vania, sebelum kesabaranku habis. Sebaiknya kamu hilang dari depanku. Aku tidak bisa memastikan, kalau tanganku tidak akan melayang mencakar wajahmu, lima menit saja kamu masih berada di sini," ancam Retha, sembari menggertakkan giginya.

"Tenang saja! tanpa kamu suruh, aku akan pergi. Aku juga malas lama-lama di sini. Mending aku menemui Brian, bye!" Vania berbalik sembari mengibaskan rambutnya, lalu beranjak pergi.

Namun, masih lima langkah, Vania kembali berbalik. "Oh ya Retha, sepertinya sebentar lagi nasib kamu dan sahabatmu itu juga akan sama ... sama-sama ditinggal," Vania kembali berbalik, melanjutkan langkahnya seraya tertawa mengejek.

"Hei, gadis sialan, apa maksud kamu!" teriak Retha yang tentu saja mengundang perhatian siswa-siswa yang sudah hadir di tempat itu.

Sementara itu, Vania yang dipanggil gadis sialan, tidak menoleh sama sekali. Gadis itu memutuskan untuk tetap melanjutkan langkahnya.

"Retha, kenapa Brian membohongiku? kenapa sikapnya selama ini seakan dia benar-benar mencintaiku? seharusnya dia tidak perlu melakukan ini kan? dia bersembunyi di balik kata ingin membantuku agar semuanya percaya kalau memang aku dan dia benaran pacaran. Dia, benar-benar brengsek! aku menyesal pernah jatuh cinta pada pria brengsek seperti dia!" Ayesha, kembali terisak-isak sembari memukul-mukul dadanya yang terasa semakin sesak.

"Ayesha, jangan nangis lagi! kalau kamu menangis seperti ini, sama saja kamu mempertontonkan kelemahanmu. Tidak ada gunanya kamu menangisi laki-laki pengecut yang sama Sekali tidak berani menemuimu, dan malah meminta pacarnya yang menemuimu. Benar-benar pecundang! Sekarang kamu berdiri, dan bersikap kalau kamu baik-baik saja!" Retha meraih Ayesha untuk berdiri lagi. Sumpah demi apapun, sebenarnya dia masih sangat penasaran dengan maksud perkataan terakhi yang ditujukan Vania padanya, tapi dia berusaha menahan diri untuk tetap bersama Ayesha, karena , tidak tega meninggalkan sahabatnya itu.

"Retha, Aku harus pergi dari sini! aku tidak mau melihat wajah Brian lagi!"

"Kamu mau kemana, Yesha?kamu mau pulang ke Jakarta malam ini juga?"

Ayesha tidak menjawab sama sekali. Namun, gadis itu melangkahkan kakinya beranjak dari pergi. Mau tidak mau Retha pun menyusul sahabatnya itu meninggalkan tempat itu.

Banyak yang bertanya, kemana mereka, tapi tak satupun yang dijawab.

Ayesha berjalan menuju kamar. Retha mengira kalau tujuan Ayesha masuk kamar hanya untuk menenangkan diri, tapi ternyata dugaannya salah. Wanita itu justru meraih kopernya, dan menariknya keluar kamar.

"Ayesha, tunggu! kamu mau kemana?" Retha menahan tubuh sahabatnya itu.

"Aku mau pergi dari tempat ini, Tha. Kalau aku di sini aku akan semakin sakit hati melihat dua manusia tidak punya hati itu!" Ayesha menyeka air matanya yang masih tetap mengalir membasahi pipinya.

Retha bergeming diam seribu bahasa. Setelah berdiam beberapa saat, Retha mengembuskan napasnya dengan cukup berat.

"Kamu tunggu di sini. Aku ikut kamu!" Retha berbalik hendak masuk untuk mengambil kopernya.

"Retha, tidak perlu! kamu di sini saja! aku tahu kalau kamu sudah punya rencana menghabiskan waktu dengan Arga.Jadi, kamu di sini saja ya! nanti Arga akan kecewa kalau kamu pergi," Ayesha berusaha mencegah Vania.

"Bagaimana bisa aku membiarkanmu sendiri? aku tidak peduli. Aku harus menemanimu. Urusan Arga, aku yakin kalau dia pasti akan mengerti," Retha tetap keukeh menemani Ayesha.

Ayesha mengembuskan napasnya dengan cukup kencang, melihat sahabatnya yang sangat keras kepala itu.

"Retha, kamu tenang saja ya. Aku akan baik-baik saja. Jadi, kamu tetap di sini saja," Ayesha berusaha meyakinkan sahabatnya itu.

"Tidak! aku akan tetap ikut kamu. Ayo!" Retha meraih tangan Ayesha, tidak peduli dengan permintaan sahabatnya itu.

Ayesha kini sudah tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Karena dia tahu jelas bagaimana sikap Retha.

"Kita mau kemana sekarang?" tanya Retha ketika mereka sudah berada di depan gedung resort. Mereka duduk di sebuah kursi dari kayu.

Ayesha diam beberapa saat. Detik berikutnya, ia meraih ponselnya dan menghubungi Reza, omnya.

"Om, bisa kembali ke sini jemput aku dan Retha nggak?" ucap Ayesha to the point, begitu panggilannya terhubung.

"Kenapa? bukannya itu acara sekolahmu? terdengar suara Reza dari ujung sana.

"Tapi aku mau Om jemput aku sekarang! bisa kan Om?"

"Yesha, kamu kenapa? dari suaramu, sepertinya kamu baru menangis. Apa terjadi sesuatu?" suara Reza terdengar khawatir.

"Om, nanyanya nanti saja. Sekarang Om jemput aku!"

"Iya, iya. Aku jemput kamu sekarang!" panggilan pun terputus. Ayesha meletakkan ponselnya begitu saja di sampingnya.

Tidak perlu menunggu lama, sebuah mobil yang disewa Reza menghampiri Ayesha dan Retha. Mereka bisa cepat tiba karena kebetulan posisi mereka sedang berada di sebuah restoran yang sangat dekat dengan posisi resort tempat siswa/siswi kelas XII SMA Pelita menginap.

Reza keluar dari dalam mobil, begitu juga Deril.

Melihat kedatangan adik dari papanya itu, Ayesha langsung menghambur dan memeluk pria itu.

"Kamu kenapa, hem? apa ada yang menyakitimu? apa pacarmu yang membuatmu sakit hati?" tanya Reza beruntun dan dengan nada lembut.

"Jangan sebut dia pacarku lagi, Om. Dia itu brengsek! Pengecut!" umpat Ayesha, dengan air mata yang kembali menetes.

"Oh, jadi benar dia yang membuat kamu begini. Sekarang bawa Om ke dia, biar Om kasih pelajaran!" darah Reza sontak mulai mendidih.

"Tidak perlu, Om. Yang ada tangan Om akan Kotor. Sekarang Om bawa kami dari sini!" cegah Ayesha, dan tanpa diminta langsung masuk ke dalam mobil.

Reza berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.. Kemudian, dia menoleh ke arah Retha yang masih berdiri di tempatnya.

"Apa kamu mau ikut juga?" tanya Reza.

Retha tidak menjawab, namun dia menganggukan kepalanya, mengiyakan.

"Kalau begitu, masuklah!" titah Reza.

Retha masuk ke dalam mobil, sementara Deril memasukkan koper dua gadis remaja itu ke dalam bagasi.

Tanpa mereka sadari, dua pasang mata, yang tak lain milik Brian dan Arga, melihat dengan tatapan penuh amarah ke arah mobil yang membawa dua gadis itu.

tbc

1
Kartika Miranti30
seru
endang nastusil
Luar biasa
lizulfa anjani
setau aku kalo no di blok kalo pun di buka pesan sebelumnya gak mungkin masuk
eva murjani
Selalu Suka dgn Author satu ini.
cerita nya seru...berasa kembali ke Jaman remaja baca kisah"nya
dan special nya cerita novel yg di suguhkan selalu ringkas padat tdk bertele".
sehat dan Sukses buatmu Author 🥰🌹🌹
eva murjani
Baru engeh ini cerita Anak Kembar Bima dan Ayunda rupanya 😘🙏
Felycia Fernandez
😆😆😆😆
Iis Kurniasih
Karya yg bagus....tidak terlalu berbelit² jalan ceritanya..... semangat terus ya author
Iis Kurniasih
Jangan biarkan kendor ttp semangat.... oke author
Rianti Dumai
tinggal pergi menjauh az sudah Brian,,,ngapain kbanyaan drama,,,!!!
Rianti Dumai
Brian az yg kurang tegas sama vania
Nuraini Nuraini
Luar biasa
Sumringah Jelita
keren
Anonim
Keras kepala + gak punya malu and harga diri 😁😁😁🙏🙏
nnk pw
ini bab diambil dr cerita emak bapaknya?
nnk pw
pdhl tinggal beberin semuanya terus vania di rantai di rsj. masa semu nglah demi demit kyk di
nnk pw
vania halal digorok
nnk pw
fix obsesi. maksa banget
nnk pw
vania cew pick me
Bonny Patriadi
emang boleh ya adiknya papa nikah sama anak Kakanya,/Shy/
Gadis Puspa Kartika
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!