NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009: Saat Kau Panas

"Aku tidak apa-apa."

Kevin masih mencoba berdiri tegak, tapi tubuhnya jelas tidak mendengar perintahnya sendiri. Bahunya berat di lengan Meilin. Napasnya panas, pendek, dan tidak teratur.

"Kamu hampir jatuh."

"Cuma pusing."

"Orang yang cuma pusing tidak sepanas ini."

Meilin menahan tubuhnya dengan susah payah. Kevin tidak gemuk, bahkan terlalu kurus, tapi tinggi badannya membuat Meilin nyaris terseret ketika dia kehilangan keseimbangan lagi.

"Duduk dulu."

"Laptopku..."

"Aku pegang."

"Jangan jatuh."

"Yang penting kamu jangan jatuh."

Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang Meilin rencanakan. Kevin menatapnya samar, mungkin ingin membalas, tapi matanya seperti tidak fokus. Akhirnya dia membiarkan Meilin membimbingnya duduk di tepi kasur.

Kasur itu biasanya milik Meilin.

Malam ini dia tidak peduli.

Dia mengambil tas laptop dari bahu Kevin, meletakkannya di meja, lalu mencari termometer di kotak obat kecil yang dibeli murah di apotek beberapa hari lalu. Tangannya gemetar saat menekan tombol.

"Buka mulut."

Kevin mengernyit. "Aku bukan anak kecil."

"Kalau begitu jangan bertingkah seperti anak kecil yang menolak diperiksa."

Kevin diam.

Entah karena terlalu lemah atau terlalu kaget, dia akhirnya menurut. Meilin menunggu angka di termometer naik dengan jantung berdebar.

38,9.

Dia mengembuskan napas pendek.

"Kita ke klinik."

"Tidak."

"Ko."

"Aku cuma butuh tidur."

"Kamu butuh dokter."

Kevin mencoba berdiri, mungkin untuk membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi baru setengah gerakan, dia memejamkan mata dan mencengkeram pinggir kasur.

Meilin langsung memegang lengannya.

"Berhenti keras kepala."

Kevin membuka mata. Dalam demam, tatapannya tetap tajam, tapi ketajaman itu pecah oleh lelah yang dalam.

"Uangnya untuk makan."

Dada Meilin seperti ditusuk.

Jadi itu yang dia pikirkan. Bahkan ketika tubuhnya hampir roboh, dia masih menghitung uang makan mereka.

"Aku punya saldo dari pesanan."

"Untuk kertas gambar."

"Kertas bisa tunggu. Demam kamu tidak."

Kevin menatapnya lama. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada kata yang keluar.

Meilin sudah membuka aplikasi transportasi. Klinik 24 jam terdekat ada di jalan besar, tujuh menit dengan mobil kalau jalanan kosong. Dia memesan GrabCar sebelum Kevin sempat menolak lagi.

"Aku tidak minta izin," katanya. "Aku kasih tahu."

Untuk pertama kalinya, Kevin tidak menang melawan kalimat Meilin.

Di dalam mobil, Kevin duduk bersandar ke jendela. Lampu jalan Tangerang bergerak di wajahnya, membuat pucatnya semakin jelas. Meilin duduk di sebelahnya dengan tas laptop di pangkuan, satu tangan siap menahan jika tubuh Kevin kembali oleng.

Sopir melirik dari kaca spion.

"Sakit, Mbak?"

"Demam tinggi, Pak. Ke klinik 24 jam."

"Oh, iya. Sebentar lagi sampai."

Kevin menutup mata.

Meilin mengira dia tidur, sampai suaranya terdengar lirih. "Tidak perlu bilang orang lain."

"Aku tidak bilang siapa-siapa."

"Jangan hubungi Benny."

Nama itu keluar dari mulut Kevin seperti sisa racun.

Meilin menggenggam tas laptop lebih erat. "Aku tidak akan menghubungi dia. Selamanya."

Kevin tidak membuka mata, tapi napasnya sedikit berubah.

Di klinik, perawat memeriksa suhu dan tekanan darah Kevin. Dokter jaga mengatakan demamnya kemungkinan dipicu kelelahan, kurang tidur, dan kehujanan, namun tetap memberi obat penurun panas serta vitamin. Jika demam melewati 39,5 atau tidak turun dalam dua hari, Kevin harus kembali untuk pemeriksaan lanjutan.

Meilin mendengarkan semua instruksi dengan serius.

"Minum obat setelah makan," kata dokter. "Banyak minum air. Istirahat. Jangan kerja berat dulu."

Kevin membuka mata sedikit. "Besok saya harus kerja."

Dokter menatapnya datar. "Kalau pingsan di jalan, kerjanya selesai juga, Pak."

Meilin hampir ingin berterima kasih pada dokter itu.

Kevin tidak membantah lagi.

Di meja administrasi, Kevin tetap mencoba mengeluarkan dompet. Meilin menahan tangannya.

"Aku bayar."

"Jangan."

"Ini dari uang gambar."

"Makanya jangan dipakai."

Meilin menatap struk klinik yang baru dicetak, lalu menatap wajah Kevin yang masih pucat. Ada biaya konsultasi, obat, dan vitamin. Tidak murah untuk mereka, tapi juga bukan angka yang mustahil.

"Uang itu gunanya supaya kita bisa hidup," ucapnya. "Kalau kamu sakit dan tetap memaksa kerja, gambar sebanyak apa pun tidak ada artinya."

Kevin menatapnya lama. Mungkin karena demam, mungkin karena lelah, bantahannya hanya berhenti di bibir. Meilin membayar dengan e-wallet sebelum dia berubah pikiran, lalu menyimpan struk dan aturan minum obat di kantong kecil tasnya.

Perawat menyerahkan obat dalam plastik bening.

"Kalau menggigil lagi atau muntah terus, jangan tunggu pagi ya, Mbak. Balik ke sini."

"Iya. Terima kasih."

Pulang dari klinik, suhu tubuhnya masih panas, tapi dia tidak lagi memaksa berjalan sendiri. Meilin membantunya masuk ke kos, mengganti bajunya dengan kaus kering yang dia ambil dari rak, lalu memanaskan bubur instan yang dibeli dari minimarket dekat klinik.

"Makan sedikit," katanya.

"Tidak lapar."

"Obatnya setelah makan."

"Setengah."

"Tiga suap dulu."

Kevin menatapnya.

Meilin mengangkat sendok. "Satu."

"Meilin."

"Dua."

Kevin akhirnya membuka mulut dengan ekspresi kalah yang sangat tipis. Meilin menyuapinya pelan, menjaga agar bubur tidak terlalu panas. Pada suapan ketiga, Kevin mengulurkan tangan ingin mengambil mangkuk.

"Aku bisa sendiri."

Meilin memberikannya, tapi tetap duduk di dekat kasur.

Setelah obat diminum, dia membasahi handuk kecil dengan air hangat suam-suam kuku dan meletakkannya di dahi Kevin. Dulu, mungkin dia hanya melihat adegan seperti ini di novel dan merasa pembaca pasti akan berdebar. Sekarang tidak ada yang romantis dari demam. Ada cemas, ada takut, ada rasa bersalah karena tubuh di depannya mungkin rusak oleh semua malam panjang yang tidak pernah dilihat siapa pun.

Kevin membuka mata ketika handuk menyentuh dahinya.

"Kamu tidak tidur?"

"Nanti."

"Besok kamu harus gambar."

"Gambar bisa tunggu."

"Uang..."

"Kevin."

Dia menyebut namanya tanpa Ko, tanpa kelembutan yang dibuat-buat. Hanya tegas.

"Sekarang tugasmu tidur."

Kevin menatapnya. Demam membuat matanya lebih gelap, tapi di sana ada sesuatu yang rapuh, sesuatu yang biasanya dia sembunyikan di balik dingin.

"Kenapa kamu melakukan ini?"

Pertanyaan itu pelan.

Meilin memegang ujung handuk agar tidak jatuh. "Karena kamu sakit."

"Itu saja?"

Dia bisa mengatakan banyak hal. Karena dia tahu masa depanmu. Karena aku tidak mau kamu hancur. Karena aku mungkin mulai peduli lebih dari yang seharusnya.

Tapi semua itu terlalu besar untuk kamar sempit pukul empat pagi.

"Itu saja sudah cukup," jawabnya.

Kevin memejamkan mata.

Meilin mengira dia tertidur. Dia merapikan selimut tipis di dada Kevin, memastikan obat dan air minum berada dalam jangkauan, lalu hendak berdiri untuk mengganti air kompres.

Tiba-tiba, jari Kevin menangkap pergelangan tangannya.

Tidak kuat. Hanya cukup untuk menahan.

Meilin membeku.

Dalam setengah sadar, Kevin berbisik nyaris tanpa suara, "Jangan pergi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!