Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Ke Toko Musik.
...~•Happy Reading•~...
Kandara jadi melihat Pak Ari dengan serius. Setelah memperhatikan dengan baik wajah Pak Ari, Kandara menyadari, wajah Pak Ari tidak sesegar dan seceria seperti sebelum dia mengambil cuti.
^^^Semua yang dikatakan Pak Ari mengganggunya, tapi Kandara menahan diri untuk bertanya lebih lanjut. Dia sedang terburu-buru dan mau minta ijin pulang untuk mengurus keperluan anak-anaknya.^^^
"Saya mengerti, Pak. Boleh saya minta ijin atau tambah cuti satu hari lagi untuk mengurusi sekolah sikembar, Pak. Supaya besok, mereka sudah bisa sekolah lagi." Kandara berkata pelan dan berharap Pak Ari mengabulkan permintaannya.
"Kalau begitu, kau boleh libur untuk hari ini dan jangan tambah cuti lagi. Besok pimpinan baru mau bertemu dengan kita semua. Makanya tadi saya bersyukur, kau sudah kembali." Pak Ari berkata dengan serius.
^^^Kandara sontak melihat Pak Ari dengan wajah bertanya-tanya, heran. Biasanya mereka diberitahu jauh-jauh hari, jika ada pertemuan penting. Kandara yakin, Mala dan Toby juga belum tahu tentang pertemuan besok. Karena tadi malam Mala dan Toby tidak mengatakan hal itu kepadanya.^^^
"Mala dan Toby belum memberitahukanmu, karena mereka sendiri belum tahu. Saya baru diemail pagi ini untuk menyiapkan pertemuannya. Jadi besok kau masuk seperti biasanya saja, nanti kita kumpul sebelum bertemu dengan pimpinan yang baru." Pak Ari menjelaskan untuk menjawab apa yang menjadi pertanyaan Kandara dan juga mengingatkannya.
"Baik, Pak. Trima kasih... Kalau begitu, saya pamit sekarang saja, agar semua urusan sikembar bisa selesai hari ini. Supaya saya bisa konsentrasi untuk pertemuan besok." Kandara berkata cepat, mengingat dia harus ke dua tempat bersama anak-anak dan Mamanya.
"Baik... semoga semuanya lancar. Sampai ketemu besok pagi." Pak Ari berkata serius lalu berdiri. Kandara ikut berdiri sambil mengaminkan harapan Pak Ari.
^^^Kandara segera pamit dan keluar dari ruangan kerja Pak Ari dengan hati yang berat dan bertanya-tanya. Sikap dan kondisi Pak Ari sangat mempengaruhi hati dan pikirannya. 'Pasti pertemuan besok sedang mengganggu pikirannya.' Kandara membatin sambil keluar ruangan.^^^
"Daraaa... Kau sudah di sini, tanpa ke ruanganku dulu?" Tanya Toby tiba-tiba yang sudah berada di dekatnya. Kandara refleks melihat ke arah suara.
"Astegaaa... Sssssttt... Mas Toby bikin kaget saja. Dara lagi buru-buru, Mas. Kalau ke ruangan Mas Toby dan ngga ke ruangan Mas Mala, bakalan ada kunang-kunang bertebaran." Kandara berkata pelan sambil menarik tangan Toby, agar kehadirannya tidak menarik perhatian yang lain.
"Siapa yang ada menyebut kunang-kunang?" Tiba-tiba suara Mala dari arah belakang Kandara, membuat Kandara menengok ke belakang.
"Ssssstttt... Mas Mala dan Mas Toby mengapa ke sini? Dara kan sudah bilang, hanya datang nyetor muka ke Pak Ari, lalu minta ijin pulang. Mas berdua bisa menggagalkan rencanaku." Kandara juga menarik tangan Mala mendekatinya dan Toby. Dia heran dengan kehadiran kedua rekannya, bertepatan dia hendak pulang.
"Kami bukan sudah tau kau datang dan mau menemuimu. Kami diminta datang ke ruangan Pak Ari." Mala menjelaskan sambil berbisik, agar tidak menarik perhatian.
^^^Mala mengerti maksud Kandara, agar Kandara tidak menarik perhatian para karyawan yang melihatnya, terutama para programmer.^^^
"Oooh... Kalau begitu, segera temui Pak Ari, Mas. Nanti kita telponan, yaa..." Kandara berkata pelan sambil menggerakan tangan ke telinga sebagai kode untuk saling telponan.
"Ok, sorry... Kami ngga bisa antar. Hati-hati..." Toby berkata sambil menepuk pelan bahu Kandara.
"Makasih, Mas. Aman. Dara dijemput Mama dan kembar." Kandara berkata sambil mengatupkan kedua tangan di dadanya ke arah Mala dan Toby, sebagai ungkapan terima kasih dan pamit. Kemudian Kandara segera meninggalkan kantornya.
^^^Kandara berjalan cepat ke tempat parkir menemui Bu Selvine dan anak-anak yang sudah menunggunya. Dia meminta Mamanya menjemput di tempat parkir gedung, bukan di lobby, agar tidak terlihat oleh karyawan kantor yang bisa menyapa atau mengajaknya bicara.^^^
"Ma, bisa ikut dengan kami, atau Dara mau antar Mama ke butik lagi?" Tanya Kandara setelah masuk ke mobil dan duduk di belakang bersama Efraim.
"Mama ikut dengan kalian. Tadi semua sudah ditangani dan Mama sudah bilang ngga balik lagi ke butik." Bu Selvine menjelaskan, agar Kandara bisa tenang lakukan rencananya.
"Makasih, Ma. Kalau begitu, kita ke sekolahan kembar dulu, yaa... Biar nanti bisa santai untuk ngurus yang berikut." Kandara berkata tanpa mengatakan tujuan berikutnya, agar tidak jadi banyak pertanyaan dari Efrima. Kandara yakin, Efraim sudah mengerti maksudnya, saat melihat dia tersenyum senang di sampingnya.
Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di sekolah Efraim dan Efrima. Hanya Kandara yang turun untuk bertemu dengan kepala sekolah dan guru anak-anaknya, agar tidak lama di sekolah. Kandara mencegah Efraim dan Efrima bertemu dengan teman-temannya, agar tidak membuat mereka tertahan di sekolah.
^^^Setelah berbicara dengan kepala sekolah, Kandara keluar dari halaman sekolah dengan hati lega. Anak-anaknya bisa masuk sekolah dengan catatan harus mengejar semua pelajaran dan ulangan yang dilakukan selama mereka tidak masuk sekolah beberapa waktu lalu.^^^
"Bagaimana, Dara. Besok anak-anak bisa masuk sekolah?" Tanya Bu Selvine mewakili cucu-cucunya yang sedang menunggu dengan tidak sabar.
"Bisa, Ma. Tapi dengan banyak catatan. Nanti kita bicarakan di rumah. Kita fokus untuk tujuan berikutnya dulu, Ma." Kandara berkata sambil shareloc tempat tujuan berikutnya kepada Bu Selvine.
"Ma, nanti Dara dengan Efra yang turun saja." Kandara berkata demikian, agar Efrima tidak ikut mengacak toko musik dan bertanya banyak hal tentang yang dilihatnya.
^^^Bu Selvine mengangkat tangan membentuk jari tanda OK, karena mengerti maksud Kandara. Efrima terdiam dengan wajah sedih melihat Kandara dan Efraim turun dan masuk ke toko musik.^^^
^^^Bu Selvine harus ekstra membujuk dengan berbagai bujukan. Mengapa dia tidak diajak turun bersama Mommy nya dan Efraim.^^^
"Efra, lihat organ mana yang Efra suka dan mau, ya. Seperti yang Daddy janjikan, Efra tidak usah pikirkan yang lain. Daddy beli organ dan semua kelengkapannya untuk Efra. Pilih ssja, ya..." Kandara berkata setelah mereka berada di dalam ruangan yang penuh dengan alat musik.
Ketika melihat semua alat musik yang ada, Kandara jadi bingung dan bersyukur Efrima tidak ikut. Dia mendekati pelayan dan memberitahukan tujuannya ke toko tersebut. Pelayan mengangguk mengerti lalu mengajak mereka ruangan khusus tempat organ.
"Mommy, Efra lihat-lihat dulu, ya." Efraim mendekati Kandara dan berkata pelan. Dia mau melihat sesuai yang diinginkannya.
"Pak, yang di ruangan itu, dijual juga? Kami bisa lihat, ngga?" Tanya Efra sambil menunjuk ruangan khusus di bagian lain, ada beberapa organ yang di pajang secara khusus.
^^^Sontak pelayan melihat ke ruangan yang ditunjuk Efraim, lalu kembali melihat ke arah Efraim dan Kandara dari kepala sampai ke kaki, mengamati.^^^
"Iyaa... Itu untuk di jual juga. Tapi ..." Kaliana segera menutup telinga Efraim agar tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan tokoh tersebut selanjutnya, 'organ di situ harganya sangat mahal'. Pelayan itu berkata dengan nada ragu, karena melihat penampilan Kandara dan Efraim yang biasa saja.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
Terimakasih buat authornya..