NovelToon NovelToon
BUMI KITA

BUMI KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Epik Petualangan / Persahabatan / Romansa
Popularitas:39k
Nilai: 5
Nama Author: Jindael

Hay guys ini novel kedua ku yang bertolak belakang dengan novelku yang pertama. Di novelku ini juga tak seluruhnya berbahasa Indonesia ada sedikit unsur bahasa daerah asalku yaitu bahasa Jawa. Dan satu lagi juga mungkin ada sedikit bahasa dari daerah asal kalian. Ditambah penambahan bahasa Inggris yang juga mungkin ada sedikit.

Novel ini bercerita tentang sekelompok anggota UKM Pencinta Alam dari Universitas Jenderal Soedirman yang selalu menjaga dan melindungi alam dan bumi. Alam adalah salah satu anggota komunitas tersebut dan merupakan seorang mahasiswa baru biasa. Ia memiliki sifat yang cinta alam dan setiap terhadap kawannya. Tapi pada suatu hari ia bertemu dengan musuh alam yang selalu menghalangi jalan mereka untuk melindungi alam sekitar. Ia adalah anak Rektor kampusnya sendiri. Dan bukan hanya itu saja, mereka juga akan menghadapi berbagai permasalahan dari luar. Bisakah alam dan kawan-kawan mendamaikan bumi dan alam semesta? lets go read....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 "Badrol Si Perusuh Baru"

BRUM BRUM BRUM BRUM BRUM, suara mesin moge menggeber dan mengeluarkan asap banyak dari knalpot nya. Tindakan seperti ini sebenarnya dapat membuat pencemaran udara semakin meningkat. Ditambah lagi suara bising yang timbul dari mesin motornya. Orang-orang yang berada disekitar pasti akan merasa tak nyaman karena hal itu. Oh iya satu lagi boros bahan bakar juga kan jadinya. Sebagai seorang manusia yang benar, aku pun menghentikan aksi mereka. Tapi saat aku ingin menghentikan aksi mereka, munculah Pak Ali dengan corongnya untuk menegur mereka.

"YANG SEDANG BERMAIN MOTOR DI SITU HARAP BERHENTI SEKARANG," suruhnya. "MAS MBA ATAU SIAPA ITU TOLONG BERHENTI ATAU SAYA LAPOR KE PIHAK KAMPUS," ancam Pak Ali keras pada mereka.

Setelah lama mereka akhirnya berhenti juga. Aku penasaran dengan sosok sosok mereka. Orang dari klan mana ini yang coba merusak alam lagi. Pengendara motor itu pun turun dan membuka helmnya. Di ikuti rekan lainnya yang juga turun sambil melepas helm

"Kalian bertiga ini anak kuliah mana berani sekali mengacau disini," marah Pak Ali langsung.

"Heh Bapak tak kenal dengan ku, patutlah aku juga belum memperkenalkan diri iya kan," katanya sambil menunjuk dirinya sendiri lalu menaruh helm miliknya ke spion motor.

"Betul Bos," saut dua temannya sambil terkekeh.

"Hilih belagu temen wong wong kae yah," bisik Budi padaku yang tak jauh dari mereka berada.

"Hooh Bud," jawabku mengangguk.

"Kenalkan aku Badrol Amirullah pendatang baru di kampus ini," katanya memperkenalkan diri.

"Ni Hao (halo) Pak wo (aku) Lang-Lang. Wo (aku) Ling-Ling ma," sambung ke dua temannya sambil mengangkat tangan.

Bandrol Amirullah anak tukang camat yang belagunya teramat. Dia ini sebenarnya adalah anak dari adiknya ayah Samsul yang bernama Mahmud Badaruddin. Ya bisa dikatakan dia adalah sepupu si Samsul yang baru pulang dari luar negeri. Sedangkan dua orang yang pake bahasa asing itu adalah temannya. Mereka berdua anak kembar yang bernama Lang-Lang dan Ling-Ling. Asal mereka dari China tapi dibesarkan di Indonesia. Bisa dikata mereka berdua ini Chindo China Indo

"Cah loro sing putih, lanang wadon ngomong apa ya (dua anak yang putih, cowok cewek bicara apa ya)?" bisik si Budi padaku lagi.

"Mbuh deleng pak Ali be kaya ra mudeng (gak tau lihat pak Ali juga sepertinya gak ngerti)," jawabku.

"Oh kamu ponakannya pak Samsudin yah," tebak Pak Ali ditempat.

"Betul sekali 100 untuk Bapak," katanya membenarkan.

"Eh punten temen mu ngomong apa bapak gak ngerti?" tanyanya.

"Maaf Pak dua teman ku ini asalnya dari negeri Tirai Bambu jadi belum bisa betul bahasa Indonesia," ucap Badrol menjelaskan.

"Oh begitu toh mari masuk sudah di tunggu kalian sama pak Samsudin," ajak Pak Ali. Pak Ali yang tadi ingin marah jadi tak jadi sebab mengetahui kalo si Badrol ini ternyata adalah ponakan Kepala Rektor.

Di wilayah kami berdiri.

Kami berlima tampak heran dengan sikap pak Ali yang langsung berubah. Bukannya menghukum mereka bertiga dan menegurnya malah mengajaknya bertemu dengan pak Rektor.

"Lah deneng pak Ali ra sida kesuh (lah kok pak Ali gak jadi marah)," kata ku heran.

"Iya Lam aneh," saut si Sinta dari belakang ku.

"Walah anake pak Camat ternyata bocah anyare (oh anaknya pak Camat ternyata anak barunya)," sela Frank tiba-tiba.

"Lah ko deneng ngerti Frank (lah kamu kok tau Frank)," ucapku terkejut.

"Biasa bapakku koneksi ne (nya) bera (banyak), ponakannya Samsul itu," jawabnya.

"Bapakmu dah kaya mata-mata aja Frank," canda si Clara. Si Frank hanya membalas candaan Clara dengan tersenyum tipis.

Ayah Frank ini benar-benar seperti mata-matanya si Frank. Hampir setiap kabar yang berkaitan dengan pak Samsudin pasti ayahnya si Frank tak ketinggalan.

"Kok Bos gak kasih tau ya kalo dia punya keponakan hebat dan keren," ucap si Made yang berada di samping kami

"Perusuh kok di bilang keren," saut si Sinta berbeda pendapat.

"Wis hayu masuk ana kelas mbok (udah ayo masuk ada kelas kan)," ajakku pada yang lainnya.

Kami semua yang tadi menonton pun bubar dan melanjutkan aktivitas masing-masing kembali. Badrol dan kedua temannya di bawa pak Ali untuk menemui pak Samsudin di kantor nya.

Di kantor Rektor.

"Badrol keponakan ku akhirnya paman bisa melihat mu juga," ucapnya senang sambil berjalan memeluknya.

"Iya Paman, Paman apa kabar?" tanyanya setelah berpelukan.

"Baik baik, duduk duduk temanmu juga," jawabnya lalu menyuruhnya duduk

"Makasih Paman," ucapnya lalu duduk.

"Xièxiè (Makasih) Om," kata kedua temannya juga dengan bahasanya.

Pak Samsudin yang bingung dengan perkataan teman si Badrol pun hanya bisa berkode mata pada Badrol alih-alih untuk mengetahui apa yang di katakan nya. Dengan sigap dirinya mengetahui maksud dari lirikan pamannya itu.

"Ah terimakasih paman kata mereka," ucapnya memberi tahu.

"Oh begitu iya sama-sama," kata Pak Samsudin langsung setelah mengetahui maksud dari kedua teman keponakannya itu.

"Oh iya paman katanya di kampus ini ada klub pencinta alam yah?" tanya Badrol padanya.

"Iya kamu mau gabung," tawarnya.

"Ngapain gabung paman gak penting juga," tolaknya mentah-mentah.

"Lalu mengapa bertanya dan itu sih terserah kamu juga Rol, katanya sambil mengangkat bahunya di akhir kata.

"Wkwkwk ok lah paman aku cuma penasaran saja kok tak ada niatan untuk gabung hihihi," balasnya sambil terkekeh.

"Ah iya aku juga tadi sepertinya denger ada mahasiswa yang bilang motorku katanya bikin polusi, siapa mereka ya?" tuturnya pada pamannya.

"Ah paling itu anak anak dari pencinta alam, biasa mereka," jawabnya santai

"Oh," ucapnya sambil manggut-manggut.

Mereka semua terus berbincang-bincang entah sampai kapan mereka selesai, mungkin sampai pembicaraan mereka ada ujungnya kali ya. Ya apalagi pak Samsudin yang sepertinya sudah lama tidak berbicara dengan ponakan nya itu. Dirinya terakhir bertemu padanya saat masih seukuran biji jagung. Sedangkan kedua teman China nya hanya manggut-manggut saja menyimak pembicaraan diantara keduanya.

...🍄🍄🍄🍄🍄🍄...

Jam 4 sore waktunya aku dan Budi pulang ngampus. Saat sampai di parkiran kami berdua di buat terkejut. Gimana tak terkejut Onal dan Raider tiba-tiba saja menghilang dari tempatnya.

"Bud Bud pit e dewek langka deneng (Bud Bud sepeda punya kita kok gak ada)," panggil ku padanya setelah mengetahui sepeda milik kami tak ada ditempatnya.

"Halah iya apa ana (ada) maling sepeda ning (di) kampus," ucapnya terkejut sambil memegangi kepalanya.

"Apa iya sapa sing doyan sepeda ne dewek Bud, senggane ana maling nana yo milih motor sing lewih gede regane (apa iya siapa yang suka sepeda milik kita Bud, kalau saja ada maling ya pasti milih motor yang lebih besar harganya)," pikir ku tak percaya.

"Lah iya, terus meng ngendi (kemana) si Raider ku karo Onal mu? Apes apes," ucapnya dengan nada hampir putus asa.

Ealah malah isine berubah dadi motor gede sing mau awan kabeh lah piwe sih (ealah malah isinya berubah jadi motor gede yang tadi siang semua lah gimana sih)," ucapku dengan nada kesal setelah melihat tempat parkir yang dipenuhi dengan motor motor berkelas.

"Iya Lam, rombongan pit ilang kabeh (sepeda hilang semua)," timpalnya.

"Eh Bud rombongan piwe wong isine parkiran kiye mung sepeda ne dewek tok, ya sing ilang kur gene dewek tok piwe lah (eh Bud rombongan gimana orang isinya parkiran ini cuma sepedanya kita saja, ya yang hilang hanya milik kita saja gimana lah)," jelas ku membenarkan sambil masih menggunakan nada kesal.

"Eh iya iya Lam," celetuknya.

Kami berdua akhirnya celingukan mencari kendaraan kami. Saat kami sedang mencari, datanglah badrol dan rombongan nya. Aku pun bertanya padanya barangkali mereka tau keberadaan sepeda kami.

"Permisi Mas, lihat sepeda kami yang terparkir disini tidak?" tanyaku pada ponakan Samsul.

"Mana ku tahu," jawab Badrol santai.

"Hayya Bos itu tadi kan ada dua sepeda yang bos suluh oe singkirkan ma," kata si Lang-Lang mengingatkan Bosnya.

"Iya tadi lu olang bilang buang ma," ucap Ling-Ling menimpali.

"Apa di buang? Di buang ngendi (kemana) hah?" sepeda kita itu, ucapku terkejut.

"Oe buang di belakang gudang ma," jawab si Lang-Lang.

"Hayu Bud jimot pit e (ayo Bud ambil sepedanya)," ajakku sambil menarik tangan Budi.

"Engko sit Lam (nanti dulu Lam)," cegat Budi.

"Heh mas e iki parkiran dudu nggene nini moyang mu sapa bae kudu ne oleh parkir (heh masnya ini parkiran bukan punya nenek moyang mu siapa saja harusnya boleh parkir)," marah Budi pada mereka.

"Sepeda kalian berdua itu hanya merusak pemandangan saja, nyempil di tengah kaya selilit, lagian sepeda butut kalian itu juga tak sebanding dengan motor motor keren kami ha-ha-ha," jawab Badrol dengan tawanya. Badrol ini ternyata mengerti dengan apa yang dikatakan si Budi, sebab tak disangka dirinya juga mengerti bahasa Jawa sedikit.

"Hee sembarangan si.... sapa arane (namanya)???" marah Budi berhenti karena berpikir.

"Badrol orang paling kece," sahutnya dengan nada sombong.

"Ah berudul aja sembarangan kowe," marah si Budi sampai salah sebut

"Wis wis hayu jimot pit te wae kalas ilang maning engko (sudah sudah ayo ambil sepedanya saja keburu hilang lagi nanti)," ajakku pada Budi.

"Iya iya," jawabnya setuju dengan nada masih terlihat kesal.

Kami berdua pun pergi meninggalkan Badrol dan kawannya. Saat kami sudah pergi datanglah Domu dan Made menghampiri si badrol yang masih melihati kami.

"Asem itu anak manggil aku berudul, tampan tampan dan kece begini di bilang berudul," ucap badrol dengan nada kesal.

"Apa kurang jelas aku kasih tau tadi," marah Badrol.

"Hayya mungkin ada yang salah dengan pendengarannya Bos," jawab Ling-Ling menyauti.

"Maaf Badrol kan yah, memang begitu lah dia, pelafalannya kurang memadai dan kau tau yang satunya itu temannya namanya alam. mereka berdua itu anggota UKM Pencinta Alam disini," sela si Domu sambil menjelaskan kriteria kami berdua.

"Oh berarti orang yang tadi pagi bilang polisi itu dia aku ingat wajahnya tadi pagi," ucap Badrol sambil menunjuk diriku dari belakang.

"Hayya kalian berdua siapa ma?" tanya si Lang-Lang pada mereka.

"Oh kenalkan kami berdua ini teman saudara mu si Samsul," jawab si Made mewakili

"Ah ini toh Bro Bro nya Samsul," celetuknya

"Salam kenal salam kenal, katanya menyapa sambil tersenyum girang. Aku di pesankan Samsul untuk menjaga kalian. jadi mulai sekarang kalian berdua adalah kawan ku," jelas badrol pada mereka berdua.

"Alamak beneran kah ini kita langsung boleh gabung," ucap Domu tak percaya.

Bandrol membalas nya dengan anggukan yang berarti benar apa adanya. Melihat respon Badrol, Domu dan Made langsung senang. Karena akhirnya mendapatkan pengganti Samsul untuk menjadi bos sementaranya.

"Hayya tambah teman kita bos," ucap si Lang-Lang senang

"Iya ma, Ni Hao (halo) Domo dan Made," timpal Ling-Ling sambil menyapa mereka berdua.

Domu dan Made akhirnya bergabung bersama geng Badrol. Sebelumnya si Samsul pernah memberitahu dirinya bahwa ia memiliki teman di tempat asalnya. Samsul pun meminta dirinya untuk menjaga dan berteman saja dengan dua anteknya itu.

Sementara aku dan Budi sudah berada dibelakang gudang. dan tampak lah dua sebuah sepeda milik kami yang terkapar terbuang di lubang sampah.

"Innalilahi tega banget kae bocah buang sepeda ku, mbok ya di singkirkan sing bener kan bisa ya Lam (Innalilahi tega bener itu anak buang sepedaku, ya kan disingkirkan yang benar kan bisa ya Lam)," ucap si Budi terkejut ketika melihat keadaan sepeda kami terbengkalai di lubang sampah.

"Iya Bud ngapa ra di singkir na ning parkiran sebelahe padahal esih omber nang kana. Melasi pit e dewek wis bagaikan rongsok bae dadine (iya Bud kanapa gak di singkirkan ke parkiran sebelahnya padahal masih luas di sana. Kasian sepeda kita udah bagaikan rongsok saja jadinya)," kataku sedikit marah sambil berjalan menghampiri sepedaku.

"Iya Lam padahal pite dewek kan mesih anyar yah (iya Lam padahal sepeda kita kan masih baru yah)," ucapnya membenarkan.

"Dasar lah wong sugih, kabeh ya pengine di embat (dasar lah orang kaya, semua ya pengin di miliki)," kata si Budi sambil mendirikan sepeda miliknya.

Setelah mengambil sepeda milik kami, kami pun pulang ke Kos-Kosan. Untung sepeda kami masih bisa di gunakan kembali walau sudah terjungkal di tumpukan sampah.

...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...

Di tengah perjalanan pulang.

Aku dan Budi sedang menggowes sepada milik kami. Di depan kami tampak petugas Oren yang sedang marah-marah. Bagaimana tidak marah, setumpuk daun dan sampah yang sudah di kumpulkan nya tiba-tiba terhembus angin kencang dari pengendara motor yang lewat dengan kecepatan tinggi. Karena kami berdua penasaran, kami pun melajukan sepeda mendekat ke arahnya.

Wush brum, suara angin berhembus kencang dari pengendara motor yang lewat dengan kecepatan tinggi. Angin kencang membuat petugas kebersihan jalanan sampai berputar beberapa kali dan jatuh

"Aduh..., apa kae miki sing liwat, motor dudu? Motor koh wis kaya ninja ngantek ra keton wujud e (apa itu tadi yang lewat, motor bukan? Motor koh dah kaya ninja sampai tak kelihatan wujudnya)," gerutunya sambil langsung berdiri dan menengok jalanan.

"Kurang asem kurang asem, ambrol radul kabeh dadine (berantakan semua jadinya)," marahnya setelah melihat keadaan dedaunan yang di sapunya.

"Halah halah tambah pegawean kiye (pekerjaan ini)," ucapnya merasa kesal.

"Pak ana apa toh?" tanyaku setelah sampai.

"Iki lho pegawean ku dadi mambrah mambrah sebab ulah e wong miki (ini lho pekerjaan ku jadi berantakan sebah ulahnya orang tadi)," tuturnya sedikit kesal.

"Wong miki sapa Pak (orang tadi siapa Pak)? tanya si Budi penasaran.

"Ana lah miki kae bocah dean gali gawa motor banter pisan marak na gawe semua kiye (ada lah tadi itu anak mungkin bawa motor kenceng banget jadi menyebabkan semua ini)," jawabnya masih kesal.

Pengendara motor itu tidaklah lain adalah Badrol. Dia mengendarai motornya dengan sangat kencang sehingga menimbulkan angin yang kencang pula. Tak lama motor Badrol berhenti di depan sebuah gang. Dirinya bersiap untuk menyebrang ke jalan lain. Tapi saat hendak mau melajukan motornya. Sebuah motor menghadang dirinya. Ya itu adalah Pak Bambang, polisi lalu lintas setempat. Ternyata saat Badrol melaju tadi, pak Bambang sudah mengawasinya dari cctv kantor.

"Ada apa ya Pak? Apa saya melakukan kesalahan?" tanyanya langsung.

"Mas bisa putar balik ikut saya," pinta Pak Bambang.

"Untuk apa aku ikut Bapak?" tanyanya tak mengerti.

"Nanti juga Mas tau sendiri," jawabnya.

Badrol pun akhirnya menurut dan mengikuti Pak Bambang. Mereka berdua ternyata berhenti di tempat Pak Petugas Oren tadi. Dan di sana tentu saja sudah ada aku dan Budi.

"Lah Badrol wong mau (orang tadi)," ucapku seketika karena terkejut melihat orang yang sedang di seret Pak Bambang.

"Pak aku di bawa ke sini untuk apa?" tanyanya masih tak mengerti.

"Lihat kelakuan mu, kasian Pak petugasnya sudah menyapu sedari tadi malah berantakan lagi gara-gara kamu mengendarai motornya kaya jaran bigar," suruh Pak Bambang sambil menunjuk ke dedaunan yang berantakan.

"Ah masalah sepele tinggal disapu kembali kelar kan," katanya santai.

"Punten mas aku ngerti bisa disapu lagi tapi aku iki kudu bali wis sep malah kudu tugas maning (maaf Mas aku tau bisa disapu lagi tapi aku ini harus pulang udah sore malah harus tugas lagi)," jelas Pak kebersihan dengan suara paruhnya.

"Itu sih DL," kata si badrol tak sopan.

"Hey Berudul kowe iki salah minta maaf sana," suruh Budi padanya.

"Gak mau apaan sih, terus kamu ini ya namaku itu Badrol bukan Berudul emang aku kain apa," protesnya marah pada Budi.

"Heleh terserah aku mulut mulut ku," balasnya meladeni.

"Oh ya mana SIM kamu bapak mau lihat," pinta Pak Bambang pada si Badrol.

"Untuk apa?$ tanya Badrol pura-pura tak tahu.

"Kamu juga ditilang karena mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Itu dilarang dan bisa membahayakan orang lain,' jawab Pak Bambang menjelaskan.

"Nak, bapak rep bali tapi kiye kepriben ya mesih mambrah mambrah (Nak, bapak mau pulang tapi ini gimana ya masih berantakan)," bisik Pak petugas kebersihan padaku.

"Ya wis bapak wangsul wae iki biar aku karo temenku bae sing bersihi (ya sudah Bapak pulang saja ini biar aku sama temenku saja yang bersihin)," suruhku sambil menawarkan jasa padanya.

"Baiklah kalo begitu bapak pamit ya. Terimakasih," pamitnya.

"Sama-sama Pak," balasku. Bapak petugas kebersihan pun pergi pulang ke rumah meninggal kami yang masih di tempat.

"Heh Lam si Berudul leh sing kon bersihi wong kae sing salah (heh Lam si Berudul lah yang harus bersihin orang dia yang salah)," protes si Budi tiba-tiba karena tak setuju.

"Nah bocah pinter iku, pas banget bapak lagi mikir hukuman sing cocok nggo iki bocah (nah bocah pinter itu, pas banget bapak lagi mikir hukuman yang cocok buat anak ini)," saut Pak Bambang yang setuju dengan perkataan si Budi.

"Lam kowe ra usah bersihi kabehan kiye biar bocah bandel iki wae sing ngerjak na (Lam kamu gak usah bersihin ini semua biar bocah bandel ini saja yang mengerjakannya)," jelas Pak Bambang padaku.

"Oh kaya kuwe ya wis lah terserah Bapak Polisi wae (oh begitu ya sudah lah terserah Bapak Polisi saja)," ucapku menurut apa katanya.

"Mending kita bali Lam, wis sep kie aku pengin adus wis kecut (mending kita pulang Lam, udah sore ini aku pengin mandi udah asem)," bujuk Budi padaku

"Ya wis hayu," ucapku setuju.

"Pak kita berdua pamit yo assalamualaikum," pamit ku lalu langsung menggowes sepedaku lagi.

"Waalaikum salam sing ati-ati (yang hati-hati)," balas Pak Bambang berpesan.

Setelah kepergian kami berdua, si badrol langsung protes karena tak terima dengan hukumnya.

"Kok aku sih Pak udah bener anak itu aja," protesnya.

"Orang kamu yang salah ya kudu tanggung jawab," kata Pak Bambang sambil mendongakkan kepalanya.

"Wis cepet dikerjakna kalas Maghrib (udah cepat dikerjakan keburu Magrib)," perintahnya pada Badrol.

"Iya iya," jawabnya. Dengan perasaan terpaksa, Badrol pun akhirnya setuju.

"Yah..., sing bersih aja ngantek ana sing sisa (yah..., yang bersih jangan sampai masih ada yang sisa)," pesan Pak Bambang sambil memberikan sapu kepadanya.

"Iya cerewet banget Bapak nya ini," jawabnya tak ikhlas.

"Heh bocah aku iki bukan cerewet tapi ya bapak iki kur pengin ngenehi ngerti meng kowe, petugas sapu jalanan iku tugas sing mulia jadi aja di sepelek na. Maning maning nek ana Petugas Oren lagi tugas, ya setidaknya pelan kan laju kendaraan mu (heh bocah aku ini bukan cerewet tapi ya bapak ini cuma pengin beritahu ke kamu, petugas sapu jalanan itu tugas yang mulia jadi jangan di sepelekan. Lagi-lagi kalau ada Petugas Oren sedang bertugas, ya setidaknya pelan kan laju kendaraan mu), ceramah Pak Bambang menasehati.

Srak Srak Srak Srak, si badrol hanya diam mendengarkan ceramah dari pak polisi sambil terus menyapu.

"Denger na aja kur masuk kuping tengen metu kuping kiwe tok (dengarkan jangan hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri saja)," suruh Pak Bambang.

"Iya iya lah Pak, ini sudah selesai aku boleh pulang ya," pintanya.

"Ya wis makasih ya, inget aja diulangi maning (lagi)," balasnya sambil memberi peringatan.

Si Badrol pun pergi meninggalkan Pak Polisi. Dirinya tak jadi ditilang sebab ternyata surat-surat nya lengkap. Sampah yang tadi berantakan kini sudah bersih dan enak dipandang lagi. Pak Polisi hanya menggeleng kan kepala melihat kepergian Badrol.

"Bocah saiki jan, langka sing waras gawe masalah wae pegawean ne (anak jaman sekarang, gak ada yang waras buat masalah saja kegiatannya)," gumamnya sambil berkacak pinggang dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Wis pada bubar, sepi, melu bali lah (udah pada bubar, sepi, ikut pulang lah)," ucapnya setelah celingak-celinguk ke kanan dan kiri.

Pak Bambang pun ikut pulang ke rumah karena dirinya juga merasa lelah setelah seharian penuh bertugas. Sifat badrol ini sebaiknya dihindari ya. Selain membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain, mengebut di jalanan juga tak nyaman dipandang oleh orang yang ada di sekitar

Nah kawan semua menggunakan kecepatan tinggi saat berkendara itu bahaya ya. Apalagi jika ada petugas kebersihan jalanan sedang bertugas, kasian mereka harus membersihkan berulang kali karena daun atau sampah yang sudah di sapunya terus berterbangan. Sebagai manusia yang bijak dalam berkendara, alangkah baiknya jika bertemu petugas kebersihan yang sedang bertugas, pelan kan laju kendaraan kalian ya.

Bersambung.....🍄🌵🍄

1
🥀⃟ʙʟᴀᴄᴋʀᴏsᴇ
aduh kang, kopi yaa, mudah²an budi ngerti
✮⃝🍌 ᷢ ͩᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢• 🤎
Samsul kasar amat sech...
🔵✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ❀∂я🤎Aₙᵢₜₐ🏫⃟Sᵐᵖ
wah kalian ganggu aja orang yg lg pacaran 😅
murah meriah kepasar mlm bang Kris & mba Lili jangan risih y dengan mereka klo di gangguin mlh jd makin rame kan🤭
🔵✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ❀∂я🤎Aₙᵢₜₐ🏫⃟Sᵐᵖ
😅salah nyomot Bang Kris bukan y mba Lili yg di gandeng mlh si kunti yg digandeng
untung bukan kunti beneran yg di gandeng😅
𝐀⃝🥀🥑⃟Jind🤎🍒⃞⃟🦅❀∂я☘𝓡𝓳😘: kalo Kunti beneran ya pingsan pasti wkwk 😂
total 1 replies
🔵✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ❀∂я🤎Aₙᵢₜₐ🏫⃟Sᵐᵖ
🙈ya ampuuun Frank ku yg bc kok bukan y takut mlh tertawa dengan kekoyolan mu😅
untuk gk terkencing2 tuh ngeliat kunti lanang
🔵✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ❀∂я🤎Aₙᵢₜₐ🏫⃟Sᵐᵖ
wah naik kora2 klo di pasar mlm itu penuh tantangan krn kemanan kurang gk seperti di dufan yg penuh keamanan
jd teriak lah sekuat2 y untuk ekspresimu, krn rasa takut itu pasti ada
sekali seumur hidup hrs di coba naik kora kora menguji adrenalinmu dengan ketinggian
@𝓐𝔂⃝❥Jinda❀∂я🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄😘
moga mereka bisa sadar dan mengikuti solusi yang diberikan Bang Kris. Berburu burung sembarangan termasuk melanggar hukum tau
@𝓐𝔂⃝❥Jinda❀∂я🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄😘
nah iya berani berbuat berani tanggung jawab toh kalian kagak salah kok ngapa mesti wedi, hal yang kalian lakukan kan hal yang bener
@𝓐𝔂⃝❥Jinda❀∂я🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄😘
wis ra peduli sing penting makhluk hidupe isa bebas meneh ya Lam emang pencinta kewan kowe
@𝓐𝔂⃝❥Jinda❀∂я🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄😘
dikira ente dagang sate nanti Bang hehe
@𝓐𝔂⃝❥Jinda❀∂я🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄😘
wah senang sekali bisa melihat spesies langka di hutan itu harus di lestarikan dengan baik ini
Sky
aku juga risih melihat sampah bertaburan disekitar sini, warga sini membuang sampah di pinggiran jalan, saat jalan' inginnya menangkap pemandangan indah
ehh malah sampah di sepanjang jalan yang masuk dalam pandangan 😔
𝐀⃝🥀🥑⃟Jind🤎🍒⃞⃟🦅❀∂я☘𝓡𝓳😘: hooh pemandangan jadi kagak enak di pandang ya
total 1 replies
Sky
Domu dan Made kasian 😂 sudah tak ada kesempatan untuk menolak ajakan sang boss
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Program bagus gitu kenapa bnyak yg ga setuju 🤔😏
𝐀⃝🥀🥑⃟Jind🤎🍒⃞⃟🦅❀∂я☘𝓡𝓳😘: ya begitulah warganya belum sadar akan bahayanya lingkungan
total 1 replies
Ney 🐌
namany yg gmpng biar bisa di ingt🤭🤭
Ney 🐌
aku mampir
𝐀⃝🥀🥑⃟Jind🤎🍒⃞⃟🦅❀∂я☘𝓡𝓳😘: terima kasih ka sudah mampir 🙏❤️
total 1 replies
@𝓐𝔂⃝❥Jinda❀∂я🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄😘
wkwk mang enak kamu Sul dikerjain jahat sih
@𝓐𝔂⃝❥Jinda❀∂я🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄😘
Hem si Frank arep jahil mesti kalo kagak jahil ya bukan Frank namanya
@𝓐𝔂⃝❥Jinda❀∂я🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄😘
ah dirimu sul sapa juga yang mau sate mu tuh sampah di bawah mu banyak si bapak mau ngambil tau
@𝓐𝔂⃝❥Jinda❀∂я🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄😘
wkwk gempor yang ada kakimu Lam kalo naos sepeda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!