seorang jenius nomor satu bumi harus meninggal karena konspirasi politik berbagai negara,awalnya dia berfikir jika hidupnya akan berakhir tapi...
"apa aku adalah naruto,tunggu siapa itu naruto??"
madara:sial, anak ini agak kuat!
madara melihat naruto menghentikan bola batunya dengan linglung..
Hiruzen: Naruto, aku bisa memberimu penjelasan, ini semua demi konoha!!
Naruto:omong kosong,mulai sekarang,aku Naruto uzumaki,akan mengendalikan dunia!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shieg eit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. kerja sama.
"Kerja sama?"
"Ya, aku membuat sebuah minuman dan rasanya enak, aku yakin minuman ini akan menjadi minuman terlaris di dunia!"
Melihat ekspresi Teuchi dan Ayame yang berminat, Naruto langsung menjelaskan dengan ekspresi penuh percaya diri.
dia mengangkat ransel yang dia bawa lalu mengeluarkan stok es teh Boba untuk 2 gelas.
"Aku tahu kalian ragu, Jadi aku akan membuatnya untuk kalian sekarang."
Naruto menyiapkan 2 gelas kertas lalu memasukan bubuk racikan teh dan Boba.
"Paman, seduh gelas ini dengan air dingin."
"baiklah."
Karena penasaran, Teuchi tidak menunda waktu dan langsung mengambil gelas dari Naruto dan membawanya ke tempat air.
"Aromanya sangat Harum, pasti enak!"
sebagai seorang juru masak yang telah bekerja selama lebih dari 20 tahun, Teuchi langsung menilai rasa Teh susu mutiara buatan Naruto dari aromanya.
di sisi lain, Ayame juga tertarik oleh aroma Es Boba itu.
Air liur mulai menetes di bibirnya, ekspresi yang penuh penantian menjadi imut menurut Naruto.
Beberapa saat kemudian, Teuchi kembali dengan dua gelas itu.
Ayame tidak sabar, langsung menyambar gelas dari tangan ayahnya lalu meminumnya dalam tegukan kecil.
"umm!?"
"Ahh~ uenaaak!!"
tubuh Ayame kaku kemudian bergetar dengan rona merah di wajahnya, erangan centil keluar saat pikirannya di dominasi oleh kebahagiaan.
"Ah~"
"E-Enak sekali, minuman ini sangat enak!"
Mata Teuchi sedikit melebar kemudian berseru dengan penuh kekaguman.
Naruto duduk di depan keduanya, senang oleh reaksi keduanya.
"Bagaimana? Jika aku menjual minuman ini di kedaimu, pasti laku keras bukan?"
Naruto menopang pipinya dengan tinjunya, dia menatap keduanya dan bertanya dengan percaya diri.
"Memang, jadi...bagiamana kamu ingin bekerja sama, nak?"
Paman Teuchi menatap Naruto dan bertanya, dia sangat tertarik sekaligus terharu oleh ajakan Naruto.
Minuman Dengan rasa seperti ini, Naruto bisa saja bekerja sama dengan restoran yang lebih besar, tapi anak itu malah mengajaknya bekerja sama dengannya, jelas Teuchi sangat terharu.
"Kerja sama kita sangat sederhana dan bisa di bilang kalau aku hanya menyimpan minuman ini di tempat kalian."
"Aku akan membuat persediaan Boba dan bubuk teh susu, paman Teuchi hanya perlu menyediakan air dan menyediakannya pada pelanggan."
"Aku mematok harga 190 Ryo, dan Paman bisa menaikannya untuk mendapatkan keuntungan."
"saranku, kamu harus menjualnya dengan harga minimal 200 Ryo."
Naruto menjelaskan dengan santai, dia menurunkan harga sebelumnya bukan untuk membagi keuntungan tapi hasil perhitungan yang cermat.
Modal untuk membuat satu gelas teh susu mutiara ini sebenarnya hanya 15 Ryo, menjualnya dengan harga 190 Ryo saja sudah untung lebih dari 10 kali lipat.
Apalagi, jika Naruto bekerjasama dengan Teuchi, dia hanya perlu memasukan bahan ke mesin untuk membuat racikan teh susu.
Tidak seperti sebelumnya yang harus menyajikan sendiri.
"Apa? Mahal sekali?"
"Naruto kamu terlalu berlebihan, bagaimana akan ada yang membelinya kalau harganya sangat mahal?"
Ayame menatap Naruto dengan khawatir, dia merasa adik laki lakinya itu terlalu berlebihan.
"Tidak berlebihan, dengan rasa yang di miliki minuman ini, seseorang bahkan bisa menghabiskan ribuan Ryo!"
Teuchi lebih berpengalaman dari Ayame dan bahkan Naruto, dia menggelengkan kepalanya dan berbicara.
"Kalau begitu sudah di putuskan, aku akan pulang ke rumah hari ini untuk mengambil persediaan."
"apakah kamu mempunyai persediaannya?"
"benar, aku memilih persediaan untuk 100 porsi di rumah."
"Bagus, kalau begitu biarkan Ayame mengikutimu." Teuchi merasa senang lalu menatap Ayame.
mata Ayame langsung berbinar lalu mengangguk.
"Baiklah, ayo."
Naruto tidak keberatan, dia mengangkat barang bawaannya dan berjalan keluar kedai.
"Naruto biarkan aku membantumu."
Ayame menyusul lalu menatap Naruto yang membawa kotak besar di tangannya dengan ekspresi penuh perhatian.
"tidak perlu, ini berat."
Naruto membeli persediaan logam dari ayah Tenten, meskipun belum di ambil semuanya tapi berat yang di ambil sekarang lebih dari 100 kilogram, tidak mungkin Ayame bisa mengangkatnya.
"Jangan meremehkanku Naruto, aku bukan gadis yang lemah!"
"meskipun aku bukan ninja, tapi aku bisa mengangkat lebih dari 20 kilogram bahan bahan ramen!"
Mendengar ucapan Naruto, Ayame meletakan tangannya di pinggang lalu berkata dengan tidak puas.
Melihat hal ini, Naruto terkekeh geli lalu meletakan kotak besar ke bawah.
"Ayo, cobalah."
"hmph! Akan ku tunjukan kekuatanku!"
Gadis itu mendengus kecil lalu menggenggam pegangan di atas kotak.
"Heup!"
"Um?"
Ayame mengerahkan kekuatannya tapi kotak itu tidak terangkat sama sekali, dia tertegun kemudian menambah kekuatan di tangannya.
Hasilnya, tidak ada hasil.
Mau bagaimanapun dia mengangkatnya, kotak itu tidak bergerak sama sekali!
"huft~huft~ Naruto, apa sebenarnya kotak ini?"
"Bijih logam."
senyum kecil muncul di bibir Naruto, dia mengangkat kotak itu lalu menjawab saat mulai berjalan.
"Naruto, ternyata dia sangat kuat!"
Melihat betapa mudahnya mudahnya Naruto berjalan, mata Ayame berbinar.
entah kenapa, Detak jantungnya tiba tiba meningkat saat ini.
"kenapa kamu diam saja, ayo berjalan."
"ah!? Um!"
Ayame terkejut lalu menyusul dengan cepat.
...
"aku pulang~"
"Naruto-kun, kamu kembali!"
Pintu terbuka dan Ino yang sudah mulai pulih menyambut Naruto dengan ekspresi senang di wajahnya.
"cepatlah, buatkan aku makanan, aku lapar!"
"Baiklah, Tunggu sebentar."
Mendengar Ino kelaparan, Naruto langsung pergi ke dapur untuk memasak.
"Kamu adalah Ino Yamanaka? Kenapa kamu ada di rumah Naruto?"
Ayame menatap gadis pirang di depannya lalu bertanya dengan ragu.
"Aku pacar Naruto, aku yang harus bertanya, kenapa kamu di sini, kak Ayame?"
Konoha itu besar sebagai sebuah desa, tapi tidak terlalu besar.
Ino mungkin tidak suka ramen, tapi bukan berarti tidak pernah mencoba ramen Ichiraku.
Dia pernah mencoba ramen Ichiraku beberapa kali bersama ibunya jadi dia mengenal Ayame di depannya.
"Pacar?"
Mendengar ucapan Ino, entah kenapa Ayame merasa sedikit tidak nyaman tanpa bisa di jelaskan.
Dia menatap Ino dengan rumit lalu berkata.
"Aku ingin mengambil persediaan teh susu darinya, kedai kami bekerja sama dengan Naruto-kun."
"jadi begitu, kalau begitu silahkan masuk."
Ayame mengangguk kemudian duduk di ruang tamu dan menunggu Naruto memasak.
beberapa menit kemudian, Naruto kembali dengan 2 piring nasigoreng udang di tangannya.
"Kak Ayame, makanlah bersama ino, aku akan mengambil persediaannya."
Naruto tidak berniat ikut makan bersama, dia sudah kenyang setelah makan ramen.
"ah? Ini tidak baik, aku tidak bisa menerimanya."
Ayame tersenyum malu, Naruto yang merupakan tuan rumah tidak makan, bagaimana dia bisa punya muka untuk makan?
"Tidak apa kak Ayame, makanan Naruto sangat enak! Sungguh sia sia kalau tidak memakannya sekali seumur hidup!"
Ino merasakan kecanggungan Ayame, senyum kecil muncul di bibirnya lalu dia pun membujuk Ayame.
Ayame mencium aroma Nasigoreng dan menelan ludahnya, setelah ragu ragu sejenak dia pun membuang yang di sebut rasa malu ke tong sampah.
mengambil sendok, mengambil sesuap nasi lalu memasukannya ke mulut!
"Mnh~ uenyaak!"
Mata Ayame menyipit menciptakan ekspresi mabuk.
setelah tersadar, dia pun memerah.
ini adalah keduanya dia mengerang karena makanan, apalagi dia mengeluarkan erangan itu di depan seorang anak laki laki yang tidak jauh lebih muda darinya.
"Bagaimana? Enak bukan?"
Ino juga memasukan sesendok nasi ke mulutnya, setelah mengerang centil dia menatap Ayame dan bertanya dengan bangga seolah dialah yang memasak.
Ayame mengangguk lalu mulai makan.
Beberapa menit kemudian, Ayame menghabiskan nasi goreng dengan nafas terengah-engah.
jika bukan karena rasanya yang super enak, dia tidak akan memakan makanan yang aneh itu, setiap suap membuatnya mengerang!
"Huft~ aku kenyang."
Ino tidak lebih baik, wajahnya juga memerah dengan nafas tidak tabik.
"Kak Ayame, berikan aku piringnya untuk di cuci."
"eh? Itu tidak perlu, biarkan aku mencucinya sendiri."
"tidak perlu, kamu duduk saja di sini dan tunggu Naruto."
Ino mengambil piring Ayame lalu bangkit dari kursi dan pergi ke arah wastafel.
langkah kakinya sedikit goyah, mungkin karena rasa sakitnya belum hilang.
"Hnggh~ Naruto-kun sangat nakal, kenapa makanan hari ini lebih aneh dari biasanya?"
"Ahn~ aku basah, dasar jahat!"
melihat air bening mengalir di pahanya yang putih, Ino tersipu malu.