NovelToon NovelToon
Menikah Karena Jebakan

Menikah Karena Jebakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Nikahmuda / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.

Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.

Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.

Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?

Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34.

"Perasaan apa, ini?" batin Zeya sambil memegang dadanya sebelah kiri yang masih berdebar lebih cepat dari biasanya.

Bayangan saat melihat Daniel dikepung dan dikeroyok tanpa ampun oleh tiga orang sekaligus terus berputar di kepalanya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Bahkan setelah semuanya berakhir dan Daniel masih bisa berdiri tegap di hadapannya dalam keadaan baik-baik saja, rasa khawatir itu belum juga menghilang.

Baru kali ini ia merasakan kecemasan sedalam itu terhadap Daniel. Perasaan yang selama ini tak pernah ia sadari kini perlahan mengusik relung hatinya. Tanpa sadar, kedua matanya mulai terasa hangat.

Sementara itu, Daniel yang duduk di jok belakang hanya memperhatikan sosok istrinya yang sejak tadi memilih diam. Dapat dia lihat sekilas wajah Zeya sedikit menegang sejak mereka meninggalkan rumah Bu Bidan, seolah gadis itu sedang memendam sesuatu yang enggan diungkapkan.

"Ze..." panggil Daniel pelan.

"Hm..." Zeya hanya menjawab dengan gumaman singkat tanpa menoleh.

"Kamu marah sama aku?" tanya Daniel lagi.

Zeya tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian ia hanya menggeleng pelan. "Nggak."

"Terus kenapa diam?" Daniel mengembuskan napas pelan ketika tak ada lagi jawaban. Dirinya cukup mengenal sifat Zeya. Jika gadis itu memilih diam, berarti ada sesuatu yang sedang dipendamnya.

Tak lama kemudian mereka tiba di halaman rumah. Setelah memarkir motor, Zeya langsung turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia menaiki tangga cepat lalu masuk ke dalam rumah. Daniel segera menyusul dari belakang.

Baru saja pemuda itu hendak membuka suara, Zeya membalik badan sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap sendu wajah Daniel yang terdapat luka memar dan sudut bibirnya pecah.

"Kenapa tadi kamu nggak langsung melawan dari awal?" tanyanya. Sorot matanya mulai berkaca-kaca.

"Kenapa kamu malah terus menghindar, padahal mereka membawa sengata. Gimana kalau sampai mereka melukaimu lebih dari ini?" lanjut Zeya dengan suara yang mulai bergetar.

"Tahu nggak, gimana perasaan aku tadi waktu mendengar kamu dikeroyok? Aku takut banget sesuatu terjadi sama kamu, Niel. Kamu paham nggak, sih!" Tenggorokannya mendadak terasa tercekat.

Airmatanya bercucuran membasahi pipinya. Entah kenapa dirinya tiba-tiba merasa melankolis begini. Padahal biasanya tak pernah seperti itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melangkah maju dan memeluk sosok tegap di hadapannya dengan erat.

Daniel tampak sedikit terkejut. Kedua tangannya sempat menggantung beberapa saat sebelum akhirnya membalas pelukan itu dan mengusap lembut punggung Zeya.

"Jangan bikin aku takut lagi," bisik Zeya lirih. Suaranya begitu pelan hingga nyaris tenggelam oleh hembusan angin sore.

Daniel mengangguk pelan. "Iya, aku janji," balasnya lembut. "Aku tadi hanya nggak mau cari masalah yang lebih besar."

"Maksudnya?" Zeya mengangkat kepalanya menatap manik mata kecoklatan milik pemuda itu.

"Mereka sengaja memancingku. Kalau aku langsung membalas habis-habisan, nanti yang ada justru aku disalahkan. Mereka bisa saja bilang aku menganiaya mereka."

"Aku cuma bertahan sambil cari kesempatan. Jika mereka terus memaksa, baru aku akan melawan," lanjut Daniel dengan senyum tipis. "Tapi, untung kamu datang. Jadi semuanya bisa cepat selesai."

Zeya terdiam mendengar penjelasan itu. Entah mengapa, kalimat sederhana itu justru membuat dada Zeya semakin sesak.

Beberapa saat mereka tetap saling berpelukan tanpa mengucapkan apa pun. Angin sore berembus pelan, seolah ikut menenangkan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi hati keduanya.

Daniel kemudian melepaskan pelukan perlahan. "Aku mandi dulu. Setelah itu baru obati lukaku."

Zeya mengusap cepat sudut matanya, lalu mengangguk kecil. "Iya."

Daniel mengambil handuknya, lantas pergi ke kamar mandi di bawah. Sementara Zeya segera mengambil baskom plastik, mengisinya dengan air panas dari termos. Tak lupa kapas, botol alkohol, dan salep yang tadi mereka bawa dari rumah Bu Bidan.

Setelah semuanya siap, ia duduk menunggu sampai akhirnya Daniel selesai mandi lalu duduk bersila di hadapannya.

Zeya langsung menuangkan sedikit alkohol pada kapas. Lalu dengan sangat hati-hati ia mulai membersihkan luka di wajah dan tangan Daniel. Sesekali alisnya berkerut setiap melihat lecet serta memar yang masih tampak kemerahan. Setelah selesai membersihkan semuanya, ia mengoleskan salep tipis-tipis sesuai anjuran Bu Bidan.

"Nah, selesai," ujarnya sambil tersenyum manis.

Daniel membalas senyum itu hangat. "Terima kasih, Dokter Zeya."

Zeya mendengus pelan sambil menutup botol salep. "Dokter apanya."

"Dokter cintaku," ucap Daniel sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Ish...bisa aja kamu." Sontak pipi Zeya memerah. Ia memalingkan wajahnya malu-malu.

Daniel tertawa kecil. Tawa yang memang membuat luka di bibirnya terasa sedikit perih, tetapi melihat wajah Zeya kembali cerah membuat rasa sakit itu seolah tidak berarti.

Sementara itu, di dalam hati Zeya perlahan muncul sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Debaran di dadanya bukan lagi sekadar rasa khawatir terhadap seseorang yang selalu menemaninya sejak kecil, melainkan rasa takut kehilangan yang begitu besar terhadap sosok yang kini telah menjadi suaminya.

...

Malam harinya mereka pergi ke rumah Pak RT, berniat mengembalikan sepeda motor sekaligus ada keperluan yang lain. Kedatangan keduanya langsung disambut dengan hangat.

"Mari-mari, silakan masuk," ucap Pak RT sambil tersenyum ramah.

Namun, sesaat kemudian senyum itu memudar berubah menjadi keterkejutan. "Loh, itu wajah Nak Daniel, kenapa? Jatuh atau..." Kalimatnya menggantung di udara.

"Tadi, sewaktu pulang dari seminar dan saat tiba di jalanan sepi pinggir hutan, ada tiga orang pria menghadang saya. Mereka bilang anak buah Juragan Bahar," jelas Daniel menjawab rasa ingin tahu Pak RT.

"Astaghfirullah..." gumam pria paruh baya itu, raut wajahnya tampak iba.

"Mereka juga bilang, agar saya mengurungkan niat menyewa lahan Pak Hadi, karena bos mereka menginginkan lahan tersebut," lanjutnya menambahkan.

Kemudian Daniel menceritakan secara singkat sampai terlibat perkelahian dengan mereka.

"Siapakah Juragan Bahar itu, Pak? Apakah dia orang yang berkuasa di sini?" sambung Zeya.

Raut wajah Pak RT seketika berubah memucat. Lalu mengambil ponsel yang tergeletak di meja dan menghubungi seseorang. Sesaat kemudian pria itu duduk di kursi menatap pasutri muda itu dengan serius.

"Jadi, sebenarnya Juragan Bahar memang sudah mengincar lahan milik Pak Hadi sejak lama." Pak RT menarik napas panjang sejenak.

"Dia itu tuan tanah sekaligus rentenir. Banyak warga sini yang terjerat hutang dengannya dan berakhir harus merelakan lahan mereka disita karena tidak sanggup membayar," bisik Pak RT, seolah takut suaranya terdengar dari luar.

Daniel dan Zeya tampak tertegun sesaat, keduanya saling pandang dalam diam, bola mata mereka sedikit melebar mendengar fakta mencengangkan tentang Desa Sekar.

"Tapi kami tidak ingin mundur untuk mendapatkan lahan itu, Pak," ucapnya dengan yakin. "Kalau perlu kami ingin membelinya berapa pun harga yang Pak Hadi tawarkan," imbuhnya menegaskan.

"Bagus anak muda. Saya sangat mendukung tekadmu." Terdengar suara dari luar disertai langkah kaki lalu masuk ke dalam rumah Pak Rt.

"Abah...sudah datang." Pak RT menyalami Abah Abdul dan mempersilakan duduk.

Belum sempat Daniel dan Zeya bersalaman dengan sesepuh desa itu, datang pula Pak Kades dengan langkah tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.

1
Aditya hp/ bunda Lia
perasaan cuuinttaaaaa ..... itu namanya Zeyaaa kasih tau Moms
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣,
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
ini mama Mia yang di sebelah yah ... Mak Mia 🤭🤭
Aditya hp/ bunda Lia: oh ... aku kira karena temenan namanya di abadikan 😁✌️🫰
total 6 replies
Patrick Khan
serbuuuuuuu🔨🔨🔨🔨🔨ini q bawah senjata😁
Aditya hp/ bunda Lia: siap perang kita 😂😂😂
total 5 replies
Aditya hp/ bunda Lia
kebalik paaaakkk kamu yang siap2 belum tau ajah kau itu siapa Daniel dan zeya ... kamu salah pilih lawan ...
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Esther
Bu Yuni kompor meleduk....kalau iri bilang bu😂🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kak, Es, pernah lihat sinetton tukang ojek pengkolan gak? nah seperti itulah karakter bu yuni dlm bayangan ibu🤭🤣
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
akhirnya maraton 😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👍👍👍👍👍
total 3 replies
Nar Sih
lega kan hti mu maura klau sdh minta maaf dan di terima ,tinggal perbaiki diri dan hti mu biar jauh dri sifat yg gk trrpuji lgi
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Patrick Khan
ahh muara tobat ni ye🤣🤣🤣
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Patrick Khan
terkejut kan zeya
.emaknya datang😁
Esther
kalau akur gini kan enak,gak ada rasa iri.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Nar Sih
kejutan untuk mu ya zhe
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
Nar Sih
semoga dgn ada nya zheya dan daniel di desa tersebut bisa membwa perubahan yg lbh maju
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Nar Sih
👍👍maura kmu sdh berani bersikap legowo minta maaf semoga dgn saling memaaf kan bisa membawa hidup lebih damai biar bagai mana pun kmu dan zeya saudara
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
tium atuh Niel udah sah ini tium kening ajah ... 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: wkwkwkk ... iya juga yah
total 4 replies
Dew666
Maksut istri tua gimana nih
Dew666: Ooh begitu 😍
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
clear udah
vania larasati
lanjut
Esther
Dengan mengakui kesalahan dan minta maaf di depan semua orang, paling tidak sedikit meringankan bebanmu Maura.
Tinggal minta maaf secara langsung Daniel dan Zeya
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🫰🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Nar Sih
mengakui ke slhan emsng gk mudah ya maura tpi👍👍 untuk mu mungkin ini awal menuju perubahan yg lebih baik untuk mu☺️
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
Patrick Khan
tepuk tangan👏👏
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!