Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sehabis menelpon Wita dan sejenak berbincang kepada ibunya. Mila melihat waktu sudah berada di pukul 06. 04 WIB pagi hari.
"Saatnya bekerja!" ujarnya sudah bersemangat kembali.
Walaupun terkunci. Mila mendapatkan izin bebas memasuki kamar Emma dengan sidik jarinya.
Terlihat Hartati baru saja melepas mukenanya usai membaca Alqur'an.
"Ibu barangkali sudah mau istirahat. Mila sudah siap bekerja lagi!" senyuman manis wanita cantik itu dengan nada suara yang sangat lembut.
"Loh! Kok kamu sudah bangun?" Hartati terkejut dengan kehadiran Mila hingga dahinya berkerut tajam.
"Mila sudah bangun sejak pukul empat tadi Bu!" Jawab polos wanita itu dengan senang.
"Loh...loh kenapa cepat sekali?"
"Cepat?" gumam Mila merasa aneh dengan reaksi ibu mertuanya yang seharusnya senang melihat sang menantu bisa bangun pagi-pagi.
"Kalau Mila bangun terlalu cepat. Bagas tentu kehilangan ronde paginya dong?" gumam kocak Hartati yang sudah berpengalaman.
"Mila! Selama 3 bulan ini. Saya minta, kamu harus fokus dulu mengurus Bagas. Soal Emma, nanti ada Sari yang akan membantu kamu."
Mila masih terbengong.
"Pengantin baru itu tidak boleh bangun pagi-pagi sekali. Kamu jangan egois menjadi istri. Perhatikan dulu suami kamu!" ucap Hartati menarik tangan Mila keluar dari kamar Emma.
"Tapi Bu. Mas Bagas itu lagi tidur!"
"Nah, justru itu, artinya kamu belum mendapatkan izin bangun terlalu pagi dari suami kamu?"
Sampai di depan pintu kamar Bagas. Hartati mendorong tubuh Mila.
"Ini masih terlalu pagi untuk kalian. Bagas masih butuh pelayanan kamu. Dengar Mila, jika sampai kamu menolak ajakan Bagas (hubungan intim) saya akan memperkarakan kasus kamu ini kepada hukum!" Ancam tegas Hartati segera mengambil kunci manual dan menguncinya dari luar.
"Ibu...!" Pintu terkunci dan hanya bisa terbuka secara otomatis dengan menggunakan password dan sidik jari Bagas.
"Haduh!" ujar kesal Mila.
"Repot banget mertua satu ini!" ucap Mila dengan raut wajah jeleknya.
"Enak saja dia sudah bangun terlalu pagi. Bagas pasti masih butuh ronde pagi!" ujar kocak Hartati yang sudah berpengalaman atau senior dalam melayani suami.
Dalam raut cemberut. Mila akhirnya kembali ke kasur dan terbaring di samping Bagas.
Tiba-tiba Ponsel pribadi Bagas berdering.
Panggilan datang dari Lia dari Belanda yang diduga kekasih Bagas setelah kematian Tyas.
Mila tidak berani sedikit pun menyentuh ponsel canggih milik Bagas sampai panggilan Lia terabaikan. Tidak lama terlihat oleh Mila lintasan pesan singkat Lia;
"Sudah bangun sayang. Kapan punya waktu bisa ke Amsterdam!"
Setelah membaca lintasan pesan singkat Lia.
"Duhai waktu, cepatlah engkau berlalu!" gumam Mila yang sudah tidak sabar mengakhiri pernikahan rahasia itu.
Mila kembali terbaring di sebelah Bagas dalam raut wajah yang jengkel.
Tidak lama kemudian. Tangan panjang Bagas terhempas ke atas dada Mila dan Bagas reflek meremasnya.
"Aah!" Spontan wanita itu menjerit kesal reflek membuang tangan Bagas hingga pria itu terhentak Bangun.
"Ada apa?" tanya Bagas masih dalam kondisi setengah sadar.
"Kau meremas dadaku." Jawab kesal Mila.
Bagas malah menyentil kecil dahi Mila.
"Apa kau sedang bercanda!" Jawab Bagas tidak menyadari karena sedang tertidur. Ia segera akan turun dari ranjangnya.
"Iii!" Mila ingin sekali menepuk gemes kepala Bagas dari belakang dengan guling tetapi pria itu sontak berbalik cepat.
"Ada apa?" tatapan tajam Bagas membuat Mila mengurungkan niat jahatnya.
"Aku ingin keluar, tolong berikan password pintunya!" pinta melas Mila.
Bagas berlagak cuek, bangkit dengan entengnya berjalan hanya menggunakan boxer mini pria.
"Ah!" Jerit kecil Mila, ia latah terkejut karena belum terbiasa menatap penampilan wow Bagas. Padahal ia sudah menikmati tubuh kekar itu. Bagas mengacuhkan Mila santai melangkah menuju area kamar mandi.
"Kau ingin dibukakan pintu kan?" tanya Bagas fokus melihat-lihat janggut halusnya dari area kamar mandi.
"Iya!" Angguk cepat Mila dari atas kasur
"Turunlah!" perintah dingin Bagas menggema dari balik tembok area kamar mandi.
Mila begitu riang mengikuti perintah Bagas. Ia segera turun dari kasur langsung mendekati pria itu berharap Bagas akan segera memberitahu password pintu.
"Cuci tangan dulu," perintah Bagas.
"Untuk apa?" tanya polos Mila.
"Instalasi sidik jari pintu kamar ku menolak adanya kuman-kuman di tangan kamu."
Mila sempat bengong dengan alasan Bagas yang tidak masuk akal. Tetapi ia tidak ingin berdebat dengan lelaki itu. Mila akhirnya menuruti perintah Bagas karena menurutnya mencuci tangan bukanlah hal yang sulit.
Setelah Mila memasuki area kamar mandi. Bagas justru menutup cepat pintu kamar mandi dan menarik tangan Mila lalu membawa sang istri berdiri tepat berada di jatuhan air.
"Hasratnya ku tiba-tiba bergelora lagi. Mari kita selesaikan dulu!" ucap senyum tipis Bagas.
Mila merasa sudah tertipu mentah-mentah oleh kelakuan licik Bagas.
"Benar-benar menjengkelkan. Si emak monster biawak, si anak monster kadal!" gumam gemes Mila tak mampu menolak ajakan Bagas.
Tangan Bagas bergerak menghidupkan keran shower. Setelah di guyur air yang deras. keduanya basah bersama dan saling menatap tajam. Tangan kanan Bagas mulai liar menyentuh lembut pipi Mila.
"Dadaku terasa sesak, jantungku tidak bisa berhenti berdebar-debar. Tapi aku sangat membenci perasaan ini!" (Mila)
Mila merupakan salah satu wanita yang sudah terserang perasaan lelah dengan tingkah pria-pria kaya yang begitu egois baik terhadap dirinya maupun kakaknya. Sifat Bagas yang berubah setelah menjadi kaya begitu sangat dibenci oleh Mila.
"Padahal dia punya kekasih kenapa harus aku yang menjadi korban!"
Bagas cukup pintar menaklukkan Mila lagi-lagi perempuan lemah itu terjatuh ke lembah rayuan Bagas.
Dan tidak bisa dihindari keduanya tertawa kecil sambil bermain air.
Usai Bagas dan Mila puas bercinta. Keduanya tampak terlihat cerah dan tenang dengan saling memakai baju handuk bersama.
Akhirnya Mila mendapatkan password dan sidik jari pintu kamar pribadi Bagas. Artinya kapan saja wanita itu bisa bebas memasuki kamar pribadi Bagas.
Lanjut Bagas mengajak Mila menuju lemari pakaian. Terdapat lemari kecil khusus untuk pakaian Mila yang sudah disiapkan oleh Bagas.
"Kau bisa berganti baju disini saja. Tidak perlu di luar!" ucap sang suami.
Tanpa banyak kata Mila sigap membuka handuknya dan buru-buru memakai pakaian lalu berlari keluar. Tidak ada basa-basi apalagi rayuan.
Bagas sampai terbengong melihat tingkah Mila.
"Sudah kangen banget bobo sama Emma!" ucap Mila keluar dengan perasaan lega tanpa meminta izin atau berpamitan kepada Bagas.
Sambil memakai pakaian kantor. Reaksi Bagas tersenyum tipis dengan wajah berseri-seri di depan cermin. Dirinya tidak mengingkari jika bercinta bersama Mila cukup membuatnya puas dan bahagia.
*
Di ruang dapur Hartati terlihat bersemangat membuatkan sarapan untuk Bagas dan Mila.
Sosok ibu itu tersenyum manis ketika melihat kedatangan Bagas dengan penampilan rapi dan sangat tampan dalam balutan kemeja kerjanya.
Pria itu langsung memeluk bahagia ibunya.
"Terima kasih Ibu ku. I love You!" Bagas memang sangat mencintai dan menyayangi ibunya bahkan ia lebih mendahulukan kepentingan ibunya daripada kebutuhan istri yang tidak terlalu mendesak. Hal ini pernah membuat Tyas protes.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang Nak?" tanya lembut Hartati dalam mata berkaca-kaca.
"Sudah Jauh lebih baik Bu!"
"Syukurlah, kamu pasti butuh tenaga, mari sarapan, ibu sudah buatkan sarapan kesukaan kamu dan telur setengah matang 3 butir?" ujar Hartati begitu bahagia melihat kondisi putranya yang sudah membaik.
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂