NovelToon NovelToon
DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sasip

Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:

"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian I)

...Lembah yang Tidak Pernah Tergesa-gesa...

..."Waktu bukanlah sungai yang menyeret kehidupan. Waktu adalah cahaya yang dengan sabar menunggu setiap benih menemukan musimnya."...

^^^—Petuah Ompu Tiktik^^^

Fajar di Banua Ginjang tidak pernah datang dengan terburu-buru. Ia lahir seperti senyum seorang ibu yang perlahan dapat membangunkan anaknya dari tidur lelapnya.

Mula-mula hanya seutas cahaya tipis yang menyelinap di balik cabang-cabang Hariara Bolon. Lalu embun-embun di ujung daun mulai berkilau, seakan masing-masing menyimpan matahari kecil di dalam dirinya.

Kawanan Parhudon, rusa-rusa putih bertanduk kristal, keluar dari hutan lumut sambil membawa butiran-butiran embun pertama di tanduk mereka. Di belakangnya, Sijongjong Daun berlarian riang dari pucuk ke pucuk, membangunkan bunga-bunga langit yang masih terlelap.

Di udara, kawanan Parsinuan mengepakkan sayap kaca mereka. Setiap kepakan meninggalkan serbuk keemasan yang perlahan berubah menjadi kupu-kupu cahaya.

Sementara itu, di tepi Sungai Cahaya, Simangaronsang melompat-lompat di udara, seolah sedang menyambut kelahiran hari baru.

Banua Ginjang telah kembali bernapas seperti sebelum-sebelumnya.

Deak Parujar berdiri di bawah Hariara Bolon. Ulos Cahaya masih melingkari bahunya. Ia teringat pesan Raja Angin sehari sebelumnya: "Saat fajar berikutnya... engkau akan bertemu Penjaga Waktu."

Belum sempat ia bertanya kepada Jonggi, burung kecil itu tiba-tiba mengepakkan sayapnya dengan gelisah. Bukan karena takut, melainkan karena rasa hormat yang terasa aga berlebih.

Semua burung di Banua Ginjang mendadak berhenti berkicau. Parhudon menundukkan kepala. Panurirang menghentikan gulungan doa mereka. Bahkan angin pun terasa bergerak dengan melambat. Seolah seluruh semesta sedang memberi jalan dan sekaligus penghormatan kepada seseorang atau sebuah makhluk.

Dari balik kabut fajar, muncul seorang lelaki tua. Langkahnya tenang. Tidak lambat namun tidak juga cepat.

Setiap pijakannya membuat rerumputan tampak berbunga sesaat, lalu sesaat kemudian mereka kembali seperti semula.

Jubahnya putih keperakan, namun di ujungnya berpendar warna-warna musim —hijau muda, emas, merah daun, hingga putih embun.

Janggutnya panjang menyentuh dada, berkilau seperti debu bintang.

Matanya bening. Bukan bening karena muda. Melainkan bening bijak karena telah melihat terlalu banyak zaman dan akhirnya berdamai dengan semua.

Di tangan kirinya ia membawa sebuah tongkat yang ujungnya bukan terlihat seperti batu permata, tetapi sebuah jam pasir kecil. Pasir di dalamnya bukan seperti butiran pasir yang berwarna keemasan, namun terlihat lebih seperti terdiri atas ribuan bintang mungil yang terus berjatuhan ke bawah... lalu, tanpa diketahui bagaimana caranya, butiran-butiran bintang mungil itu kembali muncul di bagian atas. Seakan jam pasir itu tidak akan pernah berhenti mengalirkan bintang karena ia tidak pernah habis.

Deak membungkuk hormat dan menyapa: "Opung..."

Lelaki tua itu tersenyum dan berujar: "Bangunlah, Putri. Aku bukan raja. Bukan pula dewa. Jangan memberikan penghormatan berlebihan."

"Lalu..." tanya Deak bingung, karena tampaknya semua makhluk menghormatinya. Deak hanya mengikuti saja.

"Namaku... Tiktik, aku penjaga waktu dan Putri bisa memanggilku Opung Tiktik."

Jonggi segera hinggap di bahu Deak. Namun burung kecil itu tidak berceloteh seperti biasanya. Ia hanya berdiri diam dan memandang hormat pada sang Ompu. Seolah takut mengganggu sesuatu yang suci.

Ompu Tiktik mengelus kepala Jonggi ketika berkata: "Bahkan burung kecil ini tahu... bahwa waktu tidak boleh dipotong oleh kegaduhan."

Deak tersenyum kecil dan bertanya: "Opung... Apakah waktu benar-benar dapat dijaga?"

Pertanyaan itu membuat lelaki tua tersebut tertawa pelan. Suaranya seperti daun-daun kering yang tertiup angin. Lalu ia menjawab dengan komentar; "Semua anak kecil selalu bertanya begitu."

Beliau lalu duduk di atas batu datar yang diselimuti lumut cahaya dan berkata: "Yang kujaga bukan waktu."

"Lalu apa?" tanya Deak penasaran.

"Kesabaran semesta." jawab sang Opung bijak.

Deak mengernyit.

Ompu Tiktik mengambil sebuah biji kecil dari kantongnya. Warnanya cokelat keemasan. Beliau meletakkannya di telapak tangan Deak dan berlata: "Coba suruh ia menjadi pohon."

Deak tersenyum, "Itu tidak mungkin Opung."

"Mengapa?" tanya Ompu Tiktik cepat.

"Karena ia harus tumbuh." jawab Deak masih dengan senyum simpulnya yang manis.

"Berapa lama?" tanya sang Opung lagi.

"Aku tidak tahu." jawab Deak sambil mengendikan bahunya.

"Nah." Ompu Tiktik mengangguk puas, "Itulah waktu. Ia bukan sekedar angka. Bukan juga hitung-hitungan pasti. Melainkan kesempatan bagi kehidupan untuk menjadi dirinya sendiri."

...****************...

Saat itu, dari balik lembah terdengar bunyi lonceng yang sangat halus.

Ting... Ting... Ting...

Bukan suara logam yang berdenting. Melainkan bunyi cahaya yang saling bersentuhan.

Dari balik kabut muncul makhluk-makhluk tinggi berjubah hijau zamrud. Masing-masing membawa gulungan daun yang bercahaya. Rambut mereka dihiasi bunga-bunga musim. Di kaki mereka tumbuh lumut setiap kali melangkah.

"Siapa mereka?" bisik Deak.

Ompu Tiktik tersenyum dan menjawab lugas: "Mereka adalah... Paruhum Ulaon. Para Penenun Musim."

Jumlah mereka ada dua belas. Setiap sosok memiliki warna bunga yang berbeda. Ada yang membawa bunga fajar. Ada yang membawa bunga hujan. Ada yang membawa daun-daun gugur. Ada pula yang membawa kuntum-kuntum yang bahkan belum pernah mekar.

Mereka berjalan membentuk lingkaran. Lalu membuka gulungan daun mereka. Di dalam gulungan itu terdapat gambar-gambar seperti aksara namun bukan tulisan. Melainkan gambaran musim demi musim.

Ketika satu gulungan dibuka, seluruh lembah dipenuhi aroma hujan. Gulungan lain menghadirkan angin sejuk. Yang berikutnya membuat ribuan bunga mekar serentak.

Deak terpukau dan bertanya: "Apakah mereka menciptakan musim?"

Ompu Tiktik menggeleng dan menjawab cepat: "Tidak. Mereka hanya memastikan... bahwa setiap musim datang tepat pada waktunya masing-masing."

Belum habis rasa kagum Deak, langit timur mendadak berwarna jingga terang. Dari balik cakrawala muncul seekor kijang bercahaya. Tubuhnya keemasan. Tanduknya menyerupai sinar matahari. Setiap lompatan yang dilakukannya, meninggalkan jejak cahaya yang berubah menjadi pagi.

"Itu... Si Manggulung Ari." kata Ompu Tiktik yang melanjutkan penjelasannya: "Ia tidak menarik matahari. Ia hanya sedang membangunkan sang fajar."

Kijang cahaya itu berlari melintasi langit.

Di belakangnya, ribuan Pardalan Bintang perlahan memadamkan bintang-bintang malam satu per satu, menyimpannya ke dalam kantong-kantong cahaya hingga senja tiba kembali.

Deak menatap langit yang kini sepenuhnya terang. Baru kali ini ia memahami... bahwa bahkan datangnya pagi bukanlah sebuah kebetulan.

Ada begitu banyak makhluk yang bekerja tanpa pernah meminta pujian. Semesta tetap terjaga keindahannya, karena setiap makhluk setia menjalankan tugasnya masing-masing. Tanpa saling berebut kemuliaan.

Ompu Tiktik berdiri. Beliau mengangkat Jam Pasir Bintang di tangannya dan berujar; "Putri, besok... aku akan menunjukkan mengapa jam pasir ini tidak pernah habis. Dan mengapa... bahkan Mulajadi Nabolon pun tidak pernah memerintah waktu."

Deak memandang jam pasir itu dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Di dalam butiran-butiran bintang yang terus mengalir, ia seakan merasa melihat bayangan gunung yang belum lahir. Sungai yang belum mengalir. Dan seorang anak laki-laki, yang kelak akan dikenal dunia sebagai Si-Raja Batak.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke Bab 8. Bagian II: Butiran Bintang yang Menjadi Takdir.

1
MayAyunda
mampir kak ..cerita bagus ..lanjut
B042
unyu² sekali siula yak.. 😍
sasip
mohon maaf kalau terasa aneh, namanya jg imajinasi penulis.. semoga suka ya walau aga aneh.. 🙏🏻
Zed Analytical Number Nine
warna kelopak nya indah
sasip: terima kasih.. seindah dukungan kakak loh.. 😍
total 1 replies
Tio Buki
Moga lancar ya thor🙏🙏🙏
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Siapakah dia, siapa namanya?????
Tio Buki: Kisah Sumatra ya. Tapa nuli, atau Toraja nih.
total 2 replies
Tio Buki
Iya, seperti itu
Tio Buki
Oh, begitu ya
Tio Buki: Oke dek. Semangat ya🙏
total 2 replies
Tio Buki
Aneh
Tio Buki
Kok begitu
Tio Buki: Oh begitu ya dek
total 2 replies
MayAyunda
lanjut kak keren
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
B042
cakep² ish gambarnya.. 😍
B042
ternyata bukan manusia yg mempunyai perasaan, tapi perasaanlah yg mempunyai pemilik.. seperti kesunyian atau kesendirian, apakah bisa dimiliki bersama² yak? secara kalo bareng² memilikinya, enggak sendiri dunks ya itu artinya..
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
B042
bagus banged ya kalau manusia bisa berkomunikasi dg alam.. jadi keinget sama mba rara neh.. wkwkwkwkwk..
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/
B042
wow banyak mahluk² ajaibnya.. 😍🥰😘
B042
KEREN..
B042
Ulos adalah kain tenun tradisional Batak (Sumatra Utara) yang melambangkan kehangatan, perlindungan, dan kasih sayang. Dikenal sebagai "pengikat kasih sayang," kain ini sakral dalam budaya Batak karena mendampingi setiap fase kehidupan manusia—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. (mbah google) 😉
B042
part ini mengingatkan pada sekolah alam yg sempet hapapening beberapa waktu yg lalu itu ya.. 😆😋😏
B042
"air menyimpan kenangan dan ia akan selalu mengingat", jadi kebayang film Frozen 2 yak? macam dengar kata² Olaf gitu deh.. 😋😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!