NovelToon NovelToon
Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / Pengasuh / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Stellune

Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Hari ketiga Naura bekerja di rumah Pradipta, Bu Marini sudah mulai memanggilnya dari ruang keluarga seperti memanggil cucu sendiri.

"Naura, sini sebentar."

Naura baru selesai mencatat stok bahan makanan. Ia mencuci tangan, lalu datang ke ruang keluarga.

"Ada apa, Bu?"

Bu Marini duduk di sofa dengan ponsel di tangan. Wajahnya serius sekali.

"Tolong lihat ini. Kenapa foto cucu teman saya bisa masuk ke ponsel saya?"

Naura mengambil ponsel dengan hati-hati. Ternyata Bu Marini membuka grup arisan lama. Salah satu temannya mengirim foto cucunya yang baru wisuda.

"Ini dari grup WhatsApp, Bu. Bukan masuk sendiri."

"Oh." Bu Marini mengangguk. "Kalau saya mau balas dengan stiker yang lucu, bagaimana?"

Di seberang sofa, Pak Aditya menurunkan koran.

"Marini, kamu kemarin bilang stiker itu norak."

"Itu kalau orang lain yang kirim. Kalau saya yang kirim, lucu."

Naura menahan tawa.

Ia mengajari Bu Marini memilih stiker bunga dan ucapan selamat. Bu Marini mengirim satu, lalu menunggu seperti anak kecil menunggu nilai ujian.

Ketika temannya membalas dengan emoji tertawa dan hati, wajah Bu Marini langsung cerah.

"Lihat, Aditya. Teman saya suka."

Pak Aditya menggumam, "Selamat. Kamu resmi jadi anak muda."

"Iri bilang saja."

Naura mundur perlahan, membiarkan pasangan tua itu bertengkar kecil. Di rumah besar itu, pertengkaran seperti itu justru membuat ruangan terasa hangat.

Sebelumnya, rumah Pradipta berjalan terlalu rapi. Pagi makan. Siang obat. Sore televisi. Malam diam. Semua kebutuhan tersedia, tapi tidak ada yang benar-benar bergerak.

Naura tidak mengubah banyak hal sekaligus.

Ia hanya menambahkan sedikit ritme.

Pagi setelah sarapan, ia mengajak Bu Marini melihat taman lima belas menit. Tidak lebih, supaya lututnya tidak sakit. Siang ia meminta Pak Aditya memeriksa sendiri daftar obat sebelum diminum, bukan karena Pak Jaya lalai, tetapi agar Pak Aditya merasa masih memegang kendali. Sore ia membuat cemilan ringan dan membiarkan Bu Marini memilih drama yang ingin ditonton.

Hari keempat, Bu Marini tiba-tiba berkata, "Naura, besok ikut saya senam lansia."

Pak Aditya langsung tersedak teh.

"Kamu mau senam?"

"Kenapa? Saya masih bisa bergerak."

"Minggu lalu kamu bilang instruktur senam itu terlalu berisik."

"Karena minggu lalu tidak ada Naura."

Pak Aditya menatap Naura seolah meminta pertolongan.

Naura tersenyum. "Kalau dokter mengizinkan dan gerakannya ringan, boleh, Bu. Tapi tidak memaksakan."

"Dengar? Naura saja mengizinkan."

Pak Aditya menggeleng. "Kamu bukan minta izin. Kamu mencari pendukung."

Keesokan paginya, Naura menemani Bu Marini ke clubhouse cluster.

Senam lansia dimulai pukul tujuh. Pesertanya ibu-ibu dan bapak-bapak yang rata-rata sudah pensiun, tetapi semangat bergosipnya belum pensiun sama sekali.

Begitu Bu Marini datang bersama Naura, beberapa orang langsung menoleh.

"Marini, akhirnya keluar juga."

"Wah, bawa siapa ini? Cucu baru?"

Bu Marini tersenyum bangga. "Ini Naura. Dia yang bantu saya di rumah."

Seorang ibu berkacamata menatap Naura dari atas sampai bawah.

"Cantik sekali. Masih muda. Betah kerja mengurus orang tua?"

Naura belum menjawab, Bu Marini sudah menyahut, "Orang tua seperti saya memang menyenangkan. Kamu saja yang galak, jadi pembantumu kabur terus."

Ibu itu melotot. Yang lain tertawa.

Naura menunduk, pura-pura membetulkan tali sepatu.

Selama senam, ia berdiri di belakang Bu Marini. Gerakan instruktur sederhana: angkat tangan, putar bahu, langkah kanan kiri, tepuk tangan. Bu Marini mengikuti dengan wajah serius. Sesekali ia melirik Naura, memastikan gerakannya benar.

Setelah selesai, para lansia duduk minum teh dan makan kue basah.

Naura mengambilkan air hangat untuk Bu Marini.

"Mbak Naura," panggil seorang bapak, "bisa bantu lihat ponsel saya? Cucu saya kirim link, katanya foto ulang tahun. Tapi tidak terbuka."

Belum sempat Naura menjawab, satu ibu lain menyahut, "Sekalian ponsel saya. Memori penuh terus."

Bu Marini langsung memasang wajah waspada.

"Jangan semua minta tolong. Naura ini punya saya."

Naura hampir tersedak.

"Bu, saya bukan barang."

Bu Marini menepuk tangannya. "Maksud saya, kamu bekerja di rumah saya. Mereka kalau mau minta bantuan, harus antre."

Para lansia tertawa.

Naura akhirnya membantu sebentar. Membuka link foto, membersihkan beberapa video lama dari grup keluarga, mengajari satu ibu mematikan unduhan otomatis WhatsApp. Hal kecil, tetapi bagi mereka seperti sulap.

"Anak saya kalau ditanya selalu bilang nanti," keluh seorang ibu. "Nantinya itu bisa sampai lebaran berikutnya."

Naura tersenyum. "Kalau ada waktu, saya buatkan catatan langkah-langkah sederhana. Nanti Bu Marini bisa bagikan di grup."

Bu Marini langsung tegak. "Saya yang bagikan?"

"Iya, Bu. Biar Ibu jadi admin teknologi."

Bu Marini terlihat sangat puas.

Siang itu, saat mereka pulang, Bu Marini tampak lebih hidup. Wajahnya kemerahan karena senam dan tertawa.

Pak Aditya menunggu di ruang keluarga.

"Masih utuh?"

"Lebih dari utuh," kata Bu Marini. "Saya jadi admin teknologi."

Pak Aditya menatap Naura.

Naura menjawab dengan wajah polos, "Bu Marini banyak membantu teman-temannya, Pak."

"Kamu mengajari dia pamer?"

"Sedikit, Pak."

Bu Marini tertawa keras.

Malamnya, Arkan menelepon.

Naura sedang menata puding di kulkas ketika mendengar suara Bu Marini dari ruang keluarga.

"Arkan, Nenek tadi senam."

Entah apa jawaban di seberang.

"Tidak pingsan. Kamu ini mendoakan apa?"

Naura mengambil wadah kaca dan menutup pintu kulkas.

"Naura yang menemani. Anak itu telaten sekali. Teman-teman Nenek sampai iri."

Suara Arkan terdengar samar.

Bu Marini mendengus. "Tidak, kamu tidak perlu cari tambahan orang. Nenek tidak mau rumah ini jadi hotel. Ada Naura cukup."

Naura berjalan ke ruang keluarga membawa air hangat.

Bu Marini melambaikan tangan padanya, lalu berkata ke ponsel, "Ini dia orangnya. Mau bicara?"

Naura hampir menjatuhkan gelas.

"Bu..."

Terlambat.

Ponsel sudah disodorkan.

Naura menerimanya dengan dua tangan.

"Selamat malam, Pak Arkan."

Di seberang, hening sejenak.

"Nenek merepotkan?"

Kalimat pertama itu datar.

Tapi Naura mendengar sesuatu di baliknya.

Khawatir.

"Tidak, Pak. Bu Marini hari ini senang. Gerakannya ringan dan saya pastikan tidak berlebihan."

"Kalau ada masalah, hubungi Pak Jaya."

"Baik."

"Atau asisten saya."

"Baik, Pak."

Hening lagi.

Naura menunggu. Ia tidak terbiasa mengisi sunyi dengan kata-kata tidak perlu.

Arkan akhirnya bertanya, "Dia makan cukup?"

"Hari ini porsi makan Bu Marini lebih baik dari kemarin. Pak Aditya juga menghabiskan sayur."

Di sofa, Pak Aditya langsung menoleh. "Kenapa saya ikut dilaporkan?"

Bu Marini tertawa.

Naura menahan senyum. "Maaf, Pak."

Arkan terdengar seperti menghela napas pelan.

"Terima kasih."

Dua kata itu pendek, tetapi kali ini tidak sedingin sebelumnya.

Naura mengembalikan ponsel kepada Bu Marini.

Bu Marini menatapnya dengan mata menyipit.

"Kenapa telingamu merah?"

Naura terdiam.

Pak Aditya langsung tertarik. "Merah?"

"Tidak, Bu. Mungkin karena dapur panas."

"Dapur dari tadi kosong."

Naura mengambil nampan lebih cepat daripada biasanya. "Saya cek puding dulu."

Ia pergi ke dapur, meninggalkan Bu Marini yang tertawa kecil di belakang.

Di dapur, Naura menyentuh telinganya.

Benar.

Hangat.

Ia menatap pintu kulkas yang memantulkan wajahnya samar-samar.

Hanya telepon singkat.

Hanya suara datar seorang cucu yang menanyakan neneknya.

Tidak ada yang aneh.

Naura menarik napas.

Ia datang ke rumah ini untuk bekerja, bukan untuk memperhatikan suara laki-laki yang bahkan jarang pulang.

Tapi malam itu, ketika ia memeriksa jadwal obat Bu Marini, suara Arkan yang rendah masih tertinggal di telinganya.

Dan itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri.

1
Rahman Hayati
mantul lanjut terus
jgn setengah 2 ya
Lili Inggrid
ceritanya bagus
Yusar bin ajo
cerita yg sangat bagus sekali
Yusar bin ajo
semangat ya author ceritanya sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!