Kisah seorang gadis yatim piatu yang bernama Stella Anggraeni yang berkerja di sebuah perusahaan seorang Ceo yang bernama William.
Keduanya terlibat cinta dan mengakibatkan seorang Stella hamil di luar nikah, William tidak bisa bertanggung jawab karena sudah mempunyai seorang calon istri. William meminta agar Stella menggugurkan kandungnya.
Stella memilih meninggalkan William dan menjalani kehidupan sendiri dengan seorang anak perempuan yang di beri nama Angelica.
Bagaimana Stella menjalani hidupnya? Mari kita simak perjalanan hidup Stella!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Setelah mengambil minuman Rico kembali ke ruang kerja William, karena masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan.
"Lama sekali kamu, hanya mengambil minum!" kata William.
"Tadi ada sedikit keributan, antara Nona Kiana dan Rini," ucap Rico.
"Wanita itu selalu ikut campur! untung saja sepupu kalau bukan sudah aku pecat!" geram William pada Kiana.
Tujuan Kiana tidaklah buruk sebenarnya, hanya saja William yang bersikap seolah baik-baik. Kiana di tugaskan oleh Karin untuk menjaga anak laki-laki nya.
Stella mengetuk pintu ruang kerja William, dia hendak berpamitan pulang bareng dengan Kiana. William tidak mengizinkan Stella pulang, dia akan mengantarkan Stella sendiri. Kiana marah karena William tidak mengizinkan Stella pulang bareng.
"William, ingat pesan Mamah kamu!" teriak Kiana, lalu pulang ke rumah Karin untuk memberikan laporan.
Stella sebenarnya sudah sangat lelah, sembari menunggu William mengerjakan berkas Stella tertidur. William tersenyum memandang wajah mulus Stella, bibir ranum nya membuat dia ingin menciumnya kembali.
"Tuan," Rico memanggil William.
"Sampai di mana tadi?" tanya William, yang kehilangan konsentrasi karena memandang Stella.
"Lebih baik kita istirahat dulu, Tuan. Kita lanjut besok!" ajak Rico.
William akhirnya mau menuruti perkataan Rico, kemudian dia membopong tubuh Stella dan di bawa menuju kamarnya. Tadi Rico mau membantu tapi tidak diperbolehkan menyentuh Stella.
Keesokan paginya Stella kaget, bangun dalam keadaan tidak berpakaian.
"William, apa yang kamu lakukan?" tanya Stella sambil menangis.
"Aku...
"Jahat kamu!" teriak Stella.
"Stella, aku tidak akan melakukan hal seperti itu kecuali dengan kesadaran kita!" jelas William.
"Bohong!" teriak Stella.
Sebenarnya William tidak menyentuh tubuh Stella, tadi malam Mbok Yem di minta oleh William mengantikan baju kerja Stella dengan baju tidur. Tetapi belum selesai, Stella menggeliatkan tubuhnya. Mbok Yem takut menggangu tidur Stella dan hanya menutup tubuhnya dengan selimut.
Mbok Yem berpesan pada William agar tidak masuk ke kamar yang ditempati oleh Stella, jadi William memilih untuk tidur di kamar lain.
Pagi hari William akan mengambil baju kerjanya di kamar yang di tempati Stella, ternyata Stella kebangun.
"Bersihkan tubuh mu! aku tunggu di ruang makan!" ucap William, keluar dari kamar itu dan menunggu Stella untuk sarapan pagi.
Stella masih bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya, kemudian dia masuk ke kamar mandi.
Di ruang makan sudah ada William dan Rico yang menunggumu, Stella datang lalu duduk di sebelah Rico.
"Non, bagaimana semalam tidurnya?" tanya Mbok Yem.
"Stella bisa tidur kok, Mbok," jawab Stella.
"Maaf, semalam Mbok mau ganti baju Non Stella. Tapi belum selesai Non sudah menggeliat, jadi hanya Mbok tutup pakai selimut.
Stella sangat lega mendengar ucapan Mbok Yem, ternyata bukan William yang melepas bajunya. Stella tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada Mbok Yem, karena peduli dengan dirinya.
"Berterimakasih lah kepada Tuan, Non. Tuan yang menyuruh melakukan semua," kata Mbok Yem.
Stella memandang wajah tampan William lalu tersenyum, William ternyata sangat peduli dan perhatian dengannya. Dia sangat malu dengan William, lalu meminta maaf.
"Tuan, maafkan Stella sudah menuduh Tuan berbuat buruk pada Stella," ucap Stella.
"Lupakan!" kata William.
Mereka kemudian memulai sarapan bersama, setelah selesai Rico berpamitan untuk ke kantor lebih dulu. Stella ingin ikut dengan Rico, tetapi William melarang.
William berangkat dengan Stella, di tengah perjalanan William menagih jawaban atas pernyataan cintanya.
"Stella, apa jawaban kamu? aku ingin memilikimu Stella," ucap William, sembari memegang tangan Stella dan mencium punggung tangan Stella.
"Aku takut kecewa, William," ucap Stella dengan lembut.
"Aku janji akan membahagiakan kamu, menjaga mu dengan baik. Percayalah!" rayu William.
William menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia mendekatkan wajahnya pada Stella. Membuat Stella gugup dan memejamkan matanya.
"Kamu kenapa memejamkan mata? aku hanya ingin melihat wajah mu dari dekat," ucap William.
"Ku kira kamu, akan mencium ku lagi," kata Stella, membuat William tersenyum.
"Cepat jawab, Stella! aku sudah tidak sabar menunggu jawaban mu," kata William.
"Iya, aku mau jadi kekasih mu," jawab Stella dengan lembut.
Wajah William tampak bahagia mendengar jawaban Stella, kemudian dia melanjutkan perjalanannya ke kantor.
Stella juga sangat bahagia, hatinya berbunga-bunga akhirnya dia bisa memiliki seorang kekasih yang tampan dan perhatian.
Awalnya keraguan itu ada pada diri Stella, tetapi dia berusaha meyakinkan diri kalau William terbaik buat masa depannya nanti.
"Stella, sayang sekali aku hanya bisa bersamamu sebelum Helena resmi menjadi istriku. Maafkan aku, sayang," ucap William dalam hati.
William berencana akan memanfaatkan waktu yang ada untuk membahagiakan Stella, dia merasa bersalah jika Stella tidak bahagia saat bersamanya.
***
Kiana pagi ini meminta izin pada Rico, untuk berangkat ke kantor terlambat. Dia saat ini sedang menuju ke rumah Karin.
"Kamu! ada apa kesini?" tanya Wilda, saat Kiana baru sampai di rumah Karin.
"Tante Karin mana?" tanya Kiana.
"Di dalam, masuk saja," ucap Wilda lalu pergi meninggalkan Kiana.
Kiana masuk ke dalam rumah mewah milik Karin, saat ini Karin sedang berenang di kolam.
"Sayang, kamu datang juga akhirnya," ucap Karin, saat melihat Kiana datang.
"Tante, gawat! William semakin dekat dengan Stella," kata Kiana.
"Apa kamu tidak bisa menjauhkan mereka?" tanya Karin.
Kiana menggelengkan kepalanya, dia tidak akan mampu mencegah William agar menjauhi Stella.
"Tante takut dengan keselamatan William, kalau sampai orang tua Helena tau ada wanita lain di hidup William. Helena satu tahun lagi kuliahnya selesai, artinya pernikahan William dengan Helena harus segera dilangsungkan," kata Karin.
"Semua tidak akan terjadi kalau William saat itu tidak bertemu Helena, mungkin sudah takdir, Tante," ucap Kiana.
"Mereka pikir anaknya akan bahagia menjodohkan secara paksa, justru itu akan membuat menderita," kata Karin.
"Kalian selalu memikirkan nasib William, tidak pernah memikirkan aku," sahut Wilda, yang selalu iri dengan William.
"Apa masalah kamu? sehingga minta dikhawatirkan," sahut Karin.
"Mah, sebenarnya Wilda anak Mamah bukan? kenapa hanya William yang Mamah pedulikan?" tanya Wilda.
Agar kedua anaknya tidak bermusuhan Karin menjelaskan kepada Wilda, apa yang sebenarnya terjadi. Wilda tetap tidak Terima dengan penjelasan Mamah nya.
"Kamu bisa seperti ini karena Ayah William, sadarlah!" kata Karin.
"Adik kamu dalam masalah, jangan menambah pikiran buat Mamah kamu," sahut Kiana.
"Helena hartanya banyak, seharusnya Mamah senang," ucap Wilda.
Karin dan Kiana sudah lelah menjelaskan semua pada Wilda, karena yang ada di otak Wilda hanya harta. Walaupun sudah punya rumah sendiri, Wilda masih sering tinggal di rumah Karin.
Kiana kemudian pergi ke kantor, karena kalau terlalu lama takut William dan Rico curiga.