Kisah Andira Gracelia Prastika Putri dan Axello Arkana Marvellyo yang dijodohkan kedua orang tua mereka dengan alasan untuk menjaga Dira.
"Dira, Bangun, Dir!" Ucap Axell pelan sambil menepuk pelan pipi Dira.
"Hey... Dira, Bangun!" Ucap Axell lagi sambil kembali mencoba menyadarkan Dira. Tak ada jawaban, bahkan tidak ada tanda-tanda Dira akan sadar.
Axell lalu menggendong Dira untuk ia letakkan diatas ranjang. Tak lupa ia melepas sepatu yang masih gadis itu kenakan. Lalu merogoh ponselnya dari dalam saku guna menelepon seseorang.
"Halo, om. Bisa datang ke apartemen Axell sekarang. Lantai 7 nomor 071?"
"(....)."
"Cepat, ya, om! Axell tunggu!"
Tuutt...
Axell lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Dan...
"Aarghh...!" Teriak Axell frustasi sambil mengacak rambutnya kasar. Ia mengerutuki kesalahannya sendiri karena gagal menjaga gadis yang berstatuskan istrinya.
"Sorry, Dir! Gue...
Apakah mereka akan bertahan dengan pernikahan mereka atau malah berpisah? Bac
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iu.rahma93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Seranjang.
'Siapa namanya tadi?' Tanya Axell pada dirinya sendiri. Seketika Axell kembali mengingat nama yang ia sebutkan saat prosesi ijab Kabul tadi. Ia menyadari satu hal, bahwa gadis yang ia nikahi sekarang ini tak lain dan tak bukan adalah...
Adik kelasnya sendiri.
"Boy, kenapa bengong? Di sambut, dong tangan istrimu!" Ucap bunda Resty menyadarkan Axell yang berdiam diri sedari tadi.
Sementara Dira yang merasa tangannya tak kunjung bersambut pun memilih untuk menatap wajah suaminya. Dan ternyata...
"Kak Axell."
"Dira." Panggil keduanya secara bersamaan. Melihat reaksi keduanya membuat kedua orang tua Dira dan Axell tersenyum. Seperti yang telah mereka duga sebelumnya. Bahwa Dira dan Axell memang sudah saling mengenal satu sama lain, hanya saja mereka tidak saling akrab.
"Boy, lekaslah berdoa dan segera cium istrimu, Dira!" Titah ayah Marvellyo. Axell terdiam sesaat, entah mengapa rasa gugup yang tadi sempat perlahan menghilang kini menghampirinya lagi.
Axell benar-benar gugup saat ini. Ia tahu statusnya kini adalah suami sah dari gadis bernama Dira. Dan bahkan sekarang dia bebas untuk menyentuh gadis itu. Jangan kan hanya menyentuh, bahkan jika Axell ingin melakukan hal yang lebih pun Axell berhak sepenuhnya.
Tapi, kenapa Axell hanya diam.
Hal itulah yang sedang di pikirkan Dira sekarang ini. Bukan cuma rasa gugup yang sama seperti yang Axell rasakan. Tapi kenapa lelaki di sampingnya ini hanya diam saja. Dira tahu pernikahan ini terjadi karena perjodohan yang telah di sepakati kedua belah pihak.
Sama sepertinya, Axell pun menerima pernikahan ini karena terpaksa. Tapi, bagaimana pun kini mereka telah menjadi suami istri. Lalu kenapa Axell enggan untuk mencium keningnya? Sebegitu tak maunya kah dia menikah dengan gadis pilihan keluarganya itu? Sehingga ia enggan untuk bersentuhan dengannya? Jangankan untuk mencium kening, menerima uluran tangannya pun tak kunjung Axell lakukan. Itulah yang sekarang sedang di pikirkan oleh Dira.
Salah. Bukan itu yang sebenarnya terjadi. Selain gugup Axell juga merasa masih belum bisa percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat putranya yang hanya diam mematung sedari tadi, ayah Marvellyo akhirnya menepuk pelan pundak Axell dan seketika membuat laki-laki itu tersadar.
Axell lalu menyambut ukuran tangan dari Dira dan membiarkan gadis itu untuk mencium punggung tangannya. Dan sekarang giliran Axell yang mencium kening gadis itu.
"Saudara Axello, cintai dan sayangilah istrimu, jaga dan lindungilah dia, kau adalah tempatnya berlindung sekarang. Saudari Andira telah menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya." Ucap pak penghulu yang menasehati Axell dan di jawab dengan anggukan kepala.
Deg...
Tanggung jawab?
Mendengar kata tanggung jawab membuat Dira menyadari satu hal. Ia tahu, setelah ia resmi menjadi istri dari Axell, maka orang tuanya akan menyerahkan seluruh hidupnya pada Axell, Axell bertanggung jawab penuh atas dirinya dan Dira sudah bukan lagi menjadi tanggungan dari keluarganya.
Dan tiba-tiba saja, dengan tanpa permisi air mata Dira menetes dengan sendirinya. Cepat-cepat Dira menghapus lelehan air mata itu sebelum ada orang lain yang melihatnya menangis.
Bunda Resty lalu mendekati Dira dan Axell lalu menyerahkan sebuah kotak kaca berisikan sepasang cincin.
"Sayang, pakaikan ini pada jari suamimu!" Pinta bunda Resty pada menantunya itu.
Dira menerima cincin yang di berikan oleh Bunda Resty dan menganggukkan kepalanya, "Baik, bunda." Jawab Dira pelan namun masih bisa di dengar oleh Bunda Resty dan juga Axell.
Dira lalu memakaikan cincin nikah itu pada jari Axell. Dan kini bergantian dengan Axell yang juga melakukan hal yang sama.
Serangkaian acara demi acara telah selesai. Para tamu undangan pun sudah banyak yang pulang meninggalkan rumah papa Pras. Hanya tinggal keluarga Axell yang belum pulang karena mereka masih berbincang-bincang.
"Sayang, bawa suamimu ke kamar untuk beristirahat! Mama tahu, kalian berdua pasti sangat lelah." Ucap mama Diva.
"Sayang, benar apa yang di katakan mama. Istirahatlah dulu, ini sudah malam.* Ucap papa Pras membenarkan apa yang di katakan mama Diva tadi.
"Baik, ma, pa. Kalo begitu ayah, bunda... Dira pamit mau istirahat dulu sama kak Axell." Ucap Dira berpamitan kepada mereka semua.
"Iya, sayang. Istirahatlah." Jawab Bunda Resty. Dira menganggukkan kepalanya lalu berdiri di ikuti oleh Axell. Dira berjalan pelan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya bersama Axell yang berjalan selangkah si belakangnya.
Ceklek...
Dira memasuki kamar di ikuti Axell. Gadis itu duduk di depan meja rias untuk membersihkan sisa make-up yang hampir seharian ini menempel di wajahnya. Sementara Axell duduk di sofa dan melepaskan dasi yang masih setia melilit di lehernya.
Canggung dan Hening itu yang mereka rasakan setelah memasuki kamar. Bahkan keduanya saling diam tanpa mengatakan apapun.
Ting...
Sebuah notifikasi pesan masuk pada ponsel Dira yang ia letakkan di atas nakas. Gadis itu lalu berjalan mendekat ke arah ponselnya dan melihat isi dari pesan masuk tersebut.
📥 Mama Diva.
Sayang, kalo Axell mandi, siapkan baju ganti untuknya. Mama sudah menyiapkannya di lemari bajumu sebelah kiri.
Ternyata mama Diva yang telah mengiriminya pesan. Dira langsung bergegas berjalan ke lemari dan membuka lemari sebelah kiri seperti apa yang Mama Diva katakan tadi. Dan benar saja, saat Dira membuka lemarinya, ternyata sudah ada banyak baju yang asing menurutnya. dan tertata rapi. Dira lalu mengambil satu baju dan celana pendek selutut tak lupa beserta dalaman untuk Axell kenakan.
"Kak Axell, kalo mandi bajunya udah gue siapin." Ucap Dira pelan.
Axell menatap Dira sesaat. Laki-laki itu terkesiap dengan apa yang baru saja Dira katakan. Dira menyiapkan baju ganti untuknya. "Iya, terima kasih." Jawab Axell
Axell lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah acara seharian tadi.
Ceklek...
Selesai dengan aktifitas mandinya, Axell keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tangan kekarnya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Laki-laki itu tadi lupa membawa baju ganti saat mandi.
Dira yang saat itu masih duduk di meja rias membelakangi Axell pun tak sengaja melihat dengan jelas tubuh bagian atas dari laki-laki yang kini telah menjadi suaminya itu dari pantulan cermin.
Ini kali pertamanya Dira melihat pemandangan seperti ini. merasa malu dengan apa yang di lihatnya, cepat-cepat Dira mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kenapa laki-laki itu tidak sekalian memakai bajunya di kamar mandi tadi. Bukan kah ia tadi sudah menyiapkannya sebelum Axell masuk ke kamar mandi.
"Lo nggak mandi?" Tanya Axell yang sudah selesai mengeringkan rambutnya.
Dira menatap wajah Axell sesaat, tiba-tiba pandangan keduanya bertemu. Cepat-cepat Dira memutuskan kontak mata dengan menundukkan kepalanya.
"Ini juga mau mandi, kak." Jawab Dira yang langsung berjalan ke kamar mandi, tak lupa ia membawa baju ganti yang telah ia siapkan saat Axell mandi tadi.
Selesai mandi, Dira keluar dengan sudah mengenakan baju. Pandangan gadis itu jatuh pada Axell yang tengah berbaring di atas ranjangnya dengan setelan baju yang telah ia siapkan tadi. Dira berjalan menuju meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Ngiingggg...
Suara dari hair dryer yang Dira kenakan untuk mengeringkan rambutnya mengalihkan pandangan Axell dari ponsel yang ia mainkan sedari tadi. Diam-diam Axell memperhatikan Dira. Axell masih sulit untuk percaya, Gadis yang menurutnya misterius itu kini telah menjadi istrinya.
Sebenarnya Dira sudah selesai mengeringkan rambutnya, tapi entah mengapa gadis itu enggan beranjak dari tempatnya.
"Lo keberatan kalo gue tidur di ranjang?" Tanya Axell pelan. Dira menatap wajah Axell sesaat melalui pantulan cermin lalu menggeleng pelan.
"Nggak kok, kak. Kak Axell boleh tidur di situ." Jawab Dira.
"Ya udah, tidur, udah malem!" Ucap Axell yang kini mulai memejamkan matanya.
Dira terdiam sesaat, ia ragu untuk tidur seranjang dengan Axell. Tapi dengan cepat Dira menepis perasaan itu.
'Cuma tidur, kan.'
Gadis itu lalu berjalan pelan mendekati ranjang dan ikut berbaring di atasnya. Tak ada pergerakan dari Axell, Dira mengira kalau Axell sudah lebih dulu tidur. Mungkin,
Dira tidak bisa tidur malam ini, ia hanya bisa menatap kosong langit-langit kamarnya. Ternyata dunia begitu sempit menurutnya. Gadis itu kembali teringat dimana ia sempat mengira kalau dirinya dijodohkan dengan om-om dulu.
Dan ternyata ia salah besar.
Bukanlah om-om yang di jodohkan dengannya, melainkan kakak kelasnya sendiri. Gadis itu pun terkekeh geli sendiri mengingat hal itu.
"Bege!" Ucap Dira pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Lo belum tidur?"
aku senang sekali kk update lagi🎉🎉
Terima kasih kak🙏