Season 1
Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.
Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.
Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.
Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Waktu semakin siang, dan Nathan terbangun dari tidurnya. Dia membuka mata, tangannya terasa berat dan ia menoleh. Rupanya kepala Bian menindih lengan kirinya dengan tangan kiri Bian memeluk perutnya.
Sejenak dia memperhatikan wajah polos wanita yang ada di sampingnya. Hatinya kembali tertusuk kala mengingat perlakuan kasar dirinya. Tangan kanannya mengusap lembut pipi Bian lalu mendaratkan ciuman di keningnya.
( Sejak kejadian kemarin, kau milikku. ) ya, Nathan akan memulai hidup baru bersama istrinya. Nathan akan berusaha mencintai Bian, dan apa yang sudah menjadi miliknya tidak akan pernah ia lepaskan.
Dengan gerakan perlahan, Nathan menarik lengannya dari himpitan kepala Bian. Kemudian, dia membersihkan diri, lalu menghubungi restoran di sana memesan makanan untuk mereka makan.
Sambil menunggu makanan datang, Nathan duduk selonjoran di samping Bian sambil memangku laptop mengecek pekerjaannya sesekali melirik ke samping melihat sang istri yang masih terlelap akibat pengaruh obat dokter.
Bian mulai sadar dari tidurnya, wanita yang sudah tak gadis lagi mengerjapkan mata sampai bulu mata lentiknya ikut bergerak.
"Kau sudah bangun?"
Eh..
Bian mendongak, matanya terbelalak. "Kau..!" Dia bringsut menjauhkan tubuhnya terkejut ada Nathan di sampingnya.
"Jangan kaget seperti itu, tadi saja kita tidur bareng kok," ucap Nathan melirik sebentar lalu beralih ke depan laptop.
Bian diam, dia ingat jika tadi memang tidur siang membiarkan Nathan merengkuh tubuhnya meski dirinya masih merasakan takut. Bian mendudukan bokongnya kemudian menurunkan kakinya berusaha berdiri.
"Kau mau kemana?" secepat kilat Nathan menyimpan laptopnya kemudian mencegah Bian.
"A-aku mau mandi," cicitnya menunduk.
Grep...
"Nathan...!" Bian memekik kaget kala Nathan membopongnya dan dia repleks mengalungkan tangannya ke leher Nathan.
"Kemanapun kau pergi, aku akan menggendongmu!" Nathan mendudukan Bian di kloset mewah dan ia berdiri di hadapan Bian.
"Ka-kau mau ngapain?" tanya Bian gugup.
"Menunggumu. Jika kau membutuhkan sesuatu, aku ada di sini siap membantu." Ujar Nathan tanpa merasa berdosa ataupun sungkan.
"What?! Kau gila! Aku mau pipis dan juga mau mandi. Mending kau keluar saja!" Bian memekik kecil tidak habis pikir dengan Nathan. Mana mau dia mandi di perhatikan Nathan.
"Ya tidak mengapa, aku tunggu di sini sampai kau selesai mandi!" Jawabnya santai padahal jantungnya berdebar kala bayangan bentuk tubuh Bian berseliweran di benaknya. Sebisa mungkin Nathan mengontrol diri untuk tidak melakukannya sampai hubungan keduanya membaik.
"Aku tidak mau! Kau keluarlah!" perintah Bian malu jika harus di perhatikan meski Nathan suaminya.
"Aku juga tidak mau! Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan kakimu masih terluka. Kalau kau butuh sesuatu bagaimana? kalau kau merasakan sakit bagaimana? setidaknya, jika ada aku kau bisa meminta bantuan ku."
"Ya, tapi tidak harus berada satu kamar mandi juga!" sergah Bian kesal.
Nathan mencondongkan wajahnya, kedua tangannya memegang setiap sisi kloset yang di duduki Bian. "Kenapa? bukankah kita sudah menikah?"
"Ta-tapi a-aku malu." Ucap Bian gugup mengalihkan penglihatannya tak berani menatap mata Nathan yang terlihat nakal.
Nathan mengampit dagu Bian menggunakan jari tangannya. Menghadapkan wajah cantik itu sampai kedua mata mereka saling bertemu.
"Kau istriku, tidak perlu malu, kita sudah halal, dan aku melakukan ini sebagai permintaan maaf karenaku kakimu terluka. Kau ingat, kakimu masih belum sembuh, kemungkinan jalanpun masih sulit dan sakit. Maka..." Nathan perlahan mengikis jarak keduanya sampai bibirnya tinggal beberapa centi di depan bibir Bian. Matanya masih menatap dalam mata wanitanya.
"Aku akan membantumu." Cup... Nathan tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak mengecup bibir manis Bian.
"Na-Nathan..." Bian mendorong pelan tubuh Nathan, dia takut, tubuhnya gemetar. Matanya terpejam. Nathan menghelakan nafasnya secara kasar.
( Butuh waktu untuk membuat Bian tidak gemetar. )
Pria itu berjongkok memeluk Bian penuh perasaan. "Maaf."
**********
Akhirnya Nathan mengalah membiarkan Bian mandi sendiri. Dan sekarang dia sedang berusaha menyuapi Bian.
"Kenapa kau mendadak aneh sih? apa kau kesambet hantu New York?"
"Bukan kesambet hantu tapi kesambet kamu. Buka mulutmu! Aaaa..." Nathan menyodorkan makanan ke depan mulut Bian.
"Aku bisa sendiri! Kau makan saja punya kamu. Sini!" Bian ingin mengambil makanan yang di pegang Nathan namun, Nathan menolak.
"Sudah ku bilang aku yang suapi! Apa susahnya sih nurut sama suami!" sergah Nathan mulai kesal.
"Atau kau mau ku suapi dari mulutku langsung, heh?" Nathan tersenyum usil menaik-turunkan alisnya membuat Bian mengernyit heran.
( Makin gak waras nih Nathan. )
Cup...
"Nathan...!" Bian memekik kaget Nathan kembali mencuri kecupan di bibir.
"Makanya buka mulutmu, aaaaa... atau kau mau buka baju?"
Bugh...
Bian melayangkan bantal ke pangkal lengan Nathan dengan wajah memberenggut kesal. Sedangkan Nathan malah terkekeh merasa gemas.
*********
Amerika serikat
"Niel, apa kau yakin Nathan akan berubah dan tidak akan menyakiti putriku lagi? aku takut anak itu tidak bisa menerima Bian," ucap Rebecca penuh khawatiran sambil membuatkan makan malam untuk mereka.
Sedangkan para pelayan sudah Daniel suruh pulang karena ia tidak ingin ada yang mengganggu waktu mereka berdua.
"Semoga saja, kita doakan yang terbaik buat mereka. Nathan dan Eliza sudah putus, dan kemungkinan untuk bersama Eliza tidak akan terjadi. Nathan bukan pria yang akan kembali pada masalalunya."
Daniel menatap dalam wanita yang berada di depan kompor. Pria berusia 49 tahun itu menghampiri memeluk Rebecca dari belakang mengecupi seluruh leher wanitanya dan salah satu tangannya menggapai apa yang ia inginkan.
"Niel.." Rebecca menahan suara merdunya untuk tidak terbuai.
"Yes, sayang. Keluarkan saja suara indahmu! Di sini hanya ada kita berdua."
Meski keduanya sudah tidak muda lagi, namun hasrat keduanya masih tinggi. Apalagi di usia mereka masih terlihat seperti muda.
Rebecca tak bisa menahan suaranya kala Daniel memainkan asetnya atas bawah. Daniel mematikan kompornya, memangku Rebecca mendudukan ya di atas meja. Dia mulai menyusuri setiap lekuk tubuh wanita yang ia inginkan.
"Kapan kita akan menikah? ah.." tanya Daniel di sela kegiatannya memompa miliknya.
"Aah, a-aku tidak tahu, ah." jawab Rebecca di sela de*sah*hannya.
"Setelah Bian pulang, kita menikah." ujar Daniel semakin cepat menggerakkan pinggulnya memegang erat kaki Rebecca yang melingkar di pinggangnya.
Rebecca tidak menjawab, dia hanya mengeluarkan suara merdunya saking menikmati permainan Daniel.
**********
Las Vegas, Nevada.
"Bagaimana ini, Austin? uang kita semakin menipis. Tidak ada lagi wanita yang mau bekerja dengan kita. Rebecca hilang entah kemana, Eliza sibuk dengan urusan permodelannya. Padahal, Rebecca lah wanita termahal yang kita jual." Istrinya Austin uring-uringan khawatir uangnya akan habis.
"Kau saja yang bekerja!" jawab Austin tanpa berpikir dulu.
"Kau gila! Aku ini istrimu, aku tidak mau melayani pria hidung belang lagi!" sergah Elena.
"Kau harus mau, hanya kau yang bisa membantu perekonomian kita sekarang. Sebelum kita menemukan Rebecca, kau gantikan dia!"
"Aku tidak mau! Minta saja uang sama Eliza, bukankah dia menikah dengan pengusaha makanan?" ujar Elena.
"Nanti aku hubungi anak itu. Tapi sekarang kau yang bekerja dulu, Ok! Kau harus ingat, sebelum aku menikahimu, kau juga salah satu wanita yang bekerja di bawah naunganku."
Elena menghelakan nafasnya. Demi uang, akhirnya dialah yang bekerja karena hanya itu keahliannya.
Bersambung...