Shena terus mendapat tekanan dari kedua orang tuanya untuk secepatnya menikah, karena takut mendapati julukan perawan tua. Sejak lulus kuliah dan sibuk mengurus butik yang dibangun dari nol hingga sukses, dia bahkan tidak ada waktu untuk memikirkan pendamping hidup.
Jika Shena tidak segera mengenalkan sosok lelaki pada orang tuanya, maka dia akan dijodohkan dengan lelaki yang sebaya dengan papanya. Hal itu membuat Shena semakin pusing memikirkan di mana dia harus mencari lelaki instan yang mau dia jadikan sebagai kekasih palsu, hanya untuk menunjukkan ke orang tuanya agar perjodohan tidak dilanjutkan.
Shena tidak sengaja bertemu dengan Elvino—lelaki tampan—bergelut dengan mesin-mesin yang kotor di bengkel. Wanita itu terpesona terhadap pria kekar tersebut.
Keduanya terlibat hubungan rumit saat Shena mulai menyewa jasa Elvino sebagai kekasih bayaran.
Lika-liku hubungan keduanya semakin pelik ketika Is
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea_lofa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegaduhan di Butik Shena
"Mana sih, Bos kamu? Biar saya yang bicara sama dia." Wanita itu menerobos ingin masuk ke dalam ruang pribadi Shena.
"Bu, mohon maaf sebelumnya, pemilik butiknya sedang tidak ada di dalam. Lebih baik Ibu duduk dulu! Kita bicara baik-baik," pinta Melva yang sedang berusaha menenangkan wanita itu agar tidak membuat keributan yang lebih besar.
"Ba, Bu, Ba, Bu! Emangnya saya Babu, kamu! Kamu nggak lihat, Kamu sama saya saja, tuaan kamu!" maki wanita itu.
"Iya, maaf, Mbak!" Melva mencoba untuk bersabar dalam menangani Wanita cantik itu.
Tidak lama kemudian Shena pun datang, dia langsung bertanya soal keluhan yang dirasakan oleh custoumer-nya dengan sabar Shena tetap tenang menerima berbagai ucapan makian dari wanita itu.
Shena pun berlapang dada mengganti rugi yang diinginkan oleh wanita itu, demi nama baik butiknya. Wanita cantik itu pun tersenyum dan merasa puas dengan pelayanan yang Shena berikan.
"Shen, kamu sudah gila, ya? Masa kamu mau ganti rugi begitu saja?" bentak Melva yang tidak habis pikir dengan tindakan Shena yang terlalu baik.
"Sudahlah ... aku lagi malas untuk berdebat! Toh dia mintanya nggak gede." Shena mulai duduk di kursi kesayangannya.
"Ya, ampun ... mau heran, tapi teman aku!" Melva hanya menarik napasnya dengan kasar sembari keluar dari ruangan Shena.
"Eh, mau ke mana? Aku mau curhat juga," ucap Shena yang ingin menceritakan sosok Elvino kepada sahabatnya itu.
"Bodo amat!" teriak Melva yang masih kesal dengan sikap sahabatnya itu, lalu pergi begitu saja untuk melanjutkan pekerjaannya.
Shena hanya tertawa melihat sikap sahabatnya yang begitu peduli dengan dia dan butik miliknya, dia merasa bersyukur walaupun kisah cinta dia kurang beruntung tetapi kisah persahabatannya begitu beruntung mempunyai teman seperti Melva.
Sudah setengah hari Shena berkutik dengan pekerjaannya, sampai dia lupa bahwa jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Melva pun mengingatkan Shena untuk makan siang terlebih dahulu, baru melanjutkan pekerjaannya merancang baju baru yang akan segera launching.
Shena menyuruh Melva untuk membelikan makan siangnya, dia berniat untuk makan siang di dalam ruangan sembari fokus melihat hasil desain yang dia buat. Namun, di saat Shena sedang fokus merapikan hasil desainnya, sebuah panggilan telepon terhubung ke nomor ponsel Shena, sang pemilik ponsel pun menjawab panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo?" jawab Shena yang masih fokus pada beberapa gambar yang sudah dia buat.
"Halo, selamat siang, dengan Mbak Shena?" tanya Pria yang dari seberang telepon dan Shena pun menjawab ucapan tersebut.
"Mohon maaf sebelumnya, Mbak. Mo—"
"Ok, saya akan segera ke sana!" ucap Shena yang langsung mematikan sambungan teleponnya, walaupun orang tersebut belum sempat selesai berbicara, karena Shena sudah menunggu telepon dari bengkel tersebut agar bisa datang ke sana.
Melva yang baru saja tiba membawakan pesanan Shena, menjadi bingung melihat temannya pergi begitu tergesa-gesa.
"Shen, makan siangnya!" panggil Melva kepada Shena.
"Taruh saja! Aku ada urusan sebentar." Shena melambaikan tangannya tanpa melihat ke arah Melva.
"Aissh, tuh anak kebiasaan!" celetuk Melva.
Di bengkel Elvino, sang pemilik bengkel mobil sudah berkacak pinggang di depan pegawainya yang sudah membuat kesalahan fatal pada mobil Shena.
Shena yang baru saja tiba di tempat itu, begitu tercengang melihat keadaan mobil bagian belakangnya sudah tidak terbentuk. Matanya berkaca-kaca, perasaannya begitu kesal, karena dia selalu mendapatkan kejadian yang tidak terduga berturut-turut.
Mobil kesayangannya benar-benar hancur saat salah satu pegawai Elvino mengetes mesin sekaligus rem tangan pada mobil itu dan ditabrak oleh pengendara lain dari arah belakang dalam keadaan mengantuk.
Bersambung.....
mangats up y thor..
kutunggu karya mu
ngantuk pasti ya 🤣🤣🤣🤣🤣