Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMESTER EMPAT
“Ya, kita makan dulu ya,” ajak Jay sembari menggendong tas ranselnya.
Mereka baru saja selesai dengan rapat pengurus himpunan. Rapat siang itu berjalan cukup alot dan melelahkan, membahas beberapa agenda program kerja dengan bahasan yang sempat memanas di dalam forum.
“Ini kayaknya makin hari si Jay makin nempel deh sama Gea,” ledek salah seorang senior perempuan mereka.
“Namanya juga pasangan baru, Mbak,” kata Jay santai.
Semester empat yang baru berjalan sekitar dua bulan, namun intensitas hubungan Gea dan Jay terlihat semakin lengket. Mereka sudah seperti satu paket komplit. Dimana ada Jay, di situ ada pasti ada Gea, begitu juga sebaliknya. Mereka akan datang dan pulang kuliah bersama, dan makan siang bersama.
Walaupun terkadang mereka masih membaur dengan lingkaran pertemanan masing-masing, tak jarang meja panjang di sudut kantin sengaja diatur sedemikian rupa untuk menampung mereka bersembilan saat berkumpul. Dari luar, segalanya tampak begitu sempurna dan romantis.
Di hari lain, di sela-sela padatnya jadwal kuliah semester genap, mereka berdua kerap menyempatkan diri untuk nonton film di bioskop setelah kegiatan mereka di kampus telah selesai.
Sore itu, mereka berbagi tugas. Jay mengantre di barisan depan untuk membeli tiket nonton, sementara Gea beralih ke konter makanan untuk membeli minuman dan camilan. Namun, begitu mereka kembali bertemu di dekat salah satu bangku kosong di tepian area bioskop, kening Jay langsung berkerut dalam saat melihat bungkusan di tangan Gea.
“Kok kamu pesen yang karamel, Ya?” tanya Jay langsung, nadanya terdengar tidak senang. Belum sempai Gea menjawab, Jay sudah mengeluarkan suaranya lagi, “aku gak suka popcorn manis, padahal. Kenapa gak beli yang asin aja kayak biasanya?”
Rentetan kalimat itu, ditambah nada bicara Jay yang terdengar memojokkan, mendadak seperti mencekik tenggorokan Gea. Entah kenapa, di bawah tatapan menuntut dari kekasihnya, Gea tidak bisa untuk mengeluarkan suaranya.
“Kamu nih… biasanya juga kalo kita nonton belinya popcorn yang asin ,dan kamu tau aku sukanya yang asin, Ya.”
Aku suka popcorn caramel. Aku gak suka popcorn asin, Jay.
Kalimat itu tertahan di ujung lidah Gea, hanya mampu mengutarakan dalam hatinya yang mendadak terasa perih. Selama ini, setiap kali mereka nonton, Gea selalu mengalah mengikuti selera Jay. Jay tidak pernah benar-benar tahu apa yang disukai Gea, bahkan pria itu tidak pernah bertanya mengenai pilihan popcorn yang ada.
“Aku beli lagi deh. Kamu tunggu aja di bangku sini,” ucap Gea akhirnya, memilih untuk meredam potensi mereka berantem lagi.
Jay mengangguk setuju tanpa rasa bersalah, tanpa menanyakan kenapa Gea membeli karamel. Dia menunggu Gea di salah satu kursi yang kosong, sementara Gea memesankan popcorn asin untuk Jay.
“Kamu kenapa?” tanya Jay memecah keheningan di dalam mobil saat perjalanan mereka pulang malam itu.
“Hm?” Gea menolehkan kepalanya dari jendela kaca, mengalihkan tatapannya dari jalanan kota untuk menatap kekasihnya yang fokus di balik kemudi. “Gak kenapa-napa,” jawab Gea sesantai mungkin, mencoba memberikan senyuman tipis.
“Kamu diem aja dari tadi? Filmnya gak seru, ya?”
“Seru, kok” sahut Gea pendek. “Aku cuma capek aja, Ay.”
Jay melirik sekilas sebelum kembali menatap jalan di depan.
“Ya udah, kamu tidur aja dulu, Ya. Nanti aku bangunin kalo kita udah sampe di depan rumah.”
Gea menggelengkan kepalanya pelan, berkata, “gak ngantuk, kok.”
“Eh, gak kerasa ya bentar lagi puasa,” ucap Jay, mencoba membuka obrolan lagi, “kamu kalo puasa gini ada tradisi apa gak di keluarga, Ya?”
Gea pun menjawab pertanyaan Jay sekenanya, memberikan respons sekedar agar obrolan di antara mereka tidak mati. Di balik sikap tenangnya malam itu, Gea merasakan energinya benar-benar terkuras habis. Tidak hanya fisiknya yang lelah karena gempuran kuliah semester empat, tapi juga hatinya.
...****************...
Bulan puasa pun akhirnya tiba. Sejak minggu pertama ramadan, lini masa media sosial sudah dipenuhi dengan berbagai macam ajakan buka puasa bersama. Jadwal bukber anak muda selalu padat, mulai dari alumni sekolah hingga teman satu tongkrongan.
Begitu juga dengan Jay. Sore itu, ia membuat agenda bukber dengan keempat sahabat karibnya di kampus. Sebelum berangkat, Jay sempat mengirimkan pesan singkat untuk memastikan kembali keputusan kekasihnya.

Minggu sore yang cerah, Jay mengeluarkan motornya dari carport rumah, membelah jalanan kota menuju sebuah café dimana teman-temannya berkumpul untuk buka puasa bersama.
“Lah? Sendiri?” tanya Adam melihat Jay datang sendiri dan manarik bangku di sebelahnya. “Gea
gak ikut?”
Jay menggelengkan kepalanya pelan sembari melepaskan jaket. “Lagi pengen istirahat dia,” jawab Jay seadanya.
Tak lama setelah Jay duduk, pesanan makanan mereka pun datang. Tepat tiga puluh menit kemudian, azan magrib berkumandang. Meja berisikan lima remaja dewasa itu mendadak sibuk menikmati hidangan masing-masing, menghilangkan rasa lapar dan dahaga mereka yang tertahan sejak subuh.
Jay melahap makannya dengan sangat lahap, mengundang lirikan jahil dari Ria.
“Laper, Pak,” ledek Ria terkekeh.
“Laper pol, Ri. Tadi kebablasan gue gak ikut saur, gak kebangun. Gila, badan gua rasanya capek banget,” jawab Jay santai setelah menelan makanannya.
Ria meletakkan gelas minumannya, ingatan perempuan itu mendadak melompat ke cerita Jay tempo hari.
“Eh, lo bilang lo diajak acara buka puasa bersama keluarganya Gea?”
Meja itu pun langsung ramai setelah mendengar pertanyaan Ria.
“Iya, minggu depan,” jawab Jay santai.
“Ha? Serius lo? Wah, asik banget kali udah di kenalin sama keluarga besar,” sambung Dion semangat.
“Ini mah abis kuliah juga bakal ditanyain kapan ngelamar,” kata Adam berguyon, memicu tawa renyah di antara mereka.
“Sama sepupunya gue juga udah kenal,” kata Jay diikuti senyuman bangga.
“Fix sih ini mah,” kata Putri, “kita bakal menggelar pernikahan akbar. Isinya anak Arsi semua nanti pas kondangan,” lanjutnya, berhasil membuat Jay tersenyum lebar dengan bayangan itu.
“Tapi kalian tau gak siapa sepupunya Gea?” tanya Jay tiba-tiba, menatap sahabat-sahabatnya bergantian. Yang lain menggelengkan kepala bingung. “Lyon.”
“Kenapa Lyon? Kenapa jadi tau-tau nyebut Lyon?” tanya Ria bingung. Kemudian wajah Ria seperti lampu yang menyala, menyadari sesuatu, “tunggu… maksud lo, Lyon sama Gea... sepupuan?”
“Iya. Lyon sama Gea ternyata sepupuan.”
Seketika itu juga, Adam dan Dion tertawa paling keras di sana. Sebagai sahabat, mereka tahu bagaimana Jay cemburu buta setengah mati kepada pria tinggi itu, bahkan sampai memendam kekesalan berhari-hari akibat kedekatan mereka yang sering disalahartikan.
“Makan tuh cemburu!” sembur Adam puas, memukul bahu Jay.
“Lah, ya wajar kalo mereka deket kalo gitu mah,” ucap Putri menggeleng-gelengkan kepala
“Gak wajar, anjir,” balas Jay membela dirinya. “Gue sama sepupu-sepupu gue deket, tapi gak sampe segitunya.”
“Iya, itu elo,” potong Ria gemas. “Udah, buang aja rasa cemburu lo ke Lyon. Udah jelas kan mereka sepupuan. Kalo di pikir-pikir, ya wajar mereka sedeket itu,” tambahnya.
“Tetep aja…,” kata Jay lirih.
Kalimat itu terucap bagai bisikan pelan pada dirinya sendiri, seolah tenggelam di antara riuhnya suara musik cafe.
Bagi Jay, walau Gea pernah mengunggah foto mereka bertiga saat makan sushi tempo hari dan netizen sepertinya sudah mereda untuk membandingkan dirinya dengan Lyon. Namun, hal itu tidak serta-merta menyembuhkan rasa mengganjal di hatinya. Masalah baru justru kembali datang dari arah yang tak terduga.
Gara-gara jepretan kamera entah milik siapa yang mengabadikan momen saat Gea berjalan beriringan di koridor bersama Malik, foto itu kini resmi diunggah di akun base kampus. Netizen kembali berisik. Mereka membicarakan betapa serasinya Gea bersanding dengan Malik, dan seperti biasa, ujung-ujungnya selalu kembali membanding-bandingkan fisik serta pencapaian Malik dengan dirinya.
Jay mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Kasus Lyon mungkin sudah selesai, tapi dunia luar seolah tidak pernah kehabisan cara untuk membuat Jay merasa tidak pernah cukup baik untuk bersanding di sebelah Gea.
...****************...
Di hari yang sama, Gea menghabiskan waktu minggu sorenya dengan “hibernasi” total di dalam kamarnya. Tubuhnya terasa enggan bergerak, ia hanya berbaring sembari memainkan ponsel dan menonton film lewat layar benda pipih tersebut. Keheningan kamarnya terusik saat Gea samar-samar mendengar suara langkah kaki menaiki anak tangga, berjalan mantap ke arah kamarnya. Tak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk beberapa kali disusul sebuah suara familier dari balik kayu tersebut.
“Gea Aster."
“Apaaa..,” sahut Gea malas dari dalam kamarnya.
Dengan gerakan lambar, dia turun dari kasur lalu membuka pintu kamarnya. Mendapati sepupunya yang tinggi sudah berdiri di sana.
“Jalan yuk,” ajak Lyon santai.
“Males ah. Pengen tidur aja gue,” tolak Gea, berjalan melewati Lyon menuju sofa ruang TV yang berada di lantai dua. Dia menyalakan televisi, mencari tontonan yang seru.
“Semalem si Jay gak turun pas nganter lo balik?” tanya Lyon tiba-tiba.
Gea menoleh dengan dahi berkerut. “Hah Kenapa emangnya?”
“Gue denger keluhan Papa lo aja tadi pas ngobrol di bawah,” ucap Lyon, matanya memperhatikan raut wajah sepupunya. “Katanya… si Jay gak ada sopan-sopannya. Mulangin anak orang gak turun dari mobil. Sekedar langsung ketemu sama orang tuanya dan pamitan aja enggak. Gitu kata Papa lo.”
Gea seketika terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Apa yang dikatakan Lyon memang benar. Jay memang gak pernah turun kalau mengantarnya pulang. Selama ini, menurut pemikiran Gea, hal itu tidak perlu dipermasalahkan. Toh, kalau mereka pergi, Jay selalu masuk ke rumah untuk berpamitan, setidaknya pada Ibun. Gea pikir akan merepotkan bagi Jay kalau harus turun lagi hanya untuk mengucap salam saat pulang.
Namun, Gea baru sadar bahwa apa yang ada di dalam kepalanya ternyata bertolak belakang dengan sudut pandang orang tuanya. Ia sama sekali tidak tahu kalau kebiasaan Jay yang satu itu mulai mengusik ketenangan sang papa.
“Papa.. curhat apa lagi sama elo?” tanya Gea pelan, ada rasa cemas yang mulai merayap.
“Katanya, lo balik malem mulu,” tutur Lyon jujur. “Kabarin Papa sama Ibun, Ge, kalo emang harus balik malem atau jalanan macet. Biar orang rumah gak khawatir nunggu.”
“Iya, Iyon. Semalem emang keasikan aja. Lo tau sendiri, kan, kalo hari-hari biasa kan gak bisa jalan-jalan santai gini. Ada aja kegiatan kampus.”
Lyon tersenyum miring, menatap Gea dengan tatapan menilai. “Tapi lo selalu nemenin dia tiap
latihan futsal.”
Gea langsung melotot dan melirik Lyon tajam, berkata, “kok tau?!”
“Temen gue kan juga ada yang anak futsal, dodol,” sahut Lyon dengan santainya menoyor kepala Gea, membuat perempuan itu mangaduh sebal.
Ketegangan samar di wajah Gea perlahan mencair seiring bergantinya topik obrolan mereka. Sore itu, mereka berdua menghabiskan waktu dengan mendengarkan cerita Lyon tentang pekerjaan sampingannya sebagai model di agensi yang sama dengan Karin. Di rekrut oleh manager Karin yang kala itu menjemputnya di kampus. Kini, wajah rupawan Lyon juga sudah mulai banyak mengisi promosi beberapa brand fashion lokal.
...****************...