Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Tekad Dan Penyesalan
...by Pinterest...
Usai prosesi akad selesai, para tamu mulai memenuhi area resepsi.
Namun, bukan dekorasi megah atau hidangan yang pertama kali mencuri perhatian mereka. Melainkan sosok perempuan yang kini duduk berdampingan dengan Atharazka Bagaskara di atas pelaminan.
Beberapa tamu saling berpandangan. Bukankah nama yang tercetak di undangan adalah Jelita Arumi Atmojo? Lalu mengapa yang mengenakan gaun pengantin justru Amora Dania Atmojo?
Pertanyaan itu segera menyebar dari satu kelompok tamu ke tamu yang lainnya.
"Apa undangannya salah cetak?"
"Setahuku yang dijodohkan itu Kakaknya."
"Mungkin ada perubahan mendadak."
Berbagai dugaan bermunculan, tetapi tidak seorang pun benar-benar mengetahui alasan di balik pergantian pengantin tersebut.
Keluarga Atmojo maupun keluarga Bagaskara memilih menyimpan rapat kenyataan yang sebenarnya.
Melihat kedua belah pihak tetap menjalani acara seperti biasa, para tamu akhirnya mengurungkan rasa penasaran mereka.
Lagi pula, tidak mungkin mereka menanyakan persoalan pribadi di tengah pesta pernikahan.
Acara pun terus berlanjut. Musik mengalun lembut mengiringi para tamu yang silih berganti memberikan ucapan selamat. Di atas pelaminan, Amora duduk dengan kedua tangan bertumpu di atas pangkuannya. Senyum tipis terus ia pertahankan setiap kali tamu datang menghampiri.
Meski demikian, senyum itu hanya sebatas formalitas. Tidak sedikit pun mampu menggambarkan isi hatinya. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah laki-laki di sampingnya.
Atharazka tetap mempertahankan ekspresi datarnya. Ia melayani tamu dengan sopan, mengangguk ketika menerima ucapan selamat, bahkan sesekali membalas percakapan singkat. Namun setelah tamu berlalu, wajahnya kembali tanpa ekspresi.
Tak pernah sekali pun ia memulai pembicaraan dengan Amora. Suasana di antara mereka terasa begitu asing. Sulit dipercaya bahwa beberapa menit sebelumnya mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Perhatian Amora kemudian beralih ke arah keluarga Bagaskara.
Ia menyadari sesuatu. Sejak resepsi dimulai, Bima Bagaskara, Selia Bagaskara, maupun Asyifa Bunga Bagaskara belum menghampirinya secara pribadi.
Mereka memang tetap berada di lokasi acara, tetapi menjaga jarak dan lebih banyak berbincang dengan tamu undangan.
Amora memahami alasan di balik sikap itu. Bagaimanapun juga, perempuan yang mereka harapkan menjadi menantu keluarga Bagaskara bukanlah dirinya. Ia hanyalah pengganti yang hadir karena keadaan.
Kesadaran itu membuat dadanya terasa semakin sesak. Namun Amora segera menepis pikirannya sendiri. Ia tidak boleh larut dalam perasaan tersebut. Dalam hati ia mengingat kembali wajah Danendra Atmojo dan Fina Atmojo yang semalam begitu putus asa.
Pernikahan ini memang bukan impiannya. Tetapi jika keberadaannya mampu menjaga nama baik keluarga Respati dan menyelamatkan perusahaan yang telah dibangun ayahnya selama puluhan tahun, maka pengorbanan itu akan ia jalani.
Amora menarik napas perlahan. Ia kembali membenahi posisi duduknya sebelum mengangkat wajah saat tamu berikutnya datang memberikan selamat.
"Aku harus kuat," batinnya berulang kali.
"Mungkin hari ini terasa berat. Mungkin setelah ini akan lebih sulit lagi. Tapi aku sudah memilih jalan ini. Dan aku akan menyelesaikannya sampai akhir."
Dengan tekad itu, Amora kembali memasang senyum ramah di wajahnya, menyembunyikan seluruh kegelisahan yang bergejolak di dalam hati agar tak seorang pun menyadari bahwa di balik kemeriahan pesta, pengantin perempuan di atas pelaminan sedang berjuang menerima takdir yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
.
.
.
Sementara pesta pernikahan masih berlangsung meriah di kediaman keluarga Bagaskara, Jelita Arumi Atmojo justru mengurung diri di sebuah kamar kontrakan sederhana yang disewanya secara mendadak sehari sebelumnya.
Ruangan itu terasa sunyi. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan menemani dirinya yang duduk bersandar di tepi ranjang. Wajahnya terlihat pucat, matanya membengkak akibat terlalu lama menangis. Sejak meninggalkan rumah semalam, ia hampir tidak pernah benar-benar memejamkan mata.
Perlahan ia mengambil bingkai foto kecil yang selalu dibawanya ke mana-mana. Foto itu memperlihatkan dirinya sedang tersenyum bersama Amora Dania Respati.
Jemarinya mengusap wajah sang adik yang ada di dalam foto.
"Maafkan Kakak..."
Suara Jelita terdengar serak.
"Kakak tahu keputusan ini membuat semua orang terluka."
Air mata kembali mengalir. Yang paling membuatnya tersiksa bukanlah kemarahan kedua orang tuanya.
Melainkan bayangan Amora.
Ia mengenal adiknya dengan sangat baik. Jika keluarga berada dalam kesulitan, Amora pasti akan mengorbankan kepentingannya sendiri tanpa banyak bertanya. Justru itulah yang paling ditakutinya.
"Jangan bilang... akhirnya kamu yang menggantikan Kakak...." gumamnya pelan.
Dadanya mendadak terasa sesak. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan sambil berusaha mengendalikan tangis.
"Aku benar-benar egois..." bisiknya.
Di sisi lain, ada satu orang yang mengetahui keberadaannya.
Dani Ardianto.
Sebelum meninggalkan rumah, Jelita memang telah menghubungi laki-laki itu.
Namun bukan untuk meminta dijemput. Ia hanya ingin memberi tahu bahwa dirinya memilih menghilang sementara waktu.
Atas permintaannya sendiri, Dani tidak membawanya ke apartemennya. Mereka sama-sama sadar bahwa tempat tinggal Dani pasti menjadi lokasi pertama yang akan didatangi keluarga Atmojo. Karena itu, Dani hanya membantu mencarikan tempat yang tidak mudah ditemukan.
Semalam, Dani bahkan sempat berusaha membatalkan niat Jelita.
"Kamu yakin mau melakukan ini? Tindakanmu bisa membuat keadaan semakin rumit." Laki-laki itu menatap Jelita dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Aku nggak ingin hubungan kita menjadi alasan keluarga kamu hancur, Jelita."
Jelita hanya menggeleng.
"Kalau aku tetap di rumah, besok aku akan menikah dengan laki-laki yang nggak pernah aku cintai. Aku nggak sanggup menjalani hidup seperti itu."
Mendengar jawaban tersebut, Dani memejamkan mata sejenak. Selama lima tahun menjalin hubungan, ia belum pernah melihat Jelita seterpuruk malam itu.
Perempuan yang biasanya selalu tegar itu kini tampak kehilangan harapan.
Pada akhirnya Dani menyerah. Ia menggenggam tangan Jelita erat.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Tapi apa pun yang terjadi setelah ini, kita hadapi bersama."
Kalimat sederhana itu membuat Jelita merasa sedikit lebih kuat. Meski begitu, rasa bersalahnya tidak pernah benar-benar hilang.
Kini, sambil memeluk kedua lututnya di atas ranjang sempit, pikirannya terus kembali kepada Amora. Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa sang adik pasti sedang memikul beban yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.
"Amora..." Jelita menatap foto di tangannya sekali lagi. "Kalau benar kamu harus menggantikanku... Kakak nggak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri."
Tangisnya kembali pecah memenuhi kamar yang sunyi, sementara di tempat lain, kehidupan Amora telah berubah selamanya karena keputusan yang dibuat oleh perempuan yang paling disayanginya itu.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰