Setelah menikah dengan Boy dan tinggal di rumah mewah itu, Pricella yang merupakan adik ipar dari Brian, juga harus memuaskan nafsu kakak iparnya yang memiliki kelainan seksual tanpa sepengetahuan suaminya Boy.
Pricella yang awalnya terpaksa, kini menikmati permainan ranjang sang kakak ipar.
Lalu bagaimana dengan Boy? Apakah skandal antara istri dan kakaknya akan terbongkar?
Yuk ikutin kisahnya dan jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya😀😀
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyonya_Doremi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menceraikan Michel
"A.. Apa maksud kamu Boy. Kenapa kamu berkata seperti itu? Bintang itu anak kamu, darah daging mu. Kamu jangan seenaknya dong lepas tanggung jawab seperti ini," protes Michel yang sakit hati saat Boy tak menganggap Bintang adalah putra kandungnya.
"Haha.. Michel.. Michel.. Entah kamu tidak tau atau hanya sekedar pura-pura tidak tau, tapi kenyataannya Bintang memang bukan anak kandungku," ucap Boy dengan lantang.
***
"Apa buktinya jika Bintang bukan anakmu ha? Kamu jangan asal bicara dong. Kasihan Bintang," jawab Michel berteriak. Ia tak terima jika Boy tak mengakui Bintang sebagai anaknya.
"Kamu mau bukti? Ini buktinya," jawab Boy melemparkan selembar kertas yang diberikan dokter tadi kepadanya.
"Apa ini?" tanya Michel lalu membaca tulisan yang ada di dalam kertas tersebut.
"Kamu baca baik-baik. Disitu di katakan jika Bintang memang satu darah denganku, tapi tidak satu gen. Dokter bilang kemungkinan besar Bintang adalah anak dari kakak atau adikku, dam kamu tau sendiri kan jika aku hanya mempunyai satu kakak, yaitu kak Brian. Sekarang kamu tidak bisa menghindar lagi Michel. Lebih baik kamu jujur saja," jelas Boy membuat kertas yang ada di tangan Michel itu jatuh ke lantai.
"Kenapa? Kamu kaget aku mengetahui semuanya? Kamu ini memang wanita murahan Michel. Sekarang juga aku ceraikan kamu. Brian yang akan menikahi mu," ucap Boy membuat Michel terdiam jatuh ke lantai.
"Gak.. Boy gak boleh ceraikan aku. Aku sudah berjuang sejauh ini, aku tidak bisa kehilangan Boy. Aku gak bisa," gumam Michel bangkit lalu menyusul Boy ke dalam kamar mereka.
"Boy, kamu mau kemana? Aku tidak mau bercerai dengan mu Boy. Boy aku mohon maafkan aku. Aku janji tak akan mengulangi kesalahanku lagi Boy. Boy aku mohon jangan pergi. Kasihan Bintang," rengek Michel mencoba menghalangi Boy yang sedang mengemas pakaiannya.
"Aku tidak peduli lagi dengan mu atau pun dengan Bintang. Dia bukan anakku, dan kamu bukan lagi istriku," jawab Boy mendorong Michel ke kasur laku pergi meninggalkan apartemen miliknya itu.
"Boy tunggu Boy. Jangan pergi. Boy," teriak Michel sembari menangis terisak-isak.
"Sial, kenapa semuanya bisa terbongkar? Ini semua gara-gara Brian. Aku tak sudi menikah denganmu Brian. Aku tak sudi," ucap Michel menghempaskan semua barang-barang yang ada di hadapannya.
Untuk sesaat, apartemen yang semulanya rapi itu, kini sudah menjadi berantakan seperti kapal pecah.
Sementara itu, tak lama setelah Boy pergi, pintu apartemen itu di ketuk oleh seseorang dari luar.
"Siapa?" teriak Michel dari dalam.
"Ini aku Brian. Michel buka pintunya," jawab Brian dari luar.
"Itu dia si biang keroknya. Aku akan memberinya pelajaran," ucap Michel bangkit lalu membukakan pintu untuk Brian.
Plak
Satu tamparan dari Michel mendarat mulus di pipi Brian. Laki-laki itu begitu kaget dan meraba pipinya yang terasa panas karena tamparan dari Michel.
"Kenapa kamu menamparku?" tanya Brian masih mengusap pipinya.
Terlihat sedikit darah dari sudut bibirnya yang robek akibat kerasnya tamparan dari Michel.
"Kenapa kamu bilang? Kamu masih bisa bilang kenapa?" tanya Michel dengan tatapan berapi-api.
"Jadi Boy sudah mengatakannya padamu? Michel aku..," jawab Brian langsung di sela oleh Michel.
"Tak hanya mengatakannya, Boy bahkan telah menceraikan aku. Ini semua gara-gara kamu Brian. Gara-gara kamu. Sia-sia perjuanganku selama ini. Kalau saja kamu tidak menyentuhku waktu itu, aku pasti bisa hamil darah daging Boy. Bukan darah daging mu," teriak Michel frustasi.
"Michel sudah. Semuanya sudah terjadi. Lagipula bukankah kamu juga ikut menikmatinya waktu itu?" jawab Brian yang juga tidak terima jika ia harus disalahkan dalam masalah ini.
"Itu semua karena kamu selalu saja merayuku. Kamu itu memang bajingan," balas Michel masih emosi.
"Sudahlah Michel. Ikhlaskan saja. lagipula, cepat atau lambat Boy pasti akan menceraikan kamu juga, karena dia sama sekali tidak mencintaimu. Cintanya itu hanya untuk Cella. Memangnya, kamu bahagia apa hidup dengan laki-laki yang tidak mencintaimu sama sekali," ucap Brian mencoba meredam emosi Michel.
"Aku tidak peduli apakah Boy mencintaiku atau tidak. Yang terpenting adalah dia menjadi suami dan juga ayah untuk Bintang," jawab Michel yang sudah di buta kan oleh cinta.
"Hah.. Kamu ini benar-benar sudah gila Michel," ucap Brian tak habis pikir.
"Aku memang sudah gila Brian. Aku memang sudah gila," teriak Michel.
"Baik, jika kamu memang sudah gila, aku akan bawa Bintang pergi dan tinggal bersamaku. Dia itu anakku. Aku tidak rela jika dia di asuh oleh Ibu yang gila sepertimu," ucap Brian menyampaikan maksud dan tujuannya ke apartemen Boy.
"Haha.. Kamu mau ambil Bintang? Silahkan ambil. Bawa dia, aku tidak peduli. Silahkan kamu bawa anakmu dan cari kan ibu untuknya. Aku tidak sudi membesar kan darah daging mu Brian. Aku jijik," jawab Michel seketika mendapat tamparan keras dari Brian.
"Dasar ibu kurang ajar kamu Michel. Jika kamu memang tidak mau merawat Bintang, setidaknya jangan hina anakku. Dasar ibu tak punya hati kamu. Teganya kamu mengatakan jijik dengan darah daging mu sendiri. Pantas saja Boy tidak mau mencintaimu," ucap Brian lalu berdiri dan mengambil Bintang di kamarnya.
Tak menunggu waktu lama, Brian kemudian pergi dan meninggalkan Michel sendiri di apartemen yang telah berantakan itu. Niat awalnya untuk membicarakan hal ini baik-baik tidak di sambut baik oleh Michel. Padahal awalnya, jika Michel menerimanya baik, ia mau menerima Michel menjadi istrinya.
Beberapa saat kemudian, saat di perjalanan, Brian dibuat panik dengan ulah Bintang yang selalu saja menangis.
Ia kemudian menepikan mobilnya dan membawa Bintang keluar dari mobil miliknya.
Berkali-kali Brian mencoba mendiamkan Bintang, namun bayi tampan itu tetap saja menangis.
"Kenapa mas anaknya?" tanya seorang wanita berhijab dengan keranjang berisikan kue-kue di dalamnya.
"Saya juga tidak tau mba, tadinya dia anteng di mobil, namun tiba-tiba saja anak saya ini menangis dan tak mau diam," jawab Brian sembari menggoyang-goyangkan badannya agar Bintang berhenti menangis.
"Oo mungkin dia haus mas. Ibunya mana?" tanya wanita tersebut.
"Ibunya ada, tapi dia tidak mau mengurus anak ini. Maka dari itu, saya selaku ayahnya membawa anak ini ikut bersama dengan saya," jawab Brian.
"Ya sudah, kalau begitu tunggu disini sebentar. Biar saya belikan susu untuknya dulu," ucap wanita berhijab itu meninggalkan keranjang berisi kue-kuenya.
"Baik, terima kasih telah membantu," jawab Brian saat wanita itu berbalik arah.
Lima belas menit kemudian, wanita itu kembali dengan membawa satu dus susu dan satu botol susu yang sudah di seduh dengan air. Ia kemudian memberikannya kepada Bintang yang saat itu masih menangis.
Melihat Brian yang kesusahan, wanita itu kemudian mengambil Bintang, lalu menggendongnya dan melanjutkan pemberian susu untuk Bintang.
Seketika Bintang langsung diam dan meminum susunya hingga habis.
moral kalian perlu dipertanyakan