NovelToon NovelToon
Bima

Bima

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Tamat
Popularitas:351.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

Sekuel dari novel Abang Penjual Sate, Imamku dan Ibu pengganti. Selamat membaca.

Seorang bayi yang masih merah, terlempar ke dalam jurang yang dalam. Ia ditemukan oleh wanita paruh baya, istri seorang preman pasar yang disegani. Ia dirawat sepasang suami istri itu dengan penuh kasih sayang walaupun cara didikan keduanya berbeda. Bayi itu diberi nama BIMA.

Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis yang memiliki wajah hampir serupa dengannya. Dengan mempercayai sebuah mitos bahwa jodoh itu pasti memiliki kesamaan, keduanya pun menjalin hubungan pertemanan.

Namun, hal itu membuat ayah angkat Bima ketakutan. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung dan menetap di kota. Hal itu membuat mereka harus mempelajari cara hidup di lingkungan baru itu.

Sampai sebuah pertemuan tak terduga terjadi, menguak siapa sesungguhnya Bima.

"Kak, kenapa wajah kita terlihat sama?" Gadis misterius.

"Kata Nyak gua kalo muka kita mirip ntu artinya kita jodoh. Neng, lu mau kagak jadi bini gua?" Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 25

Dinginnya malam ... tak sedingin manik di depannya. Tajamnya sembilu ... tak setajam sorotan yang menikam telak di jantungnya. Bima menunduk, sama sekali tak berani bersitatap dengan manik renta yang kosong di hadapannya.

Kekecewaan, kesedihan, penyesalan, jelas tergambar di mata Dewa yang semakin tua. Itu sungguh menyakitkan hati Bima. Ia sudah melukai laki-laki yang selama ini menjaganya, menasihatinya agar tak salah langkah.

Namun, godaan jiwa muda tak dapat ia tolak. Keinginan menunjukkan diri pada dunia, begitu menggebu-gebu dalam dada.

"Dari mana lu?" Nada pelan, tapi terdengar dingin menghujam membuat kepala Bima semakin dalam menunduk. Lidahnya kelu tak dapat bergerak untuk mengungkap kata.

"Balapan lagi?" Suara lanjutan Dewa membuat kepala Bima semakin dalam lagi menunduk. Jika bisa ia ingin membenamkan wajah itu ke dalam bumi saja.

Ia bergeming di tempatnya, kedua tangan menumpuk di depan tubuh. Saling meremas, gemetar tubuh Bima karena rasa takut yang kian menguasai dirinya. Ia menggigit daging dalam bibirnya kuat-kuat hingga rasa asin terteguk bersama ludahnya.

Langkah kaki Dewa mengetuk lantai, menggetarkan hati Bima yang sekokoh batu karang di jalanan. Ia memejamkan mata, sekuat tenaga menahan rasa sakit yang sebentar lagi akan ia terima.

Namun, kenyataanya ... sebuah pelukan ia rasakan begitu hangat dan menenangkan. Mungkin sudah waktunya Dewa jujur tentang siapa Bima. Selama dua puluh tahun lebih, keduanya berhasil menyembunyikan fakta bahwa Bima adalah anak temuan mereka.

Dewa melepas pelukan tak lama setelah Bima membalasnya. "Maaf, Beh. Bima janji ini yang terakhir," katanya bersungguh-sungguh. Dewa menepuk-nepuk kedua bahunya, ia merangkul anaknya itu dan membawanya duduk di atas sebuah tikar.

"Nyak?" Bima tertegun melihat Tina yang sudah berdiri dengan matanya yang berkaca. Wanita itu melangkah pelan, kulitnya yang kuning langsat nampak mengendur dengan kerutan di berbagai penjuru. Kedua tangannya menarik tubuh Bima dalam pelukan, menangis Tina saat sadar bayi yang ditemukannya dua puluh tahun silam telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.

"Anak Nyak udah gede. Udah gede ...." Isak tangis Tina kian menjadi. Tak ingin rasanya melepas pelukan dari bayi yang ia besarkan. Jika bisa, ia ingin Bima tetap kanak-kanak agar selalu bersikap manja padanya.

"Nyak ...!" Bima meneteskan air mata, tubuh yang dulu sintal berisi, kini renta dan ringkih. Rambut yang dulu hitam tergerai dengan indah, kini hampir semuanya memutih. Tina menutupnya dengan hijab, ia menyempurnakan dirinya sebagai seorang muslimah beradab.

Tina melepas pelukan, mengusap air mata dan cairan yang mengalir, tersenyum menatap anak yang tak lagi kekanakan itu. Bima termangu, ia tak tahu apa yang sedang terjadi. Ia hanya berpikir karena kenakalan remajanya membuat Tina serta Dewa menjadi sedih.

"Jangan nangis, Nyak. Bima janji kagak bakalan balapan lagi, Bima janji kagak bakalan nongkrong-nongkrong lagi. Bima bakal denger apa yang Nyak, Babeh bilang. Maafin Bima, Nyak." Ia menjatuhkan diri di kaki Tina, memeluk kaki renta wanita yang lihai dalam mendidiknya itu.

Dewa menyeka sudut mata, ia menghisap rokok di tangan meskipun mata terus memanas dan air tak henti menggenangi.

Tina menarik tubuh pemuda itu, ia membawanya duduk bersama Dewa. Keduanya saling pandang, saling menguatkan, untuk mengungkapkan sebuah kenyataan yang harus diterima Bima.

"Nyak ma Babeh mau jujur ma lu, Bima." Dewa membuka kata. Ia mematikan rokok di tangannya, terbatuk sebentar sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Penyakit menggerogoti tubuhnya, akibat kebiasaan buruk di masa muda yang tak dapat ia kontrol. Ia tak ingin semua yang dialaminya akan dialami Bima juga kelak. Mumpung belum terlanjur, pikirnya.

"So-soal apa, Beh?" Otaknya berputar, berpikir apa yang akan dibicarakan Dewa dan Tina, "kalo soal balapan, Bima janji kagak bakalan lagi balapan. Sumpah, Nyak, Beh! Bima kagak bakal balapan lagi mulai ni hari," lanjutnya bersungguh-sungguh dan yakin.

Tina tersenyum, begitu pun dengan Dewa. Bima memandang bingung keduanya, dalam hati berpikir apakah mereka tak percaya pada kesungguhannya?

"Bukan soal ntu, Tong-"

"Terus apa, Beh? Kalo bukan soal ntu apa soal lamaran mpok Munari? Bima kagak mau, Beh. Bima kagak suka, anaknya keganjenan," tolak Bima dengan cepat. Ekspresi wajahnya yang jengah setengah kesal saat teringat wanita bermulut lemes itu melamar dirinya untuk sang anak yang suka tebar pesona ke setiap laki-laki.

Cantik kagak, ganjen iya. Bersungut-sungut Bima dalam hatinya.

Dewa menghela napas, ia melirik Tina yang tersenyum kecil merasa lucu dengan tingkah anaknya meskipun ia sedang menyiapkan hati untuk mengungkap semua kenyataan.

Dewa menggelengkan kepala. Maniknya berubah sendu, riak di wajahnya berbeda dengan malam-malam yang telah mereka lalui bersama. Angin malam itu pun terasa asing saat menyapa tubuhnya.

"Terus apa, Beh? Jangan nakutin Bima, Nyak, Beh. Ngapa Nyak ama Babeh liatin Bima kaya gitu?" ujarnya sedikit beranjak dalam duduk. Detak jantung menyentak dadanya, berdentam menghantam dinding yang menghalanginya.

Manik Bima berputar ke kanan dan kiri, gelisah memperhatikan sikap diam kedua orang tuanya. Tina menunduk, tak kuasa hatinya menyaksikan Bima diadili. Bukan! Tapi dia memang sudah seharusnya tahu siapa sebenarnya dirinya.

Bima semakin linglung manakala melihat tangan renta Tina yang mengusap kedua sudut matanya, sedangkan Dewa di sampingnya berkaca-kaca penuh kesedihan.

"Bima ...." Kata pertama dialunkan Dewa dengan bergetar. Menikam jantung yang sejak tadi tak mau diam berpacu. Menyentak alam fana Bima sehingga berkumpul sepenuhnya di saat itu.

Ia tak menyahut, kedua bibirnya terkunci rapat nyaris tak ada celah terlihat. Bima bukan lagi anak kecil yang tak mengerti suasana apa yang sedang terjadi. Ia mematri tatapan pada manik hitam sang Babeh yang mengarah padanya.

"Sekarang, umur lu udah dua puluh tahun. Lu udah gede, lu udah punya pemikiran yang luas. Lu juga udah bisa bedain mana yang bener mana yang kagak. Apa yang bakal lu denger malam ini, itu memang kenyataan yang kudu lu terima. Siap kagak siap, mau kagak mau, sudi kayak sudi, semuanya kudu kita terima dengan lapang dada," sambung Dewa menahan getar dalam dada.

Sungguh! Pada hakikatnya ia tak rela mengatakan semuanya pada Bima. Biarlah dia tidak tahu apa-apa, dan menganggap semua yang terjadi pada hidupnya memang seperti itu. Namun, kedua lansia itu telah berdiskusi, menyingkirkan ego dalam diri masing-masing untuk membuka semua tabir yang sengaja mereka tutup rapat-rapat.

"Lu dengerin apa yang mau Babeh ma Nyak lu ceritain. Abis itu lu ambil kesimpulan sendiri. Lu udah bisa mutusin sendiri mau gimana selanjutnya. Asal lu tahu, Nyak ma Babeh sayang ama lu, Bima. Nyak ma Babeh bener-bener kagak bisa jauh dari lu." Dewa terisak, tertunduk kepalanya menyembunyikan air mata yang jatuh tak tertahan.

Bima meneguk ludah basi, hatinya teriris melihat kedua orang tua menangis di hadapannya. Ia beringsut menghampiri, memeluk Dewa dan Tina bersamaan. Dikecupnya kedua kepala lansia itu, betapa ia pun menyayangi mereka.

"Bima juga sayang Babeh ma Nyak. Bima bakal dengerin apa yang mau Babeh ma Nyak ceritain, tapi ngapa perasaan Bima kagak enak. Bima sayang Nyak ma Babeh." Bima ikut terisak. Larut ke dalam rasa berbeda malam itu. Dewa dan Tina bergantian menceritakan asal usul Bima.

1
菲菲 Dwi L Arema
G ingat cp dia dlu
菲菲 Dwi L Arema
Dari dlu kenapa aulia ttp bego thor
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
udah bikin aku yg pilek tambah 🤧 ,🤣🤣🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
lah salah bully, anak sultan itu
habis kau Yola dkk 🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
si Akmal kenapa jadi arogan begini 😫
🌹🪴eiv🪴🌹
ya Allah, Ibrahim di gondol anjing 😫
Alhamdulillah masih hidup 🤗
Christina Dariyem
Ya Allah mulianya hati ni orang sekeluarga nyesek banget
Aisy Hilyah: Alhamdulillah
total 1 replies
Christina Dariyem
Sedih banget ampe ikutan mewek dada nysek jg
Aisy Hilyah: terima kasih sudah membaca
total 1 replies
Christina Dariyem
cerita ya bgs banget saya suka sekali baca ini
Aisy Hilyah: Alhamdulillah terima kasih banyak
total 1 replies
Mareew
alur. kisah nya.. semua bagus
Aisy Hilyah: terima kasih banyak
total 1 replies
Mardiati Badri
good enough
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Karmilah Milah
lanjut lagih dong cerita bima seru untuk di baca ngabu burit
Aisy Hilyah: Alhamdulillah hehe terimakasih banyak
total 1 replies
Sri Juliani
akh..ngapa athor begitu romantis dan puitis islami..semoga..bima membawa oran yg dapat menyejukan pembaca...
Aisy Hilyah: aamiin
total 1 replies
Sri Juliani
lama benar author tuk buat tes DNA.ya
Sri Juliani
mudah2 babeh mau berlapang dada..menerima kenyataan yg akan terjadi,jgn sampai karena ke egoisan nyak dan babeh bima jadi benci..
Sri Juliani
hati2 pak dewa..takutnya terjadi percintaan sedara,ayyra ingatkan adikmu,ceritakan pada nassya,agar dia tahu bahwa dia punya kakak laki2..
Yurniati
extra part thorr
Aisy Hilyah: hmm nanti dipikirin lagi hhe
total 1 replies
Yurniati
lanjut thorr
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
sri mindaryati
pas bima ngrokok maskernya dibuka apa ga ya
Aisy Hilyah: dibuka masa dilubangi kayak si kakek 🤭
total 1 replies
Uliana Takbir
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!