Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.
Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.
Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Kota di Atas Tempurung
Angin sejuk berhembus membawa aroma cendana dan obat spiritual saat kereta kencana milik Tuan Muda Yan Qi perlahan bergeser menepi. Di bawah tatapan ribuan kultivator yang masih membeku karena syok, Zeng Niu dan Zhao Ying melangkah santai melewati gerbang perunggu hijau Kota Awan Ungu.
Tidak ada satupun penjaga berzirah perak yang berani meminta biaya masuk atau memeriksa cincin penyimpanan mereka. Di hadapan Plakat Tamu Kehormatan Emas, aturan tidak lagi berlaku.
Begitu melewati gerbang, pemandangan yang menyambut mereka benar-benar membuka mata.
Kota Awan Ungu tidak dibangun di atas fondasi tanah biasa, melainkan menyatu dengan cangkang Kura-kura Kuno Pembawa Gunung yang sedang tertidur pulas. Setiap kali kura-kura purba itu bernapas, seluruh kota akan diselimuti oleh kabut Qi Abadi yang begitu padat hingga hampir mencair menjadi tetesan air.
Jalanan utama dilapisi oleh batu giok putih tanpa cela. Di kiri dan kanan jalan, paviliun-paviliun megah menjulang tinggi, memancarkan cahaya dari berbagai susunan formasi tingkat tinggi. Di pinggir jalan, para pedagang kaki lima menjajakan barang-barang yang bisa memicu pertumpahan darah di Benua Utara.
"Akar Teratai Darah berusia tiga ribu tahun! Hanya sepuluh ribu batu roh tingkat menengah!" teriak seorang pedagang berjanggut panjang.
"Gulungan Formasi Penjebak Jiwa! Dibuat langsung oleh tetua dari Lembah Hantu! Siapa cepat dia dapat!" sahut pedagang lainnya.
Zeng Niu menyapukan pandangannya. Matanya yang tajam mengamati tingkat kultivasi orang-orang yang lalu lalang. Memang benar kata pepatah, di Langit Selatan, seorang Nascent Soul hanya pantas menjadi penjaga toko. Banyak kultivator Soul Transformation Tahap Awal hingga Menengah yang berjalan santai di keramaian.
"Jika mereka ada di sini, Mo Tian dan Wang Chen mungkin sudah mati karena kejang-kejang melihat terlalu banyak mangsa gemuk," gumam Zeng Niu sambil terkekeh pelan.
Zhao Ying meliriknya dari sudut mata. "Jangan bertindak gegabah, Zeng Niu. Langit Selatan memiliki aturan yang dijaga oleh aliansi klan-klan besar. Meskipun kau kuat, bertarung terbuka di dalam kota lelang ini akan mengundang kemarahan ahli tingkat Nirvana yang berjaga dalam kegelapan."
"Tenang saja, Ying'er. Paman Muda ini adalah pedagang yang sangat beradab," Zeng Niu merapikan jubah hitamnya. "Ayo kita cari tempat lelang utama itu."
Di pusat Kota Awan Ungu, berdiri sebuah bangunan pagoda berbentuk teratai yang tingginya mencapai sembilan puluh sembilan lantai. Seluruh bangunan itu terbuat dari Kayu Bintang Jatuh dan memancarkan cahaya ungu yang menenangkan jiwa.
Ini adalah Paviliun Harta Semesta, penyelenggara utama Lelang Kosmik Bintang Tiga.
Di depan pintu masuk raksasanya, ribuan kultivator mengantre dengan tertib. Namun, Zeng Niu tidak memiliki kesabaran untuk mengantre. Ia langsung berjalan menuju jalur khusus yang dijaga oleh dua patung singa emas hidup tingkat Soul Transformation.
Seorang pelayan wanita cantik bertubuh ramping, mengenakan gaun sutra tembus pandang yang memancarkan aura Nascent Soul Akhir, melangkah maju menghalangi jalan mereka dengan senyum sopan namun tegas.
"Tuan yang terhormat, ini adalah Jalur Kehormatan Khusus. Hanya tamu undangan tingkat emas dan para leluhur klan besar yang diizinkan masuk melalui jalur ini. Jika Anda ingin..."
Pelayan itu belum selesai bicara ketika Zeng Niu dengan santai melemparkan Plakat Tamu Kehormatan Emas ke pelukannya.
Begitu melihat ukiran naga kosmik dan fluktuasi Niat Hukum Ruang dari plakat tersebut, wajah pelayan itu langsung berubah drastis. Kesombongan halusnya lenyap tak berbekas, digantikan oleh kepatuhan mutlak. Ia langsung berlutut dengan satu kaki.
"Mohon ampun atas kelancangan mata hamba, Yang Mulia! Silakan ikuti hamba ke Bilik Penilaian VIP di lantai sembilan puluh!" ucap pelayan itu dengan suara gemetar, buru-buru bangkit dan memimpin jalan, membungkuk sangat rendah hingga belahan dadanya terlihat jelas.
Zeng Niu hanya mendengus geli, sementara Zhao Ying menatap pelayan itu dengan pandangan sedingin es abadi yang membuat sang pelayan merinding tanpa sebab.
Lantai Sembilan Puluh – Bilik Penilaian Harta Surgawi
Ruangan itu dihiasi oleh dupa menenangkan yang terbuat dari kayu naga purba. Di balik sebuah meja giok hitam, duduk seorang pria paruh baya yang memiliki sepasang mata berwarna perak bersinar. Ia adalah Penilai Utama Hua, seorang ahli Soul Transformation Tahap Akhir yang memiliki teknik warisan Mata Kebenaran Surgawi.
"Selamat datang, Tamu Terhormat. Saya dengar Anda membawa plakat dari Istana Pusat," sapa Penilai Hua dengan nada hormat namun tetap menjaga wibawanya. Ia menatap Zeng Niu dan Zhao Ying, mencoba menembus penyamaran kultivasi mereka, namun matanya terasa perih seperti tertusuk jarum saat mencoba menatap Dantian Zeng Niu.
"Pemuda ini... fondasinya seperti jurang maut tanpa dasar! Dan gadis di sebelahnya... Niat Es ini berada di luar batas pemahamanku!" batin Penilai Hua, seketika meningkatkan tingkat kewaspadaannya.
Zeng Niu duduk di kursi empuk dari kulit binatang suci. Ia menopang dagu dengan satu tangan, sementara tangan kirinya melambaikan lengan bajunya di atas meja giok tersebut.
KLINTING! KLINTING! KLINTING!
Sebanyak seratus buah Cincin Penyimpanan tingkat bumi berjatuhan, bertumpuk menjadi gunung kecil di atas meja.
"Aku sedang butuh batu roh dalam jumlah besar. Jual barang-barang rongsokan ini," ucap Zeng Niu santai.
Penilai Hua mengerutkan kening. Seratus cincin? Biasa saja. Ia mengambil salah satu cincin, menyalurkan Niat spiritualnya untuk melihat ke dalam, bersiap untuk menilai ramuan atau senjata biasa.
Namun, detik berikutnya, wajah Penilai Hua memucat pasi. Napasnya tercekat. Matanya yang berwarna perak melotot hingga urat darah halusnya pecah!
"I-Ini... Zirah Emas Matahari Surga?!" Penilai Hua tergagap, tangannya gemetar. Ia buru-buru mengambil cincin kedua, ketiga, hingga kesepuluh.
Keringat dingin membasahi punggung ahli Soul Transformation tersebut.
Di dalam cincin-cincin itu, tersimpan dengan rapi seratus ribu set lengkap zirah emas, pedang formasi, dan meriam spiritual. Dan yang membuat jiwanya nyaris terbang adalah ukiran kecil di setiap zirah tersebut: Lambang Naga Api dari Divisi Matahari Darah Istana Pusat!
Ini bukan barang curian biasa. Ini adalah perlengkapan dari pasukan elit kaisar yang konon baru saja diutus untuk membumihanguskan wilayah utara!
"T-Tuan... dari mana Anda mendapatkan perlengkapan militer inti milik Istana Pusat ini?!" Penilai Hua menelan ludah dengan susah payah. "Jumlah sebanyak ini... ini sama saja dengan merampas persenjataan satu legiun penuh! Jika Istana Pusat tahu Paviliun Harta Semesta melelang barang ini, kami akan dituduh sebagai pemberontak!"
Zeng Niu mencondongkan tubuhnya ke depan. Senyumnya yang dingin dan kejam perlahan terbentuk.
Tiba-tiba, ia melepaskan penyamaran kultivasinya. Fluktuasi Soul Transformation Tahap Akhir yang telah dipadatkan oleh Benih Dunia dan Kristal Kekacauan meledak secara lokal di dalam ruangan itu!
Ruangan yang dilapisi formasi pertahanan tingkat Nirvana itu bergetar hebat. Penilai Hua merasa seolah-olah ada sepuluh gunung kosmik yang dijatuhkan tepat ke atas kepalanya.
"Barang rampasan perang," bisik Zeng Niu dengan suara berat yang menggetarkan tulang. "Mereka mengirim armada ke pekaranganku, jadi aku membunuh jenderal mereka dan mengambil baju mereka. Sesederhana itu."
Penilai Hua nyaris pingsan. Membunuh jenderal Istana Pusat?! Menjarah legiun militer kekaisaran?! Orang gila macam apa pemuda ini?!
"Aku datang ke sini karena aku mendengar Paviliun Harta Semesta memiliki moto: Selama benda itu memiliki harga, bahkan kepala Kaisar pun akan kami lelang," Zeng Niu menyipitkan matanya, auranya semakin menekan. "Atau jangan-jangan, moto itu hanya omong kosong dan kalian tidak lebih dari anjing penjaga Istana Pusat?"
Mendengar provokasi itu, ketakutan Penilai Hua berbenturan dengan harga diri paviliunnya. Paviliun Harta Semesta didukung oleh aliansi monster tua dari tiga benua lainnya; mereka memang selalu bersikap netral dan sering kali secara diam-diam menampung barang curian tingkat dewa yang tidak berani disentuh orang lain.
Penilai Hua menarik napas panjang, menekan rasa takutnya. Ia menangkupkan kedua tinjunya ke arah Zeng Niu.
"Yang Mulia sungguh... memiliki keberanian yang menentang surga," ucap Hua dengan senyum kaku. "Baiklah. Kami akan melelangnya. Namun, karena risiko yang luar biasa besar, kami tidak bisa menjualnya secara utuh. Kami akan menghapus lambang Istana Pusat, meleburnya menjadi material Logam Bintang Murni, dan menjualnya dalam bentuk bahan baku formasi. Kami akan mengambil potongan dua puluh persen dari total penjualan."
"Sepuluh persen. Dan sebagai gantinya, kau harus memberikan informasi gratis padaku," tawar Zeng Niu tanpa ampun.
"S-Sepuluh persen... Baiklah. Sepakat," Penilai Hua tidak berani berdebat lebih jauh dengan iblis ini. "Informasi apa yang Yang Mulia inginkan?"
Zeng Niu mengetukkan jarinya ke meja giok. "Aku sedang mencari benda yang disebut Kristal Kekacauan (Chaos Crystal). Aku dengar, benda itu akan muncul di lelang ini?"
Mata Penilai Hua memancarkan keheranan. "Yang Mulia benar-benar memiliki sumber informasi yang akurat. Benar, pada malam puncak lelang lusa, sebuah Kristal Kekacauan berukuran kepalan tangan akan menjadi salah satu dari Tiga Harta Penutup."
Zeng Niu tersenyum puas. "Bagus. Lelang semua rongsokan emas ini, masukkan seluruh hasilnya ke dalam kartu kristalku. Aku akan memborong lelang kalian lusa nanti."
Di Luar Paviliun, Bilik VIP Tertutup
Sementara Zeng Niu sedang melakukan transaksi kotornya, di sebuah kedai teh eksklusif tak jauh dari sana, Tuan Muda Yan Qi dari Klan Pil Emas sedang meremukkan cangkir giok di tangannya. Teh spiritual yang panas mengalir membasahi lengan bajunya, namun ia tidak peduli.
Di hadapannya, dua pria berjubah abu-abu dengan aura Soul Transformation Tahap Akhir berdiri menunduk. Mereka adalah tetua pembunuh rahasia milik klannya.
"Cari tahu siapa pemuda berjubah hitam itu! Dari klan mana dia berasal! Dari sekte mana dia muncul!" raung Yan Qi, wajahnya terdistorsi oleh amarah dan rasa malu akibat kejadian di gerbang kota tadi. "Dia mempermalukanku di depan ribuan kultivator! Klan Pil Emas tidak pernah menelan penghinaan seperti ini!"
Salah satu tetua pembunuh maju selangkah. "Tuan Muda, kami telah menyuap salah satu pelayan paviliun. Pemuda itu dan wanita bergaun putih di sampingnya memasuki Jalur Kehormatan Khusus menggunakan Plakat Emas. Namun, logat dan pakaian mereka... sepertinya mereka bukan penduduk asli Langit Selatan, melainkan berasal dari Benua Utara yang miskin."
"Benua Utara?" Yan Qi tertegun, lalu tawa sinis yang luar biasa dingin meledak dari mulutnya.
"Hahaha! Seekor semut dari perbatasan beku berani bersikap arogan di depanku hanya karena ia memegang plakat yang entah ia curi dari makam mana?!" Yan Qi mengusap sisa air teh di tangannya.
"Tetua Bayangan! Awasi mereka selama lelang berlangsung. Jangan bertindak di dalam kota, kita tidak boleh memancing kemarahan penjaga paviliun. Biarkan pemuda barbar itu bersenang-senang di acara lelang."
Mata Yan Qi memancarkan Niat Membunuh yang pekat.
"Begitu lelang selesai dan mereka melangkah keluar dari gerbang Kota Awan Ungu... aku ingin kalian memotong kedua kakinya, mencabut lidahnya, dan membawa wanita es di sampingnya itu ke kamarku!"