"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : SUARA DI BALIK BAYANG
Aroma mint yang tajam dan sentuhan dingin di dahinya perlahan menarik kesadaran Lulu dari kegelapan pekat.
Mata Lulu terbuka perlahan. Pandangannya kabur hanya menangkap siluet tegap seorang pria yang sedang berlutut di sampingnya. Bayangan perundungan masa SMA dan sosok misterius di gudang tadi kembali menjejali pikirannya.
"J-jangan mendekat!" jerit Lulu histeris sambil memeluk dirinya sendiri, berusaha mundur ketakutan.
"Tenang! Ini saya!"
Sebuah suara berat dan tegas menahan bahu Lulu, mencegahnya menabrak sudut rak besi yang tajam. Saat penglihatannya kembali fokus, bayangan menakutkan itu sirna menguak sosok Angga yang menatapnya dengan raut wajah penuh kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan.
Lampu sorot darurat kecil dari ponsel Angga menyinari wajah Lulu yang pucat pasi dan basah oleh keringat dingin. Tubuh wanita itu masih gemetar hebat.
"Pak... Angga?" suara Lulu tercekat, napasnya masih terengah-engah.
"Kamu pingsan. Lampu gudang korsleting" kata Angga. Suaranya kembali diusahakan sedatar mungkin, tetapi cengkeraman tangannya di bahu Lulu terasa begitu erat dan protektif.
"Kenapa kamu berteriak ketakutan seperti itu? Kamu punya claustrophobia?"
Lulu menggeleng pelan, enggan membeberkan trauma masa lalunya.
"T-tadi... saya mendengar suara langkah kaki mendekat, Pak. Saya pikir..."
Angga memicingkan mata, melirik ke sekeliling lorong gudang yang sunyi dan remang.
"Langkah kaki? Itu langkah kaki saya. Saya kembali ke gudang karena berkas penting saya tertinggal di meja kamu, dan saya mendengar kamu berteriak"
Seketika Lulu merasa bodoh sekaligus lega yang luar biasa. Jadi langkah cepat di tengah kegelapan tadi adalah Angga, bukan sosok pembunuh atau perundung dalam bayangannya.
"Bisa berdiri?" tanya Angga singkat.
Lulu mencoba bertumpu pada kakinya, tetapi lututnya yang lemas langsung menyerah. Ia hampir tersungkur jika saja lengan kekar Angga tidak dengan cepat menyergap pinggangnya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun dan tanpa memedulikan protes pelan dari Lulu, Angga menyusupkan tangan satunya di bawah lipatan lutut Lulu. Dalam satu gerakan mantap, Angga mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya (bridal style).
"P-pak! Saya bisa jalan sendiri"
"Diam," potong Angga dingin, meski napas hangatnya yang berembus di pelipis Lulu membocorkan detak jantungnya yang berdebar tak beraturan.
"Kamu lemas. Jangan membantah kalau tidak mau saya jatuhkan"
Lulu akhirnya membisu, menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga. Di sana, di balik kemeja navy yang rapi, Lulu bisa mendengar detak jantung sang Manajer yang terasa cepat seolah pria dingin itu baru saja berlari ketakutan setengah mati.
Angga membawa Lulu ke ruang kerjanya yang menyala terang oleh lampu darurat pribadi. Ia meletakkan Lulu dengan hati-hati di sofa empuk tempat biasanya ia menerima tamu VIP.
Angga berlalu sejenak dan kembali membawa segelas air hangat serta secangkir teh manis. Ia menyodorkannya pada Lulu, lalu mengambil duduk di sofa seberang.
"Minum," perintahnya singkat.
Lulu menyesap teh manis itu perlahan. Rasa hangat menyapu kerongkongannya, perlahan meredakan gemetar di tangannya.
"Terima kasih, Pak... dan maaf saya malah merepotkan"
Angga menatap Lulu dalam diam. Dari jarak sedekat ini tanpa tumpukan dokumen yang membatasi, Angga baru menyadari betapa ringkihnya wanita yang selama ini selalu pasang badan untuk kesalahan orang lain. Di balik kacamata tebalnya, mata Lulu memancarkan kepolosan dan ketulusan yang langka sesuatu yang sudah lama tidak Angga lihat sejak Anna pergi.
Anna... Nama itu mendadak melintas di benak Angga, tetapi anehnya bayangan Anna kali ini samar dan tertutup oleh rasa khawatir yang asing terhadap wanita di hadapannya saat ini.
"Kenapa kamu selalu mau menanggung kesalahan Indah?" tanya Angga tiba-tiba, memecah keheningan. Ton suaranya tidak lagi ketus, melainkan dipenuhi rasa ingin tahu yang dalam.
Lulu menunduk, memainkan jemarinya di cangkir.
"Indah tidak jahat, Pak... dia hanya kurang paham. Lagipula, saya pengawasnya. Kalau dia gagal, berarti saya juga gagal membimbingnya"
Angga tertawa kecil sebuah tawa samar dan tipis yang baru pertama kali Lulu dengar selama dua tahun bekerja di sana. Ketampanan Angga saat tersenyum begitu menyihir hingga membuat Lulu terpaku.
"Kamu terlalu baik, Lulu. Di dunia kerja terutama di bawah pengawasan saya kebaikan tanpa batas cuma akan dijadikan keset oleh orang lain" ujar Angga pelan, namun matanya menatap Lulu dengan intensitas yang membuat napas Lulu tertahan.
Angga berdiri, mengambil jasnya yang tersampir di kursi kerja.
"Kerja malam ini selesai. Simpan semua berkas itu. Saya yang akan mengantar kamu pulang"
Lulu mendongak kaget "Tapi, Pak, barang-barang di gudang belum selesai dicek"
"Itu perintah, bukan penawaran" potong Angga tegas sembari meraih kunci mobilnya.
"Saya tidak mau bertanggung jawab kalau bawahan saya mati pingsan di gudang hanya karena terlalu keras kepala"
Saat Angga berjalan mendahuluinya menuju pintu, Lulu terdiam di tempatnya. Di balik sosok atasan bertangan besi yang sangat ditakuti seluruh karyawan, malam ini Lulu melihat celah kecil dari perhatian yang disembunyikan Angga rapat-rapat.
Namun, saat mereka melangkah keluar dari gedung kantor yang sepi menuju area parkir yang remang, dari kejauhan di balik bayang-bayang pohon tua di seberang jalan sepasang mata di balik topeng hitam polos terus mengawasi setiap pergerakan mereka dengan dingin.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..