Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan yang Sangat Memuakan
Rafa langsung menerjang ke depan, menyambut tangan ayahnya dan menggenggamnya erat-erat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah, mengalir deras membasahi pipinya. Rasa sakit, penyesalan, dan amarah bercampur menjadi satu dalam isak tangis yang memilukan.
"Ayah... kenapa Ayah ke sini? Ayah baru saja dari rumah sakit... Ayah harusnya istirahat..." racau Rafa di sela-sela tangisannya, mencium punggung tangan ayahnya yang dipenuhi bekas jarum infus.
Pak Pamuji menggelengkan kepalanya perlahan, air mata tua mengalir deras membasahi pipinya yang keriput. "Bagaimana bisa aku beristirahat, Rafa... saat tahu putri kesayangan Ayah menderita di tempat kotor seperti ini? Bagaimana bisa Ayah tinggal diam di rumah sakit saat mereka memfitnahmu dan merebut segalanya darimu?"
"Ayah... Ibu..." Rafa terisak semakin kencang, suaranya pecah. "Ibu diculik, Yah... Zaskia dan Evan... mereka membawa Ibu ke Puncak. Zaskia bilang... Ibu tidak akan kembali..."
Mendengar hal itu, Pak Pamuji tertegun. Meskipun pihak kepolisian sempat mencoba menutupi kabar buruk tersebut untuk menjaga stabilitas mentalnya yang baru pulih, seorang ayah memiliki ikatan batin yang tidak bisa dibohongi. Pak Pamuji sudah menduganya, namun mendengar langsung dari mulut Rafa membuat hatinya seperti dihujam ribuan belati tajam.
"Ayah tahu, Nak..." ucap Pak Pamuji dengan suara parau yang amat menyayat hati. Ia menempelkan dahinya ke jeruji besi, membiarkan air matanya menetes ke lantai. "Ayah tahu ibumu sedang berjuang di luar sana. Dan sekarang, tugas Bapak adalah memastikan kamu tidak merasa sendirian di tempat ini."
"Kita dikalahkan oleh orang-orang keji itu, Yah..." jerit Rafa pelan, menyandarkan kepalanya di tangan ayahnya. "Mereka punya uang, mereka punya kekuasaan. Kita tidak punya apa-apa."
"Kita punya kebenaran, Rafa," jawab Pak Pamuji dengan sisa ketegasan seorang ayah. Ia mengangkat tangannya yang lain, menyentuh lembut pipi putrinya yang basah oleh air mata. "Meskipun dunia ini berpihak pada mereka yang punya uang, keadilan yang sejati tidak akan pernah buta. Jangan pernah menyerah, Nak. Jangan biarkan mereka melihatmu hancur."
Ayah dan anak itu menghabiskan waktu beberapa menit dalam dekapan jeruji besi, saling menguatkan di tengah badai kehancuran yang diciptakan oleh keluarga Wirya Negara. Tidak ada kata-kata lain yang keluar, hanya isak tangis dan genggaman tangan yang semakin erat, menjadi satu-satunya benteng pertahanan bagi mereka berdua.
****
Namun, waktu kunjungan yang singkat itu harus berakhir.
Seorang petugas kepolisian berjalan mendekat dengan wajah tanpa ekspresi, lalu mengetuk dinding besi dengan pentungannya. "Waktu besuk habis! Tahanan kembali ke dalam, dan pengunjung harus segera meninggalkan area ini!"
"Pak... sebentar lagi..." mohon Rafa, menatap petugas itu dengan mata penuh air mata.
"Tidak ada waktu lagi, Nona. Aturan tetap aturan," bentak petugas tersebut.
Pak Pamuji menarik napas panjang, berusaha menegakkan tubuhnya yang terasa remuk. Ia menangkup wajah Rafa di balik jeruji besi, mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang. "Ayah harus pergi, Nak. Tapi Ayah akan datang lagi. Bapak akan mencari cara untuk mengeluarkanmu dari sini. Jaga dirimu baik-baik."
"Ayah... hati-hati di jalan..." rintih Rafa saat melihat ayahnya perlahan bangkit dengan bantuan tongkatnya dan berjalan menjauh menyusuri lorong penjara, meninggalkan bayangan punggung yang semakin membungkuk.
Rafa terus menatap kepergian ayahnya hingga sosok Pak Pamuji benar-benar hilang di balik pintu besi, meninggalkan dirinya sendiri di dalam sel yang dingin dan sunyi.
****
Namun, saat ia hampir mencapai gerbang keluar, langkahnya terhenti.
Di dekat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam yang terparkir tepat di depan halaman kantor polisi, dua sosok wanita berdiri dengan postur tubuh yang sangat angkuh. Zaskia Mulandari dan Nena Apriandini.
Zaskia mengenakan mantel bulu hitam yang elegan, sementara Nena berdiri dengan tangan dilipat di dada, memancarkan aura kebencian yang murni. Begitu melihat Pak Pamuji keluar dari gerbang, seringai jahat langsung terukir di bibir mereka berdua.
Pak Pamuji mengepalkan tangannya di atas tongkat kayunya. Ia menatap kedua wanita itu dengan sorot mata yang penuh dengan kemarahan yang tertahan. Ia tidak berniat meladeni mereka; ia hanya ingin segera pulang dan mencari kabar tentang istrinya.
Namun, Zaskia sengaja melangkah maju, memotong jalan Pak Pamuji dengan gaya yang sangat meremehkan.
"Wah, wah, wah..." suara Zaskia melengking tinggi, memecah kesunyian malam di depan kantor polisi. Ia menepuk-nepukan kedua tangannya dengan sarkastik. "Lihat siapa yang baru saja keluar dari kandang babi. Si tua bangka yang tidak tahu malu!"
Nena ikut mendekat, berdiri di samping Zaskia dengan dagu terangkat tinggi, menatap Pak Pamuji dari atas ke bawah seolah pria tua itu adalah makhluk terendah di bumi. "Bagaimana rasanya, Pak Tua? Menengok anakmu yang janda, mandul, dan kini menjadi seorang narapidana? Apakah itu pemandangan yang indah untuk hari tua kalian?"
****
Pak Pamuji menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan gemetar di tangannya. Ia menatap tajam ke arah Zaskia. "Kalian... kalian adalah wanita-wanita iblis yang tidak punya hati. Tuhan tidak akan pernah tidur melihat kejahatan yang kalian perbuat."
Zaskia mendengus keras, lalu tertawa histeris. Suara tawanya terdengar begitu nyaring dan melengking, mencerminkan kegilaan dan rasa superioritas yang berlebihan.
"Tuhan?!" Zaskia tertawa semakin kencang, menunjuk-nunjuk wajah Pak Pamuji dengan jari telunjuknya yang dihiasi kuku palsu yang tajam.
"Jangan bawa-bawa Tuhan ke sini, Pak Tua! Kalau Tuhan memang ada di pihak kalian, kenapa anakmu sekarang meringkuk di penjara dan istrimu hilang entah ke mana di tengah hutan?! Hah?!"
Zaskia melangkah lebih dekat, memperkecil jarak hingga wajahnya nyaris menempel pada wajah Pak Pamuji yang sudah tua renta. Matanya melotot tajam, penuh dengan dendam kesumat.
"Dengar ya, tua bangka! Kamu, anakmu, dan istrimu hanyalah sampah-sampah masyarakat yang berani mencari masalah dengan keluarga Wirya Negara! Dan sampah, selamanya akan tetap menjadi sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan!"
****
Nena ikut tergelak, tawanya yang parau terdengar seperti suara burung hantu di kegelapan malam. "Sudahlah, Zaskia. Jangan buang-buang tenaga bicara dengan orang bodoh seperti dia. Paling-paling, sebentar lagi dia juga akan menyusul anak dan istrinya ke dalam kubur karena stres memikirkan utang dua miliar dan rasa malu keluarga mereka!"
Zaskia menatap Pak Pamuji dengan seringai sadis yang mengerikan. "Selamat malam, Pak Tua. Sampaikan salamku pada anakmu di penjara. Bilang padanya, tidurlah yang nyenyak, karena mimpi buruknya baru saja dimulai!"
Setelah melontarkan kalimat-kalimat beracun itu, Zaskia dan Nena berbalik dengan anggun, mengibaskan rambut mereka, lalu masuk ke dalam mobil mewah yang langsung tancap gas meninggalkan awan debu di hadapan Pak Pamuji.
Pak Pamuji berdiri mematung di bawah terangnya lampu jalan. Kakinya yang lemah tidak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia jatuh berlutut di atas aspal yang basah, sementara air mata tua kembali tumpah membasahi pipinya. Ia tidak peduli pada hinaan mereka, namun rasa tidak berdaya karena tidak bisa melindungi keluarganya adalah siksaan yang paling berat bagi seorang suami dan ayah.
Ia mengangkat wajahnya menatap langit malam yang kelam, mengangkat kedua tangannya dengan derai air mata.
"Ya Allah..." bisik Pak Pamuji dengan sisa tenaganya, sebuah doa yang dipenuhi dengan kepedihan yang mendalam. "Lindungi anakku... dan berikan keadilan bagi kami..."