Reynand Adam merupakan Adik kelas dari Naura Jovanka. Mereka terlibat cinta, namun Jovanka dijodohkan dengan laki-laki lain dan Rey meneruskan sekolah di sekolah penerbangan untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang pilot. Akankah cita-cita Rey menjadi seorang pilot terlaksana? dan bagaimana ceritanya Rey sampai menikahi seorang Janda?
Ikuti kisahnya dan jangan lupa LIKE/KOMEN/VOTE cerita Gue, ya? Itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis.
Hatur Nuhun,
Boezank Jr. (Darren_Naveen)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25 (Dijodohin)
Terlihat semburat merah pada pipi gadis yang bernama Princess. Ia tersenyum malu ketika melihat Reynand.
“Aku Rey, saudaranya Nana. Ya udah, kalian masuk gih. Entar telat lagi,” ucap Reynand.
“Iya. Nanti jemput Nana ya, bang?”
“Oke! WA aja. Abang lanjut balik, ya?”
“Iya. Hati-hati bawa mobilnya!” Teriak Rhiena ketika Rey melaju bersama mobil mewah miliknya.
Rhiena dan Princess berjalan menuju koridor sekolah. Melewati deretan kelas yang tersusun rapi dan kumpulan siswa yang sedang berkerumun di depan kelasnya.
“Na?” Panggil Princess.
“Apa?”
“Beneran, itu abang kamu?” tanya Princess memastikan.
“Iya, emang kenapa?” Rhiena bertanya heran.
“Gak papa, sih.” Tutup Princess.
Hening.
Langkah kaki dua gadis ini telah menuju ke arah kelas. Suasana di setiap kelas masih ramai dengan berbagai canda tawa yang menghiasi setiap sudut kelas, hingga bel berbunyi pertanda kelas akan segera dimulai.
Rhiena dan Princess duduk di meja yang sama. Kursi mereka berdampingan. Guru pengajar masih belum masuk, sehingga di kelas itu terdengar sangat berisik.
“Na,” panggil Princess.
“Iya.”
Rhiena menutup bukunya dan memandang ke arah Princess yang entah mau ngomong apa.
“Sebenarnya, abang kamu udah punya pacar atau belum?” tanya Princess dengan sedikit ragu.
“Entah. Sepengetahuanku, bang Rey belum pernah jalan bareng cewek.” Terang Rhiena.
“Masa sih?” Mata Princess membulat.
Rhiena menganggukkan kepala.
“Na? Bantuin aku deket sama abangmu dong.” Pinta Princess.
Mata Rhiena menyipit. “Seriusan, suka sama si abang?”
Princess mengangguk.
***
Di sisi lain ada Jovanka yang semakin dekat dengan Alexy. Mereka sering mengobrol.
Ternyata Alexy bukan laki-laki yang buruk, umpat hati Jovanka.
Alexy merupakan sosok laki-laki yang baik, perhatian, dan penyayang. Tak ayal, Jo mulai mencoba menerima kehadiran Alexy dalam hidupnya.
Sekitar satu minggu Jo tidak bertemu dengan Rey. Kini, hatinya mulai ia buka untuk Alexy.
Malam ini, Jo akan ke rumah Alexy untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
Ting tong ....
Suara bel berbunyi.
Jo yang sudah siap-siap kini turun menapaki anak tangga dan menemui tunangannya itu yang sedang terlihat mengobrol dengan kedua orang tuannya.
Alexy memang pandai memikat hati orang tua Jovanka. Mereka mengobrol dengan sangat intim dan sesekali di hiasi dengan canda tawa pada wajah mereka bertiga.
Apakah aku salah telah memberikan kesempatan pada Om Alexy? Umpat dalam hati Jovanka.
Menurutnya, Rey tidak bisa berada sedekat itu dengan keluarganya. Sehingga ia memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan dengan Alexy.
“Om Alex.” Jo memenggil namanya.
Alexy mendongak.
Wajahnya kini berpaling ke arah Jovanka dan terbelalak melihat penampilan Jovanka yang menurutnya bisa berpenampilan layaknya orang dewasa.
“Cantik."
Bibirnya berucap tatkala ia melihat penampilan Jovanka.
Jo tersipu malu mendengar Alexy telah memuji dirinya. Terang saja, Rey bukan tipikal cowok seperti itu. Karena Rey menganggap dirinya hanya berstatus siswa. Yang ada dalam pikiran Rey pada saat ini hanya belajar. Fokus belajar dan belajar. Berbeda dengan Jovanka yang ingin agar Rey bisa seperti Alexy, yang dapat berbagi banyak waktu dengannya.
“Udah siap?” tanya Alexy.
Jo menganggukkan kepalanya.
“Ya udah. Om, tante. Alex pamit dulu, ya?” ucap Alexy.
“Iya. Hati-hati ya, Nak Alex,” ucap Meli.
Alexy dan Jovanka melesat menggunakan mobil menuju rumah kediaman Abinaya.
Rumah yang besar dan mewah, kini terlihat oleh pandangan Jovanka yang masih di dalam mobil itu.
Cklek.
Alexy membuka pintu rumah.
Rumah yang besar itu terlihat mewah, dengan perabotan yang mewah telah mengisi bagian dalam rumah itu. Rumah yang di dominasi dengan warna putih menambah kesan bersih dan nyaman.
“Selamat datang di rumah kami, Nak Naura,” ucap Nadia yang tak lain ibu dari Alexy.
“Makasih, tante.”
Naura tersenyum walau sesungguhnya hatinya gugup. Sambutan hangat telah didapatkan oleh Jovanka dari keluarga besar Abinaya.
Mereka menuju ruang makan. Dimana telah banyak tersaji menu makanan yang melimpah dengan segala jenis masakan. Di meja makan telah berkumpul keluarga Abinaya. Ada Nadia (ibu Alexy), Michael (Papanya Alexy), Angel (Tantenya Alexy) dan seorang anak kecil yang menyita perhatian Jovanka, usianya sekitar lima tahun namanya Maynard Olsend (Ponakan Alexy/anak Angel).
Mereka semua menyambut baik kedatangan Jovanka pada malam itu. Canda tawa telah memenuhi atmosfer meja makan. Terlebih dengan bocah laki-laki yang menggemaskan di mata Jovanka.
.
“Pamit ya, om, tante?” ucap Jovanka.
“Iya sayang. Sering-sering datang kemari ya, Nak,” ucap Nadia.
Jovanka tersenyum.
Namun, dari arah belakang. Sosok bocah laki-laki kecil telah berlari menghampirinya.
“Kakak jangan pergi,” ucap Olsend yang memeluk kaki Jovanka.
Jovanka merundukkan tubuhnya. Bahkan, kakinya kini menyentuh lantai untuk menyejajarkan dirinya dan bocah kecil itu.
“Ini udah malam, sayang. Kakak harus pulang.” Jovanka mencoba menjelaskan.
“Tapi, kapan kakak bisa ke sini lagi?” tanya Olsend polos.
“Kapan-kapan ya, sayang. Kakak masih sibuk sekolah.”
“Ya udah deh. Olsend tunggu kakak di rumah kakek, ya?” ucapan polos dari Olsend.
Jovanka tersenyum, membelai pipi dan memeluk anak kecil itu.
Entah mengapa, Olsend langsung dekat pada sosok Jovanka. Padahal, ia baru bertemu dengan Jovanka. Mungkin karena Angel (Mamanya) selalu sibuk bekerja di rumah sakit. Angel juga merupakan seorang dokter. Ia berstatus janda beranak satu, suaminya telah meninggal dunia karena sakit.
***
“Ma, sebenarnya mama sakit apa, sih?” tanya Rey pada Nadin.
“Mama hanya rindu kamu sayang. Terlebih, waktu lalu mama mimpi buruk tentang kamu,” jelas Nadin.
Deg!
Jantung Reynand berdegup kencang. Ia teringat ketika papanya Jovanka tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk mendekati putrinya yang bernama Jovanka.
Sakit.
Sakit memang hati Reynand pada saat itu. Cintanya terhalang oleh restu orang tua sang gadis. Tapi, Rey sadar diri kalau ia hanya seorang siswa, Rey menerima dengan lapang dada.
Suatu saat aku akan buktiin kalau aku pantas untuk Jovanka, aku yang bisa membahagiakan dia! Pekik dalam hati Reynand.
“Rey baik-baik aja, mam.” Elak Reynand.
“Rey, kamu bisa sekolah di Jakarta kan? Mama mau kamu lebih deket sama mama, sama Nana juga.” Pinta Nadin.
“Insya Allah, ma. Rey udah keterima sekolah di DFS,” jelasnya.
“Beneran?”
“Iya, Rey di daftarkan temen, ia daftar masuk sekolah di sana. Tanpa Rey tahu, dia masukin data Rey juga. Sampai akhirnya ada pengumuman kalau Rey juga keterima di DFS sebagai salah seorang penerima beasiswa.”
Nadin menghampiri Rey yang sedang duduk di depannya namun terhalang oleh meja. Ia memeluk putranya. “Mama bangga sama kamu, Rey!” ucap Nadin ketika ia mendekap hangat putranya.
Rey tersenyum dalam dekapan Nadin.
.
“Ya udah mam, Rey mau jemput Nana. Dia udah WA. Jangan diforsir kerjanya ya, ma?” pesan Reynand.
“Iya, sayang. Hati-hati bawa mobilnya. See you at home, Rey!”
Rey berjalan melewati meja yang tersusun rapi dalam kantor. Dering telepon tak henti-hentinya berbunyi. Semua karyawan kantor Nadin tampak sibuk. Rasa bangga tersemat dalam hati Rey untuk Nadin. Ia bisa mengelola perusahaan sebesar ini seorang diri. Ia berjanji pada dirinya sendiri, suatu saat ia akan membahagiakan Nadin dan Nana yang entah dengan cara apa.
Setiap senyum dan sapa terlontar untuk Rey dari karyawan yang ada dalam kantor itu. Hingga sampailah Reynand ke lobi dasar yang terdapat banyak mobil yang terparkir.
Rey memacu mobil merah itu dan melesat menuju sekolah Rhiena.
Rhiena terlihat sedang bercengkerama dengan Princess sahabatnya di halte sekolah.
“Balik sekarang, Na?” tanya Rey dalam mobil.
Rhiena menoleh, “iya bang. Tapi anterin dulu Princess ke rumah, ya?” Pintanya.
“Oke!”
Rhiena dan Princess masuk dalam mobil merah itu. Namun, ada hal yang berbeda yang membuat dahi Reynand mengernyit. Rhiena malah duduk di belakang, sedangkan Princess duduk di samping Reynand.
Rey menatap Rhiena dari kaca spion dalam, mendelik pada adik kembarnya. Rhiena hanya tersenyum sambil mengangkat dua jarinya. Tanpa ada omongan, Rey memacu mobil merah itu.
Di dalam mobil, Rhiena malah asyik dengan gawainya sedangkan Rey berfokus pada kendali mobil.
“Kak, di perempatan depad belok kanan, ya?” ucap Princess memecah keheningan.
“Oke!”
Rey membelokkan mobilnya sesuai dengan arahan dari Princess. Sampai akhirnya, mobil itu berhenti di sebuah rumah yang cukup mewah di kawasan elite di ibu kota.
“Mampir dulu, kak? Nana?” ucap Princess.
“Makasih, Princess. Mungkin lain waktu,” jawab Reynand.
“Yaudah, makasih ya kak udah anter aku sampai rumah?"
Rey tersenyum.
Senyum Rey membuat spot jantung bagi Princess hingga kakinya terpaku mematung dalam mobil. Princess menatap mata sipit Reynand.
“Kamu gak jadi turun?” Goda Rhiena.
“Eh, iya. Maaf.” Wajah Princess memerah.
Princess mendorong handle pintu mobil dan kakinya beranjak turun dari mobil merah itu. Ia melambaikan tangan dan mobil itu berlalu pergi.
.
“Bang, Princess itu suka loh sama abang,” celetuk Rhiena yang sudah beralih tempat duduk di samping Reynand.
“Terus?”
Rey masih fokus menatap jalan dan pengendali mobil.
“Nana mau jodohin dia sama abang,” ucap Rhiena.
Sret!
Mobil yang sedang melaju tiba-riba di Rey.
“What?” Mata Rey semakin menyipit.
“Iya. Nana mau abang punya pacar. Masa kalah sama adiknya?” jawab Rhiena.
“Enggak, Na! Abang enggak mau dijodoh-jodohin. Kek abang gak laku aja!” Elak Rey.
“Memang abangnya Nana enggak laku. Masa hampir setahun sekolah di Bandung enggak ada cewek yang nyantol sama abang?” Rhiena menatap tajam.
Lu aja yang gak tau, dek! Umpat dalam hari Reynand.
Tanpa mau membahas lagi. Rey kembali memacu si merah menuju rumah mereka. Rhiena juga tampak sibuk dengan gawainya di sepanjang jalan tadi.
.
Malam pun telah tiba. Reynand, Rhiena dan Nadin duduk santai di ruang keluarga. Berbagai canda dan tawa telah menghidupi kembali atmosfer rumah yang dulu sempat sepi.
“Ma, besok Rey pulang ke Bandung, ya?”
“Gak bisa tinggal di sini beberapa hari lagi, Nak? Mama masih rindu.”
“Rey, harus sekolah, ma. Rey juga harus mengurus kepindahan sekolah Rey.”
“Mama anter, ya?”
“Nggak usah, ma. Rey bisa sendiri. Mama di sini aja sama Nana. Lagian, mama kan harus kerja.”
“Ya udah. Hati-hati, ya? Semoga semuanya lancar agar bisa berkumpul lagi di sini dengan suasana seperti sekarang. Mama bahagia kita bertiga dapat berkumpul seperti sekarang ini. Mama rindu dengan keadaan ini.” Air mata Nadin luruh ketika bercerita.
Rhiena dan Reynand bangkit dari tempat duduk mereka, mendekati dan memeluk erat Nadin. Ibu yang telah melahirkan mereka.
..
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
mending pacaran sm yg dewasa bg Rey 🤭🤭