Demi menyelamatkan perusahaan sang papa yang hendak dikuasai oleh pamannya yang tamak, Menta terpaksa menyetujui perjodohannya dengan Raf seorang tuan muda pewaris tahta kerajaan bisnis yang sudah menjadi rekanan sang papa. Pernikahan yang dipaksakan tersebut sesungguhnya membuat Menta sangat tertekan, sikap dingin Raf ditambah kisah cinta pria itu dengan seorang model cantik pun membuat hubungan keduanya semakin seperti orang asing. Mungkinkah Menta dan Raf bisa bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosi Lombe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Urusan Kakak!
"Menta, kau pulang sama siap?" Noah bertanya saat pesta ulang tahun sudah selesai.
"Aku pulang bareng Runi kak" jawab Menta sambil menunjuk yang disebut.
"Runi, boleh tidak kalau aku mengajak Menta pulang bersama denganku saja?" pria muda itu meminta izin.
"Boleh kak, silahkan" Runi yang sejak awal melihat keberadaan Raf di sudut luar cafe sengaja mengijinkan Menta pulang bersama dengan Noah. Kali ini ia ingin memberi pelajaran kepada suami sahabatnya itu yang tempo hari sudah berani bergandengan tangan dengan pacarnya di depan mata Menta.
"Tapi Runi, bagaimana denganmu sendiri?" Menta sejujurnya sungkan bila harus berdua saja dengan Noah.
"Kan dekat, aku tidak masalah kok" menjawab dengan santai.
"Terima kasih ya Runi" Noah yang melihat Runi mendukungnya merasa bahagia.
"Sama-sama kak" Runi tersenyum senang.
"Ya sudah yuk kita pulang, aku akan mengawalmu dari belakang bersama Menta dengan mobilku, kau nanti di depan kami dengan mobilmu ya Runi, baru setelah itu aku mengantar Menta ke rumah orang tua angkatnya" kata Noah kepada Runi.
"Siap kak" karena Runi tau bahwa Noah pria baik-baik, maka Runi tidak segan membiarkan Menta bersamanya.
Mereka pun kemudian berjalan menuju lapangan parkir.
"Menta kau sudah selesai? ayo kita pulang!" tiba-tiba Raf muncul.
"Kak, kau masih disini?" Menta terkejut karena ternyata suaminya masih berada di tempat yang sama dengannya.
"Ayo pulang" katanya tanpa menjawab pertanyaan sang istri.
"Tapi tadikan aku sudah bilang kakak tidak perlu menunggu dan menjemputku, aku bisa pulang dengan teman-temanku!" Menta mulai kesal karena lagi-lagi Raf bersikap seenaknya sendiri seperti hari-hari sebelumnya.
"Aku hanya menjalankan tugas dari ayah, apa kau lupa kalau bunda khawatir kau kenapa-kenapa?" Raf sudah tau titik lemah Menta yang selalu menuruti perkataan kedua orang tuanya.
"Ck!" karena Raf sudah menyebut nama Ananda dan Mike, maka ia pun tidak bisa berkutik lagi.
"Kak Noah, maaf ya sepertinya aku akan pulang dengan kak Raf saja" meminta maaf dengan perasaan berasalah.
"Ini siapa Menta?" Noah yang baru melihat Raf bertanya.
"Perkenalkan aku Rafael Anderson, sua,,," Menta langsung membekap mulut Raf sebelum Raf melanjutkan kalimatnya menjadi 'suaminya Menta'.
"Dia kak Raf, kakak angkatku, ayah dan bundanya yang mengadopsiku setelah papa dan mama meninggal" Menta menjelaskan sambil tetap membekap mulut Raf.
"Ohhh halo kak, aku Noah, kakaknya Nora" Noah dengan sopan memperkenalkan dirinya kepada Raf.
"Hai" Raf hanya menjawab sekenanya saja.
"Ayo pulang, nanti bunda dan ayah menunggu" lagi-lagi Raf membawa nama kedua orang tuanya, yang sudah pasti membuat Menta menurutinya.
"Kak Noah, Runi, kalau begitu aku pulang duluan ya" pamitnya.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya" Noah yang tidak tau bahwa Raf adalah suami Menta, bersikap sangat sopan untuk mengambil hati Raf.
"Oya kak, titip Runi ya" Menta tidak lupa akan nasib sahabatnya yang harus pulang sendiri.
"Siapp" Noah mengacungkan ibu jarinya.
..........
"Kau sepertinya sangat dekat dengan si Noah Noah itu ya" Raf membuka pembicaraan saat mereka sudah ada di dalam mobil.
"Bukan urusan kakak!" Menta berkata dengan ketus.
"Apa kau menyukainya?" bertanya menyelidik.
"Kalau iya memangnya kenapa?" masih dengan nada tidak bersahabat.
"Tidak apa-apa, hanya ingin tau saja" jawabnya sesantai yang ia bisa.
"Ck" gadis itu berdecak.
"Apa kalian akan berpacaran kedepannya?" entah mengapa Raf benar-benar ingin tau kelanjutan hubungan keduanya.
"Sudah ku bilang itu bukan urusan kakak, apa kau lupa isi perjanjian kita? jangan pernah campuri urusan pribadi masing-masing!" berkata dengan tegas.
"Aku tidak ingin ikut campur, hanya saja kalau kau mau berpacaran dengannya kau sebaiknya hati-hati, jangan sampai ayah dan bunda tau" Raf menjaga suaranya agar tetap terlihat santai.
"Dari pada kakak menasehati aku, lebih baik kakak menasehati diri sendiri saja, lain kali kalau mau pacaran dengan kak Paula jangan jalan-jalan di mall Anderson, itu namanya cari mati!" jawaban Menta menohok Raf.
"Itu aku,," Raf tidak bisa berkata-kata.
Brakk,,
Belum sempat Raf menjawab Menta sudah lebih dulu turun dari mobil dan membanting pintunya karena mereka sudah tiba di rumah.
"Hufff sabar Raf, sabarrrr" pria tampan itu mengelus dadanya untuk menenangkan diri.
Entah mengapa perubahan sikap Menta yang menjadi sangat dingin dan terkesan menjauhinya membuat hatinya menjadi tidak tenang. Rasa bersalah karena sudah membuat Menta dipermalukan di depan umum, serta rasa berdosa karena telah menyakiti anak yatim piatu, membuatnya seperti seorang pecundang. Biar bagaimana pun ia sadar bahwa Menta tidak bersalah dan hanya menjadi korban dari keadaan yang menghimpit hidupnya. Gadis itu tidak punya pilihan lain selain menerima perjodohan mereka. Toh selama ini Menta juga tidak pernah usil dengan hubungan cintanya dengan Paula.
biar ray kelimpahan sendiri...
Aku suka sama mehta yg tegas dan engga menye menye /Kiss/