NovelToon NovelToon
Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Dunia Lain / Romantis / Fantasi Wanita / Masuk ke dalam novel / Menjadi Pengusaha / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ryby

JUARA 1 LOMBA NOVELTOON "YANG MUDA YANG BERCINTA"

Demi bisa menghindari akhir cerita tragis, Tara - yang kini jiwanya merasuki tubuh antagonis gemuk Elona Locke dalam webtoon "Cerita Hati" - memutuskan untuk mengakhiri pertunangan dengan Louis Vandyke dan pergi dari ibu kota.

Tara alias Elona memilih tinggal di wilayah kekuasaan keluarganya, Kota Armelin. Demi mencegah kebangkrutan Locke, gadis itu memanfaatkan seluruh pengetahuan yang ia miliki dari berbagai buku di dunia modern. Tara mengetahui, bahwa ia bisa mengalihfungsikan lahan bekas galian tambang di kota tersebut, menjadi pertanian tanaman kedelai!

Apakah Tara berhasil membangkitkan keterpurukan Kota Armelin berkat usaha dan kecerdasannya? Lalu, mungkinkah ia menemukan cinta yang baru bagi tokoh Elona Locke setelahnya?

Original writing by @author_ryby
Covert art by @fuheechi_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Segelas Susu (1)

"Ryndall, sebisa mungkin pangkaslah semua pengeluaran penggarapan lahan di Armelin. Keuangan keluarga kita sedang tidak baik. Tetapi jangan beritahukan hal ini pada Elona. Jangan sampai dia harus berpikir keras sampai jadi stress karena masalah ini. Aku tidak ingin melihatnya depresi dan menderita gangguan makan berlebih lagi seperti dulu."

Kalimat-kalimat yang ditulis Stefan dalam suratnya untuk Ryndall sekretarisnya masih terpatri di dalam otak Elona saat ini, meskipun waktu sudah menunjukkan malam hari. Gadis itu sudah memakai gaun malamnya sejak satu jam yang lalu, tapi matanya tidak kunjung merasa mengantuk.

Ryndall akhirnya menceritakan semua keadaan keuangan keluarga Locke tadi siang. Tentang bagaimana Stefan menyembunyikannya selama ini, dan tentang tuan besarnya itu masih merasa bahwa dirinya sanggup membayar semua pengeluaran asalkan ia pintar mengelolanya.

Namun Ryndall berpikir bahwa nona mudanya itu harus mengetahui segalanya, karena bagaimanapun juga saat ini gadis itu adalah pemimpin sementara Kota Armelin ini. Dan tidak mungkin seorang pemimpin tidak mengetahui kondisi keuangannya sendiri.

Elona tadinya mengusulkan untuk melakukan pinjaman pada bank. Sebenarnya Ryndall setuju, tapi dengan berat hati ia mengungkapkan sesuatu.

"Tuan Stefan sudah melakukan pembayaran dengan surat promes berbunga pada bank untuk melunasi 12 ton kapur limestone waktu itu, Nona."

Pikiran Elona jadi kacau begitu mendengar pengungkapan sekretaris kakaknya itu. Surat promes adalah surat pernyataan sanggup bayar. Di dunia fantasi yang mirip jaman medieval di bumi ini, untuk transaksi besar, yang ditukarkan bukanlah uang, melainkan menuliskan pernyataan sanggup bayar dengan bunga yang disepakati oleh bank dengan si peminjam. Disebut sebagai surat promes, namanya.

Dan Elona tidak mungkin menambahkan pinjaman untuk hal yang lain lagi karena nanti bunganya bisa bertumpuk.

Tok! Tok!

"Masuklah." ucap Elona begitu mendengar pintu kamarnya diketuk. Seorang pelayan datang membawakan segelas susu untuk sang nona muda.

"Nona belum tidur?" tanya pelayan tersebut. Elona hanya menggelengkan kepala. Pelayan tersebut lalu menyodorkan nampan dengan segelas susu di atasnya.

"Minumlah susu ini, Nona, supaya pikiran anda bisa lebih rileks."

"Terima kasih ya," sahut Elona tersenyum sambil mengambil gelas susu tersebut dari nampan. Setelahnya, pelayan tersebut keluar dari kamar Elona.

Segelas susu di atas meja di hadapannya tidak juga diminum oleh gadis itu. Ia hanya memandanginya dengan pikiran macam-macam yang terus berkecamuk di kepala.

Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus memotong upah pekerja supaya lebih hemat? Tapi mereka sendiri saja sudah hidup kesusahan. Aku sendiri di sini masih bisa menikmati minum susu di malam hari. Sedangkan mereka? Mungkin sekali sehari minum susu saja pun belum tentu.

Tok!

"Masuklah." ucap Elona lagi sambil terus memandangi gelas susunya, lalu meminumnya sedikit. Entah kenapa malam ini rasanya dia tidak nafsu sekali untuk makan dan minum apapun. Biasanya segelas susu itu ia habiskan dengan lahap lalu pergi tidur nyenyak, tapi tidak untuk malam ini.

Kesunyian terjadi. Elona mengira akan ada pelayan lagi yang masuk untuk mengantarkan sesuatu setelah tadi pintunya diketuk, tapi ternyata tidak ada siapapun yang masuk dari sana. Namun ketukan itu terjadi lagi.

Tok!

"Siapa, sih?!" Elona menoleh ke arah pintu, tapi ternyata bunyinya tidak berasal dari sana.

Tok! Tok!

Elona mencari sumber suara tersebut. Matanya terhenti pada bayangan manusia di atas dahan pohon besar yang berada di luar jendela kamarnya. Sontak gadis itu terkejut begitu mengenali wajahnya.

"Art!"

Sedari tadi, lelaki itu mencoba masuk melalui jendela kamar Elona tetapi ternyata dikunci. Jadi, dia hanya mencoba mengetuk jendela tersebut menggunakan kerikil yang dikumpulkannya dari bawah pohon.

Elona segera beranjak dari duduknya dan membuka lebar-lebar daun jendela. Art langsung melompat masuk dan sekarang duduk di bingkai jendela kamar.

"Hai," sapa lelaki itu sambil tersenyum. Sinar rembulan masuk dan menyinari wajahnya.

"Hai Art, kamu datang lagi?" Elona tersenyum begitu melihat keberadaan lelaki tersebut. Meskipun Elona tidak dapat mengingat siapa lelaki ini dari webtoon yang dia baca, namun gadis itu merasa kalau pemuda di hadapannya ini begitu spesial.

Ada sesuatu yang khas dari Art selain wajahnya yang begitu tampan. Keberadaannya dapat membuat Elona jadi lebih ceria daripada biasanya, terutama saat ia merasa suntuk karena memikirkan nasib lahan garapannya seperti sekarang ini.

"Katamu boleh kapan saja kan aku kemari?" tanya Art mengonfirmasi. Elona mengangguk sambil tersenyum.

"Tentu! Jangan duduk di situ saja. Masuklah." Elona meraih tangan kanan Art dan menggenggamnya dengan kedua tangan, menariknya masuk ke dalam kamarnya dan mengajaknya duduk di sebuah kursi dengan meja bundar di hadapannya. Segelas susu hangat juga tersedia di atas meja tersebut.

Yang digenggam tangannya tentu saja menahan nafas sepanjang ia beranjak dari bingkai jendela menuju kursi. Rona wajah Art memerah dan hidungnya serasa kembang kempis. Tapi tentunya hal itu tidak diperlihatkannya di depan gadis itu. Apa Elona saja yang tidak peka?

Yang jelas, semenjak Art menyadari ada yang aneh dengan perasaannya terhadap Elona, pemuda itu semakin lihai berakting menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.

"Kamu sudah makan?" tanya Elona sembari duduk di kursi di seberang Art duduk. Pemuda itu mengangguk.

"Kenapa setiap kita bertemu, kamu selalu menanyakan aku sudah makan atau belum?" tanya lelaki itu. Elona terlihat sedikit terkejut.

"Benarkah? Aku menanyakan hal yang sama terus-terusan?"

Art mengangguk, "Iya. Setiap kali."

Elona terhenyak dalam kursinya. Pikirannya melayang pada kejadian di bumi, sewaktu ia masih menjadi Tara.

Kepada Geri sang pacar, atau sekarang lebih pantas disebut mantan, juga sering ditanyai begitu olehnya. Pada masa-masa awal berpacaran, setiap kali bertemu ataupun di chat, Tara selalu bertanya apakah Geri sudah makan atau belum, atau penasaran dengan apa yang dilakukan oleh sang kekasih.

Tara merasa bahwa seperti itulah yang seharusnya seorang pacar lakukan. Gadis itu hanya memahami dengan polosnya bahwa begitulah caranya sebuah perhatian ditunjukkan, karena ia belum pernah memiliki hubungan dengan seseorang sebelumnya. Jangankan pacar, sahabat dekat saja dia pun tidak punya.

Tetapi ternyata suatu hari, Geri mengungkapkan kalau semua itu tidak perlu.

"Jangan selalu tanya hal-hal sepele kayak gitu. Aku bukan anak kecil! Apa kamu ngga percaya sama aku, sampai harus ditanya-tanya begitu terus?!"

Sejak saat itu, Tara menahan dirinya untuk selalu tahu apakah kekasihnya itu sudah makan, atau pergi dengan siapa, atau kemana saja selama seharian. Hingga ia tahu, kalau sebenarnya bukan dia yang keliru mengungkapkan rasa sayangnya. Karena ternyata Geri hanya tidak mau terganggu dengan banyak chat yang masuk saat sedang sibuk menggoda perempuan lain.

*****

"Elona...?"

Art mengibaskan tangannya di udara, di depan wajah Elona. Lelaki itu nekat masuk ke kamar seorang gadis di malam hari bukan untuk melihatnya melamun di hadapannya. Begitu dipanggil, sontak gadis itu tersadar dari lamunannya.

"Kok malah melamun?" tanya pemuda itu lagi. Elona menggeleng.

"Cuma sedang teringat sesuatu di masa lalu." jawabnya. Lalu gadis itu menatap wajah Art.

"Maafkan aku, ya, kalau kamu merasa risih aku tanyai hal yang sama setiap kali bertemu,"

"Eh, tidak apa-apa kok..." Art menyahut dengan bingung, terutama saat melihat raut muka Elona yang tiba-tiba menjadi sedih.

"Maafkan aku ya, mulai sekarang aku tidak akan bertanya hal-hal seperti itu lagi,"

"Eh, jangan!!" Art spontan berteriak begitu mendengar perkataan Elona barusan. Lelaki itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Jangan berisik! Lagipula, apa maksudmu dengan 'jangan'?" tanya Elona balik.

"Aku... senang kamu menanyakan hal-hal sepele seperti itu padaku." jawab pemuda itu. Elona menatapnya heran.

"Benarkah?"

Art menghela nafas, berusaha untuk mengendalikan dirinya dari memeluk gadis di hadapannya itu.

"Benar, jadi jangan berhenti melakukannya..." kata Art. Mana mungkin ia mau kalau Elona berhenti menunjukkan rasa perhatian padanya. Karena justru dengan itulah jantung Art berdegup kencang tidak karuan dibuatnya.

"Sungguh?" Elona bertanya dengan tersenyum. Pemuda itu mengangguk dengan cepat.

"Wah, kamu ternyata mengerti aku, ya? Terimakasih banyak, hehe..."

Elona tersenyum, namun sesaat kemudian wajahnya kembali murung.

"Kamu kenapa?" tanya Art penasaran. "Sejak tadi kuperhatikan dari luar jendela, kamu seperti sedang banyak pikiran,"

"Hehe, kelihatan, ya?" Elona tersenyum

"Ada masalah apa?" lelaki itu bertanya lagi. Elona menatapnya sejenak. Gadis itu berpikir bahwa Art adalah teman diskusi yang sangat baik baginya, bahkan sejak pertama kali pertemuan mereka di danau tempo hari.

"Mungkin kamu bisa membantuku memecahkan solusinya." Elona berkata.

"Soal apa?" tanya Art.

Elona pun menjelaskan duduk permasalahan yang sedang ia hadapi, termasuk isi surat Stefan untuk Ryndall, dan kebingungannya menjalani bisnis pertanian kedelai yang saat ini sedang dilakukannya.

"Keluargaku tidak mungkin melakukan pinjaman lagi pada bank setelah tahu kalau kakakku juga sudah melakukan hal itu." ucap Elona, menutup penjelasan panjang lebarnya.

Art mendengarkannya dengan seksama sambil berpikir.

"Menurutmu, apa yang harus kulakukan, ya? Apa ada yang mau meminjamkan uangnya dengan bunga rendah? Tapi aku tidak kenal bangsawan manapun yang mau meminjamkan uangnya begitu saja..."

Elona kembali murung dalam pemikiran kalutnya. Art hanya bisa menatapnya lekat-lekat.

Seandainya kamu tahu, kalau aku bisa saja memberikan seluruh kekayaanku padamu tanpa bunga sepeserpun.

Art berkata dalam hatinya, yang langsung disangkal sendiri olehnya. Kalaupun Elona tahu bahwa ia adalah calon duke dengan kekayaan berlimpah, gadis itu tidak akan mau menerima bantuannya begitu saja. Sifat Elona yang keras kepala dan tidak mau menyusahkan orang lain itu sekarang malah membuat pemuda itu jadi susah untuk menolongnya.

Jadi, apa yang harus dilakukan lelaki itu supaya bisa membuat wajah Elona kembali ceria? Art alias Arthur Eckart sang putra duke juga jadi ikut berpikir keras dibuatnya.

*****

1
Frando Wijaya
syngny...org yg lo knl dh tiada....Dan org yg lo lht skrg adalah...jiwa zaman modern
Frando Wijaya
bekas mantan pcr eh
Frando Wijaya
gk heran.....dh pernah di lupakn
Frando Wijaya
oh? jd reinkarnasi lain ternyata sama seperti FMC yg merasuki tubuh antagonist ya? heh...
Frando Wijaya
ternyata Dunia sempit
Frando Wijaya
syngny.....Edward Dan istriny mati...lalu...putri mereka pun mati jg
Frando Wijaya
keuangan sdh menepis? ini sgt gawat bgt
Frando Wijaya
wkwkwkwkwkwkwk 🤣🤣🤣🤣🤣
Frando Wijaya
gw mlh bingung dgn urusan pertanian ini....
Frando Wijaya
mah....Dr sni gw maklum aja...krn usia 18 sampe 20an jls orgtua sibuk cari jodoh yg cocok
Frando Wijaya
iris? mungkinkh.....Dia saudara iris??
Frando Wijaya
ya jlslh...Dunia yg lo injek itu nyata skrg...mna mungkin ada skip langsung sampe.. yare2 🙄
Frando Wijaya
syngny org yg sering ganggu lo...dh lama mati
Frando Wijaya
jiah! kirim mata2 ternyata
Frando Wijaya
oh? meskipun lo blg ada seseorang merasuki tubuh adik lo...tpi syngny gk ada bukti
Frando Wijaya
intiny anak haram
Frando Wijaya
HA? jlng ini reinkarnasi?! gk heran
Frando Wijaya
heh 😏.... ternyata jlng
Frando Wijaya
ugh...
Frando Wijaya
tuh...yg penting dh lepaskn pertunangan paksaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!