Perusahaan keluarga nyaris bangkrut, keuangan menipis lantaran terbiasa hidup mewah.Nabila harus menerima takdir Siska menolak dijodohkan dengan pak tua mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. Demi keluarga dia rela berkorban, dia rela di gadaikan, dinikahkan dengan pak tua mesum ituh yang terkenal kaya raya. Namun ituh tidak menujukan dirinya, sebelum hari penikahan mereka tiba. Sosoknya yang misterius dan selali sembunyi di balik kamera,akhirnya terungkap saat ia menikahi Nabila dengan cara hormat. " Kk-kamu.... masih muda? " tanya Nabila dengan polosnya. " kamu kira saya sudah tua gituh? " Nabila menggeleng panik. " tapi kata kaka siska, kamu orang tua yang mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. "Ituh hanya rumor palsu tentang saya, kamu jangan percaya rumor sebelum kamu liat langsung sendiri buktinya. "Apakah Nabila yang selalu menderita bisa hidup bahagia setelah menikah dengan suaminya Devan? Ataukah Siska akan menjadi duri dalam penikahan Nabila dan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
"SUDAH selesai makannya?"
Devan bertanya tanpa memandangi Lilya. Pria itu sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya. Nabila pikir, Devan sedang bekerja atau sedang berhubungan dengan Rangga, jadi ia tidak ingin mengganggu suaminya.
"Udah, ini mau bawa ke bawah. Kakak mau nitip sesuatu?" tawarnya sebelum keluar kamar.
"Ambilkan puding di lemari es. Momnyy biasanya stok banyak puding kalau aku main ke sini." Devan menatap Nabila yang kini menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan pertanyaan 'Serius?' dan Devan membalasnya dengan mengangguk.
"Baiklah, aku ke bawah sebentar, ya?"
Nabila keluar dari kamar itu dan lantas mencari-cari di mana lokasi dapur. Begitu sampai, dia langsung mencuci piring dan gelas yang ia gunakan tadi. Nabila sedang mengelap tangan ketika mendengar suara orang berbincang dan derap langkah kaki yang mengarah ke dapur.
Nabila terdiam, berpikir untuk langsung pergi atau tetap di sana dan mengambil puding yang diminta suaminya. Dan ia mengambil opsi terakhir.
Mencoba tak acuh atas apa pun yang terjadi di luar sana, dia mendekati lemari es dan mengambil dua mangkuk dari beberapa mangkuk puding yang memenuhi kulkas. Devan tidak bercanda dengan kata-kata, mama mertuanya memang menyiapkan puding sebanyak itu untuk putranya yang sudah dewasa.
"Kita tidak bisa menikah sekarang, Mika. Kamu tahu, kan, aku sedang mengerjakan projek di Bali? Aku tidak bisa mengambil cuti untuk pernikahan kita nanti."
Nabila terdiam. Dia tahu, harusnya dia pergi dari sana, tapi tiba-tiba muncul dan melewati mereka sepertinya bukan ide yang bagus, dia juga tidak mau menjadi iklan numpang lewat yang sengaja menjeda percakapan penting adik ipar dengan tunangannya itu.
"Kak Devan sudah nuntut kita untuk lekas menikah, Vin. Dia tahu soal--"
"Aku akan bicara padanya nanti." Nabila bisa mendengar suara helaan napas yang begitu berat dari tempatnya saat ini.
"Kamu jadi mau bicara dengan kakak iparmu itu?" Ada jeda cukup lama sebelum pria itu kembali bicara.
"Ganti baju, kita keluar sesuai kesepakatan kemarin, aku ingin minum air dingin sebentar."
"Baiklah."
Nabila tergagap saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia sudah berdiri dan menaruh dua puding cokelat itu di atas nampan saat Gavin masuk ke ruangan yang sama dengannya.
Pria itu tersenyum lebar. "Lagi ngapain?" tanyanya santai, senyumannya memang biasa saja, tapi tatapan yang Gavin lemparkan padanya selalu membuatnya merasa tidak nyaman.
"Ambil puding," balas Nabila sembari tersenyum tipis.
Dia bingung mau memanggil Gavin dengan sebutan apa. Mau manggil 'Kak' dengan alasan kesopanan,tapi harusnya ia memanggil Gavin 'Adik', karena Gavin akan menjadi adik iparnya jika jadi menikah dengan Mika.
"Kamu suka puding?" Pertanyaan itu santai, dia mengambil langkah mendekati Nabila.
Nabila menggeleng pelan. "Bukan untukku, tapi orang lain." Dia ingin mengatakan kalau Devan suka puding, tapi sepertinya itu tidak terlalu penting untuk diberitahukan pada orang lain.
Gavin memandanginya dengan wajah ingin tahu, tapi laki-laki itu hanya tersenyum manis yang terkesan sok ramah padanya.
"Ah, biasanya perempuan memang suka malu-malu, kalau disuruh ngaku suka yang manis-manis, sih." Tangan pria itu terulur ke arah Nabila yang menatapnya tak mengerti.
"Kita belum kenalan secara resmi, kan? Namaku Gavin, kamu?"
"Namaku Nabila. Maaf, aku tidak bisa membalas jabat tanganmu, karena tanganku penuh." Nabila mengulas senyum tipis sembari menunjukkan kedua tangannya yang sedang memegangi nampan.
"Aku naik ke atas dulu, ya? Permisi--"
Gavin mengambil dua langkah lebar dan memegangi lengan atas Nabila, mencegah perempuan itu pergi dari sana. "Tunggu sebentar!" Nabila menatapnya tidak mengerti. "Boleh aku minta nomor ponselmu?"
Nabila menggeleng. "Maaf, tapi aku sudah tidak punya ponsel lagi."
Gadis itu mencoba tersenyum ramah sembari menarik lengan atasnya dengan agak kasar. Dia harus lekas pergi dari sana, sebelum Mika kembali dan berpikir yang tidak-tidak soal mereka. Namun, Gavin sama sekali tidak berniat melepaskannya.
"Jangan bercanda, mana mungkin kamu tidak punya ponsel?" Gavin tertawa pelan, sepertinya dia benar-benar menganggap Nabila sedang melemparkan lelucon padanya.
"Aku tidak bercanda, aku benar-benar tidak punya--"
"Aku tidak bisa mempercayai itu, Nabila." Gavin tersenyum semakin lebar, cengkeramannya di lengan atas Nabila semakin erat.
"Jadi, berikan nomormu atau aku tidak akan melepaskanmu," katanya, sarat akan ancaman yang membuat Nabila bergidik ngeri.
Dia berusaha menarik diri dari Gavin, tapi pria itu sama sekali tak bereaksi. Dia hanya tersenyum manis, seperti mengancam dan memojokkan Nabila adalah sebuah hiburan yang begitu menyenangkan untuknya.
"Lama sekali." Devan muncul dengan wajah datar dan tatapan tidak ramah. Delikan matanya bak laser dengan kekuatan tinggi saat melihat tangan Gavin berada di lengan atas istrinya. Sedang Nabila berusaha menarik diri terus-menerus, tapi tak bisa.
"Ada apa?"
"Ah, aku sedang meminta nomor ponselnya? Apakah tidak boleh?" Nadanya begitu santai, tapi tidak dengan tatapannya yang kini berani membalas tatapan maut Devan dengan sama tajamnya.
"Dia tidak punya ponsel, ponselnya baru dijual oleh kakaknya beberapa waktu yang lalu." Devan mendekat, dia menarik tangan Gavin untuk melepaskan lengan istrinya.
"Lain kali, tanya langsung padaku, kalau perlu hubungi aku. Karena jujur saja, aku tidak rela melihatnya berhubungan dengan orang sepertimu, apalagi sampai dia dipegang-pegang olehmu. Dia bukan milikmu, dia milikku," tegas Devan di kalimat terakhirnya.
Lilya menghela napas lega karena akhirnya dia terlepas dari Gavin yang mengingatkannya akan seekor rubah yang penuh tipu daya dengan senyumannya.
"Yeah, dia memang milikmu, sama seperti Mika yang telah menjadi milikku. Jangan ikut campur di hubungan kami, karena kamu hanya orang asing."
Devan mendengkus kecil. "Aku memang orang asing, tapi tidak benar-benar asing. Mika adalah adikku. Aku tidak akan membiarkannya jatuh ke tanganmu dan kemudian membiarkannya menjadi bonekamu."
Gavin tertawa pelan. "Dia sudah berada dalam genggaman tanganku. Bagaimana cara kamu melepaskannya, ketika dia sudah cinta mati padaku?"
"Ada banyak cara, aku hanya perlu sedikit berusaha. Aku tahu, kamu tidak pernah mencintainya, bahkan Nabila pun bisa melihatnya. Kamu hanya mempermainkannya, menjadikannya sebuah boneka yang kamu permainkan setiap harinya."
Gavin tertawa puas. "Walaupun kamu sudah tahu semua itu, tapi kamu tetap diam saja dan membiarkan adikmu jatuh ke tanganku selama bertahun-tahun. Apa kamu serius dengan kata-katamu atau semua itu hanya gertakan saja untuk mengancam keberadaanku?"
"Aku serius dengan kata-kataku. Sedikit pengorbanan memang diperlukan agar dia belajar banyak dari bajingan sepertimu. Benar, kan, Mika?"
Gavin terhenyak, dia menoleh ke arah pintu masuk dapur dan di sana dia melihat Mika berdiri dengan air mata mengalir deras di kedua pipi. Perempuan itu mendekati Nabila, mengambil puding di atas Nampan yang di pegang kaka iparnya,Sebelum itu hantamkan ke wajah tunangannya.
"Ternyata benar, kamu tidak pernah serius denganku. Aku mau kita putus, aku akan mengatakan semuanya pada orang tua kita! Semuanya batal! Pergi dari sini, aku tidak mau melihat mukamu lagi!"
Nabila menganga menyaksikan drama di depannya. Gavin yang semula tersenyum lebar, kini kehilangan senyuman rubahnya. Wajahnya tidak beda dengan tikus yang baru saja kecemplung got.
"Mika, jangan bercanda denganku! Kamu tidak bisa membatalkan semua ini!"
"Kenapa tidak? Aku tidak mau melihat bajingan sepertimu lagi! Menggoda kakak iparku sewaktu aku berada di balik punggungmu! Benar-benar mengerikan, Vin! Selama bertahun-tahun, apa kamu selalu melakukan hal ini? Kamu menduakanku dengan wanita mana lagi, ha? Ada berapa banyak wanita lain di luaran sana, ha?
"Kupikir kamu sudah berubah! Kupikir kamu hanya mencintaiku! Kenyataannya, semuanya palsu! Hanya omong kosong! Semuanya hanya omongan manis untuk
mengambil hatiku saja!"
Mika menampar Gavin sebelum berbalik dari sana, tapi Gavin menahan tangannya. "Kita bicara dulu, tenangkan pikiranmu. Kamu bisa memikirkan pilihan lain, selain--"Devan melayangkan sebuah pukulan di wajah Gavin. Tatapannya berkilat terlihat begitu dingin, ekspresinya datar. Mika menjauh dan menarik Nabila pergi dari sana sembari memanggil-manggil satpam.
Nabila tidak tahu apa yang terjadi, tapi bunyi bedebum keras yang terdengar dari dapur diikuti suara sesuatu yang patah membuatnya takut.
"Apa ... Kak Devan mau membunuhnya?" tanyanya, sembari menatap Mika yang kini memalingkan wajah, menghindari tatapan Nabila. "Mika ...."
Tidak ada jawaban.
".. apa kamu benar-benar mencintainya?"
Mika hanya menganggukkan kepala sebelum berhambur memeluk Nabila erat. Perempuan yang lebih dewasa darinya itu menangis keras, terisak bak anak kecil yang terdengar memilukan di telinganya, sembari mengatakan semua kebodohan yang telah ia lakukan bersama tunangan busuknya.
Nabila membelai punggung adik iparnya sembari membalas pelukannya dengan erat. Dadanya terasa sesak, sakit, dia bahkan ikut menangis mendengar semua dosa yang diakui Mika di depan mukanya. Dan ia mulai berpikir.
Apa semua laki-laki memang seperti itu? Sehabis manis sepah dibuang, begitu sudah tidak perawan dan tak ada harganya lagi, maka dia akan ditinggalkan?
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote, dan komentar yang positif. Terimakasih, kalau mau ngasih kritik dan saran juga boleh, itu bagus. Jadi saya tahu mana yang salah dan mana yang benar. Salam hangat dari saya. 🤗
Oh iya, kalau mau lebih dekat dengan sang penulis, teman-teman bisa Follow ig aku @Aisyahsnisa.07atau fb aku Aisyahanisa
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...