NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16 pesta teh di atas runtuhan singgasana

Kekacauan di luar dinding Istana Naga Langit bukanlah kerusuhan biasa. Itu adalah sebuah simfoni kehancuran yang dirancang dengan presisi matematis. Di setiap penjuru ibukota, api membakar gudang-gudang logistik kekaisaran, sementara ribuan tentara bayaran yang haus akan "Sayembara Emas" berkeliaran di jalanan, memburu siapa saja yang mengenakan zirah emas milik istana.

Di dalam Aula Emas, atmosfernya mencapai titik beku yang absolut. Dua Leluhur tingkat Jiwa Baru dari Sekte Langit Berkabut menatap Qixuan dengan mata menyipit, energi mereka bergejolak, siap menghancurkan ruang di sekitar pemuda itu. Namun, mereka menahan diri. Ancaman Qixuan tentang ledakan racun bawah tanah bukanlah gertakan semata; aura pekat racun yang perlahan menguar dari lantai istana membuktikan bahwa Gu Lie memang telah menanam sesuatu yang mengerikan di sana.

Qixuan berdiri tegak, tangannya masih memutar-mutar mutiara naga. Wajahnya yang tampan tampak sangat tenang, nyaris seperti sedang menikmati pemandangan taman saat sore hari.

"Kalian memiliki dua pilihan," suara Qixuan memecah kesunyian, datar dan tak tertahankan. "Pertama, kalian mencoba membunuhku dan menyaksikan dinasti ini hancur dalam kepulan api beracun. Atau kedua, biarkan aku menetapkan aturan baru bagi kekaisaran ini, dan kalian bisa tetap menjadi sekte suci yang dihormati tanpa perlu mengotori tangan kalian dengan urusan debu fana."

"Kau benar-benar berani, Bocah," salah satu Leluhur sekte, pria tua dengan jubah abu-abu, berbicara dengan suara yang terdengar seperti gesekan batu kasar. "Sumpah atas nama langit, belum pernah ada manusia fana yang berani memeras Sekte Langit Berkabut."

"Langit sudah lupa pada tempat ini, Senior," balas Qixuan tanpa rasa takut. "Dunia ini tidak butuh penyelamat yang duduk di gunung tinggi. Dunia ini butuh kestabilan ekonomi dan logistik. Dan sekarang, aku yang memegang kendalinya."

Yan Ling, yang sedari tadi terdiam dalam keterkejutan, akhirnya melangkah maju. Matanya tidak lagi menatap Qixuan dengan amarah, melainkan dengan ketakutan yang bercampur dengan rasa takjub yang tak terelakkan. Ia menyadari bahwa rencana mereka untuk menjebak Qixuan adalah kesalahan paling fatal dalam sejarah klan kerajaan.

"Apa yang kau inginkan secara spesifik?" Yan Ling bertanya, suaranya sedikit bergetar. "Bukan sekadar perjamuan atau emas, bukan? Kau menginginkan kekaisaran ini secara de facto."

"Aku menginginkan kedamaian untuk tidur siangku," jawab Qixuan, melangkah santai menuju takhta Kaisar Wudi. Pangeran Yan Hao yang tergeletak sekarat di lantai mencoba merangkak menjauh, namun Qixuan menginjak ujung jubah sang pangeran dengan santai, menghentikan gerakannya.

"Mulai besok pagi, Istana Naga Langit akan menjadi pusat administrasi, bukan pusat kekuasaan. Kaisar akan tetap duduk di sana sebagai simbol, tapi setiap keputusan mengenai pajak, militer, dan perdagangan harus melalui stempel Jaring Bayangan. Pangeran Mahkota Yan Hao akan dicopot dari gelarnya dan dikirim ke Utara untuk belajar 'rendah hati' bersama para prajurit di perbatasan—tentu saja di bawah pengawasan Leng Yue."

"Kau membiarkan ayahku tetap di singgasana sebagai boneka?!" Yan Hao menjerit, air mata bercampur darah mengalir di wajahnya.

"Boneka jauh lebih baik daripada mayat, bukan?" Qixuan tersenyum ke arah Yan Ling. "Dan kau, Putri Yan Ling. Kau adalah orang yang paling cerdas di istana ini. Kau akan menjadi penghubungku dengan para menteri. Jika ada menteri yang berani berbisik di belakang punggungku, kau yang akan memastikan mereka menghilang."

Yan Ling terdiam. Menjadi penghubung berarti menjadi bawahan langsung dari pemuda yang dulu ia hina. Namun, melihat kehancuran nyata di luar sana—serta ketidakmampuan dua Leluhur Jiwa Baru untuk melangkah maju—ia tahu bahwa menolak adalah kehancuran mutlak.

"Aku setuju," bisik Yan Ling.

Kedua Leluhur Jiwa Baru itu saling bertukar pandang. Mereka melihat tidak ada gunanya bertarung melawan seseorang yang telah menguasai fondasi ekonomi dan militer negara. Kekuasaan tingkat tinggi di benua ini pada akhirnya memang selalu berujung pada sumber daya. Mereka memilih untuk mundur dan mengamati dari jauh, menganggap kekaisaran ini hanyalah mainan yang sudah rusak.

Tiga hari kemudian, Jinling telah berubah total.

Pasukan Naga Hitam yang telah "diberi makan" oleh Qixuan dan dilatih oleh Leng Yue kini melakukan pawai kemenangan ke ibukota. Mereka tidak datang untuk menyerang, melainkan untuk melakukan "pengamanan". Sepuluh ribu prajurit elit berbaju zirah emas-hitam memenuhi jalanan ibukota, dipimpin langsung oleh Wakil Jenderal Leng Yue.

Qixuan tidak lagi berpura-pura menjadi pemuda boros yang tak berguna. Ia kini berdiri di menara tertinggi ibukota, mengenakan jubah kebesaran berwarna ungu tua dengan sulaman naga hitam yang melingkar.

Di sisinya, kakeknya, Cang Baotian, berdiri tegak tanpa kursi roda, pedang pusaka keluarga Cang tersandang di pinggangnya. Kembalinya sang Jenderal Besar bukan sebagai panglima kaisar, melainkan sebagai pelindung rakyat di bawah komando cucunya.

"Semua sudah siap, Tuan Muda," lapor Leng Yue yang baru saja kembali dari barak. "Para menteri yang membangkang telah dipindahkan ke penjara bawah tanah. Logistik dari wilayah utara kini masuk dengan lancar ke pasar ibukota. Rakyat mulai memuja Anda sebagai 'Dewa Kekayaan yang Menurunkan Harga Beras'."

Qixuan mengangguk, menatap kerumunan rakyat yang kini tidak lagi memandangnya dengan hinaan, melainkan dengan rasa segan dan penuh harapan. Ia telah mengubah citranya dari sampah menjadi penyelamat melalui jalur perut rakyat.

"Bagaimana dengan Gu Lie?"

"Dia sudah mengirimkan ratusan ribu dosis penawar massal yang dikemas dalam bentuk pil pereda flu biasa," jawab Sanniang yang muncul dari bayangan. "Pasukan kita sudah sehat sepenuhnya. Dan para pembunuh bayaran yang kemarin mencoba menculik Tuan Muda telah kita buat menjadi budak tambang permanen di tambang besi kita."

Qixuan berjalan kembali ke dalam paviliun pribadinya. Ia kini memiliki semuanya. Kekuasaan militer, ekonomi, loyalitas rakyat, dan ketakutan dari para penguasa tingkat tinggi.

Ia duduk di kursi goyangnya, meraih secawan arak dari botol giok. Di hadapannya, Mo Chen berdiri dengan setia.

"Mo Chen," Qixuan memanggil pelan.

"Ya, Tuan Muda?"

"Dulu, saat aku masih menjadi 'sampah' yang kau jaga di rumah bordil, apa yang kau pikirkan tentangku?"

Mo Chen terdiam sejenak. "Hamba pikir Anda benar-benar gila karena menghamburkan uang, Tuan Muda. Namun, melihat apa yang Anda bangun dari abu, hamba menyadari bahwa Anda bukanlah orang gila. Anda hanyalah satu-satunya orang di dunia ini yang benar-benar tahu apa yang harus dibeli, dan apa yang harus dihancurkan."

Qixuan tertawa pelan. Ia menatap mutiara naga di tangannya, yang kini telah berubah warna menjadi hitam legam karena menyerap sisa energi dari seluruh skenario panjang ini.

"Aku tidak ingin menguasai dunia, Mo Chen," Qixuan menutup matanya, menikmati ketenangan pertama yang ia dapatkan setelah sekian lama. "Aku hanya ingin memastikan bahwa tidak ada lagi orang yang bisa mengganggu tidur siangku. Dan sekarang, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun... aku akan tidur dengan sangat nyenyak."

Di luar sana, di bawah langit Jinling yang telah bebas dari badai salju, kehidupan berjalan seperti biasa. Namun bagi mereka yang tahu, ibukota itu telah berubah. Takhta mungkin masih diduduki oleh kaisar yang sama, namun setiap detak jantung kekaisaran kini diatur oleh detak nadi pemuda berjubah ungu yang sedang tertidur tenang di puncak menara.

Permainan catur telah selesai. Bukan karena bidak kaisar yang mati, melainkan karena sang lawan telah membeli seluruh papan catur beserta pembuat permainannya.

Cang Qixuan, sang Tuan Muda Pemboros, akhirnya menjadi penguasa absolut dalam bayangan—seorang raja tanpa mahkota yang memimpin dunia dengan koin emas dan racun yang disembunyikan di balik sutra.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!