Salma gadis berusia 28 tahun sering jadi gunjingan karena belum juga menikah padahal kedua adiknya sudah berkeluarga. Hanya ibunya yang selalu memberinya kekuatan untuk tetap menatap masa depan dengan optimis dan yakin suatu hari jodohnya akan datang.
Suatu hari saudara sepupunya datang dan memintanya untuk menjadi madunya. Walau sudah berusaha untuk menolak namun akhirnya ia pun menerimanya karena merasa kasihan pada sepupunya itu. Namun bukan pernikahan bahagia yang di alaminya tapi penuh dengan neraka karena suaminya membencinya.
Dan kepedihannya bertambah manakala ia mengetahui bahwa kehidupan bak di neraka yang dialaminya ternyata sudah direncakan seseorang untuk membalas dendam padanya. Akankah ia mempertahankan pernikahannya atau menyerah dan memilih berpisah? Dan siapakah orang yang begitu dendam padanya hingga ingin menghancurkan hidupnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ye Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Sore hari saat Amran pulang, tampak rumah dalam keadaan sepi dan hanya ada mbak Sum. Tanpa bertanya apa-apa pada Art nya itu ia langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan dirinya. Baru saja ia selesai membersihkan diri terdengar suara mobil memasuki halaman. Amran berfikir jika itu adalah Salma sehingga ia bergegas keluar untuk menemuinya. Namun ia harus kecewa karena yang datang ternyata adalah Nadia.
"Kenapa baru pulang Nad?" tanya Amran basa-basi.
"Kau sudah pulang mas?" tanya Nadia balik tanpa menjawab pertanyaan Amran.
"Baru saja... sekarang kenapa kau baru pulang?" Amran mengulangi pertanyaannya.
"Tadi pulang dari kantor aku diajak Mira dan Susi ke kafe sebentar...maaf kalau aku tau mas pulang sore ini aku akan langsung pulang" terang Nadia dengan wajah menyesal.
Amran menghela nafasnya kasar karena kesal bukan karena Nadia yang terlambat pulang. Tapi karena ia tak melihat Salma.
"Ayo masuk mas... " ajak Nadia dan Amran pun menurutinya.
"Aku mandi dulu ya mas ... kamu mau dibuatkan kopi? nanti aku suruh mbak Sum untuk membuatkannya..." tawar Nadia.
"Ya" jawab Amran singkat.
Nadia pun segera ke dapur untuk menyuruh Art nya itu untuk membuatkan kopi untuk Amran. Lalu ia pun segera ke kamar untuk mandi. Sementara Amran sengaja meminta dibuatkan kopi karena ingin menunggu kedatangan Salma. Saat Amran sedang menyesap kopi yang di buatkan Art nya Nadia keluar dari dalam kamar dan duduk di samping Amran.
"Mas..."
"Hemm..."
"Aku mau bilang..."
"Apa?"
"Mama meminta Salma untuk menginap lagi dirumahnya satu minggu lagi" adu Nadia yang membuat Amran kaget dan langsung tersedak minumannya.
"Uhuk...uhuk..."
"Mas kamu kenapa?" tanya Nadia saat melihat Amran tersedak.
"Uhuk...uhuk...a ...ku..ga pa-pa" ucapnya terbata sambil memegang tenggorokannya yang terasa sedikit sakit karena tersedak.
"Memang kamu tahu dari mana?" ucap Amran setelah merasa sedikit lega.
"Tadi pagi aku ke rumah mama untuk menyuruh Salma pulang tapi mama malah bilang kalau ia mengajak Salma menginap lebih lama" adunya dengan nada kesal.
"Kenapa kau harus menyusul ke rumah mama?".
"Soalnya aku ga mau kalau dia mempengaruhi mama untuk membela dia mas"
"Kalau kau begitu takut kenapa dulu kamu mau menjadikannya madumu?" tanya Amran kesal.
"Itu karena dia mengancam mau bunuh diri mas... apa kamu lupa yang aku katakan dulu?" ujar Nadia beralasan.
"Dia atau kamu yang mau bunuh diri hah!" sergah Amran yang sudah tidak tahan dengan kebohongan Nadia.
Nadia tercekat ia tak menyangka jika Amran sudah mengetahui kebohongannya.
"Siapa yang bilang begitu mas? apa perawan tua itu yang mengatakannya? dia yang sudah berbohong mas!"
"Bukan dia yang bicara tapi papa kamu!" ucap Amran.
Nadia terpaku mendengar ucapan Amran. Papanya yang membongkar kebohongannya? Sial... tapi kapan suaminya itu bertemu dengan papanya? apa ini cuma jebakan saja? pikir Nadia.
"Kenapa? kau tidak menduga jika papa kamu sendiri yang membongkar kebohongan kamu? sungguh aku tidak menyangka Nadia kamu tega membohongi kami semua dan bahkan memfitnah mamaku yang memaksamu melakukan semuanya!" kata Amran dengan penuh emosi.
"Mamaku menyayangi kamu seperti putrinya sendiri tapi kau tega memfitnahnya demi memenuhi keinginanmu... dan apa salahku dan Salma hingga kau memaksakan kami untuk menikah? untuk menyiksa Salma begitu? sebegitu bodohnyakah aku dimatamu hingga kau menganggapku seperti boneka yang bisa kau setir sesukamu?" Nadia hanya terdiam mendengar setiap perkataan Amran.
"Sudah cukup permainanmu Nadia... aku sudah muak!" sambung Amran lalu pergi meninggalkan Nadia dan mengambil kunci kontak dari kamarnya kemudian bergegas menuju mobilnya lalu melajukannya meninggalkan rumah.
Nadia yang menyadari Amran pergi meninggalkan rumah segera berlari menyusulnya namun terlambat mobil Amran suda keluar dari gerbang dan menghilang di kegelapan malam. Nadia langsung kembali ke dalam rumah dan memesan taxi online untuk mengantarnya ke rumah mama Aya. Ia tahu Amran pasti sekarang sedang menuju ke sana. Ketika taxi yang dipesannya datang ia langsung masuk dan menyuruh sopir taxi itu untuk segera mengantarnya. Sementara Amran kini sudah sampai di depan rumah mamanya. Dengan tergesa ia masuk ke dalam rumah hingga membuat mamanya yang sedang makan malam terkejut.
"Salma dimana ma?" tanyanya segera tanpa basa-basi.
"Kenapa kau mencari Salma?" tanya mama Aya.
"Aku ingin bicara dengannya sebentar ma..."
"Dia tidak ada disini" kata mama Aya enteng.
"Tapi bukannya kata Nadia mama meminta Salma untuk menginap di sini?"
"Memang ... tapi kemudian dia memutuskan untuk pergi"
"Dia pergi kemana ma?"
"Mama juga tidak tahu dia hanya bilang ingin pergi dari kalian berdua" sambung mama Aya.
Amran mengusak rambutnya dengan frustasi. Saat itulah Nadia datang menghampiri suami dan mama mertuanya itu.
"Sekarang mau apa lagi kamu datang?" tanya mama Aya pada Nadia.
"Mau mencari Salma juga?" sambungnya dengan nada sinis.
"Itu ma... aku mau nyusul mas Amran" kata Nadia sedikit kikuk.
"Memangnya ada masalah apa sampai kau harus menyusul Amran kemari?"
"Itu..." jawab Nadia menggantung tak tahu harus bicara apa.
Tiba-tiba ponsel mama Aya berbunyi yang membuat wanita paruh baya itu pun meninggalkan Amran dan Nadia untuk mengangkatnya.
"Halo..."
"Selamat malam... maaf dengan ibu Soraya?"
"Iya benar saya sendiri..."
"Maaf bu... kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan jika mobil yang ditumpangi oleh ibu Salma mengalami kecelakaan"
"Apa...? innalillahi wainnailaihi rojiuun... " ucap mama Aya dengan suara tercekat.
Ia tak menyangka jika Salma yang ia suruh untuk ke rumah ibunya justru mengalami kecelakaan.
"Bagaimana keadaan menantu saya pak?" tanyanya sesaat setelah dapat menenangkan dirinya.
"Saat ini kami belum mengetahui keadaannya karena sopir dan ibu Salma mengalami luka parah dan saat ini sudah dibawa ke rumah sakit Jaya Medika"
"Baik pak terima kasih saya akan segera ke rumah sakit" ucap mama Aya lalu mematikan ponselnya.
"Mama mau kemana?" tanya Amran saat melihat mamanya tergesa-gesa mengambil tasnya dari dalam kamar.
"Mama mau ke rumah sakit... Salma kecelakaan" ucap mama Aya cemas.
"Kecelakaan?" kata Amran yang kini juga panik mendengar Salma kecelakaan.
"Biar Amran yang antar ma..." sambungnya.
"Aku juga ikut ma..." kata Nadia.
"Terserah..." jawab mama Aya datar lalu bergegas menuju ke mobil.
Amran melajukan mobilnya ke arah rumah sakit yang di beritahukan oleh mamanya. Ketiganya terdiam selama perjalanan kesana. Mama Aya yang duduk didepan selalu berdo'a untuk keselamatan Salma. Ia tak dapat memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada menantunya itu karena dia yang menyuruh Salma untuk pergi malam itu juga. Sesampainya di rumah sakit ketiganya langsung menuju ke ruang IGD setelah sebelumnya menanyakan keberadaan Salma dan sopirnya kepada petugas resepsionis.
Di depan pintu ruang IGD ketiganya tak bisa masuk karena sedang dilakukan tindakan pada keduanya. Mama Aya tak henti-hentinya menangis melihat dari balik kaca ruangan IGD keadaan Salma yang tampak penuh dengan darah. Begitu pun dengan Amran yang tak terasa air matanya meleleh melihat gadis yang selama ini ia buat sangat tersiksa sedang meregang nyawa di dalam sana. Sedang Nadia... entah apa yang kini sedang ia rasakan. Bahagia? karena orang yang selama ini dibencinya sedang melawan maut? entahlah... Nadia sendiri tak dapat mengiranya karena saat ini entah mengapa ada bagian dari hatinya yang ikut merasa sakit.
Entah karena keadaan Salma yang kini sangat mengkhawatirkan atau sakit melihat suami yang selama ini ia yakini tak mungkin menaruh rasa pada Salma ternyata telah berubah. Dan semua ini karena ulahnya sendiri. Apa lagi mertuanya yang dulu sangat menyayanginya juga kini berubah membencinya dan tampak sangat menyayangi Salma lagi-lagi ini juga karena ulahnya yang terlalu egois dan tak mau kalah dengan Salma. Kini ia sadar ia telah menggadaikan kebahagiaannya sendiri hanya karena rasa iri dan dendamnya yang tak masuk akal. Air mata Nadia menetes deras tak dapat menutupi rasa sakit dalam hatinya.
"Untuk apa kau menangis hah!! bukankah ini yang kamu inginkan? melihat Salma menderita dan mati?" kata mama Aya saat melihat Nadia menangis.
"Kamu memang iblis yang tak punya hati... kau jadikan putraku... suamimu sendiri sebagai alat balas dendam pada Salma!" teriak mama Aya yang sudah kalap.
Amran tertegun dengan perkataan mamanya.
"Ya ...kau tahu Amran perempuan ini memaksamu menikah dengan Salma agar gadis malang itu tidak bertemu dengan pria yang mencintainya sejak SMU. Karena ternyata Nadia dulu juga menyukai pria itu" kata mama Aya masih dengan emosi.
"Apa maksud mama?" tanya Amran.
"Tanyakan saja pada perempuan ini alasan sebenarnya ia menyuruhmu menikahi Salma selain ingin menyiksanya" sahut mama Aya lalu pergi meninggalkan keduanya yang masih mematung saling berhadapan.
Mama Aya pergi ke toilet untuk membersihkan mukanya. Ia harus segera menghubungi keluarga Salma dan juga sopirnya. Sementara Amran tengah menatap Nadia dengan mata nyalang. Perkataan mamanya terngiang ditelinganya. Nadia membuatnya menikahi Salma agar tak bertemu dengan pria dari masa lalu keduanya? Apakah itu berarti selama ini Nadia juga hanya berpura-pura mencintainya dan masih memiliki rasa pada pria masa lalunya itu hingga ia tega mempermainkan pernikahan hanya agar Salma dan pria itu tak dapat bertemu dan menjalin hubungan?
"Apa maksud dari perkataan mama itu Nad? jawab!!" kata Amran yang sudah mulai meradang.
Nadia mematung tak tak menduga jika mama mertuanya sudah mengetahui rahasia besarnya. Dan kini ia harus menghadapi kemurkaan Amran suaminya ... semakin terpojok itulah yang kini Nadia rasakan. Ia kini seperti pepatah yang mengatakan mengejar burung yang terbang dan melepaskan emas dalam genggaman. Ia kini benar-benar dalam posisi sulit karena bisa saja suaminya kini akan meninggalkannya setelah semuanya terbongkar.
tapi kau sakiti dia. brti kan kau yg bodoh