Tak pernah terpikirkan sebelumnya jika nasib nahas akan menimpa dirinya. Setelah sang ibu mengalami kecelakaan dan koma, Melati harus mau menikah dengan seorang pria dan menjadi yang kedua.
Dan lebih parahnya lagi dia harus merelakan anak yang di kandungnya sebagai syarat terwujudnya sebuah perjanjian. Namun seiring berjalannya dengan waktu, rasa cinta hadir diantara mereka dan membuat pria tersebut di landa kegalauan dalam hatinya. Siapakah yang akan di pilih oleh pria tersebut, istri pertama atau istri keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Shally, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan Hati
Arka terdiam ketika melihat Melati menangis, dia bingung sekaligus tak tega melihat Melati yang terisak dalam diam. Dadanya sesak tak tertahankan. Dia menghela nafas panjang dan berujar, "Apakah ini pilihan terbaik untuk kita, Mel?"
Arka menghela nafas berat. "Tidak, ini tak adil bagi kita semua, kamu maupun Annisa. Karena kita akan patah dalam porsi yang berbeda."
Melati mendongak menatap Arka. "Maksud mas Arka?"
"Kamu tak mengerti kenapa saya memilih menikah denganmu dan membuatmu mengandung. Ini semua demi Annisa. Saya tak ingin kehilangan Annisa karena tuntutan orang tuaku yang menginginkan seorang cucu. Kamu tau apa yang di katakan oleh ibuku pada Annisa?" Arka menjeda kalimatnya. "Ibuku ingin saya berpisah dengan Annisa yang di rasa tak akan memiliki keturunan dan menyuruh saya menikah dengan perempuan pilihannya. Meskipun ibu menyuruh saya menikah lagi dengan perempuan pilihannya, namun saya menolaknya. Karena saya lebih memilih menikah dengan pilihanku sendiri dari pada harus melihat Annisa yang tersisih dari perlakuan ibuku. Saya tak tega, saya sakit melihat dia menangis. Meskipun saya tak menampik jika saya juga akan melihat air matanya jika pernikahan kita diketahui oleh Annisa."
"Lalu, maksud mas Arka tertekan dengan pernikahan ini apa maksudnya?" Melati mendongak dan menatap lamat wajah Arka yang berubah sendu. Matanya pun nampak merah seperti menahan lara dan emosi. Dia tak menyangka, di balik wajahnya yang dingin, ternyata menyimpan hati yang hangat dan penuh cinta.
"Bisa kamu bayangkan Melati jika kamu menjadi saya. Saya harus menekan perasaan saya sama kamu karena saya tak ingin menghianati Annisa. Namun jika saya tak melakukan ini, Annisa juga yang akan menjadi alasan ibuku untuk memisahkan saya dan Annisa."
"Lalu, jika aku mengandung dan melahirkan anakmu, bagaimana nasibku ke depannya, Mas? Apakah aku rela meninggalkanmu dan anakku? Berat, Mas. Itu sungguh berat!!" Melati kembali terisak.
Arka langsung mendekap Melati dalam pelukannya. Mengecup kepalanya dan mendekapnya penuh rasa.
"Jujur, saya takut kehilangan kamu, Melati. Saya sudah mulai menyayangimu sama seperti Annisa. Tapi untuk masa yang akan datang, saya tak bisa menjanjikan apapun. Karena kita semua tak tau apa yang bakal terjadi di masa depan. Untuk sekarang, jangan tuntut saya memberikan jawaban yang saya tak tau bagaimana kedepannya. Saya hanya ingin menikmati waktuku bersamamu tanpa memikirkan yang lain. Jikalau esok harus berpisah, saya ingin kita berpisah baik-baik pula. Karena apapun yang terjadi, kamu tetap ibu dari anakku kelak. Siapapun tak akan bisa menggantikan posisimu, termasuk Annisa."
Melati terharu. Dia mengeratkan pelukannya pada tubuh Arka. Dia menangis di sana. Menangis bahagia atas pengertian Arka dan jawaban atas kegalauannya. Tangisan juga mengandung lara membayangkan perpisahannya dengan Arka.
Melati membenarkan apa yang di katakan oleh Arka. Karena saat ini yang terpenting dia dan Arka bersama. Tak di pungkiri jika bayangan tentang perpisahan dengan Arka selalu menghantui hatinya. Namun sekali lagi, dia sudah mengambil segala resiko di awal pernikahan dengan Arka, dan dia juga harus menerima apa yang akan terjadi besok akan pernikahannya.
Mereka mengurai pelukan. Arka melihat Melati yang masih terisak dalam tangisnya. Tangan Arka terulur dan menangkup kedua pipi Melati dan mengarahkan pada wajahnya.
"Sudah, jangan menangis lagi, Sayang. Saya sakit melihat air matamu tumpah karena keegoisanku. Maaf, karena keegoisanku kamu tersakiti. Maaf, maafkan aku Melati."
Melati menggeleng, "Justru aku yang harus minta maaf, Mas. Karena aku hadir dalam hidupmu dan Annisa. Aku tau aku hanya orang ke__" Arka melahap bibir Melati dengan rakus. Dia tak ingin mendengar Melati mengatakan dirinya sebagai pelakor atau orang ketiga. Baginya, tak akan ada orang ketika dalam rumah tangganya jika dia tak mengundangnya. Dan yang perlu di salahkan di sini adalah dirinya, bukan Melati. Karena dialah penghianat dalam rumah tangganya sendiri.
"Saya tak suka jika kamu menyebut dirimu pelakor, Melati. Dan saya mohon jangan ucapkan itu lagi di depan saya," ucap Arka setelah penyatuan bibirnya terlepas. Tangannya bergerak mengusap bekas saliva yang masih membasahi bibir Melati.
Melati masih memejamkan matanya, menikmati usapan lembut jari Arka di bibirnya.
Arka tersenyum melihatnya. Kemudian sekali lagi menghadiahi kecupan manis di bibir Melati.
Melati tertawa, karena dengan jahil Arka kembali mengecup bibirnya. Merasa lucu, hingga sakit itu sedikit demi sedikit hilang dari hatinya berganti dengan hati yang berbunga-bunga.
"Saya sayang sama kamu, Melati. Dan saya harap kamu tak usah berpikiran terlalu jauh. Kita pasrahkan semua sama yang Di atas. Pasti Dia tau yang terbaik bagi hambaNya. Kita hanya melakukan apa yang sudah Dia rencanakan meskipun itu menyakitkan. Yakinlah, akan ada obat ketika kita terluka."
Melati mengangguk setuju. Dan entah keberanian dari mana dia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Arka terlebih dahulu. Tentu saja Arka terkejut. Namun sedetik kemudian dia bisa menguasainya dan memperdalam penyatuan bibir mereka.
Melati meraup udara banyak-banyak ketika Arka melepas tautan bibir mereka. Wajahnya bersemu merah ketika dia menyadari kegilaannya karena mengecup Arka terlebih dahulu.
"Nakal ya kamu sekarang?" Arka mencubit hidung Melati dengan gemas. Tak menyangka jika Melati bisa seagresif itu.
"Gemas aku sama kamu, Mas. Karena??"
"Karena apa? Hhhmmm??"
Melati mendekatkan wajahnya dan berbisik lirih di telinga Arka. "Aku mencintaimu, Mas." Melati segera berlari ke kamar mandi setelah meninggalkan kecupan di pipi Arka. Tak lupa dia mengunci pintu kamar mandi agar Arka tak bisa mengejarnya dan masuk ke dalam.
Melati bersandar di daun pintu. Menetralkan jantungnya yang bertalu dengan kencang. Dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena telah mendengar pengakuan perasaan Arka padanya. Dan dengan gilanya juga dia mengungkapkan perasaannya pada Arka dan di sertai kecupan di pipi suaminya.
Malu, sungguh malu jika mengingat kegilaannya itu. Entah mau di taruh di mana wajahnya jika dia keluar dari kamar mandi nanti. Yang pasti, dia belum siap menampakkan wajahnya di depan Arka.
"Melati, kenapa di kunci pintu kamar mandinya?" suara Arka memecah lamunannya. Dia berbalik dan mundur menjauh dari daun pintu yang di ketuk Arka dari luar.
Dia tersenyum membayangkan wajah Arka yang kesal karena tak bisa membuka pintunya, hanya memutar handel pintunya berulang kali.
"Melati, Buka pintunya!!!"
"Melati mandi dulu, Mas."
"Saya ikut!!!
"NO, FIKTOR!!!"
Kening Arka berkerut. "Fiktor siapa, Melati?" teriak Arka di sertai gedoran di pintu.
Melati terkekeh sendiri di dalam kamar mandi ketika mendengar Arka yang bertanya tentang Fiktor. Apalagi gedoran itu seolah Arka tak sabar menunggu jawabannya.
Setelah melakukan ritual mandinya, Melati segera meraih handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Kemudian tangannya mencari sesuatu namun tidak ada. "Mati aku, aku lupa lagi tak bawa baju ganti ke kamar mandi. Gimana ini? Dasar bodoh!!" rutuk Melati.
Melati menatap penampilannya di cermin, yang hanya memakai handuk sebatas paha dan mempertontonkan separuh tubuhnya. Rambutnya juga di gelung menggunakan handuk kecil kecil agar tak membasahi tubuhnya kembali.
Sesungguhnya dia malu jika harus keluar dalam penampilan seperti ini, namun mau bagaimana lagi. Dia mendekat ke arah pintu dan menempelkan telinganya di sana. Sepi, itulah kata pertama yang dia dengar dari kamar Arka. Sehingga Melati berpikir jika Arka sudah menjauh dari kamar karena tidak mendengar suaranya lagi.
"Bismillah, semoga mas Arka sudah pergi keluar kamar. Jadi aku bisa dengan cepat berganti pakaian dan menyusulnya." gumam Melati seraya memegang handel pintu.
Ceklek..
Dengan Melati perlahan menarik pintunya, berjaga-jaga jika Arka masih berada di kamar. Setelah di rasa aman, dengan mengendap-endap dia melangkah keluar dari kamar mandi. Baru beberapa dia keluar dari sana, sebuah suara bariton membuatnya membeku seketika.
"Melati!!!"
mf authooorr....lo sy blg trburuk yg su bkin z kecewa bc crita author.
krna dsni tokoh utama yg trtindas mpe su brjuang ksh anak tp msh kalah sm perem mandul😏🙄😠😠
su mandul tp g tau diri jg msh mo kuasai lakix, bner" perem g brguna.
sumpah.....sy bner" rasa rugi bc crita ni biar sy bc jg lompat" , endingx bkin emosi