Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.
Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.
Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.
Brak!
Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.
Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?
Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Koridor rumah sakit masih terasa dingin saat Bagas melangkah keluar dari ruang rawat, Pintu tertutup di belakangnya dan seiring itu sesuatu di dalam dirinya ikut tertutup.
Raka dan Dimas langsung berdiri, Melihat wajah Bagas mereka tidak bertanya apa-apa karena jawabannya sudah jelas.
"Sekolah"ucap bagas singkat.
Tidak ada nada emosi, Justru itu yang membuat Bagas terasa lebih berat.
Mobil melaju cepat, Tidak ada percakapan, Raka fokus menyetir, Dimas gelisah, Sedangkan Bagas di belakang hanya diam.
...••••••...
Bagas mengetuk pintu sekali.
Tok.
Bagas kemudian membuka pintu.
Petugas CCTV langsung berdiri kaget.
"Bagas?."
"Putar rekaman toilet perempuan."
Petugas itu terlihat ragu.
"Maaf, tapi rekaman toilet—."
"Koridornya"ucap bagas memotong.
"Rekam pintu masuk toilet perempuan, Dari setelah upacara sampai Ayla keluar toilet."
Petugas itu menelan ludah.
"Baik."
Monitor dinyalakan dan rekaman mulai diputar.
Beberapa menit pertama hanya terlihat siswa keluar-masuk koridor, Sampai akhirnya Ayla muncul, Seragamnya masih rapi, Ayla berjalan sendirian menuju toilet.
Bagas memperhatikan tanpa berkedip.
Beberapa detik kemudian Keisha muncul bersama Sesil dan Mira.
Dimas langsung menunjuk layar.
"Itu mereka."
Rekaman terus berjalan.
Mereka bertiga masuk ke toilet beberapa saat setelah Ayla.
Bagas mengepalkan tangan.
"Berhenti."
Video dihentikan.
Bagas menunjuk layar.
"Berapa lama mereka di dalam?."
Petugas melihat waktunya.
"Hampir dua puluh menit."
Bagas terdiam.
Kemudian video dilanjutkan, Beberapa menit kemudian pintu toilet terbuka, Keisha keluar lebih dulu, Sesil dan Mira menyusul, Mereka bertiga terlihat santai, Tidak lama kemudian Ayla keluar, Langkahnya jauh lebih lambat.
Bagas menatap layar tanpa suara.
Seragam Ayla terlihat basah, Rambutnya berantakan dan Ayla berjalan sambil memegang dahinya.
Dimas menghela napas.
"Anjir."
Raka menatap Bagas.
"Gas."
Bagas menarik napas panjang.
"Salin rekamannya."
Petugas mengangguk.
"Ke flashdisk?."
"Semua."
Dimas menyerahkan flashdisk.
"Ini."
Petugas mulai menyalin file.
...••••••...
Suasana masih normal beberapa siswa tertawa Tidak tahu apa yang akan terjadi.
BRAK!
Pintu terbuka keras.
Semua langsung diam.
Bagas berdiri di sana tatapannya langsung mengunci satu orang.
Senyum Keisha perlahan hilang.
"Bagas."
PLAK!
Tamparan pertama.
Keras dan menggema.
Satu kelas membeku tidak ada yang berani bergerak.
Keisha terhuyung sedikit belum sempat bicara.
PLAK!
Tamparan kedua.
Lebih keras.
"Lo pikir ini permainan?"
Suara Bagas rendah, Dingin dan menusuk.
Sesil langsung berdiri.
"Eh!Lo."
Raka langsung maju menghadang.
"Duduk."
Nada suaranya tegas.
Dimas ikut berdiri di samping.
"Jangan ikut campur."
Bagas menarik kerah baju Keisha.
"Cincin Ayla mana?."
Keisha mencoba tersenyum sinis.
"Udah aku buang."
Keisha mencoba bertahan.
"Lagian bukan urusan kamu."
PLAK!
Tamparan ketiga.
Kali ini membuatnya benar-benar diam.
"Ayla tunangan gue jadi itu termasuk urusan gue juga."
Keisha kembali terdiam.
Dimas yang berdiri di belakang langsung maju sedikit.
"Udah,Gas."
Bagas tidak bergerak.
"Dia cewek."
Bagas menoleh perlahan, Tatapannya dingin.
"Gue nggak peduli."
Dimas terdiam.
Bagas kembali menatap Keisha.
"Lo apain Ayla."
Keisha tidak menjawab.
Rahang Bagas mengeras.
"Jawab."
Keisha mulai kehilangan keberaniannya.
"Aku—."
PLAK!
Tamparan keempat memotong ucapan Keisha.
"Jangan bawa-bawa nama Ayla buat pembelaan lo."
Keisha menatap Bagas dengan mata berkaca-kaca karena marah dan takut.
Bagas mendekat satu langkah.
"Dia sampai pingsan."
Hening.
"Dan lo masih bisa duduk santai di sini?."
Keisha menggigit bibir.
Bagas kembali mengangkat tangannya.
PLAK!
Tamparan kelima.
Bagas lalu menoleh ke seluruh kelas, Suaranya rendah namun bergetar menahan amarah.
"Ambil air selokan, Bawa ke sini sekarang."
Satu kelas hening.
Beberapa siswa laki-laki mengangguk cepat,Berlari keluar, Tak lama kemudian kembali membawa ember berisi air selokan berbau tidak sedap.
Keisha menatap panik.
"Jangan...jangan!Bagas, Gue minta maaf!."
Bagas menatapnya tanpa belas kasih.
"Lo siram Ayla pakai air kotor, Sekarang rasain sendiri."
Bagas memberi isyarat singkat.
"Guyur."
Dua siswa itu mendekat dan-
Byuurrr!
Seluruh isi ember disiramkan tepat ke tubuh Keisha, Air selokan yang hitam membasahi rambut, Seragam hingga jatuh menetes ke lantai, Bau amis dan kotor langsung memenuhi ruangan, Keisha terisak, Air kotor mengalir di wajahnya.
"lo jahat,Bagas!."
"Kalau gue jahat terus lo apa, Bahkan yang gue lakukan gak seberapa yang lo perbuat ke Ayla."
PLAK!
Tamparan keenam.
"Masih kurang?."
Raka langsung maju.
"Gas, Cukup."
Bagas terdiam beberapa detik dan napasnya berat,Namun tatapannya tetap terkunci pada Keisha.
Hening.
Bagas lalu menggenggam pergelangan tangan Keisha kuat.
"Keluar."
"Lepas!Sakit."
Tidak digubris.
Sesil dan Mira langsung ikut panik.
"Keisha!."
Namun Raka dan Dimas menahan mereka.
"Kalian ikut juga"ucap dimas..
...••••••...
BRAK!
Pintu dibuka tanpa ketukan.
Kepala sekolah kaget.
"Bagas!?Ini apa?."
Matanya membelalak melihat keisha basah kuyup berbau kotor.
Bagas mendorong Keisha ke depan.
"Pelaku."
Sesil dan Mira ikut didorong masuk.
Ruangan langsung penuh ketegangan, Bau selokan sempat membuat Kepala sekolah menutup hidung sebentar.
"Ini bisa dijelaskan baik-baik"ucap Kepala sekolah mencoba.
"Rekaman ada"potong Bagas.
Raka menambahkan.
"Kami lihat langsung di CCTV, Semua bukti sudah jelas."
Beberapa menit kemudian orang tua dipanggil.
Pintu terbuka.
Pintu terbuka, Papa Keisha masuk, Wajahnya tegang, Papa Keisha terkejut melihat putrinya basah kuyup dan berbau busuk.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka lagi Papa Bagas masuk aura mereka langsung mengubah suasana tenang tapi berkuasa.
Semua berdiri.
Papa Bagas duduk menatap satu per satu.
"Jelaskan."
Bagas maju tatapannya lurus.
"Dia nge-bully tunangan Bagas."
Hening.
Papa Keisha langsung menyela dengan suara tinggi.
"Ini pasti salah paham, Anakku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu!dan bagas, Kenapa kamu menyiram Keisha dengan air selokan?Itu menjijikkan!."
"Saya sudah pernah bilang"Potong Bagas.
Suara lebih rendah, Lebih tajam.
Semua langsung diam.
Bagas menatap Keisha.
"Saya hanya membalas perbuatan anak anda kepada tunangan saya, Saya juga sudah pernah bilang"
Setiap kata ditekan.
"Jangan usik Ayla."
Hening napas semua terasa berat.
Bagas melanjutkan.
"Kalau nggak."
Tatapannya berubah lebih dingin dan lebih gelap.
"Keluar dari sekolah ini."
Koridor rumah sakit terasa semakin
Sunyi.
Itu bukan ancaman lagi tapi itu janji.
Papa Bagas akhirnya bicara dengan tenang tapi tegas.
"Ini bukan soal Ayla sebagai calon menantu saya."
Semua langsung diam.
Papa Bagas menatap satu per satu.
"Tapi soal perbuatan perundungan, Kekerasan dan penghinaan, dan perbuatan ini tidak bisa ditoleransi."
Papa Keisha mulai panik.
"Pak, kita bisa-"
"Kita tidak sedang bernegosiasi."
Potong Papa Bagas tegas.
Hening.
Papa Bagas menoleh ke kepala sekolah.
"Proses."
Kepala sekolah mengangguk cepat.
"Baik pak, Keisha, Sesil dan Mira akan dikeluarkan dari sekolah."
Keputusan jatuh dan final.
Keisha langsung pucat.
"Pa-papa."
Namun Papa Keisha sendiri diam dan tidak bisa membela.
Ruangan hening.
Namun belum selesai.
Papa Bagas berdiri perlahan dan menatap langsung ke Papa Keisha.
"Selama ini kita bekerja sama dengan baik."
Nada suaranya tenang.
"Tapi mulai hari ini"
Sedikit jeda dan tatapannya mengeras.
"kita bukan lagi rekan bisnis."
Hening.
Wajah Papa Keisha berubah drastis.
"Pak, Ini"
"Keputusan saya sudah jelas."
Tidak ada ruang untuk bantahan lagi.
Papa Bagas berbalik dan langsung keluar dari ruangan itu.
Bagas berdiri diam beberapa detik dan Menatap Keisha, Tatapan terakhir, Dingin dan tanpa emosi, Lalu berbalik keluar dari ruangan itu.
Raka dan Dimas mengikuti.
Di luar ruangan langkah Bagas melambat untuk pertama kalinya napasnya sedikit berat.
Dimas menghela napas panjang.
"Gila selesai juga."
Raka melirik bagas.
"Sekarang ke rumah sakit?."
Bagas diam beberapa detik, Lalu mengangguk.
"Hmm."
Tatapannya berubah tidak lagi dingin sekarang hanya ada satu hal di pikirannya Ayla.
Mobil kembali melaju.
Kali ini tidak secepat sebelumnya dan tidak sekeras tadi Tapi justru terasa lebih berat.
Raka menyetir dan Dimas diam di samping, Tidak ada yang bicara karena mereka tahu Sekarang bukan waktunya.
Di kursi belakang, Bagas bersandar, Kepalanya sedikit tertunduk untuk pertama kalinya sejak tadi napasnya tidak stabil dan tangannya masih mengepal namun perlahan mengendur.
...••••••...
Rina dan Salsa langsung berdiri saat melihat Bagas,Raka dan Dimas datang.
Rina mendekat cepat.
"Gas-."
Rina berhenti berucap karena melihat wajah Bagas berbeda tapi bukan lagi marah lebih ke lelah.
Salsa langsung bertanya pelan.
"Gimana?."
Hening sebentar.
Bagas menjawab singkat.
"Udah."
Rina langsung mengerti.
"Mereka?."
Bagas menatap lurus.
"Keluar."
Salsa menghela napas panjang.
"Pantes."
Namun mata Bagas tetap ke arah ruangan Ayla.
"Dia dari tadi nanyain kamu"ucap Rina.
Langkah Bagas berhenti sepersekian detik dan lalu langsung berjalan masuk.
Di dalam ruangan, Ayla terbaring dan matanya terbuka, Begitu melihat Bagas tatapan Ayla langsung berubah lega dan campur takut.
Bagas berhenti di dekat pintu, Menatap dan memastikan, Lalu berjalan mendekat dan duduk di samping ranjang.
Hening.
Ayla yang lebih dulu bicara Pelan.
"Keisha…Sesil…dan Mira…?"
Bagas menatapnya.
"Keluar."
Hening.
Mata Ayla sedikit melebar dan jelas tidak menyangka.
"Aku"Ayla menggenggam selimut,
"Aku nggak maksud sejauh itu."
Bagas diam dan tatapannya tidak berubah masih menatap Ayla.
Ayla melanjutkan lagi, lebih pelan.
"Gas jangan dikeluarin"
Hening.
"Cukup dikasih pelajaran aja."
Suaranya mulai melemah.
"Nggak harus sampai kayak gitu."
Sunyi.
Bagas akhirnya bergerak sedikit dan menarik napas namun tidak menjawab permintaan itu sebaliknya suaranya keluar pendek dan datar.
"Udah."
Ayla menatapnya.
"Bagas."
Namun bagas tetap diam, Tidak menoleh dan tidak berubah, Itu jawaban tanpa perlu penjelasan.
Hening.
Beberapa detik berlalu.
Ayla akhirnya menunduk, Ayla tahu bagas tidak akan mundur.
Suasana perlahan mereda.
Bagas menyandarkan sikunya di paha, Menunduk sedikit tangannya terangkat namun kali ini tidak ragu lagi.
Ayla melihat itu dan untuk pertama kalinya sejak tadi ayla yang bergerak duluan, Perlahan tangan Bagas mendekat dan menggenggam tangan Ayla.
Tatapan Bagas turun ke tangan mereka.
Ayla bicara pelan.
"Aku nggak bilang karena aku takut."
Hening.
"Aku takut kamu bakal kayak gini."
Menarik nafas sebentar, Suara Ayla sedikit bergetar.
"Dan semuanya jadi besar."
Bagas tidak langsung menjawab dan Rahangnya sedikit mengeras.
"Terus sekarang?"ucapnya pelan.
Nada suaranya tidak dingin tapi berat.
Ayla menatap bagas dan matanya masih basah.
"Ternyata emang jadi besar."
Hening.
Beberapa detik tidak ada suara.
Lalu bagas menarik napas panjang,Tangannya yang tadi kaku akhirnya membalas genggaman ayla,Lebih erat.
"Cincinnya"
Ayla langsung menatapnya.
Bagas melanjutkan.
"aku ganti."
Hening.
Mata ayla kembali berkaca-kaca namun kali ini bukan karena sakit.
"Aku-"suaranya pelan,
"yang sebelumnya itu berarti-"
Bagas menatap ayla Dalam.
"Yang ini juga dari gue."
Pendek tapi jelas.
Ayla terdiam,Lalu tersenyum kecil.
Sedangkan di luar ruangan,Rina,Salsa,Raka dan dimas yang masih menunggu hanya saling pandang.
...••••••...
Sore itu, Udara tampak sejuk, Jalanan tampak ramai, Lampu-lampu kendaraan menyala satu per satu, Suara mobil bagas yang melaju pelan, disampingnya Ayla duduk tenang meski wajahnya tampak masih pucat dan lelah setelah seharian berada dirumah sakit.
Bagas sesekali melirik ke Ayla.
"Pusing?"
Ayla menggeleng pelan.
"Sedikit."
"di buat tidur."
"Aku nggak mau tidur."
"Kenapa?"
Ayla menoleh dan tersenyum kecil.
"Aku mau ngobrol sama kamu."
Bagas kembali menatap jalan.
"Ngobrol apa?."
Ayla diam sebentar.
"Tadi kamu marah banget."
Tangan bagas yang berada di setir sedikit mengencang.
"Hmm."
"Aku sampai takut."
Bagas terdiam, Beberapa detik kemudian, Suaranya terdengar lebih pelan.
"Takut sama Aku?."
Ayla menatap Bagas.
"Sedikit."
Bagas menghela napas.
"Maaf."
Ayla terlihat sedikit terkejut.
"Kamu minta maaf?"
"Iya."
"Jarang banget."
Bagas melirik sebentar.
"Jangan dibahas."
Ayla tertawa kecil.
"Kenapa?."
"Karena aku serius."
Ayla kembali tersenyum.
"Aku tahu."
Hening beberapa saat.
Kemudian Ayla melihat tangannya sendiri.
"Gas."
"Hmm?."
"Soal cincin."
Bagas langsung tahu apa yang dimaksud.
"Kenapa?."
"Aku masih kepikiran."
"Cincin yang lama?."
Ayla mengangguk.
"Padahal cuma benda, Tapi itu pemberian dari kamu."
Bagas diam sejenak.
"Yang penting bukan cincinnya."
Ayla menoleh.
"Terus?."
"Yang penting orangnya."
Ayla tersenyum tipis.
"Siapa?"
Bagas menatapnya sekilas.
"Kamu."
Ayla langsung terdiam, Wajahnya yang sejak tadi masih pucat perlahan berubah merah, Ayla menunduk berusaha menyembunyikan senyum yang mulai muncul di bibirnya.
Bagas melirik sekilas.
"Kenapa?."
"Nggak."
"Terus kenapa wajahnya merah?."
Ayla semakin menunduk.
"Panas."
Bagas melihat AC mobil yang masih menyala.
"Panas dari mana?."
Ayla langsung diam.
Bagas tersenyum tipis.
"Malunya kelihatan."
Ayla spontan menoleh.
"Aku nggak malu."
"Iya."
Bagas mengangguk seolah percaya.
"Tapi wajah kamu merah."
Ayla menarik ujung jaketnya,Menutupi sebagian wajah.
"Jangan lihat."
Bagas tertawa kecil.
"Kenapa?."
"Pokoknya jangan."
"Kenapa aku nggak boleh lihat calon istri aku sendiri?."
Wajah ayla semakin merah.
"Bagas!."
Bagas tertawa pelan.
"Iya,Iya."
Ayla masih menutupi wajahnya, Beberapa detik kemudian Ayla mengintip dari balik jaket.
Bagas masih tersenyum.
Ayla akhirnya berucap pelan.
"Kamu kalau ngomong jangan tiba-tiba begitu."
"Kenapa?."
"Bikin aku malu."
Bagas mengangkat alis.
"Berarti berhasil."
Ayla langsung memukul pelan lengan Bagas.
"Nyebelin."
Bagas kembali fokus menyetir, Senyum kecil masih terlihat.
Suasana di dalam mobil menjadi lebih ringan.
Beberapa saat kemudian, Ayla kembali melihat keluar jendela.
"Gas."
"Hmm?."
"Besok aku tetap sekolah kan?."
Bagas langsung menghela napas.
"Mulai lagi."
Ayla tertawa.
"Jawab dulu."
"Nggak."
"Aku tetap sekolah."
"Kamu memang keras kepala."
Ayla tersenyum puas.
"Tapi kamu tetap sayang kan."
Bagas meliriknya.
"Banget."
Ayla langsung diam,Wajahnya memerah.
Bagas kembali fokus menyetir seolah tidak mengatakan sesuatu yang membuat Ayla salah tingkah.
Beberapa detik kemudian ayla bergumam pelan.
"Aku juga sayang."
Bagas tersenyum kecil.
...••••••...
Malam harinya, suasana rumah sudah jauh lebih tenang.
Ayla sedang rebahan di atas tempat tidurnya, Selimut menutupi sebagian tubuhnya, sementara rambutnya masih sedikit berantakan, Setelah seharian berada di rumah sakit, tubuhnya memang terasa lelah.
Ayla baru saja membuka ponselnya ketika tiba-tiba sebuah notifikasi masuk.
Trio Nyebelin
Salsa:
AYLAAAA
Ayla:
Apa?
Salsa:
Buka grup kelas sekarang
Rina:
Iya, buka dulu.
Ayla:
Kenapa?
Salsa:
Pokoknya buka.
Ayla:
Kalian kenapa sih?
Rina:
Ada video.
Ayla:
Video?
Salsa:
Video Bagas melabrak Keisha, Sesil dan Mira
Ayla langsung terdiam.
Jarinya berpindah ke grup kelas.
Puluhan pesan sudah memenuhi layar.
Ada yang mengirim video.
Ada yang memberi komentar.
Ada juga yang hanya mengirim emoji kaget.
Ayla menekan video tersebut, Beberapa detik kemudian, Wajahnya langsung berubah.
Di dalam video terlihat suasana kelas yang tegang, Bagas berdiri di depan Keisha, Sesil, dan Mira, Raka dan Dimas terlihat berada di dekatnya.
Video itu memperlihatkan bagaimana Bagas melabrak mereka karena kejadian yang menimpa Ayla.
Ayla menonton tanpa berkedip.
Sampai akhirnya video memperlihatkan Keisha disiram air kotor sebagai balasan atas perbuatannya.
Ayla langsung menghentikan video, Tangannya perlahan turun dari layar, Wajahnya berubah kesal.
Salsa:
Ayla kamu udah lihat videonya?
Ayla:
Udah
Ayla:
Bagas ngelakuin ini karena aku?
Rina:
Mungkin
Salsa:
Bukan mungkin lagi, Jelas karena kamu.
Ayla menghela napas panjang.
Dadanya terasa sesak bukan karena sakit seperti sebelumnya, Tetapi karena kecewa, Ayla tahu Bagas marah, Ayla juga tahu Bagas membelanya, Tapi dia tidak pernah menyangka semuanya akan sampai sejauh itu,Ayla kemudian membuka percakapan pribadi dengan Bagas, Jarinya sempat mengetik beberapa kata, Lalu dihapus, Mengetik lagi, dihapus lagi dan akhirnya Ayla hanya meletakkan ponselnya di samping bantal.
Namun beberapa detik kemudian, Ponsel Ayla kembali berbunyi.
Bagas:
Udah tidur?
Ayla menatap pesan itu lama, Lalu membalas.
Ayla:
Belum.
Bagas:
Kenapa?
Ayla menggigit bibir sebentar.
Ayla:
Belum mau tidur, Besok Aku mau ngomong sebentar sama kamu , Sebelum jam pelajaran pertama
Pesan Bagas langsung muncul.
Bagas:
Soal?
Ayla mengetik singkat.
Ayla:
Besok aja
Tidak ada balasan selama beberapa detik.
Kemudian muncul tulisan:
Bagas sedang mengetik...
Ayla menunggu.
Bagas:
Oke.
Ayla tidak membalas lagi, Ayla meletakkan ponselnya dan menarik selimut sampai sebatas dada.
Malam itu untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah sakit, Ayla justru sulit tidur.
...••••••...
Keesokan paginya.
Bagas baru saja turun dari mobil ketika melihat Ayla berdiri di depan gerbang sekolah.
Biasanya Ayla akan menyapa atau tersenyum, Tapi kali ini tidak, Bagas langsung menyadarinya.
"Sayang."
Ayla berjalan mendekat.
"Bagas."
Bagas mengernyit.
"Kenapa?."
Ayla langsung mengangkat ponselnya.
"Ini."
Layar ponselnya menampilkan video yang semalam dia tonton.
Bagas diam.
"Kamu lihat?"
Ayla mengangguk kecil.
"Iya."
Ayla menatapnya tidak percaya.
"Kamu sadar nggak apa yang kamu lakuin itu salah?."
"Dia yang mulai."
"Aku tahu!."
Beberapa siswa yang berada di sekitar mereka mulai melirik.
"Aku tahu mereka salah, Aku tahu mereka sudah nyakitin Aku."
Bagas diam.
"Tapi aku nggak pernah minta kamu melakukan itu."
"Aku cuma-"
"Aku nggak butuh kamu balas mereka kayak begitu."
Bagas terdiam.
Ayla menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku malah takut lihat kamu."
Kalimat itu membuat Bagas langsung membisu.
Ayla melanjutkan.
"Aku takut kamu marah sampai nggak mikir apa-apa."
Bagas menunduk sebentar.
"Maaf."
Ayla menggeleng.
"Jangan cuma bilang maaf."
Bagas kembali menatapnya.
"Terus?"
"Aku mau kamu ngerti."
Ayla menarik napas panjang.
"Aku memang senang kamu membela aku, Aku sangat berterima kasih."
Ayla berhenti sebentar.
"Tapi membela aku bukan berarti kamu harus melakukan semuanya sesuka kamu."
Bagas tidak menjawab.
Ayla memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
"Kalau kamu benar-benar peduli sama aku, Kamu harus dengar waktu aku bilang cukup."
Bagas menatap Ayla beberapa detik, Kemudian mengangguk.
"Iya."
Ayla masih terlihat kesal.
"Serius?"
"Serius."
"Jangan diulang lagi."
Bagas mengangguk.
"Nggak akan."
Ayla menghela napas.
"Bagus."
Ayla hendak berjalan pergi, Tetapi Bagas memanggilnya.
"Sayang."
Ayla berhenti dan menoleh.
"Kenapa?"
Bagas terdiam sebentar sebelum berucap pelan.
"Aku cuma nggak tahan lihat kamu disakitin."
Ayla menatapnya.
"Aku tahu, Tapi aku juga nggak mau kamu jadi orang yang aku takuti cuma karena kamu terlalu marah demi aku."
Bagas terdiam.
Kali ini Bagas benar-benar memahami maksud Ayla.
Ayla lalu berjalan menuju gedung sekolah.
Bagas masih berdiri di tempatnya beberapa detik.
Raka yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan akhirnya menghampiri.
"di marahin?."
Bagas menghela napas.
"Iya."
Dimas menyusul sambil menahan senyum.
"Kapok!."
Bagas menatapnya datar.
"Diam."
Raka tertawa kecil.
"Ya udah, Yang penting sekarang dengerin Ayla."
Bagas mengangguk pelan.
"Iya."
Untuk pertama kalinya, Kemarahan Bagas benar-benar mereda, Bukan karena masalahnya selesai, Tapi karena Bagas sadar, Melindungi seseorang juga berarti menghargai batas yang orang itu minta.