Update setiap hari
Ketika pacarnya mengkhianatinya, cahaya kehidupan seolah musnah dalam kehidupan Anna. Untuk membalas dendam mantannya, gadis yang masih SMA itu rela mengorbankan diri menggantikan posisi Kakaknya yang menolak perjodohan ayahnya. Beberapa hari sebelum hari pengumuman kelulusan sekolah, Anna bahkan sudah menyandang status istri Allan, keturunan pengusaha sukses. Anna berpikir bahwa dia akan menemukan kebahagiaan dan dendamnya terbalaskan, namun ia tidak tahu rahasia yang suaminya simpan rapi. Anna butuh bukti akurat untuk memastikan bahwa kecurigaannya tentang suaminya adalah benar. Sayangnya tidak akan mungkin ada kata perceraian antara Anna dan Allan karena adanya kesepakatan hitam diatas putih sebelum pernikahan berlangsung, yang salah satunya menyatakan kalau Anna dilarang meminta cerai dari Allan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Teman
“Joli, buruan sini!” Arini duduk di salah satu meja kantin sembari melambaikan tangan ke arah Joli yang berdiri di pintu kantin. “Gue traktir makan.”
Anna yang duduk di sisi Arini tampak tenang memperhatikan gerak-gerik Joli.
Joli hanya menggeleng kemudian balik badan dan pergi.
“Lah, tuh anak kenapa ya? Tumben ditraktir kagak mau. Sikapnya akhir-akhir ini aneh.”
Anna mendegus mengingat kejadian antara Joli dan Rafa waktu itu. Tentu saja Joli selalu menghindari Anna, dia pasti merasa enggan dengans endirinya. Bahkan Joli yang setiap hari menjadi teman sebangku, tiba-tiba sengaja pindah tempat duduk menjauhi Anna.
Anna dan Arini sedang menghabiskan jam kosong di kantin. Tidak ada guru pengganti sehingga kelas mereka pun santai. Meski jam kosong di pelajaran terakhir, namun mereka belum diperbolehkan pulangsebelum bel panjang berbunyi.
“Joli kenapa, sih? Lo lagi ada masalah sama Joli? Gue perhatiin kalian diem-dieman akhir-akhir ini.”
Anna mengangkat bahu. “Tanyain aja ke Joli.”
“Nah, bener dugaan gue. Kalian pasti lagi ada masalah. Kenapa gue telat banget infonya ya? Masalah apa?”
“Gue udah bilang, tanya ke Joli.”
“Yah, kalo ada elo kenapa mesti nanyanya ke dia. O ya, Rafa gimana? Kok, gue jarang ngeliat lo barengan sama dia lagi?”
Anna diam saja. Perasaannya berkecamuk setiap kali nama Rafa disebut.
“Rafa itu kan romantis, baik lagi. Suka nraktir, nggak pelit, gue yang Cuma jadi temen lo aja sering kebagian enaknya dari dia. dibeliin dompet, dibeliin es krim, pernah dibeliin tas lagi. Gue suka banget ngeliat kalian jalan berdua, berasa ngeliat romeo dan juliet.” Arini begitu antusias akan hubungan Anna dan Rafa, seolah-olah Anna dan Rafa adalah dua sejoli yang patut diidolakan.
“Udah selesai muji-muji Rafanya?” tanya Anna ketus.
“Loh, kok bete gitu? Lo lagi ada masalah sama Rafa?”
“Gue mergokin Rafa lagi mesum sama Joli di kamar.”
“What what what? Serius lo? Mereka lagi ena-ena gitu?” Arini kaget bukan main sampai kedua matanya yang seharusnya sipit jadi membelalak.
“Aduh, nggak usah diperjelas. Pokoknya gue mergokin Rafa dan Joli selingkuh. Titik. Jadi mulai sekarang jangan tanyain Rafa lagi ke gue. Oke?”
“Nggak nyangka gue Rafa selingkuh sama Joli?”
Anna diam tanpa ekspresi. Pikirannya kini malah melayang kemana-mana. Yang ia ingat saat ini hanyalah Rafa. Sedang apa pria itu? Apakah pria itu bakalan berjuang untuk menunjukkan penyesalannya, memohon dan meminta balikan dengan berbagai ekspresi yang menyedihkan?
“Sumpah ini mesti disebarin ke anak-anak biar Joli malu karena udah ngerebut pacar orang, nusuk sahabat dari belakang, pelakor. Apalah itu.”
“Rin, plis deh. Jangan ember. Gue nyeritain ini ke lo bukan untuk disebarin ke banyak orang. Gue cuma nggak mau lo nanyain Rafa mulu ke gue, soalnya gue udah putus sama tuh cowok.” Anna memasukkan kerupuk ke mulutnya. Kerupuk memang jadi cemilan kesukaannya. Ketika ditawarin kacang atom, cokelat, wafer dan makanan ringan lainnya, Anna sering kali menolak. Tapi kalau ditawarin kerupuk, mau kerupuk ubi, kerupuk udang, apalagi kerupuk jengkol, Anna akan langsung melahapnya.
“Oke deh gue nggak ember. Pantesan Joli keliatan beda banget. Kalian juga diem-dieman, rupanya ini yang terjadi. Gue pikir Joli lagi PMS. Diajak makan ke kantin barengan nggak mau, diajak ngobrol juga Cuma sepatah dua patah kata. Mungkin dia ngerasa bersalah plus ngerasa malu.”
“Iya kali.” Anna santai sambil terus mengunyah kerupuk.
Bel panjang yang berdering membuat anak-anak menghambur keluar kantin. Semuanya menuju kelas untuk mengambil tas. Wajah-wajah lelah mendadak cerah saat bunyi yang ditunggu-tunggu menggema juga.
Anna memasuki kelas dan berpapasan dengan Joli saat di pintu. Anna tampak santai menunggu reaksi Joli.
Joli memalingkan wajah kemudian melengos pergi sembari menyampirkan tas punggung ke satu pundaknya.
TBC