NovelToon NovelToon
Danke, Häschen !!!

Danke, Häschen !!!

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Mafia / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Mei Shin Manalu

Erie, seorang gadis berusia 19 tahun yang mempunyai nasib malang, secara tiba-tiba dinikahkan oleh bibi angkatnya dengan pria bernama Elden. Tidak hanya bersikap dingin, pria tampan nan kaya raya itu juga terkesan misterius seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Erie. Kira-kira bagaimana cara Erie bertahan di dalam pernikahannya? Apakah Erie bisa merebut hati sang suami ketika ia tahu ternyata ada wanita lain yang menempati posisi istimewa di dalam hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedy

Mario berlari cepat. Ia tidak peduli dengan tatapan mata para karyawan kantor itu, yang ia pedulikan adalah informasinya harus segera disampaikan kepada Elden. Mario mengetuk pintu ruangan Elden dan masuk ke dalam setelah mendapatkan persetujuan dari tuannya.

"Tuan," kata Mario memberi hormat.

"Ada apa? Kenapa kau terengah-engah seperti itu?" ujar Elden menghentikan pekerjaannya untuk memperhatikan pengawal pribadinya itu.

Mario mengatur napasnya agar bisa kembali normal. "Tuan, tahanan kita yang kabur tertangkap CCTV di kota ini tadi pagi pukul 6."

Elden tersentak. "Apakah kau punya rekamannya?"

"Kami sudah menyalinnya, Tuan."

"Tunjukkan kepadaku."

Mario berjalan ke depan meja Elden dan menyerahkan sebuah USB flashdisk kepadanya. Elden mengambilnya dan memasangnya ke perangkat komputernya. Dari layar di depannya, Elden dapat melihat seorang laki-laki yang pernah ia tangkap dan tahan di penjara bawah tanah rumahnya, berkeliaran di beberapa tempat di kota. Orang itu pergi ke sebuah minimarket, makan di restoran, bahkan mengambil uang dari ATM.

"Tuan, saya rasa orang ini memang anggota Monster," kata Mario saat melihat Elden sudah selesai memeriksa rekaman CCTV itu.

"Hm, kenapa kau bicara seperti itu?"

"Setelah ketiga rekaman itu, kami tidak menemukan orang itu di mana pun. Dia hilang seperti hantu."

"Hantu..." ulang Elden sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Ia memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh anak buahnya itu. "Menurutmu apa yang harus kita lakukan?"

"Saya rasa kita harus mengerahkan lebih banyak anggota untuk memburu orang itu, Tuan."

"Aku pikir dia akan datang lagi pada kita."

"Maksud Tuan?"

Elden memutar layar komputernya agar Mario bisa melihatnya. "Di rekaman pertama dan kedua, sepertinya orang itu tidak menyadari letak CCTV, tapi pada rekaman ketiga dia jelas melihat ke arah kamera," kata Elden menunjukkan rekaman saat orang itu berada minimarket, restoran dan terakhir di ATM. "Apa yang dipikirkan oleh penjahat ketika memasuki gerai ATM?"

"Biasanya mereka akan menutupi diri mereka agar tidak terlihat, Tuan."

"Bagaimana jika mereka sengaja melakukan itu?"

"Apakah mungkin dia..."

"Benar. Gerai ATM adalah satu-satunya tempat di mana kau bisa melihat posisi kamera pengawas dan orang itu dengan sengaja menampilkan wajahnya bahkan melihat ke arah kamera. Artinya dia ingin memberitahu bahwa dia akan segera muncul di hadapan kita."

"Ternyata mereka benar-benar menantang organisasi kita, Tuan."

"Ya. Itulah sebabnya mengerahkan seluruh anggota untuk memburunya adalah hal yang percuma dan justru membahayakan markas kita."

Mario menundukkan kepalanya. "Maafkan saya, Tuan. Saya nyaris keliru mengambil tindakan."

"Tidak apa-apa aku percaya dengan semua keputusanmu."

"Terima kasih atas kepercayaan, Anda."

Mario ingin bertanya kepada Elden. Walaupun awalnya ragu, ia tetap berusaha berbicara. "Tuan, bagaimana dengan Nyonya? Apakah acara malam ini beliau akan datang?"

"Orang itu pernah berada di sekitar rumah, akan berbahaya jika Erie berada jauh dariku. Meskipun aku tidak mempercayai pria tua itu, setidaknya kediaman Alvaro adalah tempat yang cukup aman. Suruh Marline untuk mempersiapkan keperluan Erie."

"Baik, Tuan."

"Satu lagi Mario. Perketat keamanan di rumah."

"Baik, akan saya lakukan Tuan."

XXXXX

Sementara di tempat lain, Erie sedang menikmati harinya memilih baju yang akan dipakainya. Tuan dan Nyonya Besar Alvaro telah pergi dari rumah itu tadi subuh. Jadi, Erie bisa kembali ke kamarnya.

Elden adalah pria gila. Setidaknya itulah yang Erie sadari selama hidup bersama pria itu. Tidak hanya terkenal sebagai orang yang sadis dan kejam, Elden juga merupakan seorang pria yang arogan yang suka memamerkan kekayaannya dengan menghambur-hamburkannya. Buktinya hari ini, sepuluh gaun tiba-tiba diantarkan ke kamar Erie. Para pelayan berkata bahwa Erie boleh memilih gaun-gaun yang ia sukai.

"Marline, aku pilih yang itu saja," tutur Erie sambil menunjuk sebuah gaun berwarna biru dengan belahan bawahnya yang cukup tinggi hingga menampilkan kakinya yang indah.

"Baiklah, Nyonya." Marline melirik ke arah para pelayan. "Singkirkan sisanya."

Saat para pelayan ingin mengangkat manekin-manekin yang dipakaikan gaun-gaun, Erie mencegah mereka. "Tunggu dulu! Sisa pakaiannya akan diapakan?"

"Tuan memerintahkan kami untuk melenyapkan gaun yang tidak Anda sukai, Nyonya," kata Marline menjelaskan.

"Apa?" Erie terkejut. Ia tidak menyangka gaun-gaun yang lain akan dilenyapkan. Erie bukannya tidak menyukai pakaian-pakaian itu. Ia hanya berpikir akan terlalu boros jika ia membeli semuanya. Namun, sekarang Erie sadar, Elden sedang membiarkannya menjadi perempuan tamak. "Aku mengambil semuanya. Masukkan saja semuanya ke lemariku."

"Baik, Nyonya," ucap Marline tanpa menanyakan apapun.

Saat waktunya telah tiba, Erie yang sudah siap berjalan menuju ke lantai dasar. Di sana ia melihat Elden yang telah siap dengan setelan pakaian berwarna biru. Jika dipikir-pikir, bukan kali itu saja pakaiannya dan pakaian Elden memiliki warna yang senada. Saat di kapal pesiar beberapa waktu yang lalu, mereka juga berpakaian dengan warna yang sama. Mengingat hal itu membuat pipi Erie tiba-tiba memerah.

Namun, sepertinya Erie terlalu jauh berpikir. Walaupun Elden menatap Erie dengan ekspresi sedikit terkejut, tapi pria itu tetap tidak menggubris Erie. Ia malah mengajak Jessie untuk masuk ke dalam mobil bersamanya, sedangkan Erie berangkat ke pesta itu dengan mobilnya sendiri, bersama dengan supir dan Mario. Ya, pengawal pribadi Elden itu tiba-tiba menjadi pengawal pribadi Erie malam itu. Ketika ditanya alasannya, Mario menjawab ia hanya mengikuti perintah Elden. Itu adalah kejadian aneh yang mengejutkan Erie.

Tak lama kemudian, mobil Elden dan Jessie tiba di depan rumah keluarga Alvaro. Sementara mereka sudah masuk ke dalam, mobil Erie baru berhenti di depan pintu utama beberapa saat kemudian. Mereka seperti membuat jeda agar para awak media tidak menaruh perhatian yang banyak pada Erie.

Sama seperti yang diperkirakan, Elden dan Jessie menjadi pusat perhatian semua undangan yang ada di dalam rumah yang sangat besar itu. Jessie yang menggunakan jumpsuit berwarna merah dengan heels yang berwarna sama, hanya tersenyum saat orang-orang menyapanya. Make up sederhana yang menghias wajahnya menambahkan kecantikan yang ia miliki. Sungguh wanita yang sempurna. Jujur saja, Erie sangat iri kepadanya. Jessie sangat percaya diri dan ia bahkan bisa berbincang-bincang santai dengan tamu yang hadir di sana.

"Kau tunggu di sini dan nikmati pestanya," kata Elden di belakang Erie. Ia mendekati perempuan itu secara diam-diam. Setelah itu, Elden pergi bersama Jessie dan meninggalkan Erie sendiri. Pria itu lebih memilih menghabiskan waktu bersama kekasihnya daripada bersama dengan Erie. Dan Erie rasa itu hal yang wajar. Mereka saling mencintai dan Erielah yang berada di antara mereka.

Erie bergerak menuju sudut ruangan. Ia tidak ingin berkomunikasi dengan siapapun karena ia sama sekali tidak mengenal mereka. Ketika tengah menikmati kesendiriannya memandangi keramaian di sana, suara seorang laki-laki membuyarkan lamunannya. "Kau sangat cantik," ucapnya dengan suara berat. Seketika bulu kuduk Erie berdiri. Suara itu seperti pernah ia dengar sebelumnya.

"Kau hampir membuatku pangling. Aku nyaris tidak mengenalimu sama sekali. Kau benar-benar berubah. Sangat cantik," suara pria itu semakin dekat di telinga Erie. "Bagaimana kabar bibimu? Sudah lama aku tidak bermain dengannya. Apa kau tidak tinggal bersamanya lagi?" ucapnya lagi.

Erie bergeming. Ingatan masa itu kembali muncul di dalam benaknya dan membuatnya gemetar. Ia sama sekali tidak ingin menanggapi pria itu. Pria yang menjadi salah satu teman kencan yang pernah dibawa Bibi Betty dulu. Pria yang nyaris melecehkannya.

"Aku mendapatkan kabar dari seseorang di 'kapal putih' bahwa ada kehebohan yang kau ciptakan dengan Tuan Elden. Apa kau sekarang menjadi simpanannya, sayang?" kata laki-laki itu sembari menggerakkan tangannya menyentuh bahu Erie. Dengan refleks, Erie melangkah mundur untuk menghindar.

"Kau masih sama. Diam tetapi sangat manis. Aku menyesal tidak sempat mencicipi dirimu sayang," bisik laki-laki itu mendekati Erie yang membuat tubuhnya semakin gemetar. Ingin sekali rasanya Erie menampar mulutnya yang brengsek itu.

"Berhenti atau dia akan membunuhmu," ucap Erie dengan sedikit takut. Tangannya menunjuk ke arah Mario yang menatap ke arah mereka dengan sangat tajam.

"Wah, sepertinya tuan arogan itu sangat menjaga mainannya. Lihatlah, dia menempatkan penjaga setianya di sekitarmu. Matanya begitu seram," kata laki-laki itu yang juga melihat ke arah Mario.

"Sepertinya kau harus pergi jika ingin selamat dari sini," ujar Erie dengan berani sambil menatap pria itu tak kalah tajamnya dengan tatapan Mario.

"Uugghh.. Mulutmu sangat tajam, tapi kau benar. Aku harus pergi dari sini. Jika, Tuan Elden sudah bosan atau kau dicampakkan olehnya, kau boleh datang padaku. Aku akan memberikan kesenangan untukmu." Laki-laki itu mencium pipi Erie secara cepat dan tiba-tiba sebelum ia meninggalkan perempuan itu.

Erie menghapus bekas kecupannya di pipinya dengan sapu tangan yang berada di dalam tasnya. Perempuan itu merasa jijik dengan perlakuan laki-laki tadi. Erie menyesal tidak membalas perlakuannya itu. Andai tadi ia berani meminta bantuan Mario untuk membalas sikap kurang ajar laki-laki itu. Tapi sudahlah. Setidaknya Erie bisa menghindar dari situasi yang buruk hari ini.

Erie berjalan ke tempat minuman sambil matanya mencari-cari sosok Elden yang entah sejak kapan telah menghilang dari pandangannya. Padahal ia hanya mengalihkan pandangannya sebentar karena laki-laki brengsek itu.

"Anda ingin minum ini, Nona?" tanya seorang pria sambil menyodorkankan segelas minuman kepada Erie. "Ini wine terbaik di negeri ini, Nona. Cobalah," kata pria itu lagi setelah tak mendengar jawaban dari Erie.

Erie mengambil gelas minuman itu dengan ragu. "Terima kasih. Eemm..." Ucapan Erie berhenti karena ragu.

"Devin Luis. Panggil saja Devin, Nona," kata pria itu sambil mengulurkan tangannya.

"Oh ya, Tuan Devin. Nama saya Vallerie Leontyne. Anda bisa memanggil saya Erie, Tuan," kata Erie sembari menyambut uluran tangannya. Pria itu menunduk dan membalas uluran tangan Erie dengan kecupan singkat di tangan perempuan itu. Erie ingat, itu adalah gaya perkenalan di negara tetangganya.

Pria yang bernama Devin itu melepaskan tangan Erie agar bisa berbicara lepas dengan Erie. "Apakah Anda sendiri ke sini?"

"Tidak. Anda?"

"Bisa dibilang begitu," jawabnya singkat. Erie sedikit bingung dengan jawabannya. Bisa dibilang begitu? Apa maksudnya? Ah! Erie tak mau ambil pusing. Lagi pula itu bukan urusannya.

Erie melirik minuman yang ada di tangannya. Dulu, di rumah Bibi Betty, Erie memang sering menuangkan berbagai macam jenis wine ke dalam gelas untuk diantarkan kepada bibinya. Namun, perempuan itu terlalu polos dan takut. Ia tak pernah berani mencicipi setetes pun minuman beralkohol itu.

Jika dipandangi dengan seksama, cairan di gelasnya terlihat begitu cantik, sangat menggairahkan orang lain untuk mencicipinya. Menurut Erie, tidak ada masalahnya jika ia mencicipi sedikit dari minuman itu. Perempuan itu memberanikan diri untuk mengecap gelasnya. Awalnya ia hanya mencicipi sedikit, tapi rasa manis yang tercipta dari minuman itu membuatnya meneguk seluruh minuman itu hingga kandas.

Tak lama kemudian, efek minuman itu mulai terasa. Kepala Erie mulai pusing. Mungkin karena perempuan itu tak pernah meminum wine sebelumnya.

Tiba-tiba terdengar suara dari sebelah Erie. "Maaf Nona, saya harus bertemu seseorang. Saya permisi," kata Devin sambil berlalu meninggalkannya.

Erie tak menjawab apa-apa sebab tenggorokannya terasa panas. Tidak hanya itu, tubuhnya pun mulai ikut terasa panas. Lama kelamaan badannya juga terasa berat. Erie meletakkan gelasnya. Ia melihat sekitarnya. Ia ingin mencari Mario untuk membawanya pulang, tapi ia tidak menemukan pria itu.

Erie memutuskan untuk berjalan menuju pintu taman di belakang rumah. Itu adalah satu-satunya tempat yang baik untuk bersembunyi dari keramaian pesta itu. Akan berbahaya jika ia tertangkap oleh pria brengsek dan dimanfaatkan. Lagi pula di tempat itu juga ia menenangkan diriku.

Namun, baru beberapa langkah memasuki tempat itu, Erie melihat seorang pria yang sangat ia kenali. Pria itu adalah Elden. Walaupun sedikit samar, tapi Erie bisa melihat Elden, suaminya itu tengah berciuman mesra dengan seorang wanita. Jika diperhatikan dari pakaian dan bentuk tubuhnya, Erie bisa yakin bahwa wanita itu adalah Jessie. Oho! Seorang suami bermesraan dengan kekasihnya di depan istrinya. Seorang istri yang tadi justru bertemu dengan pria brengsek yang ingin melecehkannya. Bukankah malam ini sungguh indah?

Erie hanya tertawa garing lalu tersenyum kecut sambil menahan rasa perih di dalam hatinya. Dengan gontai, Erie berjalan menuju bangku taman.

"Kenapa kau berada di sini?" ucap seorang pria yang sedang berdiri di depan Erie dengan raut wajah berantakan. Kehadiran pria itu justru menambah kekesalan perempuan itu. "Kau kenapa?" ucapnya lagi. Pria itu mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Erie. Dan hal itu membuat wajah perempuan itu memerah. Astaga! Betapa lemahnya hatinya itu? Mengapa hanya ditatap oleh Elden sudah membuatnya tersipu? Apakah ia tidak sadar bahwa suaminya itu sudah memiliki kekasih? Sadarlah! Pria itu sudah memiliki Jessie.

"Bagaimana kau bisa mabuk? Berdiri!" perintah Elden kepada Erie.

"Apa pedulimu?" jawab Erie dengan kesal.

"Jangan membuatku marah! Cepatlah berdiri!" perintahnya lagi dengan nada yang lebih tinggi.

"Kenapa? Aku ingin berada di sini."

"Oh, kau ingin berada di sini agar pria-pria itu bisa mendekatimu? Kau ingin menunjukkan betapa tak berharganya dirimu, Hah?!"

"Apa maksudmu?"

"LIhatlah dirimu. Saat ini kau terlihat seperti wanita murahan dengan penampilan seperti itu."

Mendengar perkataan Elden membuat Erie semakin panas. Pria itu benar-benar membuatnya marah. Erie berdiri dan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. "Kau benar Elden, aku tidak berharga. Jadi aku akan pergi," kata Erie sembari tersenyum sinis dan berjalan meninggalkannya.

Mata Erie sudah memanas dan ia tak ingin Elden melihatnya menangis. Erie berjalan ke arah sebuah pohon besar. Namun, samar-samar Erie melihat sesosok bayangan berlari mendekatinya. Erie tidak tahu apa yang terjadi, tapi tiba-tiba ia merasakan perih di perutnya. Erie melihat sebuah pisau tertancap tepat di perutnya. Seketika Erie terjatuh ke atas lantai.

"Vallerie! Vallerie!"

Hanya suara teriakan itu sajalah yang terdengar sebelum Erie benar-benar memejamkan matanya.

**XXXXX

Dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote...

Danke ♥️

By: Mei Shin Manalu**

1
sakura
...
Virgo Girl
Baru mampir Kak. Awal yg cukup menarik ❤❤
refi Tanjungpinang
amazing proud off u
Youleannaa
bagus
Rieenee
ini tahun 2020 skrg aku datang lagi di tahun 2024 tuk baca kembali novel ini
Rieenee
terima kasih mei sudah membuat novel yg bagus ini aku mampir lagi k sini setelah cukup lama ga buka aplikasi ini
Aerik_chan
Kak aku tunggu karya kakak di platform ini
Almeera
elden juga suka nyelup sm jessi padahal sudh ada istri nya si eri
katanya bucin
Mina Rasi
aku kalau punya tante macam betty tu, udah ku kasih racun dia 😭😭
Ibu Endang
keren thor dr awal baca sampai akhir cerita sangat menarik, banyak rasa greget dihati dlm setiap babnya. menarik dan untuk mu thor semangat dalam menulis novel💪💪💪
Ibu Endang
membaca sampai bab ini sungguh menguras air mata thor,
Aba Bidol
💐
Sekar Nur Noviyanti
woooow keren
Sekar Nur Noviyanti
woooow keren
Liliana
Mereka bersaudara
Idasesoega
jika suatu saat kau tdk... pistolku dst

apa BAWA ya...
Allessha Nayyaka
Mantap karyamu othor
Kl diangkat ke layar lebar pasti penonton nya kyk semut antrinya
Allessha Nayyaka
satu kata untuk karyamu thoor

kereeen
Fawas Aficieanna
penggambaran yg sangat menyentuh untuk cinta elden yg luar biasa ke erie😍
Fawas Aficieanna
bagus banget ceritanya menyentuh hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!