Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilecehkan....
"Sialan, apa yang terjadi ama gue? Brengsek!" kesal Sylas mengingat apa yang terjadi tadi.
Flashback
Varren menegang melihatnya. "Siapa tau ada luka yang nggak kelihatan." jelas Sylas membuat Varren yang tidak tenang.
Sylas mendekati Varren dengan keadaan yang kurang senonoh membuat Varren mundur beberapa langkah. "Sel. Loe bisa duduk di sana. Biar gue ambil obatnya." ujarnya dan segera menjauh.
Sylas di sana tersenyum miring dan menurut duduk di atas kasur. Tak segan juga ia membuka bajunya. Varren yang membawa kotak obat menatap keadaan seperti itu berdenyut tak enak jantungnya, layaknya sedang pacu kuda. Sylas sangat tidak tau malu.
"Ngapain buka baju juga si?" tanya Varren tak suka mendekati Sylas yang hanya menggunakan celana dalam.
Sylas menatap Varren tenang. "Biar loe lihat, siapa tau kan di tempat lain juga luka. Tadi loe juga periksa Reja di setiap badannya kan?" tanyanya.
Varren menghela napas. "Loe kayak orang yang lagi cemburu sama ceweknya Sylas." ujar Varren gamblang membuat Sylas mengerjap pelan. Varren terkehek pelan melempar baju yang dibuka Sylas. "Pakai. Loe toples gitu berdua sama gue di kamar, dikira kita ngapa-ngapain lagi di kamar gue. Gue masih suka cewek yah..!!!" tegas Varren dingin.
Sylas terdiam. Masih suka cewek, masih suka cewek. Ia menatap Varren dalam. "Loe pikir gue suka cowok? Gue juga suka cewek." ujarnya mendengus.
Varren terkekeh mendekatinya dan mengobati luka di kaki Sylas, tapi sesekali tatapannya tak nyaman ke arah milik Sylas yang terlihat bergerak. "Loe ngaceng njir." ujar Varren menjulak Sylas hingga Sylas terjatuh di kasur.
Sylas di sana terbahak karena ucapan Varren. Malu tapi ia tahan. "Manusiawi. Loe kayak nggak pernah aja." ujarnya menatap miliknya yang terlihat gelisah.
Varren di sana menatapnya tak suka lalu mendengus pelan menjauh, jantung Varren berdenyut tak nyaman.
Sylas menatap miliknya yang bergeliat tak nyaman. Sialan, apa yang Varren pikirkan tentang dirinya.
Plak.
Sylas diam menatap benda aneh yang diberi Varren. Ia memegangnya semacam silikon. "Itu sana bawa ke kamar loe." ujar Varren.
Sylas menatapnya mendengus. Sialan, ini alat untuk memuaskan milik pria. Ia melemparnya ke arah lain. "Nggak butuh gue." jelasnya.
Varren mencebikkan bibirnya mendengar hal tersebut. "Yaudah. Sana pergi." ketus Varren tak suka.
"Btw loe suka pakek itu?" tanya Sylas pada Varren mengabaikan pengusiran Varren terhadapnya.
Varren terlihat agak gugup. Tidak lah, mana pernah dia, kan perempuan...!!! Tapi oh, tapi itu ia simpan untuk meyakinkan setiap temannya jika ia laki-laki sejati. "Yah lah. Kalo nggak ngapain ada di kamar gue." ujar Varren.
Sylas diam mendekati benda yang Varren buang tadi, menciumnya sejenak. Ia menatap Varren yang menatapnya ngeri dan aneh. Sylas berdehem. "Oke gue minjem." ujarnya sebelum ke kamar mandi milik Varren.
"Woy ngapain loe. Ke kamar loe aja sono!" teriak Varren tidak suka. Sylas seakan tuli memasuki kamar mandi Varren. Varren mengepalkan tangan dan merinding dibuatnya.
Sylas gila.
Ia segera mengunci lemari miliknya dan menaruh helmnya tadi lebih dalam di bawah kasur agar tidak ketahuan. Ia juga menyimpan korset dan juga pembalut. Yah pembalut, dia sama saja dengan perempuan menggunakan pembalut.
Dulu Shena pernah memintanya untuk mengangkat rahim agar tidak bisa mengandung atau bahkan tidak datang bulan. Pastilah Varren menolak tegas. Shena ngotot tapi Varren memberontak hingga jalan tengahnya Varren harus mengonsumsi obat agar tidak datang bulan. Varren mengangguk dan mematuhinya, tapi sebenarnya tidak. Terlalu sering mengonsumsi obat abatan hanya akan membuat dirinya tak bisa mengandung karena rahimnya kering. Diam-diam Varren masih menginginkan dirinya sebagai perempuan. Hanya saja keadaan yang memaksanya menjadi begitu.
Agh. Varren berdecap mendengar suara Sylas yang bahkan sampai keluar kamar mandi. Varren menggeleng mencoba menenangkan dirinya, ia memilih posisi tidur di kasurnya. Suara Sylas sangat mengganggu membuat ia menggunakan headset. Tenang dan damai hingga ia tertidur, sedangkan kunci lemari miliknya sudah ia simpan di tempat yang tidak mungkin orang lain tahu.
Saat Varren tertidur, Sylas keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah menggunakan handuk Varren. Ia menatap Varren yang tertidur damai mendekat, diam dan pelan menatap dada Varren yang memang sangat rata. Ia merabanya sejenak dan terdiam, lalu ke arah belahan kaki Varren. Ia memejamkan mata saat memastikan sesuatu.
Sylas mengepalkan tangan. Sialan. Varren memiliki batang sama seperti dirinya. Ia mencoba meremas memastikan lagi membuat Varren tidur melenggang dan membalik posisinya. Sylas menatap tangannya sendiri dan miliknya.
"LOE GILA SYLAS..!"
Gumamnya memaki dirinya sendiri. Dirinya tidak normal, mencintai sesama laki-laki.
Sylas ingat dirinya kemarin normal, menyukai perempuan cantik dan juga seksi. Sesekali dirinya juga suka nonton film biru. Tapi mengapa kali ini dirinya menyimpang. Ia mendengus mengambil celananya dan menjauh dari Varren.
Varren yang merasa pintu ditutup segera bangun memegang dadanya dan miliknya marah. "Sialan si Sylas." gumamnya pelan. Iyalah celana dalam yang ia kenakan ada "benda" di sana. Dirinya kan dibuat sedemikian rupa oleh Shena yang gila. Dan Sylas pasti tidak percaya dirinya perempuan.
Varren seperti dilecehkan oleh Sylas!
---
Pagi ini Varren bangun cukup siang, di jam delapan dan semua temannya juga bahkan belum ada yang bangun. Varren segera membersihkan diri dan menuju dapur. Memasak pancake dengan tenang.
"Ren, loe mau masak apa? Gue bantu yah." ujar Tavian mendekati Varren. Ia juga sudah kelihatan rapi.
Varren melihatnya dan mengangguk. "Cuma naro krimnya lagi. Loe bisa bantu bolongin tu roti kan?" tanyanya. Tavian mengangguk dan memakan roti yang sudah masak. "Eh loe mau bantu apa mau numpang makan?" tanya Varren malas. "Itu kue belom jadi udah dicomot aja." lanjut Varren menjauhkan roti-roti di sana dari Tavian yang memakannya.
Tavian di sana terlihat cengengesan menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Sorry Ren. Gue keburu laper." ujarnya dengan tenang memakan roti yang masih polos. "Tadi pas tidur gue nyium aroma roti loe wangi banget jadi yah gue ke sini buat bantu loe. Maksud gue bantu makan dan ngabisin." ujarnya.
"Nggak ada nggak ada. Sana loe." ujar Varren menjulaknya.
Tavian di sana memajukan bibirnya malas. Varren mengangkat bubur di dalam panci. "Pagi ini kita makan bubur saja sama pancake. Soto nggak jadi, sore aja nanti. Soalnya Reja kan sakit sekalian semua makan bubur." ujar Varren tenang mencicipi kaldu bubur yang menurutnya sudah pas.
"Gue cicip juga dong Ren." ujar Tavian mendekati Varren.
Varren berdehem memberikan Tavian sedikit kaldu. Tavian memegang tangan Varren dan mencicip kaldu pelan, mengecap pelan. "Enak banget. Kalo bubur bener pasti enak banget." gumamnya tersenyum lebar.
Plak.
Kepalanya dipukul Varren menggunakan sendok. "Nanti, loe sapu aja dulu itu ruang tamu." ujarnya Varren melotot.
Tavian memegang tangan Varren yang hendak memukulnya. "Hehe yaampun iya iya." ujarnya terkekeh pelan.
Varren menggeleng melihat hal tersebut.
"Btw loe pakek apa Ren? Kok tangan loe lembut banget. Perasaan tangan mantan gue nggak selembut tangan loe deh." ujar Tavian memegang tangan Varren pelan dan mengusapnya heran.
Bersambung