NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Hari itu juga, jenazah Valeska langsung dimakamkan. Sebelum kepergiannya, ia pernah berpesan agar tubuhnya dikuburkan, bukan dikremasi. Alasannya sederhana, namun menyentuh, ia ingin keluarganya, teman-temannya, atau siapa pun yang menyayanginya dapat mengunjunginya kapan saja.

Valeska tak ingin ada jarak memisahkan dirinya dari mereka, bahkan dalam kematian sekalipun. Liang lahat berukuran 149 sentimeter itu, kini menjadi rumah terakhirnya. Ketika tanah mulai menutup tubuhnya yang kini kaku dalam keabadian, suara tangis pecah di setiap sudut pemakaman.

Setiap isak tangis, ada air mata seolah menyerukan harapan yang mustahil agar Valeska kembali pada mereka. Namun, takdir tak bisa ditawar. Dalam mengantarkan Valeska menuju rumah terakhirnya, banyak sekali orang yang berdatangan. Dari mulai teman dekat, guru-guru dari SMA Mandala Kencana. Teman dekat abangnya, dan bahkan rekan kerja orang tuanya pun, turut hadir, menyampaikan belasung kawa yang dalam.

Hari itu, pemakaman Valeska menjadi saksi betapa ia banyak dicintai. Delina duduk bersimpuh di sisi makam putrinya, menggenggam setangkai bunga yang perlahan ditaburkannya di atas gundukan tanah merah. Tubuhnya bergetar, isaknya lirih namun menyayat hati. Di sampingnya, Girga berjongkok, merangkul tubuh istrinya yang mulai kehilangan tenaga.

"Sayang, ingat janji kita, ya. Kandunganmu harus dijaga. Kamu harus kuat ... ini demi calon adik Valeska dan abang," bisiknya, meski suaranya bergetar menahan tangis.

Namun akhirnya, ia pun tak mampu lagi menahan air matanya. Mereka saling berpelukan, berbagi duka yang sama-sama rapuh, kehilangan, dan kehancuran telah menjadi satu. Sementara itu, Kaivandra terduduk di depan papa dan mamanya.

Jemari Kaivandra gemetar mengusap nisan yang baru terpasang.

"Adek ... kenapa ninggalin abang? Besok ulang tahun kamu, abang harus apa sekarang, cantik?" ucapnya disela tangis, suaranya penuh luka yang tak terungkapkan.

Di satu sisi, ada Laksha, salah satu teman dekat Valeska, dia melangkah maju mencoba menguatkan yang lain meski hatinya juga sakit karena kehilangan.

"Dia terlalu kuat, terlalu lama melawan penyakitnya. Dia sudah berjuang, dan mungkin,sekarang saatnya dia istirahat. Kita harus ikhlas, jangan sampai tangisan kita membebaninya di sana," katanya lembut, meski dia sendiri belum bisa benar-benar ikhlas.

Anaya dan Prisha pun langsung mengangguk setuju, meski sulit menahan air mata.

Arjuna, dengan suara hampir tak terdengar, bergumam, "Gue bakal kangen banget sama tingkah lucunya ...nggak ada lagi yang bakal ngajak kita makan-makan, atau nemenin dia pas suntuk."

Vikara menggeleng lemah, matanya nanar menatap tanah. "Kenapa, ya? Kenapa Tuhan selalu ngambil orang baik duluan? Masih banyak, lho, orang jahat di dunia ini. Kenapa bukan mereka aja?" tanyanya dengan nada protes.

Satya, yang sejak tadi diam, akhirnya menyela, "Nasib kucingnya gimana, ya? Dia pasti merasa kehilangan juga. Sama kayak kita."

Sementara teman-temannya bergelut dengan duka masing-masing, keluarga Valeska hanya bisa terdiam, larut dalam kepedihan. Delina, Girga, dan Kaivandra terlihat begitu kacau, tak mampu berkata-kata lagi.

Waktu seolah berhenti di sekitar mereka. Seiring sore beranjak senja, satu per satu pelayat mulai meninggalkan pemakaman, mengenakan pakaian serba hitam yang kini tampak pudar oleh debu dan air mata.

Tinggallah keluarga dan sahabat terdekat Valeska, berdiri di bawah langit yang mulai menggelap, mengucapkan doa terakhir untuk gadis yang pernah mengisi hidup mereka dengan cahaya.

..."Berbahagialah sayang, walau hati menjerit meminta kamu tuk kembali, Nak. Tapi tidak apa, jika dengan seperti ini kamu bahagia, maka kita dengan sepenuh hati akan merelakan. Delina....

...Ada kalanya keadaan memang hanya sekedar merelakan, dan menerima. Dari mulai sekarang, Papa akan memahami bahwa hidup tak selalu apa yang kita inginkan. Girga....

...Jika mati satu tumbuh seribu, lantas mengapa seribu yang datang tidak dapat menggantikan satu yang hilang? Kaivandra....

****

Dua hari telah berlalu sejak kepergian Valeska, hujan seakan enggan beranjak dari langit. Tiap tetes yang jatuh membawa gumpalan kelam, menutupi terang yang pernah hadir dalam kehidupan mereka. Baru satu jam reda, kini gerimis kembali turun, butirannya membasahi gundukan tanah yang belum sempat kering.

Di bawah langit abu-abu, tangis kembali terdengar, menyatu dengan rintik hujan. Gundukan tanah bertuan, yang telah dihiasi bunga-bunga segar, kini kembali dipeluk erat oleh Kaivandra. Dia tak kuasa menahan sakit saat kehilangan sang adik. Tangisannya pecah, memenuhi udara yang dingin. Namun, air mata tak akan mampu mengubah kenyataan.

Pakaian Kaivandra yang semula rapi kini kusut, bercampur tanah basah. Ia terus mendekap batu nisan yang dingin, tangannya gemetar saat mengelus nama yang terukir di sana. Di belakangnya, Delina terduduk di kursi roda sembari memegang payung. Dia pun sama, tak pernah menyangka kepergian putri bungsunya akan secepat ini.

Pikirannya melayang. Betapa berat perjuangannya saat melahirkan Valeska ke dunia, beberapa bulan ke belakang perjalanan mereka dipenuhi masa-masa penuh tawa, tangis, dan perjuangan. Dan kini, semua itu terasa seperti mimpi yang dipaksa berakhir terlalu cepat. Ia memejamkan mata, mengenang saat-saat terakhirdi ruang ICU, ketika hidup Valeska perlahan terenggut oleh kanker yang merenggut nyawanya.

"Cantiknya abang ... kenapa kamu pergi secepat ini?" racau Kaivandra, suaranya terdengar serak.

Ia membungkuk, kembali mengelus batu nisan dengan lembut.

"Katanya kamu pengen punya adik bayi. Sebentar lagi adik bayi itu akan lahir, cantik."

Suaranya pecah, tenggelam dalam isakan yang kian keras. Melihat itu, Girga segera mendekat. Kemudian merangkul putra sulungnya erat-erat, mencoba memberi kekuatan meski dirinya pun rapuh.

"Papa tahu ini sakit, bang. Kita semua merasakan kehilangan yang amat dalam. Tapi ... kalau adek terus bertahan, apa abang tega melihat dia menderita seperti itu?" ujar Girga dengan suara lembut, meski matanya memerah menahan tangis

Kaivandra terdiam. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada luka manapun.

"Abang ... abang nggak bisa terima ini, Pa. Abang belum ikhlas. Masih banyak hal yang pengen Abang lakukan bareng adek, tapi kenapa Tuhan memanggil dia begitu cepat?"

"Adek pergi yang di mana, keesokan harinya dia ulang tahun."

Girga melepaskan pelukannya, menatap mata putra sulungnya dengan penuh perhatian.

"Nak, katakan ...seperti apa bentuk ikhlas, ketika orang tua kehilangan anaknya?"

Setelah mengatakannya, Girga mengalihkan pandangannya pada sang istri, yang sejak tadi hanya terdiam, menahan sakit yang tak terungkap.

"Lihat Mama kamu," lanjut Girga, suaranya mulai bergetar. "Dulu, Mama terus berdoa untuk kesembuhan adek, agar kita bisa berkumpul lagi. Tapi Tuhan punya rencana lain. Dan sekarang, adek akan menjadi seorang Kakak, seperti yang dia inginkan dulu. Kita harus percaya, ini cara terbaik Tuhan membebaskan dia dari sakitnya."

Kaivandra menunduk, dadanya sesak. Ia tahu, bahwa ucapan papanya benar, tapi menerimanya terasa lebih berat dari apa pun.

Hujan semakin deras, mengguyur gundukan tanah itu, seolah langit turut menangisi kepergian Valeska. Dalam keheningan yang terjalin dengan tangisan, mereka hanya bisa merutuki takdir yangtak mungkin bisa diubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!