Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlutut
Di medan perang, suasana pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tebal masih menyelimuti tanah yang becek karena darah dan hujan kemarin. Pasukan Kekaisaran baru saja menarik mundur barisan untuk beristirahat sejenak setelah berhasil menahan serangan gelombang terakhir pasukan pemberontak.
Thiago berdiri di atas bukit kecil, memandang ke arah hutan gelap tempat musuh bersembunyi. Di sampingnya berdiri dua orang yang paling ia percaya seumur hidup. Alexander, panglima kedua, Duke muda Volkov yang tenang dan penuh pertimbangan, serta Silas, tangan kanannya yang gesit dan setia.
"Mereka diam terlalu lama, Thiago," ucap Alexander pelan, matanya tak lepas dari celah pepohonan. "Biasanya mereka langsung menyerang balik dengan gegabah. Ini terasa seperti jebakan."
Silas mengangguk setuju sambil membetulkan posisi pedang di pinggangnya. "Aku juga merasakannya. Energi jahat di sana berputar kacau, tapi ada satu titik yang diam... menumpuk sesuatu yang sangat besar."
Thiago mengerutkan kening, tangannya mencengkeram gagang pedang api yang tergantung di pinggang. Ia memang memiliki kekuatan elemen api yang terbesar di seluruh kekaisaran, kekuatan yang membuatnya dihormati sekaligus ditakuti. Namun ia sendiri sadar ada batasnya. Sihir leluhurnya belum menyatu sempurna, belum mencapai puncak kekuatan yang seharusnya dimiliki seorang pelindung api. Para tetua pernah berkata, kekuatan Thiago baru akan menyatu utuh, tak tertandingi, dan kebal terhadap racun energi gelap saat ia akhirnya bersatu sepenuhnya dengan pasangan hidupnya ikatan jiwa yang sudah ditakdirkan untuknya.
Dan orang itu adalah tunangannya (Ceeleh)
Selama ikatan itu belum sempurna, masih ada celah yang bisa dimasuki oleh sihir kegelapan.
Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba kabut di depan mereka terbelah dengan suara menderu yang mengerikan. Dari balik bayangan pohon raksasa, melesat satu gumpalan energi murni yang bukan sekadar asap atau bayangan itu adalah energi kegelapan tingkat tinggi, pekat seperti cairan hitam mendidih, berputar dengan kecepatan luar biasa dan memancarkan bau busuk mayat yang membusuk.
Itu bukan serangan biasa. Itu adalah sihir terlarang, sihir hitam tertinggi yang diketahui membutuhkan harga nyawa penggunanya sendiri untuk bisa dilepaskan. Tujuannya bukan sekadar melukai, melainkan menghancurkan jiwa dan kekuatan sasaran seketika.
"Mundur!" teriak Thiago sekuat tenaga.
Namun serangan itu terlalu cepat. Alexander dan Silas bergerak seketika dengan insting bertahan hidup dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Mereka berdua melompat ke depan tubuh Thiago secara bersamaan, mengangkat tameng dan senjata mereka untuk menahan gelombang kegelapan itu.
"Kami akan melindungi mu, Pangeran!" seru Silas.
Namun kekuatan serangan itu jauh di luar dugaan. Saat tubuh mereka menyentuh permukaan energi hitam itu, tameng dan senjata mereka retak seketika seolah terbuat dari kaca tipis. Tubuh mereka terpental ke belakang dengan kekuatan dahsyat, menabrak tanah hingga bergeser jauh, berdarah dan tak sadarkan diri sementara waktu.
Melihat kedua sahabatnya terluka, dan serangan itu masih meluncur lurus ke arah dadanya, Thiago tidak sempat berpikir dua kali. Dengan gerakan refleks yang murni naluri bertahan, ia mengangkat kedua tangannya ke depan, berusaha menangkis atau setidaknya menahan laju energi mematikan itu dengan kekuatan apinya sendiri.
"Menyingkir!" bentaknya, nyala api merah menyala meledak dari telapak tangannya.
Namun pertemuan antara api dan kegelapan itu tidak menciptakan ledakan keseimbangan. Sihir hitam tingkat tinggi itu menelan apinya, menembus pertahanan kulitnya, dan percikan besar energi hitam itu langsung menabrak dan meresap ke dalam lengan kanan serta dada Thiago.
Seketika rasa sakit yang tak terbayangkan menyambar seluruh tubuh Thiago. Ia terhuyung mundur, mencengkeram lengan kanannya dengan tangan kiri, dan berlutut di tanah yang keras. Rasa panas yang membakar bukan lagi datang dari kekuatannya sendiri, melainkan rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, seolah ribuan jarum es tajam sedang merobek aliran darahnya satu per satu.
Ia menunduk menatap lengannya, dan matanya membelalak ngeri melihat apa yang terjadi. Dari titik tempat percikan sihir itu menyentuh kulitnya, mulai menyebar garis-garis berwarna hitam pekat yang berdenyut pelan. Garis itu persis seperti urat-urat di bawah kulitnya, tapi kini berubah warna menjadi gelap, bergerak merayap naik melewati lengan, menuju bahu, lalu menyebar perlahan ke arah dada dan lehernya. Setiap kali garis hitam itu berdenyut, rasanya seperti ada racun yang menelan kekuatan apinya dari dalam.
Kekuatan api yang biasanya hangat dan meluap di dadanya kini terasa tertahan, dipeluk oleh dingin yang mati rasa. Tubuhnya perlahan menjadi sangat lemah dan kakinya gemetar hebat, napasnya pendek dan tercekat, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Namun bersamaan dengan kelemahan fisik itu, ada sesuatu yang lain bangkit di benaknya. Kegelapan itu menyusup ke pikirannya, membisikkan kata-kata penuh amarah, curiga, dan keinginan untuk menghancurkan segalanya tanpa belas kasih.
Matanya yang biasanya tajam namun tenang kini berkilat liar, nadanya berubah kasar, dan ia merasa ingin menyerang siapa saja yang ada di dekatnya bahkan teman sekalipun. Ia menjadi lemah secara fisik, namun berbahaya dan agresif secara emosi, dikendalikan oleh racun sihir hitam itu.
Sihir ini memang diciptakan untuk melumpuhkan pelindung terkuat sekalipun. Thiago memang memiliki potensi kekuatan terbesar di generasinya, namun ia belum sempurna. Ikatan jiwanya dengan Bellatrix belum terjalin sepenuhnya, penyatuan antara api dan air belum terjadi, sehingga pertahanan alami jiwanya masih memiliki celah. Dan celah itulah yang dimanfaatkan serangan mahal nyawa ini untuk masuk dan merusak dari dalam.
Saat energi hitam itu sepenuhnya menyusup ke dalam tubuh Thiago, ada satu peristiwa lain yang terjadi secara bersamaan, ribuan kilometer jauhnya di Paviliun Putri Mahkota.
Di kamar Bellatrix, suasana tiba-tiba berubah. Bellatrix yang sedang duduk tenang melatih aliran airnya, tiba-tiba terhuyung ke depan, tangannya menekan dada kirinya dengan kuat seolah jantungnya baru saja dicabut paksa. Wajahnya menjadi pucat pasi, napasnya tercekat hebat.
Selama ini ia menutup akses koneksi batinnya dengan Thiago, tapi ia tidak pernah memutus benang dasarnya. Namun detik ini, ia merasakan sesuatu yang mengerikan. Benang penghubung itu tiba-tiba tersentak keras, lalu seketika menjadi kosong. Bukan ditutup, bukan ditinggalkan melainkan terputus, tercabut, dan digantikan oleh rasa dingin yang hampa.
Namun sebelum benar-benar hilang, satu rasa yang sangat kuat meledak masuk ke dalam kesadarannya, melewati semua penutup yang ia buat. Rasa sakit yang meluap-luap, rasa kehabisan napas, rasa mendekati ujung kehidupan, dan bayangan kegelapan yang menelan seseorang yang sangat penting baginya.
Bellatrix jatuh berlutut di lantai, air mata menetes tanpa sadar. Ia tidak perlu melihat, tidak perlu bertanya. Ia tahu itu Thiago. Ia bisa merasakannya meski benang itu sudah putus. Ia tahu Thiago sedang terluka parah, diserang oleh kekuatan yang jauh lebih jahat dari apa pun yang pernah ia hadapi, dan saat ini ia berada di ambang kematian.
Ia tahu alasannya. Ia tahu kekuatan Thiago belum sempurna karena belum bersatu dengan pasangannya. Dan rasa bersalah yang berat perlahan memenuhi hatinya karena ia yang menutup diri, karena ia yang belum berani melangkah lebih dekat, dan karena itulah kini Thiago menjadi rentan.
Rasa dingin yang hampa itu masih merambat di setiap sudut kesadarannya, seolah ribuan jarum es menusuk jantungnya berulang kali. Bellatrix tidak ingat bagaimana caranya berdiri, tidak ingat kapan ia mulai berlari yang ia tahu hanyalah satu dorongan. Dia harus bergerak, ia harus sampai ke sana, sebelum semuanya terlambat.
Ia berlari keluar dari kamar, menyusuri lorong panjang istana yang biasanya tenang dan megah, namun kini terasa seperti terowongan yang tak berujung.
Kakinya melangkah cepat tanpa henti, gaunnya yang berwarna biru muda berkibar di belakangnya seperti sayap yang terluka. Air mata mengalir deras dari matanya tanpa bisa ia tahan, jatuh membasahi pipi dan menyusup ke lehernya, terasa dingin namun tak sebanding dengan rasa beku yang meremukkan dadanya. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia menangis sehebat ini bukan sekadar khawatir, bukan sekadar takut ada rasa kehilangan yang begitu besar, seolah separuh jiwanya sedang direnggut paksa dari dunia ini.
Di ujung lorong, Duke Leonidas dan Duchess Elara baru saja berjalan beriringan hendak mengunjungi putri mereka. Langkah mereka terhenti seketika saat melihat sosok yang berlari mendekat dengan wajah pucat pasi dan air mata yang tak berhenti mengalir. Hati Leonidas mencelos seketika, insting perlindungan seorang ayah langsung meledak di dadanya.
"Bella! Anakku!" seru Elara gemetar, segera berlari menyusul langkah putrinya yang tak pelan.
Mereka berdua mengejar dari belakang, langkah mereka pun tergesa-gesa penuh cemas. Mereka belum pernah melihat Bellatrix seperti ini selama ini gadis itu selalu tenang, terkendali, jarang sekali menunjukkan emosi yang begitu meluap dan menyakitkan. Tidak ada yang bertanya, tidak ada yang berhenti untuk bertanya apa yang terjadi, mereka hanya tahu bahwa sesuatu yang sangat buruk telah menimpa anak perempuan mereka, dan mereka tidak akan membiarkannya berjalan sendirian dalam ketakutan ini.
Bellatrix tidak menoleh ke belakang, tapi ia merasakan kehadiran kedua orang tuanya. Namun kakinya tak berhenti melangkah, terus menuju Aula Agung tempat Kaisar Alaric dan Permaisuri Seraphina sedang mengadakan rapat tertutup dengan penasihat kerajaan. Ia mendobrak pintu besar itu tanpa menghiraukan aturan etika yang selama ini ia pelajari. Saat ini tidak ada waktu untuk sopan santun, tidak ada waktu untuk permisi.
Pintu kayu besar berukir naga api itu terbuka lebar dengan suara dentuman yang menggema ke seluruh ruangan.
Semua orang di dalam aula menoleh terkejut. Kaisar Alaric yang sedang duduk di singgasana tertinggi, Permaisuri Seraphina di sebelahnya, serta para penasihat dan panglima yang berdiri di bawah, semuanya terdiam melihat sosok putri mahkota yang berdiri di ambang pintu, napasnya terengah-engah, air mata masih mengalir deras, wajahnya pucat seperti kertas, dan matanya memancarkan keputusasaan yang mendalam.
Leonidas dan Elara sampai di belakangnya, napas mereka pun tak beraturan, namun mereka tidak menarik putri mereka mundur. Mereka berdiri di sana, mendukung diam-diam, menunggu apa yang akan dikatakan anak mereka.
Bellatrix melangkah masuk perlahan, seolah setiap langkahnya memikul beban gunung. Ia menatap lurus ke arah Kaisar dan Permaisuri, suaranya bergetar namun tegas, terdengar jelas di keheningan aula yang luas itu.
"Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri... maafkan aku karena masuk tanpa izin," ucapnya, suara itu pecah di akhir kalimat saat air mata semakin deras mengalir. "Tapi aku tidak bisa diam lagi. Aku merasakannya... sesuatu yang mengerikan baru saja menimpa Thiago."
Kaisar Alaric mengerutkan kening, tubuhnya sedikit condong ke depan. "Apa maksudmu, Bella? Kita baru saja menerima laporan bahwa pasukan di perbatasan sedang bertahan dengan baik. Tidak ada kabar tentang serangan besar yang melukai panglima tertinggi."
"Itu tidak benar!" seru Bellatrix, suaranya meninggi karena panik. "Aku merasakannya sendiri! Ada sihir hitam tingkat tinggi, yang harganya nyawa penggunanya, menyerangnya secara tiba-tiba. Ia menangkis dengan tangannya sendiri... dan racun itu meresap masuk. Aku bisa merasakan urat-urat kegelapan yang menyebar di tubuhnya, merasakan kekuatannya yang tertelan, merasakan betapa lemahnya dia sekarang, betapa liar dan dikendalikan kegelapan pikirannya. Dan tadi... benang penghubung antara kami terputus seketika. Aku bisa merasakannya... Thiago sedang berada di ambang kematian."
Keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh ruangan. Permaisuri Seraphina menutup mulutnya dengan tangan, matanya melebar tak percaya namun perlahan mengerti. Kaisar Alaric mengangguk pelan, tatapannya melembut sejenak.
"Kami tahu ikatan itu nyata, Bella," ucap Kaisar pelan. "Kami semua melihatnya dengan mata kepala sendiri hari itu saat Thiago tanpa ragu menciummu tepat di hadapan kami semua. Momen itulah yang membuka kunci takdir, menyatukan jiwa kalian secara alami meski belum sempurna. Kami tidak mempertanyakan kebenaran perasaanmu."
"Itulah sebabnya aku takut!" potong Bellatrix, air matanya semakin deras.
"Ikatan itu memang terjalin sejak ciuman itu, tapi belum lengkap. Kekuatan Thiago memang terbesar di generasinya, tapi karena belum menyatu sepenuhnya denganku, pertahanan jiwanya masih ada celah. Dan celah itulah yang dimasuki sihir hitam itu. Sekarang dia membayarnya dengan nyawanya sendiri."
Ia berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. Ia menatap kedua penguasa itu dengan pandangan yang memohon.
"Aku tidak bisa membiarkannya hancur sendirian di sana. Aku harus pergi ke tempat dia berada sekarang. Aku harus menyembuhkannya, sebelum kegelapan itu menelan jiwanya sepenuhnya."
Belum sempat Kaisar menjawab, tiba-tiba salah satu penasihat tinggi kerajaan, menteri Valerius, yang selama ini dikenal bijaksana namun ternyata menyimpan niat jahat melangkah maju dengan wajah serius namun penuh kepura-puraan.
"Maafkan keberanianku, Yang Mulia," ucapnya lantang, menatap lurus ke arah Bellatrix. "Namun ini keputusan yang sangat gegabah. Bagaimana jika apa yang kau rasakan hanyalah khayalan karena kau terlalu cemas? Membawa Putri Mahkota ke garis depan adalah risiko yang tidak bisa diterima. Lebih baik kita tunggu laporan resmi dulu, atau kirim utusan lain. Kau tidak boleh pergi!"
Ia memancarkan tekanan energi gelap yang samar, berusaha menakut-nakuti dan memengaruhi keputusan orang lain agar menahan Bellatrix. Namun Bellatrix yang sedang dipenuhi kepedulian mendalam dan kekuatan air murni leluhur, seketika merasakan kebusukan yang tersembunyi di dalam diri pria itu.
Matanya berubah tajam, dan seketika cahaya biru putih yang sangat terang energi air paling murni, bersih dari segala noda meledak dari tubuhnya tanpa ia tahan lagi. Tanpa menyentuh Valerius sedikit pun, kekuatan itu mengangkat tubuh pria itu melayang tinggi di udara seolah ditarik oleh arus air yang tak terlihat.
Mulut Valerius terbuka lebar, dan seketika gumpalan asap hitam pekat seperti arwah jahat yang terperangkap keluar dari tenggorokannya, berteriak menyakitkan saat bersentuhan dengan cahaya murni itu sebelum lenyap seketika.
Valerius jatuh terguling ke lantai, gemetar ketakutan dan lemah, tak berani lagi membuka mulut. Semua orang di aula terpaku mereka baru kali ini melihat kekuatan asli Putri Mahkota yang begitu dahsyat sekaligus suci, mampu mendeteksi dan mengusir noda kegelapan bahkan dari orang yang paling berkuasa sekalipun.
"Dia menghalangi karena dia takut aku sampai ke sana," ucap Bellatrix dingin namun penuh kesedihan. "Ada orang di antara kita yang bekerja sama dengan kegelapan. Dan itu semakin membuktikan aku tidak boleh terlambat."
Bellatrix berlutut di lantai marmer dingin itu, menekuk kedua lututnya dengan tulus, kepalanya menunduk rendah. "Aku memohon pada Ayahanda Kaisar, pada Ibunda Permaisuri, dan pada Ayahku Duke Leonidas... izinkan aku pergi ke medan perang sekarang juga. Aku tahu aku bisa melindungi diriku, dan kekuatanku cukup besar untuk membantunya. Putra mahkota bisa mati disana, Ayahanda"
lagian mereka kyk gk ad kerjaan ngintipin 🤣🤣🤣🤣