NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NYALIKAN SUMBU DI TENGAH TENANG

Detik-detik menuju hari kelulusan bergulir seperti pasir yang meluncur di dalam jam kaca konstan, sunyi, namun membawa ketegangan yang kian memadat. Bagi lingkungan kampus Universitas Negeri Jakarta, riak-riak menjelang pesta pelepasan wisudawan adalah tentang kebaya yang belum selesai dijahit, hafalan teks pidato, atau sewa fotografer studio. Namun bagi Zaid, setiap embusan angin yang berembus di koridor adalah tentang menghitung jarak, memetakan sudut, dan mengunci pergerakan lawan.

Malam sebelum hari H, markas kecil di sudut bengkel Haikal tampak berbeda. Tidak ada suara dentang kunci inggris yang beradu dengan blok mesin, juga tidak ada kepulan asap rokok yang biasanya memenuhi ruangan semi-terbuka itu. Hanya ada sebuah lampu neon panjang yang berkedip pelan, menerangi peta satelit digital yang terpampang di layar laptop usang milik Rian.

"Semua sudah on-position, Zaid," Haikal membuka suara, memecah keheningan sembari menunjuk beberapa titik merah di layar. "Anak-anak jalanan dari aliansi lama kita udah menyebar di tiga titik ring luar aula utama gedung pertemuan. Mereka nggak pakai atribut, cuma kaos oblong biasa. Raka nggak bakal sadar kalau jalur pelariannya sudah kita patok dari sekarang."

Zaid yang duduk di atas ban mobil bekas hanya mengangguk pelan. Jaket kulit hitamnya tergeletak di sampingnya, digantikan oleh kemeja putih bersih yang besok akan dilapisi toga kelulusan. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seorang pria yang tahu istrinya sedang dijadikan target utama penculikan oleh seorang psikopat jalanan.

"Bagaimana dengan orangnya Pak target dari kepolisian?" tanya Zaid, suaranya berat dan rendah.

Rian yang sejak tadi sibuk mengetik di keyboard menoleh. "Tim Buser dari Polres Jakarta Timur sudah siap di radius dua ratus meter dari gudang tua nomor 44 di Jakarta Barat. Begitu instruksi dari lo masuk lewat jalur khusus yang dikasih bokap lo, mereka langsung move-in. Raka nggak bakal punya waktu buat pakai motornya."

"Bagus," Zaid bangkit, meraih jaket kulitnya lalu menyampirkannya di bahu. "Pastikan satu hal, Kal. Fokus utama kalian adalah menutup pergerakan mereka yang mendekat ke arah Khadijah. Raka biar jadi urusan gue sendiri."

Haikal menepuk pundak sahabatnya itu dengan keras. "Gue tahu lo bukan Zaid yang dulu, yang bakal mukul orang sampai sekarat karena ego. Tapi ingat, Zaid... besok Khadijah bakal ngelihat lo pakai toga, bukan pakai borgol. Selesaikan ini dengan bersih."

Zaid hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan tekad mutlak yang tak tergoyahkan. "Gue pulang dulu. Ada makmum yang harus gue imami sholat malam."

Suasana kamar tidur Zaid begitu sunyi saat ia melangkah masuk. Jarum jam dinding menunjuk angka sebelas malam. Di atas ranjang besar mereka, Khadijah belum tertidur. Wanita itu sedang duduk bersila, jemarinya dengan telaten merapikan lipatan toga hitam milik Zaid yang baru saja diambil dari tempat penatu.

Begitu mendengar pintu terbuka, Khadijah menoleh. Senyum lembutnya langsung terbit, mengusir sisa-sisa hawa jalanan yang sempat dibawa Zaid masuk ke dalam ruangan.

"Sudah selesai koordinasinya dengan Mas Haikal?" tanya Khadijah, suaranya seperti embun pagi yang menyejukkan.

Zaid berjalan mendekat, melepas sepatunya, lalu memilih duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di lutut Khadijah. Kebiasaan baru yang belakangan ini menjadi tempat favoritnya untuk melepas penat. "Sudah. Semua sudah siap. Besok... kamu hanya perlu tersenyum dan berjalan di sampingku saat namaku dipanggil, Khadijah."

Khadijah mengusap rambut Zaid dengan penuh kasih sayang. "Mas Zaid, jujur pada saya. Apa ada bagian dari rencana ini yang Mas sembunyikan karena takut saya cemas?"

Zaid terdiam beberapa saat, menikmati kehangatan tangan istrinya di kepalanya. "Aku tidak menyembunyikan apa pun, Istriku. Hanya saja... aku masih merasa bersalah karena besok seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan untukmu. Tapi aku malah menyeretmu ke dalam skenario berbahaya seperti ini."

Khadijah menghentikan usapan tangannya, menopang dagu Zaid agar pria itu menatap langsung ke matanya. "Mas, kebahagiaan saya itu bukan tentang seberapa megah acara besok, atau seberapa aman tempat kita berada. Kebahagiaan saya adalah saat melihat laki-laki yang dulu mengabaikan sajadah, kini menjadi orang pertama yang berdiri di depan saya untuk memimpin sholat. Besok, kita tidak sedang menghadapi musuh, Mas. Kita sedang menjemput takdir yang sudah Allah atur agar kita bisa melangkah lebih jauh tanpa bayang-bayang ketakutan lagi."

Zaid meraih tangan Khadijah, mencium telapak tangannya lama. "Terima kasih, Khadijah. Terima kasih karena tidak pernah menyerah pada berandalan ini."

Malam itu, sebelum memejamkan mata, mereka menghabiskan waktu sepertiga malam terakhir di atas dua lembar sajadah yang sejajar. Di tengah keheningan kamar yang dilingkupi rintik hujan luar, suara Zaid yang melantunkan surah Al-Anfal ayat 30 tentang bagaimana Allah adalah sebaik-baiknya pembalas tipu daya terdengar begitu bergetar namun sarat akan keyakinan mutlak.

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Gedung pertemuan Jakarta Convention Center dipenuhi oleh lautan manusia berpakaian formal. Aroma parfum mahal bersahutan dengan riuh rendah tawa keluarga para wisudawan. Di antara kerumunan itu, Zaid berjalan dengan langkah tegap, tangannya menggandeng erat jemari Khadijah yang hari itu tampil anggun dengan gamis brokat marun senada dengan warna dasi Zaid di balik toganya. Cadar hitamnya terpasang rapi, menyembunyikan wajahnya namun tidak bisa menyembunyikan binar matanya yang penuh kebanggaan.

Umi Syarifah dan Habib Umar berjalan beberapa langkah di depan mereka, dikawal secara tidak mencolok oleh dua pria berbadan tegap berpakaian batik—anggota kepolisian berpakaian preman yang dikirim khusus untuk menjaga lingkaran dalam keluarga Al-Idrus.

Namun, ketenangan itu hanyalah sebuah panggung tiruan.

Saat mereka melewati area selasar luar menuju pintu masuk utama aula, Zaid merasakan getaran ponsel di saku celananya. Ia meraba sakunya dengan gerakan cepat tanpa mengubah ritme langkahnya.

Sebuah pesan singkat dari Haikal:

“Target Ring 1 mulai bergerak. Ada dua motor matik mencurigakan di area parkir timur B. Mereka terus ngikutin pergerakan nyokap-bokap lo dari jauh. Umpan sudah mulai digigit, Zaid.”

Zaid melirik sekilas ke arah Khadijah. Istrinya membalas tatapan itu dengan sebuah anggukan kecil dibalik cadarnya. *Dia siap.*

"Umi, Abi," panggil Zaid pelan, menghentikan langkah orang tuanya tepat di depan pintu masuk aula. "Zaid sama Khadijah mau ke toilet sebentar di sebelah barat. Umi sama Abi masuk duluan saja, kursinya kan sudah nomor urut."

Habib Umar menatap Zaid tajam, seolah mengerti kode yang dikirimkan putranya. Beliau mengangguk mantap. "Jaga istrimu, Zaid. Abi tunggu di dalam."

Begitu kedua orang tua mereka masuk ke dalam aula, Zaid langsung mengubah arah langkahnya. Bukan menuju toilet, melainkan menuju koridor penghubung area luar yang agak sepi, mendekati area parkir timur. Khadijah tetap berjalan di sampingnya, langkahnya tidak ragu sedikit pun karena ia tahu, tangan kokoh suaminya tidak akan pernah melepaskan genggamannya.

Di koridor luar yang berbatasan langsung dengan taman pembatas parkiran, langkah mereka mendadak dihentikan oleh sesosok pria berjaket hoodie hitam besar yang bersandar di tiang beton. Pria itu menurunkan penutup kepalanya, menampilkan wajah penuh bekas luka dengan seringai yang sangat familiar.

Bukan Raka, melainkan Dodi, orang kepercayaan Raka di Macan Hitam.

"Wah, wah, lihat siapa yang pakai baju sarjana," ejek Dodi, matanya menatap Zaid dengan pandangan merendahkan sebelum beralih ke arah Khadijah dengan tatapan lapar. "Cantik-cantik tapi sayang, dapetnya mantan narapidana. Gimana kalau ikut gue aja, Neng? Bos Raka udah nungguin di tempat biasa."

Zaid melangkah satu tapak ke depan, memosisikan tubuh tegapnya tepat di depan Khadijah, menghalangi pandangan Dodi sepenuhnya. Auranya mendadak berubah drastis. Ketenangan seorang wisudawan menguap, digantikan oleh hawa membunuh yang sangat pekat dari sang mantan ketua geng motor jalanan.

"Raka terlalu pengecut sampai harus ngirim anjing kurap kayak lo buat jemput gue, Dod?" tanya Zaid, suaranya terdengar sangat tenang namun dinginnya menembus tulang.

Dodi mendengus geram, tangannya meraba sesuatu di balik saku hoodie-nya sebilah pisau lipat. "Nggak usah banyak bacot, Zaid! Bos Raka tahu lo udah pasang orang di sekitar sini. Tapi dia nggak peduli. Kalau lo nggak ikut gue sekarang ke gudang Barat, anak-anak kita yang ada di sekitar rumah Jogja mertua lo bakal gerak hari ini juga!"

Mendengar ancaman itu, Khadijah sempat tersentak kecil di belakang Zaid. Jantungnya berdegup kencang. Raka ternyata benar-benar licik, dia tidak hanya memasang perangkap di Jakarta, tapi juga menjadikan orang tua Khadijah di Yogyakarta sebagai sandera psikologis.

Namun, alih-alih panik, Zaid justru terkekeh—sebuah tawa pendek yang terdengar sangat meremehkan di telinga Dodi.

"Lo pikir gue bakal bergerak tanpa mastiin keamanan di Jogja, Dodi?" Zaid mengeluarkan ponselnya sendiri, menekan tombol *speaker* setelah mendial sebuah nomor yang sejak pagi tadi sudah ia siapkan.

Suara dari seberang telepon terdengar lantang, diiringi sirine polisi yang samar di latar belakang. *"Halo, Zaid! Ini Ipda Bagas dari Polres Sleman. Dua orang mencurigakan di sekitar pesantren Abah Umar sudah kami amankan sepuluh menit yang lalu. Wilayah Jogja bersih dan aman terkendali. Silakan selidiki yang di Jakarta."*

Wajah Dodi mendadak pucat pasi. Skenario gertakan yang disiapkan Raka runtuh total dalam satu panggilan telepon.

"Sekarang," Zaid mematikan ponselnya, memasukkannya kembali ke saku toga, lalu menatap Dodi dengan mata elangnya yang mematikan. "Bilang sama bos lo... sumbu petasan yang dia pasang udah gue potong. Dan sekarang, giliran gue yang bakal ledakin tempat persembunyiannya."

Sebelum Dodi sempat bereaksi atau menarik pisaunya, dari arah semak-semak taman di belakangnya, tiga orang pria berbadan tegap dengan pakaian batik tim buser yang sudah bersiap langkah cepat menerkam Dodi dari belakang, mengunci kedua tangannya ke atas tanah beton dengan gerakan taktis yang bersih. Pisau lipatnya terlempar jauh di atas aspal.

"Zaid Al-Idrus! Lo bajingan licik!" teriak Dodi sambil meronta saat borgol besi mengunci pergelangan tangannya.

Zaid tidak memedulikan teriakan itu. Ia berbalik menghadap Khadijah, merapikan sedikit kerah gamis istrinya yang agak bergeser karena angin luar. "Umpan pertama sudah masuk kerangkeng, Istriku. Sekarang, mari kita selesaikan bagian akhir dari drama ini."

Khadijah menatap suaminya dengan binar kekaguman yang semakin mendalam. Zaid tidak lagi menggunakan kepalan tangannya yang berdarah untuk menyelesaikan masalah; ia telah bertransformasi menjadi seorang pria dewasa yang menggunakan akal dan perlindungan hukum untuk menjaga apa yang berharga baginya.

"Saya selalu ada di belakang Mas Zaid," bisik Khadijah mantap.

Dengan sisa waktu tiga puluh menit sebelum prosesi wisuda dimulai, Zaid menggandeng kembali tangan istrinya masuk ke dalam aula utama. Langkahnya kali ini terasa jauh lebih ringan. Raka mengira hari ini akan menjadi hari kelulusan Zaid dari universitas sekaligus hari kehancuran hidupnya. Namun Raka salah besar. Hari ini akan menjadi hari kelulusan Zaid dari belenggu masa lalu, dan menjadi hari di mana Macan Hitam akan binasa oleh jebakan senyap yang mereka bangun sendiri.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!