Bila kita membenci seseorang itu wajar, namun bencilah dengan sewajarnya. Karena kadang kala benci bisa berubah menjadi cinta.
Di sebuah ruangan.... Seorang wanita tengah di tarik paksa oleh seorang pria yang sangat ia benci, begitu pun dengan si pria yang sangat membenci si wanita.
"Tidak ada orang yang tidak menyukai aku!" tegas seorang pria bertubuh tegap yang bernama Aran Rianda, pada seorang wanita yang kini sedang berada di bawah kungkungannya.
Wanita yang bernama Velisya Khumairah itu tidak pernah mengenal kata takut hingga ia sama sekali tidak merasa gentar dengan pria yang kini tengah mengungkungnya, "Aku tidak menyukaimu dan tidak akan pernah...!" tegas Velisya Khumairah.
"Kau......" pria tersebut menarik paksa si wanita hingga tanpa sadar wanita itu ikut menarik si pria, dan keduanya terjatuh di sofa dengan Velisya yang berada di bawah tubuh kekar Aran.
Tanpa bisa di tolak lagi, seorang pria paruh baya menyaksikan itu semua.
"KALIAN HARUS MENIKAH.....!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
"Mas Veli malu tau Mas di gombalin terus," kata Veli yang tidak kuat dengan rayuan Aran.
"Sayang, kapan kita periksa kandungan kamu?" tanya Aran.
"Besok, Mas ikut ya...." pinta Veli penuh harap.
"Ikut dong, Mas kan mau lihat juga gimana hasil karya Mas, apa kah dia cowok atau kah cewek?" Aran mengelus perut Veli yang sudah mulai membuncit.
"Mas, ngomongnya biasa aja, nggak usah gitu juga Mas."
Aran berjongkok dan seolah ia kini sedang berbicara pada anak nya yang masih di kandungan Veli, "Anak Papa mau di jengukkin Papa nggak? Pasti mau dong?"
"Mas!" Veli kesal dan ia langsung menjauhi Aran.
"Sayang Mas belum selesai ngomong sama anak Mas," Aran merasa kesal karena Veli malah menjauhinya.
"Mas ngomongnya apaan coba? Ngomong sama anak itu yang baik-baik."
"Kan Mas juga ngomongin baik-baik."
"Apa nya yang baik?"
"Mas mau ngomong, mau tanya, apa dia mau di tengokkin sama Papa nya, salahnya di mana?" tanya Aran tanpa dosa.
PLAK.
Veli melemparkan majalah hampir mengenai wajah Aran, namun tangan Aran terlalu cepat menangkapnya.
"Kamu mau durhaka sama suami?" Aran menunjuk majalah di tangannya, yang tadi di kempar Veli pada dirinya.
"Ish....kok nyalahin sih......"
Aran meletakan majalah itu asal, kemudian ia mendekati Veli, "Veli Mas minta maaf, karena Mas udah bagi cinta kamu, dan maaf Mas nggak bisa buat cinta sama kamu aja."
"Mas ngomong apasih?"
"Mas udah mencintai yang lain juga," terang Veli.
Veli rasanya ingin menangis, tapi ia juga sangat ingin mengunyah Aran hidup-hidup karena perkataan Aran yang sangat tidak masuk akal.
"Maksud nya? Kalau ngomong itu yang jelas!"
"Mas udah cinta sama dan sayang sama orang lain, tapi cinta Mas buat kamu juga nggak berkurang," Aran menatap Veli dengan serius, dan ia bisa melihat wajah Veli yang sedang menahan kekesalan.
"Maksud Mas, Mas udah punya wanita lain?"
"Iya mungkin begitu," Aran membenarkan apa yang di katakan Veli.
"Kurang ajar! Mas brengsek ya, aku lagi hamil begini tapi Mas main di luar sana!" Veli tidak habis pikir dengan Aran yang ternyata memiliki orang lain di luar sana, "Aku pikir Mas setia, Mas sayang sama aku seperti kata Mas waktu itu, tapi ternyata sama aja, semua lelaki itu buaya!"
"Kenapa semua lelaki buaya?"
"Karena memang begitu, nggak ada cowok setia semua buaya dan salah satunya Mas! Mas buaya," Veli mulai membereskan barang-barang nya, dan ia mengambil tas tangan kesayangannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Aran bingung.
"Mau pergi, ngapain disini, Mas juga udah punya yang lain," terang Veli sambil menarik koper miliknya.
"Veli, tapi Mas belum jelaskan," Aran mengejar Veli yang kini tengah menuruni anak tangga, dan ia kini sudah di pintu utama.
"Apa yang mau di jelaskan, udah jelaskan. Bahkan tadi Mas yang bilang sendiri kalau Mas udah sayang sama orang lain juga!"
"Iya itu benar."
"Terus, apa lagi," Veli mencoba menggeser Aran yang berdiri di depan pintu karena ia ingin keluar, "Minggir, aku mau pulang ke rumah Mama, Papa aku aja!"
"Tapi Mas salah di mana?"
"Masih bisa nanyak ya?"
"Iya, kan Mas sayang sama kamu, terus sekarang sayang lagi sama yang lain yaitu anak yang kamu kandung, terus salahnya di mana?" tanya Aran tanpa merasa bersalah padahal ia memang berniat mengerjai Veli.
"Jadi?" Veli menyadari kesalahannya, tenyata maksud Aran bukanlah wanita yang ada hubungan terlarang dengan Aran, melainkan calon anak mereka.
"Jadi Mas salah, kalau sayang dan mencintai anak Mas yang kamu kandung?" Aran sangat suka menyudutkan Veli, dan kini ia ingin tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai Veli hanya saja ia masih menahan tawanya.
"Mas gimana sih?"
"Ayo kalau mau pergi silahkan, tapi maaf Mas nggak bisa nggak sayang sama anak Mas," Aran menggeser tubuhnya, bahkan ia membuka pintu dengan lebar sambil mempersilahkan Veli untuk keluar.
"Mas ijinin aku buat pergi?" Veli ingin sejati Aran menahannya, tapi sepertinya Aran sama sekali tidak berniat akan hal itu.
"Iya, kan ku maunya begitu, jadi silahkan kalau mau pergi," Aran sangat suka sekali melihat wajah istrinya yang terlihat shock melihat tingkahnya, "Ayo keluar, kenapa diam saja?" tanya Aran yang menyadarkan Veli dari lamunannya.
"Tapi Mas......" Veli terlihat ragu untuk pergi.
"Ayo pergi saja, nanti kalau Mas butuh sesuatu Mas bisa bawa orang lain saja ke rumah untuk mengurus Mas, Mas nggak salah dong.....kan kamu yang nggak mau lagi tinggal di sini?"
"Mas, apasih?"
"Ayo silahkan pergi?" Aran mempersilahkan Veli lagi, dan tangannya menunjuk pintu, akan tetapi bukan membentak, suaranya terdengar bergetar dan ingin menangis. Dan itu hanya trik Aran saja.
"Tapi Mas...."
"Ayo pergi saja tidak apa," Aran menunduk seolah ia sangat bersedih.
Veli kini malah ragu ingin pergi atau tidak, sejujurnya ia tidak mau pergi tapi karena sudah gengsi ia melangkah keluar dan sesaat kemudian ia kembali berbalik.
"Mas nggak nahan aku buat pergi?"
"Nggak, kan ku yang mau bukan mau nya Mas," Aran langsung menutup pintu, dan ia tertawa melihat wajah Veli dari jendela. Ia tahu istrinya itu semenjak hamil sangat gengsi dan juga manja,jadi ia ingin sesekali mengerjai istrinya.
"Mami......hiks.....hiks......" teriak Veli di luar sana sambil menangis dengan kencang.
Aran yang mendengar suara teriakan Veli menyebut Mami, langsung cepat-cepat membuka pintu. Ia sangat takut sekali pada Ratih bila tau apa yang ia lakukan saat ini pada menantu kesayangan nya itu maka habislah dirinya.
CLEK....
Aran membuka pintu dengan cepat, "Mana Mami?" tanya Aran panik sambil melihat sekitarnya, namun ternyata tidak ada dan ia tau kalau Veli mengerjainya.
"Mami nggak ada, aku mau ke rumah Mami, mau bilang kalau Mas ngusir aku," kata Veli yang ingin membalas dendam pada Aran.
"Eh....." jika tadi Veli yang di buat panik oleh Aran, maka kini lain halnya. Malah Aran yang takut mendengar ancam Veli,"Khumairah sayang, jangan ya, Mas bercanda."
"Nggak ada bercanda, tadi Mas serius."
"Tapi tadi, kamu yang mau pergi dari rumah kan, ya.....Mas jelasin aja sama Mami gimana kejadiannya," Aran masih mencoba untuk menang dari Veli, namun seperti nya itu cukup sulit sebab di mana-mana tidak pernah ada suami yang menang melawan istri.
"Memangnya Mas pikir Mami percaya?" tanya Veli.
"Sayang.....aduh......" Aran menggaruk kepala dan kebingungan, ternyata kini malah ia yang terperangkap dalam permainannya. Sebab kalau sampai Veli berbicara yang bukan-bukan pada Ratih ia bisa saja di suruh menguras kolam renang dengan timba.
"Apa, aku mau pergi!"
"Sayang jangan ya, Mas cuman bercanda tadinya."
"Nggak!"
"Sayang ayolah."
"Nggak!"
"Mas beliin tas yang seharga 2M."
"Itu Veli setuju," mata Veli berbinar dan ia memberikan kopernya pada Aran, "Bawain."
Aran tersenyum kecut, karena ternyata istri akan selalu jadi pemenang dalam segala hal. Dan tidak ada kata jika suami yang menjadi pemenangnya.
smangat thor
love u daddy Bilmar🥰🥰