NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balas Dendam

Sementara itu, di sudut terpencil dekat lapangan basket yang lengang, Bima duduk dikerumuni teman-teman setianya. Pergelangan tangannya dibalut perban putih yang sudah kusam—perban seadanya yang justru menambah kesan menyedihkan. Wajahnya memerah menahan amarah yang meluap, tercampur rasa malu yang membakar dari dalam.

"Sialan!" Bima menggeram, menahan tangannya yang masih berdenyut nyeri. "Benar-benar gila! Dia sengaja mempermalukanku di depan semua orang!" Suaranya bergetar antara marah dan frustasi. "Aku harus membalasnya! Harga diriku sudah hancur berkeping-keping!"

Teman-temannya—anggota geng kelas dua belas yang cukup disegani—mengangguk dengan ekspresi serius. Mereka paham betul, membiarkan insiden ini berlalu begitu saja sama artinya dengan bunuh diri sosial. Reputasi mereka di sekolah akan hancur.

"Kita nggak bisa diam aja, Bim," Aji, salah satu kaki tangan Bima, angkat bicara sambil mengepalkan tinjunya. "Misca itu cuma adik kelas. Masa kita sebagai kakak kelas dikalahkan begitu aja? Wilayah Utara harus tahu di mana posisi mereka yang sebenarnya. Lagipula tadi dia sendirian, bahkan Vino nggak sempat ikut campur."

"Kita kasih pelajaran yang nggak akan pernah dia lupakan," timpal Reza dengan seringai dingin. "Panggil semua orang. Ini bukan soal duel jantan satu lawan satu. Kita hajar mereka ramai-ramai, biar kapok selamanya." Dia mendekat, menurunkan suaranya jadi bisikan berbahaya. "Pulang sekolah nanti, kita tunggu di jalur belakang. Sepi, nggak ada CCTV. Sempurna."

Bima menyeringai kejam, api dendam menyala di matanya. "Bagus. Panggil semua yang bisa kalian kerahkan. Jangan cuma anak sekolah kita—hubungi juga teman-teman dari luar yang punya hutang budi sama kita." Seringainya melebar. "Aku mau lihat si Misca yang selalu tenang itu menjerit ketakutan. Tiga puluh orang. Kita buat dia malu sepuluh kali lipat dari yang dia lakukan padaku."

Rencana licik itu disusun dengan rapi, seperti jerat yang siap menerkam. Mereka sepakat: begitu bel pulang berbunyi, permainan dimulai.

Bel Pulang

Bel pulang akhirnya berbunyi, bergema seperti gong pembuka babak ketegangan baru.

Misca, Vino, dan Jeka keluar dari ruang kelas mereka dengan ritme yang berbeda-beda. Jeka membungkuk sedikit di bawah beban tas penuh buku tebal, Vino melangkah santai namun dengan mata yang selalu waspada memindai sekeliling, sementara Misca berjalan dengan ketenangan yang hampir supernatural—seolah dunia di sekitarnya bergerak lebih lambat.

Saat mereka melewati koridor utama yang masih ramai siswa berlalu-lalang, Raya tiba-tiba berlari kecil menghampiri, hampir menabrak beberapa siswa di tengah jalan.

"Misca, tunggu sebentar!"

Misca menghentikan langkahnya, kepala berputar perlahan ke arah Raya. Tatapannya datar namun tidak mengusir.

Raya terlihat canggung menghadapi aura dingin itu, tapi ia memaksakan diri melanjutkan. "Aku… aku mau berterima kasih." Kata-katanya keluar terbata. "Soal tadi pagi. Dan juga pelajaran Fisika tadi. Aku benar-benar nggak ngerti materinya, tapi penjelasanmu sangat membantu."

Misca menatap Raya lebih lama dari biasanya, seolah sedang membaca kode-kode tersembunyi di mata gadis itu. Setelah beberapa detik yang terasa panjang, ia menjawab, "Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya menyampaikan metode paling efisien untuk menyelesaikan masalah itu."

"Tetap saja," Raya tersenyum tulus, senyum yang hangat dan jujur. "Terima kasih banyak. Sampai jumpa besok di kelas, ya."

Raya kemudian berbalik cepat, berlari kecil menuju Dhea yang sudah menunggu di dekat gerbang. Dhea menyaksikan interaksi singkat itu dengan senyum penuh arti—senyum seseorang yang tahu sesuatu yang luput dari pandangan orang lain. Ia paham, Misca sangat jarang membiarkan siapa pun menembus jarak sosialnya, apalagi seorang siswi. Raya, tanpa sadar, baru saja melintasi batas yang biasanya tertutup rapat.

Vino menghampiri Dhea dengan seringai usil yang lebar. "Wih, Dhe. Tadi aku kira Misca lagi pacaran loh, serius banget ngobrolnya. Tatap-tatapan lagi, cieee." Dia menyenggol bahu kekasihnya. "Baru kenal satu hari aja udah bisa bikin Ketua Utara berhenti jalan. Hebat juga temanmu itu."

Dhea terkekeh, membalas senggolan Vino dengan lembut. "Ih, apaan sih, Vin! Raya cuma berterima kasih doang. Lagipula, Misca pacaran?" Dia menggeleng dengan senyum geli. "Nggak kebayang dia bisa ngomong lebih dari tiga kata sama cewek."

"Justru itu yang aneh!" Vino menaikkan alisnya dramatis. "Misca itu jarang banget kasih perhatian ke orang yang dia anggap nggak penting. Raya pasti punya 'sesuatu' yang menarik perhatiannya." Matanya menyipit penuh selidik.

Jeka tiba-tiba muncul di samping mereka, wajahnya tertekuk cemas. Tangannya memeluk erat buku-buku tebalnya. "Udah, jangan bahas Raya dulu." Suaranya rendah, was-was. "Aku perasaan nggak enak. Tadi aku lihat geng Bima berkumpul di dekat gudang belakang. Banyak banget. Mereka kayaknya lagi ngerencanain sesuatu."

Misca menyipitkan mata sedikit. "Mereka hanya anak kecil yang egonya terluka."

"Anak kecil yang terluka dengan tiga puluh orang di belakangnya, Mis," koreksi Jeka, nadanya serius. Sebagai orang paling logis dan waspada di grup mereka, Jeka tidak bisa mengabaikan tanda bahaya ini.

Jebakan

Saat mereka berempat berjalan menuju area parkir, tiga motor matic tiba-tiba menyalip dari samping dan menghadang jalan mereka dengan rem mendadak yang menjerit. Tiga siswa—anggota geng Bima—turun dengan gerakan yang disengaja mengintimidasi.

"Woi! Kalian berempat!" salah satu dari mereka menunjuk tajam ke wajah Misca. "Bima mau ketemu. Ikut sekarang!"

Vino langsung melangkah maju, mendorong Jeka dan Dhea ke belakang dengan gerakan protektif. "Nggak perlu pakai ancaman murahan. Di mana Bima?"

"Jalur belakang sekolah. Ada urusan yang harus diselesaikan sampai tuntas, anak Utara!" Nada mereka penuh kemenangan palsu.

Misca, yang tadinya hanya mengamati dengan tenang, kini melangkah maju melewati Vino. Tatapannya menusuk ketiga siswa itu seperti laser dingin, seolah ia bisa membaca seluruh rencana jahat mereka hanya dari bahasa tubuh.

"Tidak perlu diantar," kata Misca dengan suara datar yang mengiris. "Kami tahu jalannya. Kalian duluan saja."

Ketiga siswa itu terkejut dengan ketenangan abnormal Misca, tapi kemudian menyeringai puas—mereka pikir targetnya sudah masuk perangkap. Mereka kembali ke motor dan melaju cepat menuju lokasi.

"Misca! Kamu gila apa?!" Jeka hampir berteriak. "Itu jelas-jelas jebakan!"

"Aku ikut!" seru Vino, aura bertarungnya mulai meledak.

Misca berbalik menghadapi Dhea dan Jeka. Tatapannya tidak bisa dibantah. "Kalian berdua pulang sekarang. Ini urusan kami." Kemudian dia menatap Jeka khusus. "Jek, bawa Dhea pulang dengan selamat."

Tanpa menunggu jawaban, Misca dan Vino sudah berjalan cepat menuju jalur belakang, meninggalkan Dhea dan Jeka yang mematung.

Jeka menatap punggung kedua sahabatnya dengan napas yang memburu. Otaknya bekerja cepat. Misca memang jenius dalam strategi, tapi tiga puluh orang bukan angka main-main. Bahkan dengan kemampuan Misca dan Vino, peluang mereka terluka parah sangat besar. Wilayah Utara tidak boleh kehilangan dua pemimpin teratasnya dalam penyergapan pengecut seperti ini.

Keputusan diambil dalam sepersekian detik.

Jeka mengeluarkan ponsel, jarinya bergerak lincah di layar. "Dhe, maaf, tunggu sebentar di sini," katanya sambil mengetik cepat. Ini inisiatifnya sendiri—mengabaikan perintah Misca demi menyelamatkan nyawa teman-temannya. "Vino dan Misca bisa celaka kalau sendirian. Kita butuh bantuan. Sekarang."

Jeka menghubungi anggota inti Wilayah Utara satu per satu dengan pesan darurat yang sama: "URGENT! Misca dan Vino disergap di jalur belakang sekolah! Bawa semua orang yang bisa kalian kerahkan! INI PERINTAH DARURAT!"

Pertarungan

Sementara itu, Misca dan Vino tiba di arena neraka mereka.

Di sebuah lapangan berpasir belakang bangunan sekolah tua yang terbengkalai, tiga puluh orang sudah berdiri menunggu seperti barisan eksekusi. Mayoritas siswa kelas dua belas, tapi beberapa wajah terlihat lebih tua, lebih kasar—preman bayaran dari luar. Bima berdiri di tengah, menyeringai penuh kemenangan dengan pergelangan tangan yang masih terbalut perban.

Misca memindai kerumunan itu dengan mata analitis. Tiga puluh orang. Otaknya langsung menghitung variabel: jarak, posisi, tingkat ancaman masing-masing individu, titik lemah formasi mereka. Perhitungan selesai dalam dua detik.

Vino di sampingnya justru tersenyum lebar—bukan senyum ramah, tapi senyum predator yang menemukan mangsa. Ini adalah medan pertempuran favoritnya: kekacauan brutal yang membutuhkan kekuatan mentah.

"Misca, akhirnya datang juga!" Bima tertawa keras, diikuti gelak tawa pasukannya. "Mau jadi pahlawan lagi kayak tadi pagi? Mana bodyguard lainnya? Cuma berdua doang?" Tawanya makin keras. "Kalian pikir bisa lawan kami tiga puluh orang? Salah perhitungan, Utara!"

"Bima," Misca berbicara dengan tenang—terlalu tenang untuk situasi ini. "Terlalu banyak orang. Kamu hanya akan membuat kekacauan yang lebih besar."

Vino meletakkan tangan di bahu Misca, tatapannya ke depan tidak berkedip. "Mis, izinkan aku yang bereskan sampah-sampah ini. Simpan energimu buat duel besar bulan depan. Mereka cuma butuh dibersihkan. Aku yang akan beres-beresnya."

Misca menatap Vino sejenak—komunikasi tanpa kata yang hanya bisa dipahami sahabat lama. Kemudian dia mengangguk pelan, memberi izin yang tidak terucapkan.

Vino menyeringai ke arah Bima, senyumnya penuh ancaman. "Kamu mau duel? Tadi pagi nggak sempat, kan? Sekarang aku kasih kesempatan emas."

Bima meraung marah, mengangkat tangan memberi isyarat. "HAJAR MEREKA! JANGAN KASIH AMPUN!"

Pertarungan meledak seketika. Tiga puluh orang menyerbu bagai tsunami amarah.

Vino bergerak seperti badai—cepat, brutal, dan tidak bisa dihentikan. Dia adalah representasi kekuatan murni dalam bentuk manusia. Setiap pukulannya mendarat dengan bobot penuh, sering kali cukup satu hantaman untuk menjatuhkan lawan. Dia tidak menyisakan ruang bagi musuh untuk balas menyerang. Sebuah hantaman keras ke rahang—satu orang jatuh. Tendangan berputar ke rusuk—dua orang terpelanting. Sikuan ke pelipis—tiga orang terkapar.

Vino tidak hanya bertarung, dia mendominasi. Dia menghantam, menendang, melempar lawannya seolah mereka tidak lebih berat dari boneka jerami. Suara benturan tubuh bercampur dengan erangan kesakitan. Dalam hitungan menit, enam orang sudah tak sadarkan diri di tanah berdebu.

Sementara itu, Misca bertarung dengan filosofi yang sepenuhnya berbeda—dia adalah presisi dalam bentuk manusia. Tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada energi terbuang. Dia hanya bergerak ketika benar-benar perlu, seperti ahli bedah yang hanya mengayunkan pisau pada titik vital.

Seorang preman besar mengayunkan tinju ke wajahnya. Misca menggeser kepala lima sentimeter—tinju itu meleset. Dalam gerakan berlanjut yang halus, dia menangkap pergelangan tangan penyerang, memelintirnya pada sudut yang tidak natural, dan menyapu kaki dengan teknik judo yang sempurna. Preman itu jatuh dengan dentuman keras, merintih memegangi pergelangan tangan yang terkilir.

Dua orang datang dari samping. Misca berputar dengan tenang, menggunakan momentum salah satu penyerang untuk membantingnya ke temannya sendiri. Mereka bertabrakan dengan bunyi keras, terjatuh dalam tumpukan yang kacau.

Seorang preman lain mencoba menyerangnya dari belakang dengan balok kayu. Tanpa menoleh, Misca melangkah ke samping pada detik terakhir—balok itu menghantam udara kosong. Misca berbalik dengan cepat, menyambar lengan yang memegang kayu, menekan titik saraf di siku, dan dengan sapuan kaki yang presisi, preman itu jatuh terjerembab. Balok kayu terlepas, jatuh tak berguna.

Misca bergerak dalam pola melingkar yang terkontrol, menggunakan prinsip aikido—mengalihkan kekuatan lawan untuk menghancurkan mereka sendiri. Setiap orang yang ia tangani tidak hanya jatuh, tapi juga dilumpuhkan di titik-titik persendian yang membuat mereka tidak bisa bangkit lagi dengan cepat. Dalam ketenangan yang hampir meditatif, dia menjatuhkan sepuluh orang tanpa terlihat kelelahan sama sekali.

Bima, yang menyaksikan pasukannya hancur lebur oleh dua orang yang seharusnya mudah dikalahkan, mulai panik. Keringatnya bercucuran. "Fokus ke yang tinggi! Habisi dia dulu!" teriaknya histeris, menunjuk Vino.

Belasan orang tersisa langsung mengepung Vino, mencoba mengalahkannya dengan angka semata.

Vino, yang kini dikerubuti dari semua arah, justru tertawa lepas—tawa yang terdengar sedikit gila. Ini adalah momen yang dia cintai: kekacauan total, adrenalin memuncak, tubuh bergerak murni dari insting. Darah mulai mengalir dari pelipisnya akibat pukulan yang melewati pertahanannya, tapi itu justru membakar semangatnya lebih keras.

"ITU DIA! AYO, MANA LAGI?!" raungnya.

Dia meraung dan menghantam kembali dengan lebih brutal. Sebuah pukulan dijatuhkannya dengan lutut yang naik cepat—hidung seseorang remuk. Sikuan horizontal ke kepala—satu orang pingsan seketika. Tendangan samping ke perut—dua orang terlipat kesakitan. Vino bergerak seperti mesin perang yang tidak bisa dihentikan, mengubah pertahanan menjadi serangan balik yang menghancurkan.

Di sisi lain lapangan, Misca kini berhadapan langsung dengan Bima. Bima, dalam keputusasaan dan amarah yang memuncak, mencoba memukul Misca dengan sisa-sisa kekuatannya. Tinjunya mengayun liar, penuh emosi tapi tanpa teknik.

Misca menghindarinya dengan langkah mundur minimal—tinju itu meleset tipis. Kemudian, dalam gerakan yang hampir terlalu cepat untuk dilihat, Misca menangkap pergelangan tangan Bima lagi. Tapi kali ini dia tidak berhenti di situ.

Misca menekan titik tekan spesifik di bahu Bima—sebuah saraf yang langsung mengirimkan sinyal kelumpuhan ke seluruh lengan. Bima merintih keras, lengannya terasa mati rasa seketika, jatuh lemas di sisinya.

Belum selesai, Misca menendang bagian belakang lutut Bima dengan presisi sempurna. Bima jatuh ke tanah dengan bunyi dentuman yang keras, debu beterbangan.

"Kamu… kamu curang!" Bima berteriak sambil merintih, memegangi bahunya yang terasa seperti terbakar dan mati rasa sekaligus.

Misca menatapnya dari atas dengan ekspresi datar—tanpa kemenangan, tanpa emosi. Hanya fakta. "Aku hanya menggunakan metode paling efisien untuk melumpuhkanmu. Tidak ada yang curang tentang efisiensi."

Pasukan Datang Terlambat

Saat pertarungan mencapai klimaksnya dan sisa-sisa geng Bima mulai mundur dengan mata ketakutan melihat teman-teman mereka berserakan, suara deru puluhan mesin motor menggelegar dari kejauhan—suara yang terdengar seperti tentara yang datang.

Anggota inti Wilayah Utara tiba dengan kecepatan penuh, mesin motor mereka menjerit, debu beterbangan. Mereka turun dari motor dengan wajah siap perang, sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi tiga puluh musuh kuat yang disebutkan Jeka.

Tapi pemandangan yang menyambut mereka membuat semua langkah terhenti.

Misca dan Vino berdiri tegak di tengah lapangan pasir itu. Di sekeliling mereka, dua puluh delapan orang sudah terkapar dalam berbagai posisi kesakitan—ada yang memegangi pergelangan tangan yang bengkok, ada yang tidak bisa menggerakkan kaki, ada yang terhuyung dengan wajah berlumuran darah, dan banyak yang hanya merintih tidak berdaya. Dua orang terakhir mencoba melarikan diri dengan panik.

Vino, masih dengan senyum lebar, mengejar keduanya dengan lari cepat. Dalam hitungan detik, mereka juga sudah bergabung dengan yang terkapar. Vino berjalan santai kembali ke samping Misca, mengibaskan debu dari bajunya.

Keheningan terjadi. Pasukan bantuan Wilayah Utara hanya bisa terpaku, mulut terbuka.

Jeka berlari menembus kerumunan, Dhea di belakangnya. "Misca! Vino! Kalian nggak apa-apa?! Ada yang luka parah?!" Suaranya panik, matanya menyapu puluhan tubuh yang berserakan.

Vino menoleh dengan sebelah alis terangkat tinggi. "Woi, Jek! Ngapain kalian semua di sini? Bukannya tadi disuruh pulang?"

Jeka masih terengah, lega melihat sahabat-sahabatnya baik-baik saja meskipun ia tahu ia baru saja melanggar perintah langsung. "Maaf, Mis. Aku… aku nggak tenang lihat jumlah mereka. Aku telepon bantuan darurat."

Misca menghela napas pendek—bukan napas kesal, tapi napas yang mengandung sedikit rasa terima kasih tersembunyi. Dia menatap pasukan yang datang terlambat, kemudian kembali ke Jeka dan mengangguk pelan. "Keputusan yang efisien dalam kondisi darurat, Jek. Kerja bagus."

Jeka merasa beban besar terangkat dari dadanya. Misca tidak marah.

"Selesaikan sisanya," perintah Misca dengan tenang. "Pastikan Bima dan kelompoknya tidak akan pernah berani lagi mengganggu siapa pun di sekolah ini. Termasuk siswi pindahan itu."

Jeka, yang kini merasakan bobot tanggung jawab baru, langsung mengambil alih komando. Dia memerintahkan anggota inti untuk memastikan Bima dan gengnya benar-benar mengerti konsekuensi dari tindakan mereka—pelajaran yang tidak akan terlupakan.

Misca, Vino, dan Jeka kemudian meninggalkan lokasi dengan santai, berjalan menuju tempat parkir motor mereka. Saat Misca menyalakan mesin motor sportnya, Jeka menatapnya dengan pandangan yang benar-benar baru—pandangan yang penuh dengan rasa hormat yang mendalam, dan sedikit ketakutan akan potensi tersembunyi sahabatnya.

"Misca," kata Jeka, suaranya pelan tapi serius. "Kamu… benar-benar luar biasa. Aku nggak pernah tahu kamu sekuat itu."

Misca hanya memeriksa spion motornya dengan tenang. "Ini hanya prinsip Fisika sederhana, Jek." Suaranya datar seperti biasa. "Kekuatan yang diaplikasikan secara paling efisien pada titik yang tepat akan selalu memenangkan pertarungan. Tidak ada yang istimewa tentang itu."

Tapi Jeka tahu—dan sekarang seluruh Wilayah Utara tahu—Misca bukan hanya pemimpin yang mengandalkan otak jeniusnya. Dia adalah senjata mematikan yang selama ini tersembunyi di balik ketenangan dan logika dinginnya.

Pertarungan singkat di lapangan belakang itu telah membuka mata semua orang: Duel besar satu bulan lagi mungkin tidak akan berjalan semudah yang dibayangkan oleh Tino, Raka, apalagi Nanda.

Mesin motor mereka menderu, meninggalkan lapangan berdebu dengan pesan yang sangat jelas: Wilayah Utara bukan hanya tentang strategi—mereka adalah kekuatan yang tidak bisa dihancurkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!