18+
Milly hanya bisa memendam perasaannya terhadap seorang pria tampan yang merupakan teman kakaknya sendiri.
Pria itu dingin, sulit digapai. Pria yang irit bicara. Dan hanya kepada Milly pria itu bersikap tak acuh.
Hingga suatu ketika Milly mulai menyerah akan perasaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Octaviandri23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Menjenguk
Milly memandangi layar ponsel, ibu jarinya sibuk mengusap layar, lalu membuka semua akun media sosial yang berada di ponsel, mengecek beranda instagram, mengintip instastory, membaca pesan masuk melalui aplikasi whatsapp, membaca novel ******* dan komik di web online, lihat video klip di youtube, sampai pada akhirnya Milly cekikikan hingga melting saat menonton drama korea yang sedang booming untuk ditonton saat ini.
Seperti janji Milly diawal, setelah ujian nasional Milly sudah men-download semua drama korea yang ingin ia tonton. Saat ini Milly sedang menonton drama cinta komedi yang dimainkan oleh Park Seo Joon.
Seharian ini aktifitas Milly hanya merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran Queen, haid di hari pertamanya menimbul efek rasa sakit dibagian perut dan pegal di kedua kakinya. Biasanya Milly tidak pernah mengalami rasa sakit ketika hari pertama haid, namun baru kali ini Milly bisa merasakan apa yang biasanya perempuan lain rasakan jika sedang haid. Perutnya terasa melilit kuat hingga kram, memaksa Milly harus berbaring di tempat tidur.
Setelah Milly bertanya dengan Bi Ana mengenai rasa sakitnya, kemungkinan ini adalah dampak kelelahan setelah Milly menyelesaikan ujian nasional. Sebelumnya gadis itu memang sempat stres saat menghadapi ujian, dan dampak stres tersebut terjadi saat Milly datang bulan. Untungnya ujian sudah selesai kemarin, jadi rasa sakitnya tidak mengganggu saat ujian berlangsung.
Dari pagi sampai sore Milly hanya berdiam di dalam kamarnya saja, makan siang pun ia lakukan di atas tempat tidur, Bi Ana bolak balik membawakan beberapa makanan untuk Milly makan yang diletakkan di atas meja nakas. Jika Milly merasa lapar, tinggal diambil saja tanpa harus repot memanggil Bi Ana.
Tak lama kemudian pintu kamar Milly terbuka, menampilkan sosok Bi Ana masuk ke dalam kamar untuk mengambil piring kosong lalu diganti dengan piring yang terisi makanan baru.
"makasih Bi Ana.."
Bi Ana tersenyum kemudian pergi meninggalkan Milly.
Ponsel diletakkan di dekat bantal, sedang mengisi daya. Lalu Milly meringkukkan badannya seperti ulat, lilitan di perutnya datang kembali membuat Milly memejamkan mata sembari meringis. Kemudian Milly menutupi dirinya dibalik selimut, ia terdiam menikmati rasa sakitnya. Tak lama terdengar suara pintu kamarnya kebuka, segera ia berucap sesuatu tanpa menoleh ke sumber suara.
"Bi, minta tolong lagi bantuin Milly ke kamar mandi. Kayaknya Milly mau ganti pembalut lagi nih,"
Bi Ana tidak merespon permintaan Milly, tapi Milly masih sibuk meringis sambil memeluk dirinya.
"mau digendong ?"
Spontan Milly membuka mata dan memaksakan kepalanya untuk diangkat dan segera menoleh ke belakang. Ia membelalak lalu mengerjap, menampaki sosok El telah berdiri di sisi kasurnya. Pria itu datang membawa sekantong plastik putih besar berlabel nama supermarket terkenal, serta sebuket Bunga Mawar berwarna putih.
Mendadak Milly terpaku, ia tidak bisa menyembunyi wajah keterkejutannya. Merah merona juga mewarnai wajah manisnya, cukup terlihat di kulit wajah Milly yang cerah.
El berjalan mendekati meja belajar Milly lalu meletakkan semua bawaannya, lalu ia segera melepaskan jas hitamnya dan ditenggerkan di kursi, kemudian melepaskan dasi putihnya juga setelah itu membuka 2 kancing kemeja serta kancing lengannya. Lalu pakaian di lengannya ia gulung sampai siku.
El kembali mendekati posisi Milly yang masih meringkuk di kasur.
"sini digendong,"
Milly belum bergerak, ia sangat malu dengan posisinya saat ini. Milly takut jika El akan melihat darah kotornya terceplak di pakaiannya, atau mungkin sudah tembus ke alas kasur. Milly tidak mau El melihat dirinya berantakan.
Dan juga Milly tidak akan kuat menahan godaannya jika El membantunya. Ia takut kelepasan, takut ia kembali berharap lagi pada pria itu yang sudah lama tak terlihat selama 3 minggu ini.
Terakhir mereka bertemu saat terakhir mereka pulang dari Bali, setelah itu El tidak menampakan dirinya ke rumah, saat itu Adit mengatakan jika El sedang sibuk menggarap projek baru bersama Bussiness Woman dari Bali.
Setelah mereka berbaikan di Bali pun, El kembali berubah dingin padanya. Tidak lagi memandangi Milly terang-terangan, dan kembali tidak menganggap adanya Milly di sekitarnya.
Cukup sekian lama akhirnya Milly bertemu lagi dengan pria dingin itu, dengan penampilan yang sedikit kusut. Wajahnya terlihat lelah, tersamar kantung mata di area kedua matanya, bahkan rambutnya kembali memanjang lagi, sehingga kembali berbentuk jambul.
Namun pesonanya tak pernah luntur, meski wajahnya lelah namun tetap saja El masih terlihat tampan di mata Milly.
"a-aku bisa pergi sendiri kok kak.." ucap Milly terbata-bata. Ia memaksa badannya untuk bangkit, mengibaskan selimut putihnya dan mulai menggerakan kedua kakinya yang masih terasa pegal.
Namun kegiatan Milly membuat El diam-diam meneguk ludahnya susah payah. Dibalik selimut tebal itu ternyata Milly hanya mengenakan kemeja kebesaran serta hot pants berwarna putih, menampilkan kulit mulus di area kedua kakinya, bahkan 2 kancing atas kemejanya juga terbuka. Memang bagian dalamnya tidak terlihat namun tetap saja pemandangan itu cukup memancing hasrat El untuk menerkam Milly seperti makanan lezat.
El berusaha keras untuk membentengi dirinya agar tidak berbuat hal hal yang diluar kendali. Berusaha ia alihkan pandangannya ke arah lain, tapi El tidak bisa, matanya kembali mengamati Milly yang sudah berdiri di depannya.
Pikiran dan gejolak dalam dirinya mulai tidak sinkron.
Perlahan Milly mulai menggerakkan kedua kakinya untuk berjalan menuju kamar mandi. Namun lilitan di perut nya kembali datang membuat Milly kembali mengeluh sakit, hingga badannya kembali membungkuk.
Tersentak hampir berteriak, tiba-tiba Milly merasakan tubuhnya diangkat, spontan ia menarik kerah baju El untuk dijadikan sebagai pegangannya, Milly tertegun melihat dirinya telah digendong oleh El dengan gaya Bridal Style.
Mau tidak mau tatapan mereka bertemu, Milly menangkap jika tatapan El cenderung gelap menatapnya. Milly merinding sesaat.
"k-kak, aku.."
"jangan protes, biar cepet."
El langsung berjalan membawa Milly ke kamar mandi pribadi. Kamar yang Milly tinggali adalah kamar utama, jadi El tidak perlu repot membawa Milly ke luar kamar.
Sebenarnya semua kamar tidur di rumah Milly sudah tersedia kamar mandi di dalam. Namun bedanya kamar Milly jauh lebih luas untuk ditinggali 1 orang, apalagi kamar Milly tidak terlalu dipenuhi barang perabotan atau asesoris kamar yang biasa perempuan hias sebagai kamar pribadinya.
Kamar Milly tergolong lenggang, banyak sisi yang kosong, hanya terisi kasur berukuran Queen serta meja nakas, lemari pakaian, meja rias, meja belajar, 2 sofa kecil diatas karpet putih, serta sebuah gitar dan mini drum diletakkan di sudut ruangan dekat jendela balkon. Beberapa figura terpasang di dinding bagian atas meja belajar.
Kamar ini terlihat sangat simple, bisa dibilang bukan seperti kamar seorang gadis kebanyakan. Namun El sangat menyukai dekor kamar Milly.
Sambil menunggu Milly di kamar mandi, El mengitari kamar Milly. Ia berjalan mendekati meja belajar, lalu manik coklatnya meneliti beberapa barang dan tumpukan buku disana.
Tumpukan buku tersebut diberi sekat dan tersusun begitu rapih, tidak akan sulit jika ingin mencari buku disana. Sekatnya juga diberi label nama, 1 sekat berlabel komik, novel indo dan luar, buku pelajaran, buku tulis tugas, kumpulan buku musik, dan terakhir buku beraneka ragam.
Kemudian maniknya bergerak turun, selain sebuah plastik putih dan sebuket Bunga yang sebelumnya El bawa ia mencari sesuatu disana, dimana ia sudah hapal dengan letak posisi di area meja tersebut.
Ia menemukan lakban hitam tertempel di sudut meja dibawah tumpukan buku pelajaran Milly, setelah El angkat buku itu sesaat ia melirik ke kamar mandi, memastikan Milly belum keluar dari kamar mandi.
Jemarinya membuka alat perekat itu, lalu El menyeringai. Masih terlihat jelas ada ukiran nama Milly dan nama El terpampang yang sengaja Milly buat disana, lakban tersebut dijadikan sebagai penutup ukiran tersebut.
El tahu adanya ukiran itu, karena beberapa kali El suka menyelinap masuk ke kamar Milly jika gadis itu sedang tidak berada di rumah. Lalu menemukan lakban hitam tertempel, saat itu El kira meja belajar Milly mulai lapuk atau rusak. Namun ternyata dibalik itu ada ukiran nama mereka berdua, ditambah ukiran bentuk hati mengelilingi nama mereka.
Hingga kegiatannya tersebut menjadi sebuah kebiasaan El. Hingga El berhasil menemukan sebuah buku bersampul hologram yang tak sengaja El temukan di tempat sampah kamar Milly.
Ketika El membuka buku itu dan membacanya sekilas, menduga bahwa buku tersebut adalah buku diary Milly. Awalnya El pikir kalau buku tersebut tidak sengaja dibuang, namun setelah El membaca halaman terakhir di buku itu bahwa Milly berniat ingin mengikis perasaannya terhadap El, ia sempat syok.
El menangkap salah satu bentuk Milly mencoba move on adalah membuang buku diary itu.
Apalagi ketika El tahu jika Milly mencoba move on darinya setelah kepergok mengungkapkan perasaan terhadap Karmila di taman belakang, padahal pria itu sama sekali tidak ada niat menembak perempuan yang sudah menjadi milik sahabatnya itu. El dan Karmila murni berteman, tidak memiliki perasaan satu sama lain.
El mendengus mengingat hal itu, jika ada seseorang yang harus disalahkan itu bukanlah El melainkan Karmila.
Saat itu Karmila meminta El berpura-pura sebagai Adit, bagaimana cara Adit jika pria itu ingin mengungkapkan perasaannya pada Karmila. Merasa El dan Adit memiliki perilaku yang sama hingga Karmila terus memohon pada El. Namun El tidak menggubris permintaan konyolnya hingga perempuan itu mengganggu kegiatan El bermain games di ponselnya.
Dengan terpaksa dan berusaha melapangkan hati seluas lapangan bola sepak untuk bersabar, El menuruti permintaan gila Karmila untuk berpura-pura sebagai Adit lalu mengungkapkan perasaan pada Karmila.
Apesnya kegiatan tersebut diam-diam diketahui oleh Milly.
Pikiran El tambah ruwet ketika ia juga membaca tulisan Milly dibelakang buku tersebut, tertulis jika perasaan Milly tidak akan pernah El balas setelah kejadian tersebut. El jadi kelabakan, ia segera bertemu dengan Adit. Menceritakan permasalahannya dengan gamblang dan segera memintanya untuk mencabut semua aturan dan kesepakatan konyol yang mereka buat.
Akan tetapi Adit tidak mengubris permintaan El, melainkan Adit bertindak dalam hubungannya dengan Karmila.
Adit dan Karmila berpacaran setelah itu. Tapi Adit belum mau menceritakan hubungannya dengan Karmila pada Milly. Membiarkan Milly berspekulasi jika El dan Karmila saling menyukai.
Mulai saat itu El berupaya untuk bergerak perlahan, tidak peduli jika Adit akan protes dengan aksinya. Bagi El itu bisa diurus belakangan, ia hanya ingin menunjukkan perhatiannya pada Milly meski tidak bisa dilakukan secara langsung.
Setidaknya El masih bisa jaga perasaan Milly yang akan tetap untuk El seorang.
El kembali menutup ukiran itu, dan meletakkan beberapa buku lagi ke tempat semula. Setelah selesai pintu kamar mandi Milly terbuka. El mendekati Milly lalu bersiap untuk menggendongnya lagi.
"nggak usah kak, aku.."
"diam saja."
Milly tidak bisa membantah lagi ketika El sudah menggendongnya lagi menuju tempat tidur. Kedua tangannya ia kalungkan ke leher El, hingga wajahnya tepat berada di dada bidang El. Milly juga menikmati sekelebat parfum El disana, begitu menggelitik hidung Milly, harumnya menenangkan Milly hingga ia tersadar jika tubuhnya sudah kembali direbahkan di atas kasur.
El menarik selimut untuk menutupi badan Milly sampai ke perut, demi melindungi matanya dari godaan hasrat.
"makasih kak El.."
El hanya membalas dengan dehaman singkat. Mereka berdua terdiam kemudian, tidak ada yang memecahkan keheningan. Kemudian El duduk di sisi kasur, mulai mengamati Milly dengan wajah tertunduk.
Kedatangan El menjenguk keadaan Milly adalah berkat dari kabar Adit. Adit mengatakan jika Milly sedang berbaring di rumah karena sakit akan haid pertama, dan juga Adit meminta tolong untuk menengok kondisi Milly dan memberinya kabar karena Adit sedang berada di Bandung karena ada janji temu disana. Adit belum tahu pasti kapan ia akan tiba di rumah, untuk itu setelah pulang dari kantor Adit meminta El bergegas melihat Milly.
El cukup panik setelah mengetahui kabar tersebut, karena baru kali ini Milly mengeluh sakit di hari pertamanya haid. El sangat tahu kondisi kesehatannya, gadis berambut panjang itu jarang mengeluh sakit. Sampai El berkonsultasi dengan salah satu temannya seorang dokter, El sedikit lega jika yang dialami Milly normal sebagai seorang perempuan yang sedang haid.
El bangkit, berjalan mendekati meja belajar untuk mengambil plastik belanjaan, lalu berbalik lagi sembari mengeluarkan sesuatu, 1 strip obat khusus pereda nyeri datang bulan, langsung diberikan kepada Milly.
"nanti diminum," titah El sambil menyodorkannya. Milly meraih obat itu, kemudian berucap terima kasih. El meletakkan plastik tersebut ke samping duduk Milly, agar gadis itu bisa melihat apa saja yang El bawakan untuknya.
Milly membukanya, maniknya berbinar melihat 3 batang coklat, 2 bungkus permen, 3 bungkus ciki, 3 bungkus biskuit coklat, dan beberapa kotak susu coklat siap minum.
"ini.. Buat Milly semua kak ?" tanya Milly canggung, begitu banyak yang El bawakan sampai Milly terkejut. Belum lagi dengan sebuket Bunga Mawar putih yang masih diletakkan diatas meja belajarnya. Seharusnya El tidak perlu membelikan semua ini, Milly jadi merasa kalau Milly bukan sedang sakit biasa.
Lalu El mengangguk.
Walau bagaimanapun Milly sangat senang atas semua yang El belikan padanya. Kembali Milly mengucapkan terima kasih, kemudian Milly langsung mengeluarkan 1 bungkus coklat dengan kacang Almond.
El diam memandangi Milly melahap coklatnya, sudut bibirnya tertarik melihat Milly sangat asik memakan coklatnya. Milly kecil nya tidak pernah berubah, dari dulu hingga kini selalu menggemaskan. Selalu berhasil menggelitik hatinya.
Merasa terus dipandangi, Milly memotek coklat bekas gigitannya lalu menyodorkan potongan coklat baru kepada El. Menawarinya memakan coklat itu. Milly tahu jika pria di depannya tidak terlalu suka makan coklat, tapi tidak ada salahnya juga jika ia menawari El. Kalau El tidak mau, tidak rugi juga untuk Milly.
Namun El tidak mengambil potongan coklat itu, justru ia melirik potongan coklat bekas gigitan Milly. Sadar yang dilihat El coklat bekas gigitannya Milly berujar pelan.
"ini bekas gigitanku kak. Aku kasih kakak yang ini aja, ini udah aku potong kok," Milly mengendikkan tangannya menunjukan potongan coklat baru. Namun pandangan El tetap ke arah coklat bekas gigitan Milly.
"itu aja, mubazir." singkat El masih menatap coklat itu.
Milly mengernyit bingung, aneh memandangi El. Namun Milly tersentak ketika El meraih tangannya yang memegang coklat bekas gigitannya, lalu El melahap coklat tersebut di tangan Milly secara langsung, seketika sekujur tubuh Milly langsung menegang.
Jemarinya menyentuh liukan lidah El, menyapu dan mengemut jemari Milly di dalam mulutnya, rasa geli dan hangat akan gesekan kasar disana menghantarkan sengatan di tubuh Milly. Begitu juga dengan El, ia pun juga tersengat akan sebuah gejolak di dalam dirinya.
Tatapan gelisah Milly dan tatapan sayu El bertemu. Namun sorot mata mereka memancarkan aura mendamba yang sama. El melepaskan jemari Milly dari lidahnya, belum memutuskan pandangan.
El bergerak perlahan mengikis jaraknya dengan Milly, satu tangannya menyelusup ke belakang leher Milly, menangkup tengkuk gadis itu. Wajah El memiring ke kanan, matanya mulai beralih ke bibir Milly.
Milly membisu ketika wajah El mulai mendekati wajahnya, nafas hangat El menerpa kulit wajah. Alarm berbahaya di dalam tubuh Milly menyeruak, namun Milly tidak melakukan perlawanan, tidak berkutik.
Lebih tepatnya tubuh Milly menolak alarm peringatan di dalam kepalanya.
Kedua mata Milly melebar sempurna saat bibirnya bersentuhan dengan bibir El. El mencium bibirnya, mengambil ciuman pertamanya.
Milly terpaku ditempat, pikiran sudah berontak ingin melakukan protes tapi tubuhnya tidak mau bergerak sedikitpun.
Merasa Milly tidak menunjukkan protesnya, perlahan El menggerakan bibirnya, memagut bibir Milly dengan lembut dan mendamba, dicecapnya bibir ranum itu, hingga El dapat merasakan sisa coklat diantara bibir Milly dan bibirnya membuat proses ciuman mereka menjadi lebih manis.
Semakin lama El mengulum bibirnya, Milly mulai terbuai dengan ciuman El. Perlahan Milly menutup matanya, kemudian bibirnya ikut memagut lembut di bibir bawah El.
Sekilas El tersenyum dalam ciuman mereka, merasa sangat senang karena Milly mulai membalas ciumannya. Semakin lama mereka berciuman sensasi menghanyutkan itu menguar di dalam tubuh mereka masing-masing.
Berharap waktu bisa berhenti untuk sementara, membiarkan mereka tenggelam menikmati ciuman yang semakin lama terlihat semakin panas dan dalam.
Perlahan El mendorong tubuh Milly agar direbahkan di tempat tidur tanpa melepaskan ciuman sedetikpun. Posisi mereka sekarang ini membuat ciuman mereka semakin liar dan menuntut lebih. Hingga lidah mulai turut serta dalam permainan mereka, menjelajahi mulut satu sama lain.
***********************************