NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Duda / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rasti yulia

Cerita cinta seorang duda dewasa dengan seorang gadis polos hingga ke akar-akarnya. Yang dibumbui dengan cerita komedi romantis yang siap memanjakan para pembaca semua 😘😘😘


Nismara Dewani Hayati, gadis berusia 20 tahun itu selalu mengalami hal-hal pelik dalam hidupnya. Setelah kepergian sang bunda, membuat kehidupannya semakin terasa seperti berada di dalam kerak neraka akibat sang ayah yang memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Tidak hanya di situ, lilitan hutang sang ayah yang sejak dulu memiliki hobi berjudi membuatnya semakin terpuruk dalam penderitaan itu.

Hingga pada akhirnya takdir mempertemukan Mara dengan seorang duda tampan berusia 37 tahun yang membuat hari-harinya terasa jauh berwarna. Mungkinkah duda itu merupakan kebahagiaan yang selama ini Mara cari? Ataukah hanya sepenggal kisah yang bisa membuat Mara merasakan kebahagiaan meski hanya sesaat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TCSD 25 : Khayalan Tingkat Tinggi

Hati yang seolah dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran, membuat pria dewasa itu tiada henti menyunggingkan senyum di bibirnya. Hanya dengan menatap punggung sang gadis yang masih terbalut dress saja sudah begitu membuat 'ular' nya bergetar, menggeliat bahkan berdiri tegak, bagaimana jika nanti ia bisa melihat bentuk tubuh sang gadis tanpa sehelai benangpun ketika berada di dalam kamar mandi? Pastinya akan menjadi pemandangan yang begitu memukau untuk lelaki itu.

Dewa seakan mendapatkan sebuah jackpot. Keberuntungan yang mungkin ia dapatkan sebagai ganti atas luka yang pernah ditorehkan oleh sang mantan. Dan sebentar lagi ia akan segera mendapatkan jackpot itu, pastinya dengan menikmati tubuh sempurna sang gadis.

Tidak pernah sekalipun terbesit di dalam pikiran Dewa jika gadis yang ia anggap sebagai gadis polos ini memiliki fantasi s*x yang begitu luar biasa. Pengalaman pertama yang biasanya dilakukan di atas ranjang, namun gadis ini meminta melakukannya di dalam kamar mandi? Sungguh hal itu membuat pikiran Dewa semakin menerawang.

Ia membayangkan bagaimana permainan mereka nanti di bawah guyuran air shower, di dalam bathtub, atau mungkin di atas closet yang pastinya akan menjadi sebuah petualangan hasrat dan adrenalin yang begitu menggairahkan. Perjalanan dari tepi pantai hingga ke kamar mandi seakan berjarak jauh, sehingga membuat pria dewasa itu sudah tidak sabar ingin segera sampai.

Langkah kaki Dewa dan Mara terhenti di depan pintu kamar milik Mara. Jantung lelaki itu seakan berpacu lebih cepat dari biasanya. Gadis yang begitu langka. Ia memilih kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, mungkin agar ia bisa mendominasi permainan yang akan mereka lakukan.

Mara membuka pintu kamar dan gegas menuju kamar mandi. Namun betapa terkejutnya ia tatkala menyadari jika sedari tadi Dewa mengikutinya.

Dewa mengulas sedikit senyumnya. "Apakah kamu benar-benar sudah tidak sabar? Aku melihat kamu begitu tergesa-gesa untuk bisa segera sampai ke kamar mandi."

Mara memutar kedua bola matanya. Ia sedikit berpikir keras untuk mencerna ucapan Dewa. Bukankah hal yang wajar jika seseorang sedang menahan hasrat untuk buang air besar tergesa-gesa untuk bisa sampai ke dalam kamar mandi?

Akhirnya sebuah anggukan kecil muncul dari kepala Mara. "Iya Tuan, saya memang benar-benar sudah tidak sabar. Karena saya ingin segera..."

Dewa mendekatkan tubuhnya di tubuh Mara. Ia sentuh bibir Mara dengan telunjuk tangannya. "Sssstttt... Mari segera lakukan!"

Tanpa berpikir macam-macam Mara mulai memasuki kamar mandi. Dan ketika ia ingin menutup pintu kamar mandi...

"Aaaaaaaaa... Mengapa Tuan mengikuti saya ke dalam kamar mandi?" teriak Mara histeris tatkala melihat Dewa masih saja mengikutinya.

"Sssstttt.... Jangan berteriak. Kamu tidak ingin membuat orang-orang yang berada di kamar lain mengetahui apa yang akan kita lakukan bukan?"

Dahi Mara mengernyit. Ia semakin dibuat tidak mengerti dengan arah pembicaraan Dewa. "Jika Tuan ingin melakukan sama seperti yang ingin saya lakukan mengapa tidak Tuan lakukan di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar Tuan sendiri?"

Kini giliran dahi milik Dewa yang sedikit mengerut. Membayangkan aktivitas mereka dilakukan di tempat terpisah. "Bagaimana mungkin kita bisa melakukannya di tempat yang berbeda, Ra? Kita harus berada di satu tempat yang sama."

Mara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mulai mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Dewa. Gadis itu berpikir Dewa ingin membuang hajat di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Mungkin karena kamar mandi di kamar Dewa tengah bermasalah.

Mara sedikit membuang nafas kasar. "Baiklah Tuan jika memang seperti itu. Kita bisa bergantian."

"Bukankah akan lebih nikmat jika kita merasakan kenikmatan secara bersamaan? Tapi jika memang kamu ingin bergantian, tidak masalah juga untukku."

Dewa semakin dibuat tidak sabar dengan apa yang akan ia lakukan bersama Mara. Melihat ekspresi wajah Dewa yang sepertinya sudah sangat tidak tahan untuk menahan rasa buang air nya, membuat Mara memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.

"Mengapa kamu malah keluar dari kamar mandi lagi? Ayo segera kita lakukan!"

Mara mendengkus kesal. "Tuan kira saya ingin nungguin Tuan yang sedang membuang hajat? Saya tunggu di luar. Silakan Tuan pakai terlebih dahulu kamar mandi ini."

Wajah Dewa yang sebelumnya dipenuhi oleh rona kebahagiaan, mendadak berubah dan dipenuhi oleh kebingungan. "Buang hajat?"

Mara menganggukkan kepalanya. "Iya Tuan, buang hajat. Saya buru-buru ingin ke kamar mandi karena sudah tidak tahan untuk membuang hajat. Memang apa yang Tuan pikirkan?"

Lenyap sudah kupu-kupu yang berterbangan yang tergambar jelas di raut wajah Dewa. Kini perlahan menghitam, berubah menjadi mendung yang nampak begitu suram.

Tuingggg...

Mendung yang muncul di wajah Dewa bersamaan dengan 'ular' yang sebelumnya bersiap untuk kembali ke sarang, mendadak kembali layu. Ya, khayalan tingkat tinggi Dewa seolah membuat 'ular' itu seakan melemas sebelum bertempur.

"Tuan? Mengapa Tuan justru melamun? Sebenarnya Tuan ini memikirkan apa? Dan ayolah masuk ke dalam kamar mandi, selesaikan hajat Tuan. Setelah itu gantian saya."

Dewa melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi dengan gontai. Kepalanya menunduk dan terlihat sendu seakan kehilangan penyemangat hidup.

"Kamu masuklah ke kamar mandi."

"Jika saya masuk lalu bagaimana dengan Tuan? Bukankah Tuan sudah tidak tahan untuk membuang hajat?"

"Aku akan menggunakan kamar mandi yang berada di kamarku sendiri."

Pada akhirnya Dewa meninggalkan kamar yang ditempati oleh Mara. Berkali-kali ia membuang nafas kasar sambil mengusap rambutnya frustrasi. Khayalannya yang begitu tinggi, malah justru menjadikannya sebagai manusia yang paling menderita.

Mara hanya menatap heran wajah Dewa yang sendu itu. Lirih ia berucap. "Ada apa dengan tuan Dewa? Dasar aneh!"

Dewa masuk ke dalam kamar. Gegas, ia memasuki kamar mandi miliknya. Ia berdiri di bawah guyuran air shower untuk bisa menghilangkan segala hasrat yang sudah memuncak ini. Namun sial bagi Dewa. 'Ular' nya yang sempat tertidur tiba-tiba terbangun kembali. Hal itulah yang membuat wajah Dewa nampak semakin frustrasi.

"Hei, mengapa kamu terbangun lagi? Aku tidak bermaksud memberikan harapan palsu kepadamu. Karena memang ternyata apa yang aku pikirkan dengan apa yang dipikirkan oleh gadis itu tidaklah sama. Ini semua karena khayalanku yang juga terlalu tinggi. Sekarang tidurlah kembali!"

Dewa sibuk berdialog dengan 'ular' miliknya. Setelah si 'ular' bangun dari koma, hidupnya seolah tidak bisa tenang. Ular itu selalu saja aktif mencari tempat persinggahan.

"Apakah aku harus segera mencari istri? Namun jika aku dekat dengan wanita lain, apakah 'ular' ini akan memberikan respon? Atau justru hanya bersama gadis itu aku bisa turn-on? Tapi bukankah jika mendadak aku mengajak Mara menikah akan semakin membuatku seperti hanya menjadikan Mara sebagai pelampiasan saja? Aaaaaahhh.... Aku harus bagaimana?"

Sembari bermonolog, Dewa sibuk memberikan pijatan-pijatan lembut ke 'ular' miliknya. Rupa-rupanya ia harus menyediakan banyak stok sabun, tentunya untuk menuntaskan segala hasrat itu. Dan entah sampai kapan permainan solo ini ia lakukan.

.

.

. bersambung...

1
Evi Lusiana
modul lo krisna biar dpt rmh
Evi Lusiana
km yg bkl malu sndri pak duda,wong pramono udh jd kk angkt ny mara
Evi Lusiana
dasar duda somplak
Evi Lusiana
pertikaian antara dewa dan para tawon,krn cucunu kwalat oma suka ngintipin mara
Evi Lusiana
bodohny seorg dewa
Evi Lusiana
laki² bodoh y gmpg d bodohi
Evi Lusiana
bodoh kau dewa tk bs membedakan mana org tulus dan mna yg modus
Evi Lusiana
good job oma
Evi Lusiana
kaget thor,kirain iy msa semudah itu mara menyerahkn diriny sm org yg br d kenal
Evi Lusiana
blom apa2 sdh bucin kau dewa
Evi Lusiana
apakah pram sahabat ayah ato ibuny mara,hingga dia mo menolong mara dn ayahny
Evi Lusiana
sabar bgt dewa,klo aku udh aku becek² psangan sampah itu
Evi Lusiana
gk kebayangkan gmn rasany jd dewa,hajar dlu keduany br ceraikn istri jalang ny
Evi Lusiana
wanita tamak
Deistya Nur
semangat terus ka, ditunggu karya terbarunya
marti 123
Biasa
marti 123
Kecewa
Masamba Kota
rasain...🤣🤣🤣
Masamba Kota
alah.....Dewa itu bego' ternyata
mengecewakan😡
💗vanilla💗🎶
semangat oma
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!